Presdir Cilok

Presdir Cilok
39 Kartu AS


__ADS_3

Yakinlah bahwa semua orang di dunia ini pernah mengalami masalah apapun bentuknya


kartu AS



Damar menatap Pak Bambang, dari raut wajahnya menggambarkan guratan permohonan.


Baginya ini sangatlah mendadak dan membuat dirinya limbung tentang asal-usul keluarga Bapaknya yang sama sekali tidak ia ketahui. Bahkan Ibunya pun menganggap khayalannya tidak ada sejarahnya..


Kenyataan yang kini dapat Damar mengerti, bahwa Ibunya ingin menutupi asal-usul keluarga Bapak Gusli Wijaya. Yang tidak menerima kehadiran Ibunya sebagai menantu dalam keluarga Wijaya.


Dan sekaligus menerima kenyataan dari rasa syukur yang tak terelakkan bahwasannya, ia masih memiliki Kakek dan nenek yang masih lengkap.


Tawaran yang Kakek Bagaskara ajukan memang terlihat sangat menggiurkan, sepertinya mulai mengusik pikiran Damar. Ia merasa ini adalah peluang untuknya bisa sukses. Peluang kartu AS.


Ditambah ambisi yang sudah sekian lama menggebu-gebu disaat keterpurukan yang terus menerus menggerus isi rasa percaya dirinya.


Juga tak menampik keinginan untuk membalas dendam kepada Kusumo, yang sudah menyebabkan Bapaknya harus merasakan masa sulit.


Matanya terpejam dan sekian detik terbuka rasa panas menjalar di kedua pelupuk matanya, ‘Bapak, Damar pernah berkhayal sama Ibu, tentang khayalan Damar adalah cucu orang kaya atau sebenarnya anak orang berpunya. Dan Ibu memarahiku. Ibu bilang tiada sejarah macam itu di hidup Damar, tapi nyatanya memang tidak semudah ini untuk menerimanya Pak. Damar kangen Bapak.' gumam Damar dalam hati yang semakin membuncah ruah.


Semua orang yang berada di ruangan termasuk juga Kakek Bagaskara sedang menunggu jawaban Damar.


"Baiklah saya akan menerimanya! Tapi berilah kehidupan yang layak untuk Adik dan juga Ibu saya!” ujar Damar bernegosiasi.


"Negosiasi yang baik,” jawab Kakek Bagaskara.


Dalam pikiran dan benaknya ia tidak merasa senang dan puas menerima kerjasama ini. Namun, ambisinya menyulut untuk menerima tawaran Kakek Bagaskara. ‘Untuk mencapai tujuan ada banyak jalan. Dan mungkin inilah salah satu jalannya. Toh aku bukan bekerja pada orang lain, meskipun nantinya aku akan di manfaatkan olehnya. Yang terpenting aku bisa membahagiakan Ibu juga bisa menyekolahkan adikku.'


Ia adalah seorang pria yang sangat menyukai tantangan. Damar merasa dari sebuah tantangan yang menantang dapat menjadikannya pria yang lebih kompeten. Ia juga sangat ambisius untuk bisa mencapai tujuannya.


Sebab ia percaya tantangan dan keberanian adalah separuh dari kemenangan.


Meskipun harus bersusah payah membayangkan membangun image baik perusahaan yang kadung tercemar buruk ini. Baginya inilah tantangan yang menguji rasa percaya dirinya, setingkat apa? Akankah setingkat Dewa?


Kakek Bagaskara pun mengalihkan tatapannya menatap Pak Bambang sang asisten, "Segera siapkan keperluan Damar, mulai hari ini Damar resmi menjabat sebagai Presdir di perusahaan makanan ini. Bimbing dia dalam pengolahan makanan, terutama untuk produsen ciloknya, agar mendapat kemasan untuk di perjual belikan di berbagai minimarket dan pasar swalayan dalam bentuk kemasan." titah Kakek Bagaskara kepada sang asisten.


Pak Bambang pun mengangguk, dan menjalankan tugas yang di berikan Kakek Bagaskara. "Iya Tuan, kalau begitu saya permisi untuk menyiapkan berkas-berkas yang harus Mas Damar pelajari,"


"Hemm...” jawab Kakek Bagaskara dengan deheman.


Setelah kepergian Pak Bambang, kini Damar mengajukan pendapatnya, "Anda tidak perlu berlebihan dalam memposisikan diri saya sebagai seorang Presdir,”

__ADS_1


Kakek Bagaskara tersenyum mendengar pendapat Damar,


"Kalau Kakek tidak memposisikan mu sebagai seorang Presdir, lalu bagaimana kamu akan membalaskan dendam mu pada mafia tanah itu.” jawab Kakek Bagaskara.


"Lagi pula, kamu disini untuk mengembangkan bisnismu. Tidak serta merta hanya duduk di singgasana dan duduk nyaman. Kakek ingin tahu secerdas apa kamu dalam mengelola bisnis mu.” lanjut Kakek Bagaskara.


Damar terdiam, dan berpikir. ‘Ada benarnya juga apa yang di katakanya.'


"Dan satu lagi, saat kamu dan juga Adikmu menemui Nenek nanti. Panggilah Kakek dengan sebutan Kakek jangan memanggil dengan sebutan Anda,” usulnya, agar Damar mengikuti permintaannya.


“Apakah Anda sedang memberi perintah kepada saya untuk menyebut Anda dengan sebutan Kakek?”


"Anggaplah seperti itu.” jawab Kakek Bagaskara.


Saat masih dalam ketegangan yang menguras perasaan dan pikiran.


