Presdir Cilok

Presdir Cilok
88 Tiada ampun lagi


__ADS_3

Damar, Bokir, Wulan, dan Pak Eko, serta satpam penjaga yang lainnya pun berhamburan keluar gerbang utama pabrik.


Damar segera mendekati seseorang yang telungkup bersimbah darah di sekujur tubuhnya, dengan kaki yang lemas, ia bersimpuh di sampingnya, lalu membalikkan tubuh seseorang itu.


Damar terperangah, melihat seorang rekannya, “Astaghfirullah, Didi!!!” seru Damar nyaring, melihat Didi Saputra yang menjadi rekan mata-matanya terluka parah tergeletak di pinggir jalan, sekujur tubuhnya penuh luka serta bersimbah darah membasahi pakainya.


Dengan setengah kesadarannya Didi membuka matanya yang lebam dan terbatuk-batuk mengeluarkan cairan merah, “Uhuk-- uhuk--”


Damar mengangkat kepala Didi dan menaruh di pangkuannya.


“Ya Allah Gusti, kok iso koyo ngene toh? (Kok bisa kaya gini sih?)” seru Pak Eko, merasakan kesakitan seolah ia yang mengalami luka parah.


“Siapa yang melakukan ini, Di?!” tanya Bokir, paniknya, sekaligus geram pada orang yang telah melakukan penyerangan.


Nafas Didi tersengal-sengal


Tatapan Damar nanar, “Kang Solihin, cepat ambil mobil! Bawa Didi ke rumah sakit! Cepat Kang!!” seru Damar, dengan suara berat, panik.


Satpam penjaga yang bernama Solihin dengan cepat mengangguk, lantas segera berlari masuk kedalam area pabrik.


Dengan nafas yang tersengal-sengal, Didi mencoba berkata, “Mas Dam--mar, sa-saya sudah berhasil meng--ga--galkan penyelundupan ba--rang ilegal,”


Damar mengusap kepala Didi yang berlumur darah, “Sudah Di, jangan banyak bicara, aku tahu kamu melakukannya dengan sangat baik,”


Wulan menatap Didi dengan tatapan nanar.


Namun, Didi bersikeras untuk mengungkapkan siapa yang telah melakukan pengeroyokan, “Me--mereka, a--anak buah Fa--tir dan Ku--su-mo...” ucapan Didi mengambang..


Damar membelalakkan matanya, rahangnya mengeras. Nafasnya memburu, menahan gejolak amarah yang menggelora.


“M-mekera di markas gudang kosong..” kata Didi mengela nafas panjang, karena tidak bisa menahan sakit di sekujur tubuhnya ia kehilangan kesadaran.


Damar terkejut dengan Didi yang hilang kesadaran. Ia menepuk pipi Didi dan mengusap kepala rekannya, panik. Rasa di hatinya semakin menyeruak, “Di, Didi, bangun Di!!”


“Kurangajar! Kita harus segera bertindak Mar!” seru Bokir, ia pun mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.. “Siapkan pasukan!!” titah Bokir di sambungan telepon.


Wulan memegang tangan Didi, lalu meraba urat nadinya, “Alhamdulilah dia masih hidup!”


Satpam Solihin pun keluar dari area pabrik dengan mengendarai mobil. Damar dan Bokir serta Pak Eko segera mengangkat Didi dan membawanya masuk kedalam mobil.


“Cepat bawa Didi kerumah sakit Kang Lihin!!” titah Damar, kepada satpam penjaga yang masih terlihat muda, kini memegang kendali setir.


“Baik Mas!” jawab Solihin.

__ADS_1


“Aku ikut kalian!” seru Wulan.


“Tugasmu bawa Didi ke rumah sakit, dia adalah kunci dari semua rencana yang sudah kita susun!” kata Damar, tegas.


Pasrah dengan perintah Damar, Wulan sigap masuk kedalam mobil, lekas membawa Didi ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.


Bokir dan Damar pun segera berlari menuju parkiran dan mengambil motornya.


••


Setelah melewati jalanan lengang di jam 1 malam, Bokir dan Damar bertemu dengan segerombolan orang-orang yang berpakaian seperti preman.


“Kami sudah dapat lokasinya Kir!” seru salah satu di antara kelima orang yang berpakaian urakan. “Akan tetapi, kami tidak tahu berapa jumlah preman bekas narapidana di sana!”


“Tidak jadi masalah!” Bokir sebagai ketua dalam teamnya pun mengangguk, “Segera kita menuju tempatnya!”


Anak buah Bokir, memberikan dua pisau belati kepada Bokir, “Pakai ini untuk jaga-jaga!”


Bokir mengangguk, ia memberikan pisau belati kepada Damar. Entah, dalam benaknya meskipun meragukan kemampuan seorang Damar, akan tetapi dari semua perkara yang terjadi, Damarlah yang lebih berhak dalam menumpahkan darah lawan.


“Haruskah?!” Damar membelalakkan matanya, menerima pisau belati dari Bokir, hatinya di selimuti gemetar. Membayangkan 2 tahun silam, saat ia terkapar hampir saja mati di ruang operasi karena tertusuk belati di bagian perutnya dari tangan para anak punk. Namun, Damar merasa rasa takutnya harus segera ia lenyapkan, demi keselamatan orang-orang yang sekarang ini bekerja untuknya.


“Tumpahkan darah lawan, adalah pejuang sejati!” bisik Bokir, menangkap keragu-raguan dari raut wajah Damar.


