
Desain rumah joglo dengan sentuhan modern. Pengaplikasian atap pada rumah joglo modern menghadirkan sebuah kombinasi yang sangat unik pada sebuah rumah. Bentuk atapnya yang menyerupai piramida ini terinspirasi dari bentuk gunung.
Kakek Bagaskara berjalan lebih dulu memasuki pelataran rumah yang sangat luas, pohon bunga nusa indah putih terlihat mempesona tertiup semilirnya angin malam. Dengan kesan dari sorot cahaya lampu kekuningan yang berjejer apik di beberapa sudut pandang halaman rumah berciri khas joglo.
Damar dan Wulan, serta beberapa ajudan Kakek Bagaskara berjalan di belakang, sang Tuan rumah. Damar terlihat dengan sangat seksama mengamati bangunan rumah yang ia lihat di malam hari ini. Lahir di kota Gudeg membuatnya sangat menggemari bangunan asli khas Jawa ini.
Damar mengedarkan pandangan, dan melewati pendopo yang cukup besar di bagian samping rumah utama, dan terdengar suara gemericik dari kolam ikan tak jauh dari keberadaan pendopo. Menambah kesan asri serta alami. Sakit di wajahnya akibat bogeman dari tangan bodyguard Kusumo tak ia rasa. Namun, tak dapat di pungkiri Damar merasakan rikuh memasuki pelataran rumah yang megah ini.
Berjalan beriringan dengan Wulan, akal bulusnya seolah ingin memangkas kecanggungan yang ada di dalam dada dan pikirannya. Damar menyelipkan jemarinya di jemari lentik Wulan.
Wulan terkejut dengan aksi Damar yang semakin berani untuk menggoda dirinya. Ia menoleh kesamping menatap Damar dari samping yang sedang mengedarkan pandangannya menatap lurus kedepan.
Dengan tangan kirinya, Wulan mencubit bukan hanya sekedar mencubit, ia sedikit memplintir cubitan dipunggung tangan kiri Damar yang menggenggam jemarinya kanannya. Membuat Damar terkesiap, seketika melepaskan genggaman tangannya, lantas menoleh kearah Wulan yang sedang memasang wajah super jutek. Damar hanya memasang tampang slengea'nya, dan mengedipkan matanya, ditambah sedikit memajukan sedikit bibirnya di hadapan Wulan.
Wulan semakin mendelik serta mencebikkan bibirnya, “Mesum!” greget Wulan kesal akan sikap Damar. Bisa-bisanya, pria di sampingnya bercanda saat berjalan di belakang Kakeknya dan ada beberapa ajudan yang berjalan di belakang mereka.
Pintu utama rumah joglo modern pun tersingkap, dengan dua orang yang berseragam hitam yang membukanya. “Tuan,” sapanya terhadap Kakek Bagaskara.
Kakek Bagaskara hanya mengangguk tipis, lalu berbalik badan dan mendapati keanehan dari raut wajah cucunya yang sedang menggoda Wulan. “Ekhemmm...!”
Deheman Kakek Bagaskara, seketika mengalihkan perhatian Damar yang sedang menatap Wulan dengan mengedip-ngedipkan matanya, dan juga Wulan yang membalas kedipan mata Damar dengan mendelik kesal.
Damar dan Wulan langsung saja terkesiap mendengar deheman Kakek Bagaskara yang cukup keras, lantas menatap Kakek Bagaskara. Damar santai saja bersitatap dengan Kakeknya, bahkan terkesan acuh, ia masih menyimpan rasa kesal dalam mengingat sikap Kakek Bagaskara saat di pemakaman Bapaknya.
Namun, tidak untuk Wulan. Wanita yang satu ini malu, malu setengah mati, ia menunduk dalam-dalam seraya memejamkan matanya, merasa merinding disko.
‘Nah, loh.. mati gue!' dengus Wulan dalam hati.
“Masuk!” titah Kakek Bagaskara, kepada Damar dan Wulan.
Wulan masih menunduk, lalu membalas Kakek Bagaskara hanya dengan mengangguk tipis. Sedangkan Damar masih berdiam diri, dan merasa canggung melihat ruangan dalam rumah yang menampakkan kemegahan dari bangunan joglo.
Kejadian konyol Damar sedang menggoda Wulan, bukan hanya di saksikan oleh Kakek Bagaskara, akan tetapi juga di saksikan ajudan Kakek Bagaskara yang masih berdiri di belakang Damar dan Wulan.
