Presdir Cilok

Presdir Cilok
111 DamarWulan


__ADS_3

“Sah....” seru semua orang yang menjadi saksi atas perjalanan asmara DamarWulan kini, yang semenit lalu sah di mata agama dan hukum negara.


“Yo! Mbak iparku Mas Damar, selamat. Jangan lupa makan ketupat!” seru Danum.


•••


“Alhamdulillah,” seloroh semua orang yang menjadi saksi di pernikahan Damar dan Wulan.


“Apa hubungannya sama ketupat, Num?” kata Bokir menyambar sambutan Danum.


“Wes, laleke (lupakan) Kang!” tukas Danum, seraya melebarkan senyuman.


Wulan menjabat tangan Damar, untuk ia bawa di antara kedua alisnya. Ia mesam-mesem dalam kegembiraan sekaligus kecanggungan. Wulan pun melihat Damar ikut memilin bibirnya, tersenyum menatap dirinya.


‘Sumpah, kenapa jadi canggung begini?!' benak Wulan bermonolog. Seorang teman, jadi sahabat, kemudian menikah. Sungguh hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Wulan.


Sama halnya dengan Damar, ia merasakan energi kesejukan sekaligus kelegakan, akhirnya semua yang ia rencanakan dapat terlaksana, tanpa adanya gangguan dari luar. Seperti halnya, Kusumo dan Ratna. ‘Begini yah rasanya jadi suami? Aku udah seperti laki beneran ini!’


“Cie, cie, udah halal nih yeeee!!” seru Bang Rozak. Bersamaan dengan orang-orang yang menjadi saksi atas pernikahan Wulan dan Damar.


“Uhuuyyy... Tancap gas brother!”


“Wolak walik Mar!!” imbuh saudara Wulan yang lain.


“Wolak walik, memangnya goreng pisang?!” celetuk Wulan seraya geleng-geleng kepala, melihat sanak saudaranya yang seusia dirinya, begitu senang berceloteh ria menggodanya, “Ya, ya, aku tahu pikiran kalian seperti apa?” gerutu Wulan.


Damar manggut-manggut, diselingi dengan senyuman merekah, menatap satu-persatu tamu-tamu yang hadir, “Tenang wahai saudaraku sekalian, akan aku pertimbangkan bagaimana caranya, biarkan Bapak penghulu mendoakan kami terlebih dahulu.” ia pun mempersilahkan Pak penghulu yang sudah menikahkannya untuk membacakan doa. “Silahkan Pak penghulu, jangan dengarkan nyamuk-nyamuk nakal di sana, di sini dan di mana-mana!”


Pak penghulu pun mengangguk. Kemudian, menengadahkan kedua tangannya ,dan membacakan doa setelah pasangan yang sekian menit lalu sudah sah menjadi sepasang suami-istri. “Bismillahirrahmanirrahim. Allahuma, ya Allah berkatilah kedua mempelai ini dengan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan, dan jadikanlah mereka keluarga yang sakinah. Allahuma, ya Allah anugerahilah kedua mempelai ini dengan keturunan yang soleh, yang berbakti kepada-Mu dan ta'at kepada kedua orang tuanya serta berguna bagi agama, bangsa dan negara. Allahuma, ya Allah rahmatilah kami semua dengan kehidupan yang bahagia sejak di dunia sampai di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka. Amin.”


Lalu di sambung dengan doa pelengkapnya..


“Amin.” seru semua orang, seraya meraup wajahnya dengan telapak tangan yang di tadahkan, begitu juga dengan Damar dan Wulan.


Di rasa sudah cukup lama di kediaman Kakek Bagaskara, Pak penghulu pun berujar untuk berpamitan. “Kalau begitu, saya permisi Pak Bagaskara, Pak Wicaksono serta mempelai pengantin yang berbahagia.”


“Terimakasih Pak Zaenudin,” balas Kakek Bagaskara, bersamaan dengan Ayah Wicaksono.


“Terimakasih Pak Zaenudin.” kata Damar, menyalami tangan Pak Zaenudin begitu juga dengan Ayah Wicaksono dan Kakek Bagaskara, lalu beberapa tamu yang hadir.


Pak penghulu yang bernama Zaenudin pun, mengangguk, “Sama-sama.” lantas beliau pun beranjak lalu berjalan menuju pintu keluar dari rumah yang dijadikan gelar acara akad. Dan diikuti dengan asistennya.


