Presdir Cilok

Presdir Cilok
141 ••SAMPAI JUMPA LAGI••


__ADS_3

Suasana pagi memang menenangkan, apalagi saat jalan-jalan pagi di pinggiran pematangan persawahan yang hijau nan asri.


Bermandikan cahaya mentari pagi yang hangat dan merasakan semilirnya angin yang berhembus pelan.


“Kakanda, jikalau anak kita lahir kita akan memberinya nama siapa?” tanya seorang wanita kepada suaminya.


Sang suami nampak berpikir, lantas menghentikan langkahnya. Ia memandangi wajah tembem sang Istri karena faktor kehamilan, “Kalau kamu sendiri mau menamainya apa? Nyimas,”


Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, sang istri justru terkekeh geli mendengar suaminya memanggilnya dengan sebutan Nyimas, “Kang Cilok, berasa nggak sih kalau panggilan mu itu kaya orang-orang di jaman kerajaan dulu?”


“Hehe iya bener, kapan-kapan aku akan mengajakmu ke Keraton Yogyakarta. Kamu kan belum pernah ke sana,” jawab sang suami, lantas kembali menggandeng tangan istrinya menyusuri tepian ladang persawahan.


Saat tengah berjalan-jalan tanpa sandal seraya menikmati suasana pagi yang indah. Keduanya mendengar seorang remaja cowok memanggilnya.


“Mas Damar! Mbak Wulan!”


Damar dan Wulan menoleh kearah seorang remaja yang memanggilnya serta melihatnya melambai-lambaikan tangan.


“Iya Danum!” jawab Damar dan Wulan secara bersamaan.


“Ibu manggil-manggil tuh, katanya sayur asem, sambel terasi sama ikan peyeknya udah mateng!” seru Danum.


Damar dan Wulan saling menatap satu sama lain, “Iya!” jawabnya.


Merasa sudah mendapat jawaban Danum kembali menuju rumah sederhana di pinggiran pematang persawahan yang sengaja di bangun oleh Damar, karena sang istri menginginkan tinggal di pedesaan yang masih asri. Kendati demikian, Damar harus melalui perjalanan panjang untuk sampai ke pabrik.


Namun, kesederhanaan yang di pilih Wulan membuat keharmonisan pasangan yang sudah hampir satu tahun menikah ini seakan-akan kemewahan hanyalah kiasan dari dunia fatamorgana.


Karena kehidupan tak selamanya bersifat materi. Akan tetapi Wulan maupun Damar menyadari bahwa memang pentingnya materi untuk bertahan hidup di dunia yang semakin hari semakin mahalnya bahan kebutuhan pokok.


Kembali ke rumah yang telah ditempatinya selama kurang lebih dua bulanan. Damar terus menggenggam erat tangan sang istri, “Sekretaris yang kamu pilihkan untukku sangat tepat, dia cekatan dan tanggap. Kamu memang tau mana yang baik untuk ku,”


Wulan menatap Damar dari samping, tak pernah suaminya itu merasa keberatan atas apa yang dia pilihan untuk sang suami, “Benarkah?” jawabnya, “Apa sebenarnya sekarang ini kamu sedang menyindirku, karena bukan sekretaris cantik nan bohay yang ku pilih?”


Damar menoleh kearah Wulan bersamaan menoel ujung hidung sang istri, “Aku bukan tipe orang yang suka menyindir. Kalau aku suka ya bilang suka, kalau nggak suka ya bilang enggak,”


Yah, Wulan memang tahu jika suaminya memang memiliki sikap itu, tapi ia hanya ingin tahu seperti apa reaksi suaminya. “Aku sangat bersyukur memiliki mu,” Wulan menerawangkan pandangannya ke penjuru persawahan yang hijau, “Meskipun kita nggak tahu seperti apa masa depan yang harus kita jalani, akankah kita tetap akan menjalani pernikahan yang harmonis ataukah yang non logis,”

__ADS_1


Damar menghentikan langkahnya, “Maksud kamu non logis yang bagaimana?”


Wulan ikut menghentikan langkahnya, dan menatap dalamnya manik mata Damar, “Iya non logisnya kalau sampai aku ataupun kamu mengkhianati kepercayaan satu sama lain, entah kamu atau aku? Kita tentu tau, seringkali perceraian di awali karena kepercayaan itu sudah terkoyak oleh salah satu pasangan yang memang sudah merasa nggak cocok lagi,”


Damar manggut-manggut, ia menarik nafasnya dan membuangnya begitu saja, “Ya ya ya... Aku mengerti apa yang coba kamu jelaskan,” ia mencium kening Wulan, “kesetiaan bukan pilihan sayang,” Damar kembali mencium pipi kanan sang istri, “dan perselingkuhan bukanlah suatu hal yang bisa di anggap lumrah, tapi perselingkuhan,” Damar menggantungkan kalimatnya, “Tapi perselingkuhan adalah suatu penyakit yang seharusnya kita cegah, dari pada mengobati.”


Damar mendekatkan bibirnya ke bibir Wulan, dan hampir saja bisa menciumnya. Namun, ia mendapat penolakan dari sang istri.


“Kenapa?” tanya Damar bersitatap dengan Wulan.


