
Seruan seseorang membuat Damar dan Wulan mengalihkan tatapannya.
“Lepaskan tangan dia!”
•••
Bokir mendekati Wulan dan juga Damar, tangan kanannya menggeplak tangan Damar, sedangkan tanga kirinya memisahkan tangan Wulan dari cengkeraman Damar. Seraya menggerutu kesal. “Nape sih kalian berdua, Hahh?! Nggak nyadar di lihatin orang-orang!”
Dengan sangat terpaksa Damar melepaskan genggaman tangannya di lengan Wulan, ia dapat melihat lengan Wulan yang kemerahan akibat cengkraman kuatnya. “Cetakan jemari tanganku itu sebagai bukti, bahwa kamu adalah wanitaku!”
Wulan pun sama, ia mencebikkan bibirnya. Lantas mengusap-usap lengannya. “Dasar! Tapi nggak gini juga keles!”
Bokir menatap tajam kepada Damar dan beralih menatap Wulan. “Kalian kagak ngerti uwwu---uwwu yah?!” Bokir sebagai orang yang berpengalaman tentang asmara pun memberi arahan kepada Damar dan Wulan. “Begini nih kalau muda-mudi terlambat jatuh cinta, suka ngadi-adi! Nggak tahu tempat, nggak tahu caranya buat mengekpresikan rasa cinta!”
“Dia tuh yang aneh!” seru Wulan kesal, menunjuk Damar dengan dagunya sedangkan tangannya ia sembunyikan di belakang pinggangnya.
“Nggak usah manis-manis, yang penting aku setia!!” cetus Damar, sekenanya. “Lagian kalau kamu nggak di cekal tuh bakal kabur-kaburan kaya ayam!” kata Damar, sembari menoel-noel hidung Wulan.
Wulan membulatkan matanya menatap Damar, ia mengerucutkan bibirnya. “Ck, kemarin bilangnya bidadari! Sekarang malah di samain sama ayam! Dasar Kang Cilok!”
Melihat bibir Wulan yang merona pink, membuat darahnya berdesir dan semakin hebat Damar rasakan. “Nggak usah di begituin tuh bibir, bikin seneng aja sih!”
Wulan mempelototi Damar, “Seneng apa?! Mesum!”
Damar mencolek dagu Wulan, “Uhhh... manis kalau marah begini, berasa pengen makan aja tuh pipi, kaya kembang gula warna pink!”
Wulan menatap Damar malas, namun ia dapat melihat dari sorot mata Damar, bahwa ada sebuah rasa cinta yang membara di sana. Meskipun pria yang sekian menit lalu menyematkan cincin di jari manisnya tidak pernah mengucapkan kata-kata cinta. ‘Aku terlena dengan sinar matamu Mar! Sangat terasa kembang cinta yang sesungguhnya! Meskipun masih rahasia!’
Bokir memegangi kepalanya, niatnya untuk melerai pertikaian di antara kedua insan manusia yang tengah merasakan kasmaran, justru ialah yang di buat semakin pusing. “Haduh-haduh, kalian bikin kepalaku jadi makin licin! Pusing pala barbie tau nggak!”
Saat pertikaian antara Wulan dan Damar sedang terjadi, namun pertikaian yang terkesan uwiuwiuwiu... Seorang pria dengan postur tubuh seperti model, memanggil Wulan..
“Wulan!” serunya, berdiri dengan jarak 2 meter. Lantas semakin mendekati Wulan dan berdiri di sebelah wanita yang sedang menatapnya pula.
Damar dan Bokir pun menatap pria yang kini sudah berdiri di antara mereka bertiga.
“Roni!” seru Wulan, menatap pria yang sedang tersenyum simpul menatapnya.
__ADS_1
Bokir menatap Damar, ia memberi isyarat kepada Damar; Siapa Mar?”
Damar mengangkat bahunya, pertanda ia pun tidak mengenalnya; Nggak tahu!”
“Ka--kamu dari mana Ron?” tanya Wulan, pada Roni, ia melirik sekilas kearah Damar yang terlihat bingung.
“Aku habis cari-cari kamu, Lan!” jawab Roni.
“Hahh!” seru Bokir dan Damar.
“Eh! Buat apa kamu cari-cari aku?” tanya Wulan.
Roni melebarkan senyumnya, “Nomer kamu susah di hubungi, tadi malah barusan aku dari tempat kerjamu, katanya kamu lagi meeting sama atasan kamu, dan kebetulan lihat kamu di sini,” Roni pun celingukan, mencari keberadaan Presdir PT Amanah food. Namun, ia hanya melihat kedua pria yang berpakaian kasual yang berdiri tidak jauh dari Wulan dan dirinya, lalu kembali menatap Wulan, ia pun bertanya, “Terus dimana Presdir Amanah food?”
Bokir dan Damar pun saling tatap, lalu beralih menatap pria yang bernama Roni.
Wulan menatap Damar, bukan tanpa alasan Roni tidak melihat Damar sebagai seorang Presdir. Karena pakaian yang dikenakan Damar, terbilang sangat sederhana untuk seorang Presdir, hanya celana panjang berwarna cokelat susu dan atasan baju berwarna marun berlengan panjang, tapi tetap gaya rikmanya cool abis!
Wulan dengan jari telunjuknya, menunjuk Damar.
Roni mengikuti arah pandang Wulan, ia mengerutkan keningnya. Seolah menandai ia tidak percaya bahwa pria yang berdiri di sebelah kanan Wulan adalah seorang Presdir. “Dia Presdir?! Nggak meyakinkan!” ucapnya meremehkan, tampilan Damar saat ini.