Tak lama setelah melewati jalanan yang lengang dan gelap. Damar, Bokir dan lima anggota Bokir yang tergabung dalam pasukan khusus intelijen pun mengepung gudang yang di jadikan markas oleh anak buah Kusumo.


Ke lima anggota Bokir mulai menyusup masuk kedalam area gudang tua dengan melompati pagar keliling gudang yang sudah tidak terpakai. Salah satu dari mereka memberi isyarat kepada Bokir dan Damar untuk masuk kedalam gudang.


Damar dan Bokir berpencar menuju mangsanya masing-masing. Damar berjalan mengendap-endap. Ia melihat seorang preman sedang berjaga di dekat pintu gerbang masuk gudang dalam gudang, ia berjalan mendekati preman penjaga.


Preman penjaga pun menyadari seseorang yang berjalan dibelakangnya, namun sebelum preman ini mengangkat senjatanya.


Damar membaca pergerakan preman, ia melayangkan kakinya dan menendang dengan sangat keras hingga membuat preman penjaga terpelanting di atas marmer granit yang berlumut.


Meskipun preman penjaga mencoba berdiri dan melawan, namun Damar dengan sigap menginjak tangan preman dan menendang dengan sangat keras dada preman yang bertubuh tegap. Hingga membuat preman penjaga seketika terkulai lemah dan tak sadarkan diri.


Bokir yang tidak jauh dari Damar pun berhasil mematahkan tangan preman yang sedang berjaga dan membuat preman itu terkapar, ia melihat kearah Damar. Bokir menyadari bahwa Damar menggunakan cara yang sama seperti dirinya, dan hal ini membuatnya terkagum-kagum. ‘Pengalaman kejam apa yang sudah membuat Damar menjadi begitu hebat?’


Bukan hanya itu, Bokir juga menyadari kemampuan Damar melampaui dirinya. Dan tentu saja tidak bisa di bandingkan dirinya yang dulu pernah berlatih secara khusus sebagai Intel.


Mungkin saja Damar di lahirkan di bidang ini. Jika tidak bagaimana bisa, seorang pemuda yang sebelumnya Bokir kenal tidak tahu apa-apa, nyatanya berbeda dari persepsinya kini.


Bokir memberi isyarat kepada Damar, “Aku akan membereskan yang di sebelah kanan, kamu bereskan yang disebelah kiri.”

__ADS_1


Damar menganggukkan kepalanya, mereka berdua dan ke lima anggotanya yang lain yang juga sudah melumpuhkan preman penjaga di luar gudang yang juga di jadikan sebagai sarang penyelundupan narkoba.


Kini, Damar dan Bokir serta lima anggotanya, menuju kearah dalam gudang. terdengar sayup-sayup suara gelak tawa dari sana.


Damar melihat Bokir yang berjarak 3 meter darinya. Mendapat anggukan dari Bokir yang memberi isyarat. Untuk memasuki gudang area terlebih dahulu.


Komplotan preman yang berada di dalam gudang dengan keremangan lampu yang sedang bermain kartu pun terkesiap, melihat Damar dan Bokir. Dan sekian banyaknya preman berdiri, siap meremukkan tulang belulang kedua orang yang ada di hadapannya.


Damar melihat ada beberapa orang yang menjadi sandera dari para preman, lalu beralih menatap komplotan preman dengan tatapan membunuh.


Salah satu preman bertepuk tangan berjalan lalu berhenti dari jarak 4 meter dari Damar, “Jika aku dapat memenggal kepala mu, maka 1 milyar adalah upahku, hahaha...” ucapnya dengan mengacungkan senjata api kearah Damar.


Tidak main-main, kali ini Damar segera melemparkan belati yang ada di tangannya, dan menancap dengan sangat tepat di dada bagian jantung preman yang berdiri dengan jarak 4 meter darinya.


Preman dengan ambisinya bisa mendapatkan kepala Damar pun jatuh tersungkur ke lantai berlumut seraya memegangi dadanya yang tertancap pisau belati yang dilemparkan Damar.


“Kurangajar!” maki salah satu preman bayaran Kusumo, membuang puntung rokok ke sembarang arah dengan emosi.


“Hiyyaaarrr...” mereka menyerang secara beramai-ramai berjalan dengan langkah jenjang menghampiri Damar dan Bokir.


Tanpa mereka sadari, bahwa Bokir dan Damar tidak datang hanya berdua. Ke lima anggota Bokir pun keluar.


BUGH


Perkelahian tak dapat terelakkan, Damar dapat membalas tendangan dari para preman. Semua komplotan preman pun terkesiap, dan mengangkat kayu serta pisau belati.


“Hiyaaaahhh!” begitupun juga Bokir, ia mengayunkan belati ke dada para preman yang menyerangnya. Laksana angin topan yang mengamuk.


Preman yang tidak sempat menyentuh Damar jatuh tersungkur. Damar menendang dada preman yang menyerangnya.


Damar mengambil pisau dari preman yang telah ia kalahkan, dan bersiap dengan pisau belatinya. Mengusap pipinya yang tergores pisau belati dari lawan, tak membuatnya gentar.


“Brengsek!!!” teriak keras preman bayaran Kusumo.


BUGH


“Matilah kau!!!” seru salah satu preman mengayunkan balokan kayu di belakang Damar.


Damar membalas para preman dengan membabi buta, menghancurkan komplotan preman jatuh terkapar bersimbah darah oleh belatinya. “Tiada ampun lagi!!”


•••


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2