
Selalu ada cerita untuk sebuah kisah. Menjalani hiruk biduk rumah tangga bersama orang yang sama. Mengharap menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah.
Yah, ungkapan sederhana itu, kiranya menjadi sebuah landasan, mengapa Tuhan mempertemukan dua insan manusia yang sebelumnya tidak saling mengenal, tidak saling menyapa. Lalu timbullah rasa keingintahuan untuk lebih mengenal satu sama lain, kemudian berkembang menjadi sebuah ketertarikan, dan mengikrarkan tali pernikahan.
Menerima dengan lapang, kekurangan dan kelebihan... bahwasannya setiap manusia pasti memiliki catatan sejarah dalam kehidupan... Entah suka maupun duka. [Kita lewati bersama]
Aroma ikan goreng tercium sangat sedap di dapur yang tidak terlalu mewah juga tidak terlalu luas. Kedua pasangan muda ini menyebutnya rumah legendaris. Rumah yang mengajarkan begitu banyaknya pengajaran yang bisa di ambil dari hikmah setiap perkara yang telah terlewati oleh masa.
Namun, bukan sang istri yang memasak makanan untuk sarapan pagi. Melainkan sang suami, yang dengan kerelaannya memasak menu ikan goreng bandeng presto dan sayup sop. Inilah, salah satu kelebihan dari kelebihan yang dimiliki oleh seorang Damar, ia bukan hanya pengusaha cilok. Bukan hanya pengelola perusahaan makanan Amanah food.
Melainkan jikalau di rumah, Damar adalah seorang pria yang bisa menjadi seorang suami yang siap siaga dalam memenuhi keinginan ngidam sang istri. Hem... agaknya memang Damar kini harus lebih berlapang dada untuk menerima konsekuensi logis dan non logis dari ngidamnya Wulan yang terbilang cukup membuat heboh.
Dan karena ngidamnya Wulan, ia bahkan pernah mandi tidak memakai sabun wangi selama satu minggu full. Jangan di bayangkan gimana rasanya mandi tidak memakai sabun wangi. Dikarenakan, Wulan alergi terhadap wewangian semenjak hamil.
Damar berpikir, jika semua wanita ngidam seperti istrinya, maka perusahaan sabun mandi akan mengalami kebangkrutan secara signifikan! Hahh, helaan nafas panjang, ketika Damar melanggar, maka ia harus tidur di luar!
Menjalani kehidupan setelah menikah memang ada hal-hal ajaib yang terjadi.
Damar saat ini sedang memakai celemek warna biru, ia berdiri di depan kompor, tangannya memegang Sutil stainless steel dan membalikkan ikan yang sudah berwarna keemasan.. ketika sedang sibuk dengan aktivitasnya, kedua tangan melingkari perutnya. Membuat sudut bibirnya mengembang.. ‘Mulai deh manjanya. Istriku.’
Yah, selain ngidam pentol. Istrinya ini juga sangat manja, dan lebih dominan ngambekan. Ya ya ya... wanita memang selalu benar, dan pria selalu jadi korban ketika istri sudah berkata; Kamu nggak mau nuruti, kamu mau anak kamu ileran?’
Selalu menjadi alasan klasik bagi Ibu-ibu ngidam, jikalau sudah menginginkan sesuatu. Seolah-olah, bayi ileran bisa menjadi senjata pamungkas untuk mendapatkan apa yang di inginkan!
__ADS_1
“Kamu tau nggak, kenapa main ular tangga sekarang udah nggak zaman?” tanya Wulan mulai menggoda sang suami yang kini tengah memasak sarapan pagi ini.
Damar memutar kepalanya, mensejajarkan dagu ke pundak, melihat sang istri dari ekor netranya, “Kenapa memang?”
“Karena sekarang zamannya main rumah tangga beneran! Hahaha...” kekehnya mulai usil, Wulan mencondongkan tubuhnya sedikit kesamping dan memandangi wajah Damar yang sekarang memiliki berewok tipis di dagu, menambah kesan cool serta dewasa. Ya, pria ini tinggal menghitung bulan lagi akan menjadi seorang Ayah. Atau secara trend'nya hot Daddy. “Dan sekarang dari rumah tangga ini sudah ada hasilnya..” lanjutnya lagi, sambil mencium lengan Damar.
Damar manggut-manggut dan kekehan ringan Wulan pun menular padanya, ia membalikkan tubuhnya menghadap Wulan yang kini sedang tersenyum lebar, jari telunjuknya menoel ujung hidung sang istri yang sekarang ini lebih bersifat manja bin jail.. “Jadi apa sekarang ini kamu merasa menyesal telah menghasilkan hasil dari jerih payahku di dalam perutmu?”
“Pertanyaan macam apa itu?” Wulan mencebikan bibirnya, “Apa jangan-jangan kamu yang menyesal karena menikahi wanita yang lebih tua?”
