
Di kamar hotel yang di sewanya sekaligus tempat untuk dijadikannya tempat menggelar acara pernikahan. Opik sangat murka, ia duduk di tepian ranjang. “Arhhh... brengsek!”
(WARNING! Mohon bijak dalam membaca part ini.)
•••
Pintu kamar hotel pun tersingkap, dengan tangan Ratna yang memegang handle pintu. Ia perlahan masuk kedalam kamar hotel dan menutup pintu kembali. Kamar hotel yang sudah di hias sedemikian cantik untuk menghabiskan malam pengantin bersama dengan pria pilihannya. Ia telah rela mencampakkan pria baik demi seorang pria berbisa. Tanpa Ratna tahu seperti apa sebenarnya buruknya Opik Alamsyah.
Opik Alamsyah memiliki kepribadian ganda, sisi baik ia tunjukkan untuk menggaet mangsa. Dan sisi buruk seperti layaknya raungan serigala. Tapi siapa sangka, seorang Opik Alamsyah seburuk itu. Karena ia adalah orang yang pandai menutupi keburukannya, bagaikan serigala berbulu kucing.
Opik melihat Ratna masuk kedalam kamar, semula ia menatap Ratna dengan tatapan kosong. Opik kembali mengingat akan hal yang di katakan Damar, bahwa Ratna adalah wanita bekas pakai. Seolah wanita yang dinikahinya baru tiga jam lalu sudah ternoda.
Ucapan Damar begitu sangat mempengaruhi pikirannya, Opik beranjak dari tepian ranjang mewah dengan langkah jenjang, ia menghampiri Ratna.. Opik mengunci pintu.
Ratna mengira, ia akan diperlakukan bak seorang ratu oleh seorang pria yang sekian jam lalu sudah mengikrarkan ikatan suci pernikahan dengannya.
Opik menunjukkan sisi yang lain dari dalam dirinya, yang tidak pernah Ratna ketahui sebelumnya. Opik menyeret Ratna secara paksa dan menghempaskanya di atas ranjang hingga kening Ratna terbentur pembatas ranjang.
Ratna berteriak histeris, “Aaaaa.... Opik!” keningnya memar, meninggalkan ruam merah, bahkan darah segar keluar dari celah lukanya.
Opik mendekati Ratna, dan menjambak rambutnya kasar. “Dengar Ratna! Siapa suruh kamu ngundang si Jancok itu?! Sekarang lihat dia sudah merusak acara pernikahan kita yang seharusnya menjadi pernikahan mewah nan megah?”
Ratna takut, ia gelisah. “A--aku hanya ingin Da--” belum selesai Ratna berbicara. Opik sudah lebih dulu melayangkan tamparan di pipi istrinya..
PLAK
Rasa panas seketika menjalar di pipi Ratna, ia memegangi pipinya. “O--opik kenapa kamu se--seperti ini?” Ratna gemetar bukan main, matanya mulai mengumpulkan titik-titik air yang siap menetes di pipinya.
Uap di kepala Opik semakin mendidih,
“Memang seperti apa aku hah! Apakah aku terlihat seperti monster? Itu maksud mu?!” sergahnya marah.
Ratna menggeleng, lidahnya kelu. Kucuran keringat dingin dan hawa panas mulai menjalar di sekujur tubuhnya. “Bu--bukan itu maksud ku..” Ratna semakin takut, kala melihat urat syaraf Opik semakin membentang di lehernya, Ratna menelan ludah yang serasa mengganjal. Nafasnya tersengal-sengal.
Opik tidak menghiraukan Ratna yang tengah merasakan ketakutan, “Biar aku tunjukkan seperti apa sebenarnya pria yang sudah kamu nikahi ini, Ratna!”
__ADS_1
Tanpa peduli Ratna meronta-ronta dan menangis tersedu-sedu. “O..pik, ku mohon jangan seperti ini...” tangisnya pecah dan semakin menjadi-jadi.
Sekian menit bermain dengan cara kasar, Opik melepaskan cengkraman tangannya di lengan Ratna, “Aku akan buktikan sendiri, apa benar yang dikatakan mantan pacar mu, itu!” sentak Opik.
Ratna menahan sakit di kening, serta di beberapa bagian titik tubuhnya yang meruam memar kebiruan, akibat permainkan kasar Opik padanya. Rasa sesak semakin tak terelakkan. “A--ap maksudmu, Pik?”
Opik tidak menjawab, ia nyalang menatap istrinya seolah menatap wanita penghibur malam, begitu rendah. Bayangan yang di ucapkan Damar kembali terngiang-ngiang di otaknya, seolah Damar sedang menertawakan betapa bodohnya seorang Opik Alamsyah.
Opik kembali mencengkram bahu Ratna. Sekuat tenaga Ratna mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Opik yang terlihat semakin beringas. Koyakan serta sobekan gaun yang di kenakannya semakin tak beraturan.
Ratna hanya bisa menangis, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Opik. Ia pasrah menahan sakit dan sesal atas segala yang sudah terjadi.
Opik merasakan sesuatu cairan yang merembes dari celah permainan panasnya. Ia merasa bahwasannya, ucapan Damar soal kata ‘bekas adalah, seolah menggambarkan kalau Ratna memang sudah tidak layak menyandang gelar gadis.
