Presdir Cilok

Presdir Cilok
127 Mencari pelaku


__ADS_3

“Kakek sudah meminta bantuan kepada Jenderal Purnawan, hasil dari rekaman lalulintas, mobil yang menabrak Damar berplat DK. Dugaan sementara dari pihak kepolisian tabrak lagi, dan sekarang polisi sedang memburu pelakunya,” pukas Kakek Bagaskara, setelah mendengar kecelakaan yang melibatkan Damar, Kakek Bagaskara segera menghubungi seorang teman dari pihak kepolisian.


Bayangan pernah kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dengan putra semata wayang membuat Kakek Bagaskara segera tanggap darurat untuk menyelidiki kasus penabrakan yang menyebabkan cucunya hingga kritis.


Wulan mengerjap memandangi Kakek Bagaskara dari samping, ia terkejut ternyata tanpa sepengetahuannya, pria renta di sampingnya telah menyelidiki kasus secepat ini. “Bagaimana bisa itu hanya disebut tabrak lari?! Nggak Kek, jelas-jelas Wulan melihat mobil itu melaju saat rambu lalulintas berwarna merah!”


Wulan merasa ganjil dengan adanya pernyataan tabrak lari... Wulan mengingat mobil yang menabrak Damar menggunakan mobil Jeep, ia berpikir, pihak kepolisian? Mungkin akan butuh waktu dua sampai tiga hari bahkan satu minggu untuk mengetahui siapa pelakunya? Dan sementara Wulan merasa waktu selama itu hanya mengulur waktu saja.


Ponselnya pun berdering, Wulan merogoh tas dan mengambil ponselnya. Tertera nama ‘Bokir. Ia menatap Kakek Bagaskara, dan berujar. “Maaf Kek, Wulan angkat telepon dulu,”


Kakek Bagaskara mengangguk ringan.


Wulan pun menggeser tombol hijau, lantas mendekatkan ponselnya di telinga, “Iya, ada apa?”


Dari seberang telepon, Bokir sedang melihat dan memeriksa mobil Jeep, setelah mendengar dari beberapa warga sekitar ada mobil yang mencurigakan tanpa pemilik di pinggiran sungai. Bokir dan kelima tim-nya segera menyisir lokasi, dua diantaranya teman Bokir yang bekerja di kepolisian.


“Saya sudah menemukan mobilnya, berplat DK di pinggir sungai, tapi setelah diselidiki ternyata mobil ini berplat ganda, alias plat DK palsu, belum ada bukti yang mengarah pada Opik,” jelas Bokir, memeriksa keadaan mobil Jeep. Ia menjeda ucapannya, “dari analisa rekaman cctv lalulintas dan penggabungan para saksi yang melihat kejadian tabrakan, kuat dugaan mobil Jeep ini telah digunakan untuk menabrak Damar.” jelas Bokir mendetail.


Wulan membelalakkan matanya, “Apa?” rahangnya mengeras, serta tangannya mengepal. “Terus selidiki, aku akan pergi ke rumah sakit terlebih dulu, setelah itu aku akan melihat pabrik,”


“Baik.” jawab Bokir, sambungan telepon pun berakhir.


Wulan menerawangkan tatapannya keluar jendela kaca mobil; Meskipun belum ada bukti yang mengarah pada Opik, tapi aku sangat yakin bahwa Opik lah pelakunya!


Wulan merasa, dengan bantuan tim Bokir, akan segera menemukan keberadaan pelakunya! Bukan berarti meremehkan setiap peranan pihak berwajib, akan tetapi ia merasa lebih banyak orang yang bertindak maka akan semakin cepat terungkap.


“Kakek akan membantu memulihkan pabrik, kamu fokuskan pada kesembuhan Damar, dia butuh kamu untuk selalu berada di sisinya,” kata Kakek Bagaskara, membuyarkan lamunan Wulan.


Wulan mengalihkan atensinya, ia mengangguk singkat. “Terima kasih, Kek.”


“Apa yang sedang kamu rencanakan dengan Bokir? Apa kamu sedang menyusun rencana untuk mencari pelakunya?" tanya Kakek Bagaskara, melihat raut wajah Wulan yang serius setelah menjawab panggilan telepon dari Bokir.


Wulan mengangguk, ia memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Kakek Bagaskara. Karena Kakek Bagaskara adalah orang yang selalu bisa membaca pemikiran dari lawan bicaranya.