Kakek Bagaskara kembali menatap kepada delapan ajudannya, “Kalian boleh pulang, tugas kalian sudah selesai.”
“Baik Tuan.” serentak semua ajudan Kakek Bagaskara. Mereka pun pergi meninggalkan kediaman Kakek Bagaskara.
__ADS_1
Kakek Bagaskara kembali menatap Damar, “Masuklah Damar,”
Damar dan Wulan lantas masuk kedalam rumah
Kedua orang yang masih berdiri di samping pintu bagian dalam rumah, seraya mesam-mesem melihat kelakuan kedua muda-mudi yang sudah kadaluarsa di depan pintu lebar dengan ukiran kayu apik. Seketika melunturkan senyuman ketika mendapati Kakek Bagaskara sedang menatap keduanya dan siap menunggu perintah. Mereka menutup pintu kembali.
Dan sebelum itu, semua pelayan di kediaman Kakek Bagaskara sudah mengetahui bahwa Damar adalah cucu Tuan mereka.
“Ambilkan kompres air dingin dan obat pereda nyeri,” titah Kakek Bagaskara kepada kedua pelayannya.
Kedua pelayan pria yang sudah berusia empat puluh tahunan itupun mengangguk, dan pergi menjalankan perintah Kakek Bagaskara.
Damar mengedarkan pandangannya, menatap keseluruhan bagian ruang tamu kediaman Kakeknya. Ia melihat satu set sofa berada di tengah-tengah ruangan, dengan lampu hias kristal bening yang menggantung di atas tengah-tengah ruang tamu. Juga ada satu set sofa yang berbeda warna, di bagian sudut kiri ruang tamu dengan adanya piano.
Dan ada aquarium besar, berisikan ikan arwana golden red. Damar takjub kali kedua ia memasuki rumah sewah ini setelah sebelumnya ia memasuki rumah kediaman orang tua Ratna. Namun, kali ini jelas saja berbeda arsitektur dan gaya bangunan.
Sementara untuk Wulan, ia sudah beberapa kali menyambangi rumah Kakek Bagaskara.
“Ikutlah Kakek, ada yang sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu Damar,” kata Kakek Bagaskara membuyarkan lamunan Damar. Damar bersitatap dengan Kakeknya.
Kakek Bagaskara lebih dulu memutuskan kontak mata secara sepihak, dan berjalan mendahului Damar.
Atas: Senapan baker, senapan abad ke 19 flintlock
Kedua: M1903 Springfield, senapan abad ke 20 awal bolt-action
Ketiga: АК-47, pertengahan abad ke-20 Operasi gas, magazine-fed automatic rifle
Keempat: AR-15, senapan pertengahan abad ke-20 magazine-fed, semi-automatic rifle
Dan masih banyak senapan-senapan yang lainnya. “Apa semua senapan ini legal?” gumamnya lirih.
Meskipun sudah usia senja, namun pendengaran Kakek Bagaskara masih berfungsi dengan baik. Tanpa menoleh kearah Damar, beliau menjawab. “Tentu saja semua senapan ini legal, dilengkapi surat-surat penting kepemilikan,”
Damar membulatkan matanya, mendengar jawaban Kakek Bagaskara. Ia tak menyangka, suaranya yang sangat lirih bahkan seperti bisikan Kakek Bagaskara masih bisa mendengarnya.
Damar kembali mengedarkan pandangannya, ia menatap anak panahan dengan berbagai ukuran dan bentuk. Pikiran dan hatinya mulai berspekulasi bahwa mungkin saja Kakek Bagaskara adalah seorang dengan hobi berburu atau hanya sekedar mengoleksi barang-barang antik dan persenjataan.
__ADS_1
“Ini semua adalah milik Almarhum Bapakmu, dia suka berburu. Kemana pun dia pergi, dan dimana pun negara yang dia singgahi selalu menyempatkan diri untuk membeli barang-barang ini. Meskipun harus dengan susah payah mendapatkan izin kepemilikan persenjataan.” pungkas Kakek Bagaskara seolah bisa membaca pertanyaan yang bergelayut di pikiran cucunya.
“Lalu, apa Bapak suka pergi ke hutan dan berpetualang?” tanya Damar rasa keingintahuannya melupakan kekesalan terhadap Kakeknya.
