Presdir Cilok

Presdir Cilok
92 Cinta segitiga


__ADS_3

Di pelataran PT Jaya Gemilang, Damar menengadahkan wajahnya menatap langit biru terlukis indah dengan awan-awan putih dan burung terbang bebas, seperti dirinya kali ini. Akhirnya dapat meluluhtakkan perusahaan si biang bandit tanah.


“Hari ini aku mau langsung pulang Mar, mau tidur sepuasnya!” kata Bokir, seraya menahan bahunya yang terasa berat.


•••


Damar mengalihkan tatapannya, menatap Bokir yang jelas terlihat menahan kantuknya, “Baiklah, tapi hanya sehari saja!”


Bokir mencebikkan bibirnya, “Ck, sehari, apaan sehari?!”


“Itukan karena kamu suka tidur Bokir!” celetuk Wulan, di belakang Bokir.


Tiba-tiba seruan seorang wanita yang baru turun dari mobil Lamborghini membuat ketiga orang serempak menatapnya. “Damar!!” wanita dengan tampilan elegan kemeja putih dan celana panjang warna navy blue melambaikan tangan kepada Damar.


“Angelina!” gumam Damar. Membulatkan matanya, menatap wanita dengan tampilan yang elegan mulai berjalan dengan langkah seperti model menghampirinya.


“Hay!!” sapa Angelina tanpa basa-basi mengalungkan tangannya di lengan Damar, dengan senyum sumringah, merah merekah warna bibirnya.


Dengan wajah bingung, Damar pun bertanya kepada Angelina, perihal darimana wanita dengan rikma yang dibiarkannya tergerai indah, tahu keberadaannya. “Kamu tahu darimana kalau aku di sini?”


Angelina pun berdiri berhadapan dengan Damar, “Dari Paman Bambang!” tangan Angelina terangat, dan menyentuk luka Damar yang dibalut perban, “Pipi kamu kenapa?” tanya Angelina.


Wulan menelaah nafasnya yang serasa menggebu-gebu. Sesak melihat dengan apa yang dilihatnya, rasa panas menjalar di pelupuk matanya. Sebisa mungkin ia tahan agar tak menetes, ia pun mengalihkan pandangannya.


Bokir menatap Wulan yang nampak sangat kumel siang ini, dikarenakan memang sedari kemarin wanita ini tidak terlihat merawat dirinya karena terlalu sibuk. “Duh yang lagi gerah! Apa iya, kamu jadi gerah buat ngapain-ngapain? Walau kadang gerah berasa berat.... Cil guys! Nyatanya nyegerin gerah guampaaang banget!” Bokir memutar tutup botol berwarna hijau dengan botol bening dengan kandungan air soda di dalamnya. “Segampang ini!! Glek... glek... glek... Ahhh... Segar!!”


Wulan pun membuka tutup botol dengan kasar, lalu menenggak habis minuman bersoda, sampai terbatuk-batuk. Membuatnya tidak bisa lagi menahan rasa sesak di dadanya. Tanpa permisi buliran bening meleleh bersamaan dengan ia menepuk dadanya.


Damar segera mendekati Wulan, dan mengusap punggungnya, “Kalau minum tuh nggak usah gugup gitu, lagian nggak ada yang minta, Wulan.”


Wulan segera menghempaskan tangan Damar, dan berlari menuju jalanan. Sekuat tenaga ia terus berlari, ‘Kenapa semenyedihkan ini!! Apa yang sudah ku perbuat dengan hatiku ini?! Oh Tuhan lenyapkanlah segala rasa yang membuatku rapuh!'


Damar hendak berlari menyusul Wulan yang berlari bagai kuda pacu, namun tangannya segera di tahan oleh Angelina.


Bokir geleng-geleng kepala, “Cinta segita?” gumamnya lirih.