Roni melebarkan senyumnya, berkesan ia ingin membanggakan dirinya, “Aku Roni Subianto dari perusahaan Furnitur yang sudah terkenal se Asia!”
“Begitu yah! Baru segitu aja sombong!” gerutu Bokir. mensejajarkan pundaknya dengan Roni, lalu menunjuk Damar dengan telapak tangannya yang terbuka, “Nih kenalin, biar kamu tahu siapa Damar Mangkulangit....” namun, ucapannya mengambang, tatkala kerah kemejanya di tarik oleh tangan Damar.
Damar delming, dengan segala ocehan pria yang bernama Roni, dan lebih jengah lagi melihat Bokir yang seolah sedang menjelaskan siapa sebenarnya dirinya. Ia pun menarik kerah belakang Bokir.
“Sudahlah Kang Bokir! Nggak guna dia tahu siapa aku. Kehidupan ini bukanlah kontes, jadi jangan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, perbandingan adalah pencuri kebahagiaan.” jelas Damar, meskipun saat ini ia bukan lagi orang biasa. Namun, ia tidak ingin kehidupannya dijadikan sebuah kontes untuk perbandingan dengan orang lain.
“Tapi kan biar dia tahu Mar siapa kamu!” sergah Bokir, seraya membenarkan kerahnya yang baru saja mendapatkan remasann dari tangan Damar. Bokir pun menunjuk Roni...
Namun, lebih dulu Roni mengibaskan tangan pria berkepala pelontos yang akan kembali bersuara..
“Sudahlah Pin, Upin... aku tidak ada urusan denganmu, lagi pula nggak penting juga aku tahu siapa Presdir Amanah food, aku hanya punya urusan dengan wanita cantik ini,” sergah Roni, seraya menunjuk Wulan dengan jari jempolnya.
Wulan memutar bola matanya jengah menatap ketiga pria di hadapannya.. yang terlihat sedang bersitegang..
__ADS_1
“Wah--wah cari mati nih bocah, bilang saya Upin, ta gundul rambutmu biar jadi Ipin!” sergah Bokir, geram dengan sebutan yang Roni sematkan padanya.
Kali ini Damar merasa harus bertindak tegas, tidak ingin miliknya di ambil orang lain lagi. Ia memegang tangan Wulan, lalu mengangkatnya dan menunjukkan cincin putih kemilau kepada pria bernama Roni. “Wanita cantik yang kamu maksud sudah terikat denganku, jadi jangan lagi berharap!”
Roni terkejut dengan apa yang di ucapkan pria yang memegang tangan Wulan.. “Jangan ngaku-ngaku! Aku sudah lebih dulu melamarnya!”
Damar melepaskan genggaman tangannya dari tangan Wulan, lantas berhadapan dengan Roni, membusungkan dadanya dengan jantan, “Jangan ngeyelan! Dan jangan ngeselin!” sergahnya berkata tegas, lugas, dan jelas. Memperingati Roni.
“Gila, aku manusia bukan barang! Kalau kalian kaya gini, stok banyak noh di belanja online!” sergah Wulan, ia memilih pergi dari keadaan yang menjadikannya seperti barang yang sedang di perebutkan... “Aku nggak merasa bangga dengan situasi semacam ini!” gerutunya, geram.
Damar dan Roni menatap kepergian Wulan, lalu kembali menatap satu sama lain dengan tatapan sengit..
Damar berlari kecil mengejar Wulan.. menyambar tangan Wulan dan menggenggamnya erat.
Begitupula dengan Roni yang sudah mengambil ancang-ancang untuk memposisikan diri berlari mengejar Wulan. Akan tetapi, jas tuxedo yang dikenakannya di tarik oleh tangan Bokir.
“Mau kemana?!” seru Bokir, menarik jas tuxedo Roni. “Jangan ikut campur, kalau kamu hanya akan menjadi benalu diantara Damar dan Wulan lebih baik mengalah, mendingan kamu pergi, dan urusi perusahaanmu!” lanjutnya lagi, lalu melepaskan cengkraman tangannya yang mencekal Roni agar tidak turut serta kedalam jalinan asmara Damar dan Wulan. Lantas pergi meninggalkan Roni yang terlihat kesal.
“Akh... sialan!” berang Roni kesal. “Lihat saja, sebelum janur kuning melengkung, aku harus mendapatkannya!” gumamnya, mantap!
••
Di perjalanan pulang..
Di dalam mobil yang dikemudikan Damar. Ia maupun Wulan tidak ada yang membuka suara. Mereka sama-sama terdiam, sibuk didalam pikiran masing-masing...
Wulan yang lebih dominan pendiam, ia tidak masalah dengan situasi semacam ini.
Namun, berbeda dengan Damar, sekarang ini ia lebih banyak bicara tidak seperti dulu, “Aku akan memperkenalkan mu kepada Ibuku!”
Wulan terhenyak mendengar ungkapan Damar, ia mengangkat alisnya heran. Lalu mengalihkan tatapannya dari jendela kaca mobil, dan menatap Damar dari samping, “Bukankah, Bu Suci sudah mengenalku?”
Damar melirik sekilas kearah Wulan, dan kembali fokus menatap jalanan depan. “Sebagai calon istriku!”
Wulan mengerjap-ngerjapkan matanya, ‘Nggak ada ungkapan cinta! Nggak ada ungkapan sayang, tiba-tiba mau ngenalin aku sebagai calon istrinya?’
•••
__ADS_1
Bersambung....