“Iya, Gusli memang suka dengan alam dan hutan. Setiap kali dia libur panjang, dia pasti akan berpetualang dan berburu.” ungkap Kakek Bagaskara.
Damar manggut-manggut mendengar penjelasan Kakek Bagaskara mengenai masa muda Gusli yang sama sekali tidak ia ketahui. “Jadi, seperti apa dulu Bapak saat remaja?” tanya Damar antusias, ia merasa kehidupan masa remaja Bapaknya adalah suatu hal yang menarik minatnya.
Kakek Bagaskara berhenti, diikuti Damar dan Wulan yang sejak tadi hanya mendiamkan diri.
Kakek Bagaskara berbalik badan dan bersitatap dengan cucunya. “Apa Ibumu tidak pernah bercerita mengenai Bapakmu? Atau selama Gusli masih hidup, dia enggan bercerita dan sengaja melupakan semua tentang keluarga Wijaya?”
Damar menggeleng, ia lagi-lagi merasa kehidupan masa silam kedua orangtuanya begitu misterius dan baru sekarang ini mulai terkuak kebenarannya.
Damar jelas saja tidak mengetahui, ia selama ini hidup bersama dengan Ibu dan Bapaknya tidak pernah sekalipun mendengar kehidupan kedua orangtuanya semasa muda. Bahkan soal Kakek dan Nenek nya pun seakan-akan masih terasa asing.
Kakek Bagaskara menghela nafas panjang, belaiu menggelengkan kepalanya perlahan, heran. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi. Kakek Bagaskara kembali berjalan dan sampailah di depan kamar, lalu memegang handle pintu kamar. Lantas membukanya perlahan.
Kakek Bagaskara kembali menatap Damar, beliau mengisyaratkan agar Damar mengikutinya masuk ke dalam, Damar terdiam ia tak bersuara untuk menjawabnya.
Pintu yang baru tersingkap setengah kini sudah terbuka lebar. Hal pertama yang Damar lihat adalah kamar dengan nuansa cat warna putih dengan pencahayaan lampu tidak terlalu terang, dan lebih terkesan redup. Kakek Bagaskara menatap Damar dan beralih menatap Wulan yang berdiri di belakang Damar. “Masuklah.”
Kakek Bagaskara berjalan lebih dulu, disusul Damar dan Wulan.
Lantas Kakek Bagaskara mendekati dan duduk di tepian ranjang, tatapannya berubah menjadi sendu, menatap seorang wanita renta dengan rikma memutih, badan kurus yang tertutupi selimut setengah dari tubuh tuanya. Yang sedang berbaring miring dengan mata terpejam mendekap bingkai foto Almarhum putra satu-satunya.
Netra tuanya mulai mengumpulkan titik-titik air mata yang mengambang di kedua kelopak matanya. Perlahan tangan renta'nya mengusap lembut kepala wanita sepuh, yang sedang berbaring lesuh, rapuh. Egonya sudah membuat keluarganya terpecah belah, butuh waktu lama untuk membuat Kakek Bagaskara menyadari, keserakahan dan ketamakannya sudah menyakiti semua orang, bahkan kini putra satu-satunya telah tiada.
Damar sangat memperhatikan wanita tua yang sedang berbaring dengan mata terpejam, dan memeluk bingkai foto berukuran sedang.
“Nenek mu harus mengkonsumsi obat penenang setiap hari. Bahkan setiap waktu, untuk mengurangi depresinya.” ungkap Kakek Bagaskara, lirih.
Damar membelalakkan matanya, memandangi wajah Neneknya dan beralih menatap Kakek Bagaskara dari samping. Ia tidak habis pikir dengan Kakeknya telah tega berbuat sedemikian kejam, memberikan obat anti depresi sekian lamanya kepada Nenek Ayudia yang tentu saja akan berdampak negatif untuk kesehatannya. Namun, Damar pun tidak bisa semena-mena menyalahkan Kakeknya.
Damar menyipitkan matanya, masih berdiri tak jauh dari tempat tidur Nenek Ayudia. “Orang-orang yang paling tidak berbahagia adalah mereka yang terlalu memikirkan dirinya sendiri, menimbun materi, status dan ketenaran!”
Kakek Bagaskara terdiam, beliau merasa tersentuh dengan perkataan cucunya. Bahwa memang benar, harta, tahta dan ketenaran dapat menjadi landasan kekufuran.
__ADS_1
•••
Bersambung...