“Pasangkan cincinnya Mar, tunggu apa lagi?” kata Bokir, yang duduk persis di samping Damar. Melirik Wulan dan kembali bersitatap dengan Damar.


Damar mengacungkan jempolnya, “Siap!” seraya mengangkat alisnya. Lantas. Damar pun mengambil cincin yang ada di dalam saku celana putihnya, dan memasangkan cincin pernikahan di jari manis Wulan. Begitupun juga sebaliknya dengan Wulan.



^^^Visualisasi^^^

__ADS_1


“Aduh, aduh yang udah sah, senyumannya jadi tambah merekah!” seru Rozak, melirik adik perempuannya.


Wulan tambah melebarkan senyumnya, “Ya dong, masa nggak seneng! Kapan giliran Abang?!”


“Abang mah santai Wul, tenang banyak gadis yang masih ada untuk Abang nikahi.” balas Abang Rozak.


kali ini Danum tidak ingin tinggal diam, seraya mengambil gambar dari kamera digitalnya. Meskipun sudah ada jasa fotografer profesional yang terbiasa mengambil gambar saat acara pernikahan seperti ini, “Mas Damar, kan biasanya kalau orang abis akad cium kening?!”


“Nah, iya bener!” seru kerabat Wulan yang seumuran dengan Danum.


Bu Suci menggeplak lengan putra bungsunya, “Hus, tahu apa anak kecil?!”


“Aih... si Ibu mah, suka geplak menggeplak, emang aku nyamuk.” gerutu Danum.


“Nah, bener juga MarLan, Damar-Wulan.” seru Mirna ikut menimpali ucapan Danum.


Wulan dan Damar pun saling tatap, dan sama-sama tertegun bersitatap satu sama lain.


Wulan melihat Damar mendekati wajahnya. Wulan lebih memilih memejamkan mata, nafasnya semakin memburu serta detak jantungnya menyelaraskan gambaran kegugupan. Ia dapat mendengar bahwa Damar bergumam dengan menyebut basmalah.


“Bismillahirrahmanirrahim.” gumam Damar, ia lantas menyentuhkan bibirnya di kening wanita yang sah ia nikahi belum genap sejam yang lalu.


“Aseekk!!” seru Bokir. “Gimana rasanya Lan? Senengkan udah jadi istri.” sambungnya lagi, meledek Wulan yang dahulu selalu menolak perasaan pria yang menyukai rekan kerjanya itu.


“Rasanya seperti, makan gulali!” cetus Wulan,


Kini, setelah acara pemasangan cincin, Damar dan Wulan pun mendekati Kakek Bagaskara. Untuk melakukan sungkeman. “Restui kami Kek,”


Wulan dan Damar pun mengulas senyuman di bibir keduanya, lantas mengangguk. “Terimakasih, Kakek.” lantas menyalami tangan Kakek Bagaskara.


Selanjutnya, Damar dan Wulan berhadapan dengan Ayah Wicaksono dan Mamah Almira, keduanya lantas sungkeman di hadapan orangtuanya, seperti halnya Kakek Bagaskara, Damar dan Wulan pun mendapatkan petuah bijak dari kedua orang dari pihak Wulan,


“Jangan jadikan pernikahan itu menjadi sebuah beban anakku, karena hidup adalah petualangan dan perjuangan.” kata Ayah Wicaksono.


“Semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah.” kata Mamah Almira, lalu memeluk tubuh putri kecilnya yang sudah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang sudah menikah.


“Terima kasih, Mamah,” balas Wulan, seraya mengurai pelukannya. Netranya mulai berkaca-kaca.


“Amin. Saya akan selalu mengingatnya, Yah.” balas Damar, seraya menyalami tangan Ayah dan Mamah mertuanya.


Berikutnya, Damar dan Wulan mendekati Ibunya, ia bersujud di hadapan sang Ibu. “Terima kasih Ibu,”


“Bangunlah anakku,” kata Bu Suci, memegang lengan Damar dan juga lengan Wulan.


Damar dan Wulan pun kembali duduk dengan sedikit membungkukkan badannya.


Bu Suci menatap putra sulungnya dengan netra yang berkaca-kaca, lalu beralih menatap Wulan. Beliau melukis senyuman bahagia di kedua pipi sayunya. “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. QS. Ar Rum ayat 21.” jelas Bu Suci tentang ayat sebagai perumpamaan bahwasannya, Setiap laki-laki dan perempuan sudah memiliki jodohnya masing-masing. Sesuai kodrat dan ketentuan apa yang sudah di takdirkan.


