Presdir Cilok

Presdir Cilok
107 Persidangan


__ADS_3

“Nawang Wulan, apa kamu nggak mau memaafkan ku? Aku bener-bener nggak tahu kalau kamu fobia kepala ayam!” oceh Damar, seperti burung kutilang kehilangan induknya. Ia sedang membujuk Wulan agar mau memaafkan atas kejahilannya.


Namun, sepanjang jalan, dari mobil yang dikemudikan Damar, Wulan enggan bergeming. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya. Memikirkan kesehatan sang Ayah yang sedang tidak sehat.


Damar lagi dan lagi melirik sekilas kearah Wulan, yang membuang tatapannya keluar jendela kaca mobil. Ia menghela nafasnya, tidak tahu harus berkata apalagi untuk membujuk Wulan agar mau memaafkannya. Damar pun menghentikan laju mobilnya di pinggiran jalanan... dan cara ini ternyata terbukti efektif untuk membuat Wulan menatapnya.


“Kenapa berhenti? Bukankah kita mau ke persidangan?” tanya Wulan bingung, menatap Damar dari samping.


Damar pun menoleh kearah Wulan, “Sidang apa? Sidang isbath?”


Wulan menghela nafasnya, tatapannya berubah menjadi tatapan malas, “Bisa serius nggak?!”


Damar crengengesan mendapat tatapan mata yang seperti mengantuk dari Wulan, “Bisa!”


Wulan mengalihkan pandangannya, menatap ke depan jalanan, “Cepet jalan!”


••


Di persidangan yang sedang berlangsung, kini seorang tahanan pria setengah baya tengah memakai rompi berwarna orange, duduk di kursi tepat di hadapan majelis hakim pengadilan, serta jaksa.


Seorang terdakwa kasus pelanggaraan hak atas tanah serta beberapa dari kasus yang menjeratnya. Ia juga di dampingi oleh dua pengacara kondang, yang duduk di sebelah kiri dari deretan kursi di ruangan sidang.


Badan yang dulu gemuk kini nampak sangat lesuh dan sayu. Bahkan untuk mengatakan terlambat menyadari, pun sudah tidak berguna lagi. Kini, hukuman terbentang di hadapannya, meskipun ia tidak sendiri, ada beberapa orang yang ikut terlibat di dalam kasus ini.


Seorang pengacara sedang mencoba membela terdakwa yang menjadi kliennya, “Saudara Kusumo hanya menjual apa yang sudah beliau tawarkan, dan beliau mempunyai bukti, bahwa tanah itu benar adanya Pak Hakim.”


“Cukup!” seru Hakim pengadilan, dari waktu yang diberikan untuk kedua pengacara sudah lebih dari cukup, kini giliran Jaksa penuntut umum.


“Silahkan Jaksa penuntut umum,” kata hakim pengadilan memberikan kesempatan untuk mendengarkan penjelasan jaksa penuntut umum.


Seorang Jaksa yang di panggil pun berdiri, dan sedikit membungkukkan badannya tanda memberi hormat. Lalu membacakan berkas tentang pasal-pasal KUHP..


“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).”


“Sedangkan tentang perkara Penipuan diatur dalam pasal 378 KUHP, yang menyebutkan : Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak, baik dengan memakai nama palsu atau keadaan palsu, baik dengan akal dan tipu muslihat, maupun dengan karangan perkataan-perkataan bohong, membujuk orang supaya memberikan sesuatu barang, membuat utang atau menghapuskan piutang, dihukum karena penipuan dengan hukuman penjara selama-lamanya 4 (empat) tahun.” jelas jaksa penuntut umum tentang pasal-pasal yang bisa menjerat terdakwa.


Dan di datangkan dari para saksi, untuk selanjutnya mendengarkan penjelasan dari beberapa narasumber terkait, juga mendatangkan para saksi ahli waris, dan dari beberapa narasumber terkait tentang tanah yang tidak valid.

__ADS_1


Kusumo terdiam mendengarkan penjelasan dari semua orang-orang yang menginginkannya mendapatkan hukuman setimpal.


Tak lepasnya ketiga dari anak-anak Kusumo yang turut serta dalam agenda sidang pertama Ayah yang mereka panggil Papi, kini mereka duduk di kursi bersamaan dengan orang-orang yang sedang mengikuti jalannya persidangan.


Kusumo pun sudah diberitahu tentang istrinya yang lebih memilih menghilang bersama dengan selingkuhannya di New York. Kusumo juga melihat Damar yang dahulu pernah ia hina, dan ia caci maki kini sedang menatapnya, di antara para orang-orang yang hadir.


Jantungnya serasa berat, nafasnya tersengal-sengal. Kusumo seolah menuli dengan semua pembacaan pasal KUHP yang sedang di bacakan oleh majelis hakim pengadilan dan Jaksa. Lalu terjatuh dari atas kursi, ia tersungkur seraya memegangi dadanya.


Semua orang yang ada di ruang persidangan pun seketika membelalakkan matanya, terperanjat melihat terdakwa yang jatuh bersimpuh dilantai ruangan persidangan, dan tidak sadarkan diri.


“Papi!!” ketiga anak Kusumo segera menghampiri pria setengah baya yang mereka panggil Papi.


“Astaghfirullah, Papi!” seru Ilham, anak kedua dari Kusumo, ia mengangkat kepala orangtuanya yang tak sadarkan diri, lalu menaruhnya di atas pangkuannya.


“Papi, bangun Papi...” seru Ratna, mulai menangis dalam kepanikan.


Begitu juga semua orang yang turut serta melihat terdakwa. Dan tak luput dari Damar dan Wulan yang ikut menjadi saksi atas laporannya. keduanya melihat keadaan Kusumo yang sekarang ini memprihatinkan.