••


Di taman tengah-tengah alun-alun kota Bantul, ini Wulan sedang duduk di bangku taman. Ia membenamkan wajahnya di telapak tangannya. Lalu beralih menengadahkan wajahnya, menatap birunya hamparan langit.


Wulan mengingat di taman inilah Damar mengajarkan untuk merasa bodo amat. Merasakan kesenangan, meskipun lewat air hujan. Bisa mengerti apa itu artinya tersenyum, menyejukkan kalbu dengan bijaksananya hati yang penyayang.

__ADS_1


“Aku nggak mau seperti ini, aku nggak menginginkan hatiku rapuh hanya karena cinta, aku nggak ingin seperti ini terjadi. Aku nggak mau cinta memasuki sukma dan raga, oh dewa asmara kenapa cinta membuat hatiku luka lalu pergi begitu saja.” cecarnya pada diri sendiri, dengan suara kecil, memandangi awan dengan jumpatan-jumpatan seperti kapas.


Wulan kembali menundukkan kepalanya, menatap rerumputan taman yang ia injak. Sudah kesekian kalinya, ia menarik nafas dan menghembuskannya kasar. Mengharap agar suasana hatinya kembali beku, seperti sebelumnya, tidak tahu apa itu cinta apa itu hati yang penyayang.


Setelah merasa tenang, Wulan pun memutuskan untuk pulang ke rumah. “Aku harus pulang, tidak ada gunanya aku seperti ini.”


Ketika hendak beranjak dari duduknya, dengan wajah yang masih menunduk. Seseorang mengulurkan tissue di sampingnya duduk.


Wulan melihat tangan seseorang yang memakai jam di pergelangan tangannya, berharap itu adalah seseorang yang saat ini memenuhi pikirannya. Ia pun mengangkat wajahnya, seketika senyuman itu luntur, laksana air hujan yang melunturkan lahar dingin.


Seseorang itu pun duduk di samping Wulan, “Nggak baik menangis terlalu lama,” ucap seseorang, yang saat ini memakai Hoodie dan celana panjang serta topi, “Masih ingat denganku?” tanyanya.


Wulan bersitatap dengan pria yang tak ia kenal, ia hanya mengangkat bahunya untuk mewakili menjawab pertanyaan pria yang saat ini tersenyum menawan duduk di sampingnya.


“Aku pernah bertemu denganmu di pernikahan Ratna dan Opik?” ungkap si pria, masih menatap Wulan dengan seksama.


Wulan merasa dari tatapan pria yang tidak ia kenal, membuatnya merasa seperti di kuliti. Ia lantas beranjak dari duduknya, “Maaf aku tidak mengingatnya.” Wulan pun melangkahkan kakinya yang di balut dengan sepatu sneaker wedges.


Si pria pun ikut berdiri, “Tunggu!” serunya, menghentikan langkah Wulan. Lantas berjalan mendekati wanita yang membuatnya terpana sejak pertama kali bertemu di pernikahan rekan bisnisnya. Lalu berdiri di hadapan Wulan. “Aku Roni.” ucapnya memperkenalkan diri, mengulurkan tangannya di hadapan Wulan.


Wulan menatap tangan yang terulur di hadapannya, lalu beralih menatap pria yang sedang tersenyum menatapnya. Sekilas ingatannya memutar seseorang yang mengajaknya berkenalan saat ia menghadiri pernikahan mantan pacar atasannya. “Iya, aku ingat sekarang!” Wulan pun menyalami tangan Roni.


Roni semakin melebarkan senyumnya, mendengar wanita yang ada dihadapannya, mengingatnya. “Aku masih ingat dengan jelas, namamu masih Wulan ‘kan?”


Roni pun menatap mata Wulan yang sembab, “Jadi, siapa yang sudah membuat mata secantik dirimu menangis?”


Wulan membuang tatapannya, dan menghela nafas. “Haha... iya, mata emang suka begini kalau...”


“Kalau kena debu?” cetus Roni menyambar ucapan Wulan.