Mendengar Ibunya menerangkan sebuah ayat suci Al-Quran yang sekiranya dapat meningkatkan imannya, Damar menatap sang Ibu dengan mata yang sendu, ia pun merengkuh tubuh tua Ibunya. “Terima kasih Ibu.”

__ADS_1


Bu Suci membalas pelukan putra sulungnya, dengan mengusap punggung Damar. “Ibu yakin, masa lalu akan menjadi pembelajaran yang baik bagi orang yang mau merubah jadi lebih baik, Nang.” beliau pun mengurai pelukannya. Lantas beralih menatap Wulan. “Bolehkah Ibu memelukmu, Nak?” tanya Bu Suci pada menantunya.


Wulan menatap Bu Suci, rasa panas mulai menjalar di kelopak matanya. Perlahan menetes membasahi pipinya. Ia berhambur memeluk erat Ibu mertuanya, diselingi isak tangis penuh haru dan rasa syukur.


“Jangan menangis anakku, bahagialah dengan putra Ibu.” kata Bu Suci, mengusap lembut punggung Wulan. Beliau lantas mengurai pelukannya, mengusap air mata yang membasahi pipi Wulan.


Wulan mengangguk, “Terima kasih Ibu.”



Kini, setelah tamu-tamu kerabat Wulan sudah meninggalkan kediaman Kakek Bagaskara untuk selanjutnya menginap di hotel yang sudah di sediakan oleh Kakek Bagaskara sendiri. Dan dari tamu kolega bisnis Kakek Bagaskara pun pulang.


Saat ini, Wulan dan Damar sedang duduk di antara keluarga inti. Kakek Bagaskara, Nenek Ayudia, Bu Suci dan Danum juga Ayah dan Ibunya.


“Apa sekarang Wulan sudah boleh tahu apa yang sebelumnya, Kakek Bagaskara janjikan untuk memberikan penjelasan kepada Wulan?” tanya Wulan, mengharap ada kejelasan yang pasti.


Damar geleng-geleng dengan sifat istrinya yang masih bersikukuh penasaran dengan rencana Kakek Bagaskara.


“Ini sudah larut malam Wulan, Kakek Bagas pasti letih.” kata Ayah Wicaksono kepada putrinya. Menatap Wulan, sekilas menatap Kakek Bagaskara.


Wulan pun terdiam, ia merasa ucapan Ayahnya ada benarnya juga.


“Kakek sangat lega, bisa melihatmu bersanding dengan Damar, Wulan. Satu hal yang pasti, perjodohan kalian sudah Kakek dan Ayahmu sepakati bersama saat kamu melakukan pencarian terhadap Damar,” ungkap Kakek Bagaskara, menatap Wulan lalu beralih menatap Damar.


Wulan terkesiap mendengar jawaban Kakek Bagaskara, “Jadi?!”


Kakek Bagaskara pun beranjak dari duduknya, menghampiri kursi roda Nenek Ayudia. “Maafkan Kakek, Wulan. Ini adalah nazar Kakek.” lantas beliau pun berjalan menuju kamarnya.


Begitu juga yang lainnya.. “Mamah, juga ngantuk..” ujar Mamah Almira, beliau pun menoel lengan suaminya. Lalu berjalan menuju kamar tamu yang sudah dipersiapkan.


“Aku juga ah, udah ngantuk banget.” kata Danum, dan di susul oleh Bu Suci.


“Ibu juga, udah ngantuk.” imbuh Bu Suci.


Kini, semua orang pun sudah kembali ke kamarnya masing-masing. Saat ini hanya tertinggal Wulan dan Damar.


Wulan celingukan, seolah ia ingin menyembunyikan wajahnya dari tatapan intimidasi Damar. Ia pun beranjak, “Aku mau tidur.”


Damar tersenyum simpul melihat gelagat Wulan yang jelas terlihat canggung, ia pun menyambar pinggang ramping Wulan. “Ayo, kita tidur, aku juga ngantuk.” karenanya rumah sudah dalam keadaan sepi, ia pun membopong tubuh istrinya. Membuat si empunya tersentak.


“Damar!” kejut Wulan, ia membulatkan matanya.


Damar mengedipkan matanya, “Kamu masih mau tahu apa yang ku bicarakan dengan Pak Kusumo?”


Wulan menelan ludahnya yang serasa berat, ia hanya mengangguk tipis.


“Tapi, setelah....” Damar menggantungkan ucapannya, membuat Wulan semakin gugup.


•••

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2