Opik memelankan permainan panasnya, dan merasa kasihan dengan keadaan Ratna saat ini. Setelah mencapai puncak ia menyudahi aktivitas gairahnya.
Ratna tak berdaya, ia terkapar terkulai lemah. Sekujur tubuhnya lebam ruam merah kebiruan, bukan soal sakit di sekujur tubuhnya. Akan tetapi, lebih dari itu, ia merasa harga dirinya sudah tak berarti apa-apa lagi. Bahkan untuk sebuah penyesalan pun tak dapat mengembalikan kehormatannya.
Opik berbaring di sampingnya, dan mengusap air mata Ratna. “Maafkan aku Honey,” sesal Opik, yang sudah meluapkan emosional pada sang istri.
Ia lantas turun dari tempat tidur menjauhi Opik yang terlihat menakutkan dimatanya, dan berdiri. Namun, seolah betisnya tidak mampu menopang tubuhnya yang lemah, Ratna ambruk ke lantai dan menangis tersedu-sedu.
Opik merasa sangat bersalah, ia mencoba untuk membujuk Ratna dan ikut bersimpuh di lantai, hendak memberi pelukan. Namun, suara sentakkan Ratna yang gemetar menghentikan niatnya untuk memeluk istrinya.
“Pergilah Opik! Manusia macam apa kamu?! Kamu lebih buruk dari binatang!” maki Ratna, seraya beranjak dan berlari menuju kamar mandi. Ratna kembali menangis sejadi-jadinya, antara rasa pengelasan dan jijik pada dirinya sendiri kini membuatnya merasa sangat terpuruk.
Opik berang, ia mengedarkan pandangannya menatap tempat tidur dan jelas terlihat noda merah di atas sprei putih, menandakan bahwa istrinya memang masih tersegel. Namun, karena perkataan Damar seolah mengkambinghitamkan dirinya dan Ratna.
Ia mengepalkan tangannya, dan meninju ubin hingga meninggalkan bekas memar dan darah keluar dari kulit tangannya yang terkelupas.
Opik beralih mengedarkan pandangan menatap dinding warna cream kamar hotelnya, tangisan Ratna di dalam kamar mandi terdengar sangat miris. “Arrkhhhhh.... Sialan kamu, Mar!” malam yang seharusnya dilewati dengan pergumulan romantis, kini berubah menjadi malapetaka.
‘Akan ku balas, perbuatan mu!’ dendamnya dalam hati, tertuju kepada Damar.
••
__ADS_1
Sementara di rumah..
Setelah acara gelar pernikahan yang berakhir ricuh, semua orang langsung kembali kerumahnya masing-masing. Tak terkecuali kedua Kakak Ratna, yang langsung kembali ke tempat tinggalnya sekarang.
Dan kini, di rumah megah ruah dan mewah. Kusumo masih tidak mempercayai bahwa Damar adalah cucu seorang milyuner kaya raya. Hampir seluruh perusahaan mengandalkan saham dari Perusahaan group Wijaya Company.
PRANG!!!
Pria setengah baya yang masih doyan dengan minuman beralkohol membanting gelas berisikan minuman dengan kadar alkohol tinggi. “Kenapa bisa seperti ini?!” murkanya yang terduduk di kursi ruang tengah rumah sofa megahnya.
Ana terkejut dengan tindakan suaminya, yang terlihat sangat berantakan membuang jas ke sembarang arah. Dengan tatanan dasi yang dikendurkan serta lengan kemejanya yang di Kelin tak beraturan. Menampilkan sisi terpuruk dalam diri Kusumo yang setiap hari selalu tampil wah.
“Papi, sudahlah Pi. Kenapa Papi harus menyesal? Kan besan kita nggak kalah pentingnya dari orang tua itu?!” seru Ana, mencoba menenangkan Kusumo.
Kusumo menatap istrinya tajam, “Mami nggak tahu! Seperti apa kejamnya orang tua itu, kalau sudah tidak menyukai seseorang yang berbisnis dengannya..”
Ana bingung, jelas saja dia tidak tahu. Karena selama ini, Ana hidup tanpa mau tahu pekerjaan suaminya. “Mana Mami tahu?!”
“Ya jelas Mami tidak tahu! Karena setiap hari kerjaan Mami hanya menghambur-hamburkan uang, arisan yang tidak jelas uangnya mengalir kemana?!” sentak Kusumo pada kebiasaan hidup glamor istrinya.
Ana tidak mau begitu saja di salahkan, “Terus Papi sekarang nyalahin Mami?! Lagian nggak ada salahnya dong Mami hidup mewah, kalau Papi mampu? Kenapa enggak!” sergah Ana.
Kusumo enggan menanggapinya, lantas memanggil salah satu bodyguardnya, “Alex!”
Seorang bodyguard yang berada tak jauh darinya, lantas mendekati sang Tuannya. “Iya, Tuan?”
“Bentuk team, untuk mencari tahu tentang Bagaskara Wijaya dan cucunya! Benarkah Damar adalah cucu si tua bangka songong itu!” titah Kusumo pada sang bodyguard yang bertubuh tegap, tanpa melihatnya.
Alex pun mengangguk, “Baik Tuan.” lantas Alex pergi dari hadapan Kusumo, yang jelas saja terlihat sangat menahan amarah.
•••
Bersambung...
.
__ADS_1