Wulan tidak bisa lagi mengelak, ia menunduk dalam-dalam. Seraya memilin jemari tangannya di belakang punggung.


Roni terkesima melihat, begitu lugunya wanita yang ada di depannya. Suara dari speaker penjual es krim pun memunculkan ide. “Katanya, biar bisa mengembalikan mood, makan es krim juga bisa loh, apalagi kandungan cokelat bisa menetralkan emosi.”


Wulan mengangkat wajahnya


“Kamu ngga percaya?” tanya Roni lagi, bersitatap dengan Wulan yang tidak menjawab perkataannya. “Sebagai salam kenal, aku akan mentraktir mu, bagaiman?!” bujuknya, mengharap bisa meluluhkan hati Wulan. Karena ia merasa wanita berparas ayu alami seperti Selena Gomez sedang patah hati.


Wulan menganggukkan kepalanya, “Baiklah, aku akan membalas kebaikan mu.”


Roni menepuk pelan lengan Wulan, “Hey, santai aja! Anggap aku ini sedang merayakan ulangtahun.”

__ADS_1


Wulan dan Roni pun berjalan beriringan menuju penjual es krim yang mangkal tak jauh dari taman.



Dari kejauhan taman, Damar sedang berdiri di bawah pohon Cemara, memperhatikan Wulan yang sedang berjalan bersama dengan seorang pria yang terlihat sangat akrab.


Damar menghela nafas seraya tangannya memegang dada yang serasa berkecamuk, seolah anak panah menusuk relung sukmanya yang tak lagi sejuk. “Siapa yang ku harap dari wewangian ini? Siapa lagi kalau bukan engkau, senyumannya semanis madu.” ucapnya lirih, masih menatap Wulan.


“Damar!” seruan Angelina membuyarkan lamunan Damar.


Damar menoleh kearah wanita yang memanggilnya, “Angel, sepertinya aku harus pulang,”


“Kalau begitu, aku akan ikut denganmu, sekalian aku ingin mengenal keluargamu,” kata Angelina, seraya mengalungkan lengannya dengan manja di lengan Damar.


“Baiklah.” Damar pun berjalan beriringan dengan Angelina, menuju mobil Lamborghini yang terparkir di bahu jalan taman.



Dari sisi yang lain..


Wulan dan Roni sedang menikmati es krim yang baru saja mereka beli, dan duduk di bangku taman.


“Orang tuamu tinggal di mana? Sepertinya kamu bukan orang Jogja?” tanya Roni, memecahkan keheningan. Ia merasa Wulan adalah wanita yang pendiam.


“Jakarta, sebenarnya bukan asli Jakarta juga, keluargaku berasal dari Aceh, tapi karena suatu hal, kami berpindah-pindah dan akhirnya di Jakarta,” jelas Wulan, karena memang hidupnya yang seperti burung migrasi selalu berpindah-pindah tempat tinggal.


Roni manggut-manggut, “Jauh juga yah, kalau aku ingin mengenal keluargamu!”


Wulan pun menatap Roni dari samping, ia mengangkat alisnya, “Maksudmu?”


“Iya, kan? Setelah saling mengenal, bukankah lebih cepat lebih baik. Aku merasa sudah jatuh cinta saat pertama kali bertemu denganmu,” ungkapnya, mengatakan bahwa memang Roni ingin menjalani hubungan yang serius dengan wanita yang belum lama ia kenal.


Wulan menyangsikan ucapan Roni, “Hahaha... kamu lucu juga kalau bercanda!”


“Aku serius.” kata Roni, mantap.


Wulan menatap Roni dengan seksama, kemudian membuang tatapannya. Dan tanpa sengaja dari kejauhan, ia melihat Damar yang berjalan dengan Angelina menuju mobil Lamborghini warna merah.


Persahabatan sering berakhir dengan cinta, Namun, cinta tidak pernah berakhir dengan persahabatan.


•••

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2