
Kini, Damar dan Wulan sepakat untuk sholat sunah terlebih dahulu.
"Apabila kamu hendak menggauli isterikamu (pengantin baru), Sholatlah terlebih dahulu dua rakaat. kemudian berdoalah kepada Allah, untuk kebaikan apa yang telah kamu gauli, juga berlindunglah kepada Allah dari kejahatan dan kejahatan dirikamu dan juga diri keluargamu." [ Kitab Al Mushonnaf Juz 3 hal 401 ]
Dengan niat yang mereka ucapkan.
(Saya sholat Sunnah malam pengantin dua raka'at lilahi ta'ala)
Setelah selesai sholat Damar pun memanjatkan doa. Agar apa yang menjadi ladang bagi surganya, dapat di Ridha Allah. “(Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada Mu kebaikannya (Isteri) dan kebaikan yang saya ambil dari padanya, serta aku berlindung kepada Mu dari kejahatannya dan kejahatan apa yang ada di dalamnya juga dari kejahatan apa yang aku ambil dari padanya.)”
Doa yang terurai indah, menjadi bait dalam sajak kesyahduan dengan suara lembut dari sang suami, diaminkan dengan segenap hati sanubari jiwa oleh Wulan. “Amin.” ia pun meraup wajahnya dan melihat punggung seseorang yang sudah sah menjadi suaminya kini.
Setelah Sholat, keheningan semakin merajam di antara keduanya. Sangat kontras dengan keadaan sebelum mereka benar-benar sudah menikah. Kali ini, seolah sedang sibuk membaca pikiran masing-masing.
“Ehem...” deheman Damar memecahkan kecanggungan sekaligus keheningan seperti layaknya sedang mengheningkan cipta. Ia lantas berbalik badan menghadap Wulan yang saat ini memakai mukenah putih berenda yang sudah ia persiapkan. Inilah kali pertam baginya menjadi imam untuk wanita yang sudah ia nikahi. Melihat pancaran ketenangan dari sang istri, membuat irama jantungnya semakin terlena memandanginya.
Wulan tersenyum tipis, ia menyalami tangan Damar. “Jadi, apa sekarang kamu sudah jadi suamiku? Ah... kenapa rasanya ini cuma mimpi?!”
Damar melebarkan senyumnya, dan terkekeh kecil mendengar ucapan Wulan dengan suara kecil, “Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk pembuktian kalau ini bukan hanya sekedar mimpi?” Ia lantas mendekatkan wajahnya, mendekati Wulan dan mencium singkat bibir istrinya.
Wulan mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap Damar. “Bukan begitu, apa yang....” ucapan Wulan mengambang manakala, lagi bibirnya sudah terkunci oleh benda kenyal milik suaminya.
Damar menarik dirinya, ia bersitatap penuh arti. “Lebih baik, lepaskan dulu mukenah mu, lalu kita berbincang di atas ranjang, sambil olahraga malam?”
Wulan terkekeh geli, “Hahaha.... olahraga malam? Ini udah jam satu malam brother!” serunya, lantas membuka mukenah dan melipatnya rapih. Saat ini dirinya hanya memakai kaos oblong milik Damar, juga celana pendek ala rumahan.
“Maaf yah, karena pakaian yang Ibu siapin buat kamu belum aku bawa ke kamar ini, jadinya kamu memakai pakaian ku,” Damar merasa bersalah karena tidak menyiapkannya terlebih dahulu.
Wulan menggeleng, “Nggak pa-pa.”
Begitu juga dengan Damar, ia melepas sarung dan juga baju kokonya dan menaruhnya di hanger lalu memasukkannya ke dalam lemari. Melihat Wulan dengan baju kebesaran kaos oblong miliknya membuatnya ingin segera menguyel-uyel Wulan. Damar meraup pinggang istrinya, dan sedikit menyeretnya lalu duduk di tepian tempat tidur.
“Aaa...” pekik Wulan terkejut, kini posisi dirinya sedang berpangku di atas paha Damar. “Apa yang kamu lakukan, Kang Cimar?!” Ia ingin beranjak dari kungkungan Damar yang memeluknya erat dari belakang, dan semakin eratnya seorang Damar memeluknya hingga membenamkan wajah di punggungnya.
__ADS_1
“Diam,” kata Damar. Ia lantas mengangkat wajahnya, dan mendekati telinga istrinya, lalu berbisik mesra dengan suara berat. “Kali ini akan aku katakan, apa yang sudah ku bicarakan dengan Pak Kusumo,” ungkap Damar, bersungguh-sungguh. Ia berpikir tidak perlu lagi untuk mengulur waktu untuk Wulan mengetahuinya.
Menerima bisikan lembut di telinganya, membuat Wulan semakin memanas, darahnya berdesir hebat. Ia lantas menengok ke samping, dan melihat Damar dari ekor matanya. “Memangnya apa?”
Damar pun mengangkat tubuh istrinya seperti bantal, untuk duduk di sampingnya. Lalu ia sendiri beralih duduk menyamping menaruh satu kakinya di atas ranjang, mengungkung Wulan kedalam jangkauan kedua kaki dan tangannya.
Wulan tidak bisa lagi berkutik, bisa dikatakan, ia manut saja. Wulan berpikir dirinya sekarang bukan lagi miliknya sendiri, akan tetapi juga milik seorang pria yang begitu gagahnya, dengan segala kesiapannya, menikahi dirinya kini. Rasa canggung itu, semakin hilang dan mengalir begitu saja, bagai sungai mengalir mengikuti hilir.
Damar bisa melihat dengan jelas wajah alami Wulan. Ia menghela nafasnya, memegang kedua pipi istrinya. “Aku di minta untuk menjaga Ratna,” ungkapnya.