Salah satu dari penjaga pengadilan pun memanggil tenaga medis, untuk menolong terdakwa.


••


Kusumo segera mendapatkan perawatan intensif di kamar UGD.


Ratna, Vega dan Ilham menunggu di depan kamar UGD dengan perasaan khawatir sekaligus cemas mengenai keadaan orangtuanya.


Serta beberapa polisi yang melakukan penjagaan ketat terhadap terdakwa kasus penyelanggaraan kepemilikan surat-surat tanah dan kasus lain yang menjerat Kusumo.


Begitupun juga dengan Damar, entah alasan apa yang membuatnya ikut berada di depan kamar UGD bersama dengan Wulan yang selalu setia menemaninya. Sekilas ingatan tentang kamar UGD mengingatkannya dengan luka lama, cerita kelam, saat ia masih remaja.


Gusli Wijaya, tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Mengharuskannya menjemput nyawanya di kamar UGD saat Bapak dari dua anak laki-lakinya seketika menjadi yatim.


Wulan dapat melihat ada guratan kesedihan yang menyelimuti Damar, entah karena sedih, senang, atau ada hal lainnya. Karenanya, menurut Wulan, Damar adalah seorang pria yang sulit ditebak. Wulan melingkarkan tangannya di punggung Damar dan mengusapnya perlahan, perasaan kesalnya kepada Damar soal pagi tadi seakan menghilang, sirna tertiup oleh angin welas asihnya.


Damar duduk di kursi ruang tunggu, ia menutup wajahnya, lalu beralih menatap Wulan yang duduk tepat disebelahnya. “Apa aku sudah berlaku kejam?”


Wulan menggeleng, “Nggak, semua ini terjadi karena ulahnya sendiri,”

__ADS_1


Damar terdiam, mendengar jawaban dari Wulan.


Namun, agaknya ada yang tidak terima dengan ucapan Wulan dan Damar. Dia adalah Vega dan Ilham.. kedua kakak beradik ini menghampiri Damar, terlebih Ilham, ia mencengkram kuat kerah baju yang Damar kenakan. Hingga membuat Damar seketika berdiri.


“Untuk apa kalian masih di sini?!” hardik Ilham, berkata dengan penuh kebencian. “Kalau sampai terjadi sesuatu sama Papi, aku nggak akan memaafkan mu!” sambung Ilham, melebarkan matanya, bersitatap dengan Damar.


Damar melepaskan secara paksa cengkraman kuat tangan Ilham di kerah bajunya, “Maaf?! Hey... Bung kamu sudah tuli? Apa kamu sudah buta untuk melihat kesalahan orangtuamu?!” sergah Damar, seraya menunjuk telinganya sendiri. Lantas beralih menunjuk Ilham, “Coba pikir! Selama ini kamu hidup mewah! Serba ada, ngeceng sini ngeceng sana, kamu kumpul dengan teman-temanmu, hura-hura pernah nggak kamu pikirkan tentang orangtuamu?!”


Mendengar cercaan Damar membuat Ilham semakin berang, “Bacot! Tahu apa kamu tentang keluarga ku, jangan sok ikut campur! Kamulah yang sudah membuat orangtuaku jadi seperti ini!”


Kali ini Vega tidak tinggal diam, “Belum puas kamu melihat hancurnya orangtuaku, mangkanya kamu disini untuk memastikan orangtuaku masih hidup atau mati kan?!” tuduh Vega, dengan suara yang ditekankan. Ia sudah tahu, siapa dibalik hancurnya perusahaan serta bisnis Papinya.


Semua orang yang sedang berada di depan kamar UGD pun terkesiap, dengan ketegangan yang terjadi di antara Damar, Ilham dan Vega. Termasuk juga Wulan dan Ratna.


Ratna menatap Damar, lalu beralih menatap Kakak laki-lakinya. Ia memegangi lengan Ilham, “Sudahlah Mas Ilham, jangan seperti ini.”


Ilham menghempaskan tangan Ratna, “Jangan seperti ini yang bagaimana Ratna? Kamu mau membela dia, daripada keluargamu?! Apa karena kamu masih mencintainya, iya?” hardik Ilham, berkata kasar kepada Ratna dan menunjuk Damar.


Ratna bersitatap dengan Ilham, dan beralih menatap Damar, mantan yang masih ia rindukan, dengan derai air mata menyelaraskan gambaran emosionalnya, “Bukan seperti itu, Mas. Aku lebih terluka dari pada apa yang kalian rasakan!”


Polisi yang sedang berjaga pun segera melerai pertikaian yang semakin bersitegang, memanas laksana Merapi yang murka.


“Tenangkan diri kalian! Ini rumah sakit!” hardik Pak Polisi.


Damar dan Ilham pun terdiam, namun dengan pandangan yang seolah ingin menerkam satu sama lain.


Wulan menghampiri Damar, “Damar sebaiknya kita pulang, lagipula mereka nggak akan pernah menghargai empatimu.”


Damar menatap Wulan, wanita yang sudah berbesar hati mau menemaninya kemana pun langkahnya. Meskipun berat, namun betapa bersyukurnya seorang Damar, dari semua perkara yang sudah melukai banyak orang, ia di pertemukan dengan wanita setangguh Wulan. Damar pun mengusap lembut rikma Wulan.


Dan semua perlakuan lembut Damar kepada Wulan, tak luput dari netra Ratna yang menatap dengan tatapan sendu.


Damar dan Wulan pun berbalik badan memunggungi kamar UGD, tempat Kusumo sedang mendapat perawatan medis.


Tepat, saat itulah Dokter keluar dari kamar UGD. Beliau menyerukan nama Damar. “Saudara Damar?!”


•••

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2