“Mengapa kamu tidak menunggu hasil penyelidikan dari kepolisian?” sambung Kakek Bagaskara memperingati cucu menantunya. Kendati demikian Kakek Bagaskara tahu seperti apa keras kepalanya seorang Nawang Wulan.


“Bukankah, lebih banyak orang yang bertindak, akan mempercepat menemukan siapa pelaku sebenarnya Kek? Pelaku yang melakukan penyerangan pabrik, dan pelaku yang sudah membuat Damar berada di ruang ICU,” jelas Wulan.


Kakek Bagaskara manggut-manggut, beliau menyadari betul siapa sosok Wulan. Wanita yang pantang menyerah, sebelum darah lawan bersimbah, “Kakek tau, kamu orang yang begitu gigih, tapi jangan bahayakan dirimu sendiri Nak, atau jika Damar sampai tau, dia tidak akan mengampuni orang yang mencelakai mu.”

__ADS_1


“Wulan akan selalu berhati-hati, Kek.” jawab Wulan.


Mobil pun sampai di pelataran rumah sakit, Kakek Bagaskara dan Wulan keluar dari dalam mobil. Dan segera berjalan menuju kamar tempat Damar di rawat. Keduanya lantas menghampiri Danum, remaja itu terlihat baru saja keluar dari dalam kamar ICU.


“Danum, bagaimana kondisi Damar, apa dia sudah siuman? Lalu apa Dokter sudah memeriksa keadaannya, apa dia baik-baik aja?”


Rentetan pertanyaan Wulan, membuat Danum bingung menjawabnya. Ia hanya bisa menggeleng, dan menghela nafasnya. “Mas Damar belum siuman, tapi kata Dokter Adam, kondisi Mas Damar sudah stabil dan siang ini jam dua Dokter akan melakukan tes CT-scan, untuk mengetahui lebih lanjut, harapan Danum semoga Mas Damar segera siuman dan nggak terjadi apa-apa,”


“Amin.” jawab Wulan bersamaan dengan Kakek Bagaskara.


Mendengar penjelasan cucunya yang terdengar lirih, seperti rintihan, membuat Kakek Bagaskara iba dan mendekati Danum, pria renta ini sangat tahu seperti apa kehilangan. Beliau pun menepuk pundak Danum. “Sabar Danum, jangan mudah putus asa, Damar pasti baik-baik saja.”


Danum mengangguk


Wulan menghela nafas panjang, setegar apa-pun dirinya mencoba kuat, nyatanya ucapan tidak semudah apa di dilakukan. Ia lantas memberikan Danum kotak Tupperware yang berisi sarapan pagi, yang ia bawa untuk Danum dan Bu Suci.


“Terimalah Danum, kamu juga butuh istirahat dan memenuhi nutrisi dalam tubuhmu,”


“Terima kasih Mbak,” balas Danum, menerima kotak makan dari Kakak iparnya.


“Ibu masih di dalam Num?”


Wulan manggut, ia lantas berjalan menuju pintu dan membukanya. Posisi Damar masih sama seperti semalam, tidak ada yang berubah. Hanya saja kini dua orang perawat disiagakan untuk suatu saat jika terjadi sesuatu langsung siap siaga, juga untuk memindahkan Damar ke ruang perawatan.


Tidak banyak yang Wulan lakukan, ia hanya mengusap dan mencium kening Damar. Tidak banyak juga ucapan yang ia utarakan... “Aku mencintaimu, Kang Cimar.”


Wulan mengharap Damar merasakan keberadaannya, kendati Damar tidak sadarkan diri. Setelah melihat dan mengamati suaminya, Wulan pergi dari sana. Ia harus melihat kondisi Amanah food.


Di luar kamar ICU, Wulan berpamitan dengan Kakek Bagaskara, Danum dan Bu Suci yang telah kembali.


“Ibu, Wulan ke pabrik dulu,” kata Wulan, berpamitan kepada Bu Suci.


“Hati-hati Nak... kalau Damar sudah siuman, Ibu akan langsung mengabari mu,” jawab Bu Suci, membelai lembut pipi Wulan yang masih terlihat sembab.


Wulan mengangguk dan tersenyum hambar, “Iya Bu.”


“Biar Mang Sugeng yang akan mengantarkan mu ke pabrik, Wulan.” ujar Kakek Bagaskara.


Wulan mengangguk

__ADS_1


“Baik, Kek.” lalu menyalami tangan Kakek Bagaskara dan Bu Suci, lantas Wulan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Pagi menjelang siang rumah sakit lumayan ramai, ia melewati perawat dan keluarga pasien yang berlalu lalang. Wulan segera menuju mobil Kakek Bagaskara yang terparkir.