Wulan memundurkan tubuhnya, “Kita bukan orang yang suka memamerkan kemesraan, Kakanda Damar,”


“Baiklah-baiklah.” Damar menarik dirinya lantas mulai berjalan meninggalkan sang istri.


Wulan melihat raut wajah Damar yang terlihat murung pun ada rasa sedikit menyesal, tak seharusnya ia bersikap tegas dan tak seharusnya ia menolak sang suami. Wulan menyusul Damar, dan menarik lengan Damar.


Baru saja beberapa langkah Damar berjalan, lengannya di tahan oleh Wulan. Tiba-tiba bibirnya merasakan kehangatan dari bibir sang istri, sampai kehangatan itu menjalar keseluruhan tubuhnya.


Wulan menarik dirinya, ia memegangi kedua rahang Damar. “Jangan lagi bersikap merajuk seperti itu, aku merasa bersalah dan sedih,”


Wulan merasa sangat damai jika berada dalam dekapan Damar, ia selalu berdoa dalam hatinya. “Ya Allah, janganlah Engkau pisahkan kami. Meskipun jalan yang harus kami tempuh tak selalu indah.”


Damar mengusap punggung istrinya yang selalu mengeluh merasakan pegal, usia kehamilan sang istri memang sudah memasuki tahapan sembilan bulan, tinggal menghitung minggu ia dapat bertemu dengan anaknya, “Ayo, Ibu sudah menunggu kita.”


Wulan mengangguk, ia mengurai pelukannya. Dan kembali berjalan dengan bergandengan tangan.


Setibanya di dapur terbuka di belakang rumah, Wulan mendekati Ibu mertuanya yang sedang membawa piring berisi ikan peyek goreng.


“Biar Wulan bantu Bu,” ujar Wulan menunjukkan kedua telapak tangannya.


Bu Suci tersenyum menatap wajah dan beralih menatap tangan menantu yang sudah beliau anggap seperti anak perempuannya sendiri, lantas beliau memberikan piring kepada Wulan, “Duduklah di sana Nak, Ibu sudah selesai,”


Wulan mengangguk, ia berjalan menuju dipan yang terbuat dari bambu yang di anyam. Lantas menaruh piring berisi ikan peyek di atas meja kecil yang berada di atas dipan bambu.


Sedangkan Damar sedang mencuci tangannya, dan sesudahnya ia menuju dimana istri juga adiknya berada.


Damar mencium bau ikan yang di goreng, “Hemm baunya lezat.”

__ADS_1


“Ibu akan tinggal di sini sampai Mbak Wulan melahirkan kan?” tanya Danum, seraya mengambil piring dan mencentong nasi.


Bu Suci berjalan menuju dipan dan menaruh sambal terasi buatannya, “Iya, kasihan Mbak mu Le, dia akan sendirian kalau Mas mu berangkat kerja,”


“Wulan teramat sangat senang kalau Ibu tinggal di sini,” ujar Wulan senang.


Tiba-tiba saja terdengar suara klakson mobil di depan rumah. Bu Suci, Danum, Damar dan Wulan saling menatap.


“Siapa itu?” Damar bertanya-tanya.


“Biar aku aja yang ke depan, dan melihat siapa yang datang.” ujar Danum, lantas segera melesat ke depan rumah.


“Kakek Bagaskara, Nenek Ayudia!” teriak Danum sesampainya di depan dan melihat siapa gerangan yang datang ke rumah Damar.


Plak!


Nenek langsung mengomeli cucu keduanya, “Danum, tega sekali kamu meninggalkan Kakek dan Nenekmu!”


Danum crengengesan sembari mengusap pundaknya yang di geplak sang Nenek, “Hehe maaf Nek, maaf Kek.” lantas menjabat tangan kedua orang yang sudah sepuh.


Mendengar teriakkan Danum menyebut Nenek Ayudia dan dan Kakek Bagaskara. Bu Suci, Damar yang menuntun Wulan segera menuju ke depan rumah.


“Nenek Ayudia, Kakek Bagaskara.” sapa Damar sumringah. Ia melihat seorang supir yang baru saja keluar dari dalam mobil setelah memarkir mobil.


Seperti biasa orang yang lebih muda bersalaman kepada orang yang lebih tua. Lantas Bu Suci menuntun Nenek Ayudia untuk masuk kedalam, sekarang ini Nenek Ayudia tidak lagi menggunakan kursi roda, beliau sudah lebih sehat daripada sebelumnya. Meskipun tetap harus dibantu menggunakan tongkat.


Sedangkan Danum memegangi tangan Kakek Bagaskara.


“Pak mari masuk!” seru Damar memanggil supir keluarga Kakeknya.


“Iya Mas Damar.” jawab sang supir setengah baya yang sudah berusia 46 tahun.


Keluarga besar Damar pun berkumpul di dapur belakang rumah yang berhubungan langsung dengan alam. Mereka bercengkrama bersama-sama, sesekali terdengar riuh tawa kala mendengar Danum bercerita selayaknya stand up comedy.


...••SAMPAI JUMPA LAGI••...


Jangan selalu mengatakan pura-pura bahagia. Tapi bahagialah tanpa harus berpura-pura. •_•

__ADS_1


__ADS_2