Suara Wulan yang sejak tadi hanya diam dan mengamati situasi yang terjadi. Kini ia ingin mengatakan sesuatu yang sejak tadi bergumul dalam hatinya.


"Kakek Bagaskara,” seru Wulan memanggil Kakek Bagaskara yang masih berdiri tidak jauh dari sofa berwarna hitam.


Kakek Bagaskara menoleh kearah Wulan. Beliau lantas duduk kembali di sofa hitam dan melihat Wulan yang sudah membantunya menemukan keberadaan keluarga Gusli, "Katakanlah Wulan,”


Wulan mengangguk pelan...


Damar melihat tangan Wulan yang menunjuk dirinya, "Siapa yang kamu kata pria ini, aku punya nama,” sela Damar, ia masih merasa geram dengan Wulan dan Bokir yang sudah memata-matainya layaknya seorang penguntit.


Wulan tidak mengindahkan gerutu Damar


Kakek Bagaskara menatap Wulan dan beralih menatap Damar, "Kakek sangat berterimakasih, berkatmu tanpa menunggu waktu sampai satu tahun kamu sudah berhasil mencari informasi dan keberadaan cucu Kakek, Kakek akan memposisikan mu sebagai sekretarisnya, dampingi cucu Kakek dia membutuhkan orang-orang cerdas seperti kamu, Wulan,” jelas Kakek Bagaskara.


Wulan membulatkan matanya, mendengar penuturan Kakek Bagaskara dan berujar,


"Tapi Kek, Kakek kan bilangnya sama Ayah, cuma sampai dia berhasil ku temukan, mana bisa Wulan menjadi sekretarisnya, apa yang akan Wulan lakukan Kek disini?”


Damar menatap Kakek Bagaskara dan beralih menatap Wulan, dari samping dapat Damar simpulkan bahwa Wulan adalah wanita yang energik. Akan tetapi ada yang membuat hatinya bertanya-tanya, ‘Sedekat apa? Wanita yang bernama Wulan ini dan Kakek Bagaskara hingga nampaknya Kakek enggan untuk melepaskan Wulan kembali pada pekerjaannya. Dan apa pekerjaan Wulan sebenarnya? sebentar tadi kalau nggak salah dia menyebut Intel?'


Kakek Bagaskara menyadari, beliau sudah melanggar janjinya, dan kemudian berujar,


"Kakek sudah bilang pada Ayahmu, kalau Kakek boleh merekrut kamu menjadi sekretaris cucu Kakek,”


Wulan menoleh kearah Damar yang terlihat sedang bingung akan obrolan yang tidak Damar tahu sama sekali, sekian detik Wulan kembali menatap Kakek,


"Tapi Kek!” sela Wulan mengajukan protes.

__ADS_1


"Mana ada orang yang berlatih khusus untuk menjadi intelejen mumpuni, tiba-tiba menjadi sekretaris. Kan berseberangan Kakek!” kata Wulan terdengar seperti rengekan di telinga Damar.


Suara Wulan yang terdengar seperti rengekan membuat Damar tersenyum simpul. Wulan pun menyadari bahwa Pria yang masih berdiri dua meter darinya duduk, sedang tersenyum.


"Apa Lo senyam-senyum!” sinis Wulan pada Damar, Damar pun semakin melebarkan senyumnya sampai menampilkan deretan giginya. Hingga membuat Wulan semakin dongkol.


Kakek mengulas senyuman, dan kembali berujar.


"Kamu ini perempuan Wulan, lagipula Ayahmu yang memintanya agar kamu melepas pekerjaan mu itu,” Kakek beranjak dari duduknya.


"Tapi Kek!” Wulan ikut berdiri hendak mengajukan protes lagi. Mendengus kesal akan perintah Kakek Bagaskara padanya.


“Sudah! Kakek ada meeting penting dengan kolega bisnis dari Malaysia.” Kakek pun mulai melangkah saat melewati Damar, beliau menepuk pundaknya.


"Kakek yakin, kamu pasti bisa membangkitkan perusahaan ini lagi.” kata Kakek Bagaskara kepada Damar.


Damar hanya menatapnya tanpa menjawab. Aku tergiur menerima tawaran Kakek Bagaskara untuk bisa membalas perbuatan Kusumo pada almarhum Bapak.


Kakek Bagaskara agaknya melupakan seseorang yang masih menunggu perintah,


"Bokir!” seru Kakek Bagaskara menoleh kearah Bokir yang sejak tadi hanya diam mematung seperti patung.


Bokir sigap ia beranjak dan mendekat


"Tetap dampingi cucuku, dia butuh seseorang yang bisa mengawalnya kemanapun.” titah Kakek Bagaskara kepada Bokir.


Tiada bantahan dari Bokir, ia hanya mengangguk dan berkata singkat, "Siap Tuan.” Baginya ini lebih baik.


Tapi tidak untuk Damar, ia seolah mendapatkan intimidasi jikalau di kawal oleh Bokir. Saat hendak mengajukan protes. Kakek Bagaskara kembali berujar.


“Selamat bergabung dengan group Wijaya Company, cucuku.”


Kakek Bagaskara kembali berjalan, dengan sigap Bokir membukakan pintu dan tentu saja sudah di sambut manajernya yang masih muda dan terlihat smart.


Saat pintu sudah terbuka, manajer Kakek Bagaskara yang masih muda melihat Wulan yang juga menatap kearah pintu terbuka. Dan mengedipkan matanya kearah Wulan.


Bokir menutup pintu dan mendekat kepada Damar, dan berbisik. "Bahkan nyamuk pun tidak berani membantah perintahnya.”


Damar menatap tajam pada pria berkepala plontos ini.


Tak berselang lama, pintu kembali diketuk....


•••

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2