Setelah melewati satu jam lebih, kini Wulan sudah sampai di parkiran pabrik. Ia melihat ada beberapa dari pihak kepolisian yang sedang menyisir lokasi kejadian perkara. Wulan keluar dari dalam mobil, ia menggeleng sekaligus tercengang melihat keadaan pabrik saat ini. Sangat kacau! Itulah gambaran di pikiran Wulan, ia mengepalkan kedua tangannya. “Ini parah!”


Wulan menyusuri setiap jangkauan penglihatannya melihat area luar pabrik, ada banyak karyawan yang juga berkumpul. Wulan bisa mengerti bahwa para karyawan itu sedang bingung. Kerusakan memang terlihat sangat serius di bandingkan bayangannya semalam. “Ini nggak bisa di tolerir, sungguh dia harus mati, jika memang si Opik pelakunya!”


Dari arah samping pabrik, Pak Bambang menghampiri Wulan dan seorang polisi berpangkat perwira.


“Wulan,” seru Pak Bambang.


Wulan mengalihkan atensinya, ia menatap Pak Bambang dan beralih menatap seorang polisi berpangkat perwira yang berdiri dengan jarak dua meter dari Pak Bambang, “Saya nggak menyangka bahwa pabrik harus mengalami hal semacam ini, Pak Bambang,”


Pak Bambang mengedarkan pandangannya, menatap area pabrik, “Mungkin kah musuh lama dari perusahaan ini? Apa memang ada seseorang yang tidak suka melihat kesuksesan Mas Damar?”


“Semoga pelakunya segera tertangkap,” jawab Wulan menatap karyawan yang berkumpul di area luar produksi, lantas mengalihkan pandangannya pada Pak Bambang, “Pak Bambang, sebaiknya untuk beberapa hari ke depan, semua karyawan di area produksi di liburkan aja, Pak.”


Pak Bambang mengangguk, “Baik.”


Seorang perwira polisi bernama tag Farhana Nasution memberikan topi kepada Wulan. “Saya menemukan ini, di area produksi pabrik,”


Wulan menatap polisi berpangkat perwira dengan postur tubuh tegap dan berkulit sawo matang, lalu beralih menatap topi yang disodorkan polisi tersebut. Lantas mengambilnya, dan mengamati dengan seksama. Kening Wulan mengerut, saat melihat tulisan berinisial R di balik topi berwarna hitam, sesaat kemudian ia pun bergumam, “Siapa R? Apa hanya sebuah tulisan merek topi, atau inisial seseorang?”


“Kami sudah menyelidiki kasus ini, sementara kami sedang mengumpulkan bukti-bukti yang valid, untuk mengungkap siapa yang telah melakukan tindak penyerangan ini,” pungkas Polisi Farhana.


Wulan kembali menatap polisi berpangkat perwira di hadapannya, ia merasa tidak asing melihat wajah itu. Tapi, juga tidak berpikir bahwa laki-laki yang memakai seragam polisi adalah Farhan teman masa kecilnya, karena nama Farhan memiliki nama belakang Narendra bukan Nasution.


“Terima kasih, atas kerja samanya Pak Polisi.” kata Wulan, lalu beralih menatap manajer Amanah food, “Pak Bambang saya ke area dalam produksi pabrik dulu.”


Pak Bambang pun mengangguk, “Iya, Lan.. setelah urusan pabrik selesai, saya akan menjenguk Mas Damar,”


“Iya, Pak.” Wulan berjalan menuju area dalam pabrik, ia tercengang melihat area dalam produksi yang telah morat-marit.


Wulan menarik nafasnya dalam-dalam menghempasnya kasar, seraya memegang kepalanya yang serasa berputar-putar. Rasa ngelu di kepala karena kurang tidur membuatnya pusing, dan hampir saja terjauh jika saja tidak ada orang yang menangkapnya, mungkin ia sudah terjatuh di lantai marmer.


“Apa kamu baik-baik aja?” kata seorang polisi berpangkat perwira kepada Wulan, yang kebetulan akan memasuki area produksi pabrik.


Wulan segera menjauhkan diri dari perwira polisi bernama Farhana. “Terima kasih, tapi aku baik-baik saja.” lantas kembali melihat keadaan pabrik juga melihat beberapa polisi yang sedang melakukan penyisiran lokasi area produksi.


•••

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2