Damar menggeleng, lantas mencium singkat pipi sang istri. “Enggak akan pernah ada hal semacam itu,”
Wulan menunjuk perutnya sendiri yang saat ini masa kehamilannya memasuki usia tiga bulan. “Aku rasa dengan sudah adanya hasil dari proses ini, akan menambah harmonis dalam perjalanan kita ke depan,”
Damar mengangguk, lagi satu kecupan mesra mendarat di kening Wulan, Damar semakin gemas saja dengan tingkah laku istrinya. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Wulan erat.
Wulan mengangguk tipis bersamaan dengan senyuman sumringah, ia sedikit berjinjit dan semakin mengikis jarak antara wajahnya dan juga wajah Damar, mencium lembut bibir yang menjadikan candu asmara dalam hidupnya kini.
“Aku mencintaimu,” balas Wulan manja. Ia tahu betul, bahwa sang suami jarang sekali mengatakan kata cinta, dan lebih kepada ‘Aku menginginkan mu.’
Damar menatap dalam-dalam manik mata wanita yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu. “Mamil, Mama hamil.” lantas membalas ciuman lembut sang istri, ciuman yang membuatnya mabuk kepayang serasa terbang di atas awang-awang. Kedua tangannya beralih di kedua rahang Wulan sampai mengenai telinga.. mesra kian menggebu untuk menjamah sesuatu yang lebih hangat.. Menjerat, lebih erat dan semakin hebat.
Lama kelamaan ciuman itu semakin nikmat, dan semakin mengerat. Sampai pada suara seseorang yang baru datang harus menghentikan aksi gilanya di pagi hari ini, suara yang terdengar seperti wasit meniup peluit.
__ADS_1
“Waladalah! Agaknya aku masuk dalam momen yang salah ini mah!” seru Danum spontanitas berbalik badan, ia nyelonong masuk kedalam rumah di karenakan pintu utama yang tidak dikunci. Tak di nyana kembali melihat Kakaknya sedang bercumbu mesra.
Damar dan Wulan pun terkesiap mendengar suara Danum, seketika langsung saja melepaskan pautan ciumannya yang semakin terasa menggairahkan, bergelora hasrat ingin memadu kasih sayang mesra. Keduanya lantas melihat punggung Danum yang berdiri di tengah-tengah pintu masuk dapur.
Wulan jelas saja salah tingkah dan langsung melesat duduk kembali di kursi meja dapur dengan kegugupannya, ia memakai sarung tangan plastik dan membuat adonan cilok yang semula sedang ia buat. Namun, di karenakan fokusnya membuat adonan cilok teralihkan gegara melihat Damar yang terlihat seksi dengan memakai celana kolor dan baju atasan singlet di tambah celemek. Membuat Wulan ingin menggoda calon Ayah dari anak yang sedang di kandungnya.
Sedangkan Damar mah santai saja, lalu berbalik badan dan mengangkat ikan di atas penggorengan. “Kenapa kamu Num? Ganggu aja!”
Danum tersentak atas pertanyaan Kakaknya, ia kembali berbalik badan dan melihat punggung Damar, dan hanya sekilas melirik Wulan yang sedang membuat adonan cilok, ia tidak habis pikir dengan adegan yang baru saja dilihatnya, ‘Bisa-bisanya, kedua orang bucin ini melakukan cepaka-cepiki saat beraktifitas di dapur.’ benaknya bermonolog geli.
“Memang yah, kalau pasangan yang di budakan oleh cinta itu bikin orang jadi khilaf, di dapur pun oke!” cibir Danum lantas berjalan ke arah kursi meja dapur dan menarik kursi lalu duduk. Bukan hanya di rumah, Danum juga seringkali melihat Damar mencium kening Wulan saat di tempat umum. Ia hanya heran, sedalam apa rasa cinta sang Kakak pada Kakak iparnya, sampai tidak merasa risih secuilpun terhadap stigma orang-orang yang melihat. Danum merasa kecelakaan yang terjadi tiga bulan lalu membuat otak Kakaknya eror.
“Suka-suka, udah halalan toyiban ini, masih banyak noh yang belum halal tapi nggak malu berbuat mesum. Ingat, kalau kamu mau melakukannya maka menikah dulu, halalin di hadapan Pak penghulu...” balas Damar santai, sesantai ia mengangkat ikan dari minyak kepanasan.
“Lagian kenapa kamu ngeloyor masuk, nggak salam, nggak ketuk pintu! Nggak sopan pula!” sambung Damar, lalu melepas celemek dan menaruhnya di gantungan samping kulkas. Lantas duduk di kursi bersebelahan dengan Wulan dan menaruh ikan yang barusan ia goreng di atas meja, lantas beralih mengambil adonan tepung kanji.
“Iya-iya, lagian siapa juga yang mau begituan si Mas. Pikiranku nggak mesum juga keles! Nih yah cita-cita ku masih panjang, garis akhir masih membentang...” ucapnya, lantas menuangkan air kedalam gelas, dan meminumnya sampai tandas, Danum mengingatkan kembali akan rencana hari ini, “Mas Damar, lupa kalau hari ini kita rencana mau pergi ke Candi Ratu Boko?”
•••
Bersambung...
♠
__ADS_1
Hay halo, season 2 ini di mulai. Jangan lupa dukungannya..
Terimakasih...