Wulan sama sekali tidak terkejut, karena ia pun sudah menduganya. “Lalu kamu bersedia? Apa mungkin Kusumo juga memintamu untuk menikahinya?” tanya Wulan memastikan. Ia melihat Damar mengangguk. “Terus kamu mau? berpoligami begitu?!” sambungnya bertanya dengan kepastian jawaban Damar.
Damar menggeleng, “Tentu aku nggak mau, satu istri aja belum ku jamah!”
“Terus, kalau wanita itu bukan Ratna, apa kamu berniat berpoligami dan menduakanku, terus terang aku katakan, sebelum kamu benar-benar menjamahku setelah ini, aku nggak mau dipoligami dengan alasan apa pun, makanan aja kadang aku nggak rela berbagi apalagi ini cinta? Hati?!” cecar Wulan, seraya menggelengkan kepalanya. “Nggak! Nggak! Aku nggak mau!” lagi ia mengutarakan bahwa ia anti yang namanya poligami.
“Ahahahaa....” tawa Damar terdengar lepas, namun seperdertik kemudian, tawanya tidak terdengar dikarenakan Wulan sudah membungkam mulutnya yang menganga tertawa dengan telapak tangan istrinya.
“Jangan membahas hal tentang berpoligami, karena aku pun seorang pria yang enggan melakukan itu.” kata Damar. “Dengarkan aku istriku!” lanjutnya, menyebut Wulan dengan sebutan yang terdengar lucu.
“Cie'elah istri?!” sela Wulan, lalu terkekeh geli, seraya menutup bibirnya agar tak terbawa suasana hatinya. “Iya suamiku.”
“Menurut kamu, apa sih artinya menikah?” tanya Damar, seraya menarik Wulan masuk kedalam dekapan hangatnya.
Wulan membalas dekapan hangat Damar, ia melingkarkan tangannya di pinggang sang suami yang bertelanjang dada, “Kalau menurutmu sendiri, arti dari pernikahan itu apa, Kang Cimar?” sejujurnya, ia sangat menyukai bersandar di dada bidang Damar. Hatinya bersenandung terlena, oleh buaian tangan Damar yang mengusap lembut kepalanya secara berulang.
Damar mencium pucuk kepala istrinya, dan mengedarkan pandangannya menatap furniture lukisan Ka'bah. “Menikah itu? Tolak ukur menikah itu bukan dilihat dari sebanding atau tidak. Menikah itu? Bukan tentang kesiapan tapi tentang keberanian mempertanggungjawabkan akad dihadapan Allah. Menikah itu? Seperti berenang nggak cukup teori untuk kuasai.... Mencebur ke dalamnyalah yang akan mengajarkan kita untuk tidak tenggelam dalam kehidupan,
Menikah itu? Bukan semata-mata tentang cinta dan rasa, tapi tentang keimanan dan kesetiaan pada ajaran dan anjuran Tuhan. Menikah itu? Menyusun puzzle kehidupan, sering butuh pihak ketiga untuk klop kan puzzle dalam sebuah perjodohan,
Menikah itu? Bukan tentang rasa percaya aja deh soal rasa hanya mie sedap yang tak pernah bohong,”
Wulan masih mendengarkan penjelasan Damar tentang pandangan pernikahan dengan hati yang berasa damai, sungguh dalam hatinya begitu terkesima. Karena, ia menikahi pria yang mencintai jiwanya bukan nafsunya.
__ADS_1
“Menikah itu? Memang menakutkan bagi para jomblo, tapi percayalah jadi jomblo abadi itu apalagi pacaran lebih menakutkan memilukan + memalukan, apalagi sudah ada perselingkuhan,” jelas Damar menerangkan sebuah gambaran pernikahan menurutnya.
Wulan mengusap pipi Damar, lalu melingkarkan lengannya di tengkuk leher sang suami, seraya bergumam. “Itu kan karena kamu pernah di selingkuhin!”
“Yah, seperti itulah asmara, karena dari kesalahan ku, aku sekarang dipertemukan dengan wanita seperti mu. Mending sakit dahulu, dari pada terlambat menyadari.” pungkas Damar, menjawab pernyataan istrinya.
Wulan menarik diri dari dekapan Damar, ia bersitatap, menatap dalamnya manik mata hitam milik sang suami, “Aku nggak menjamin kesetiaan loh yah, aku hanya menjaga kualitasnya, rasa kasih sayang serta kesetiaan adalah balasan yang pantas untuk hak seorang insan yang sudah mengikhlaskan seluruh cintanya kepada pasangan,” Lalu mencium singkat bibir Damar.
“Aih, manisnya!” celetuk Damar, mendapat perlakuan manis sang istri membuat Damar, semakin gemas. Rasa energi membara menyala, membawanya semakin larut dalam memasuki imajinasi yang membuatnya terbang tinggi di awan. “Menikah itu? Seperti makan sosis.... Bisa dilakukan oleh siapapun dalam kondisi apapun yang penting so nice niat dan tujuannya. Dan menikah itu, mudah karena Allah Maha Memudahkan. Kecuali kita sendiri mempersulit alasan.” jelas Damar lagi, “Dan aku juga ingin memakanmu.” sambungnya menggoda. Kini, tiada lagi penghalang di antara dirinya dan Wulan.
Sebelum benar-benar masuk dan terjebak ke dalam permainan panas penuh gelora cinta. Damar membaca basmalah sekaligus doa untuk ia memulai menjamah istrinya. “Bismillahirrahmanirrahim, (Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah syetan dari saya, dan jauhkanlah syetan dari apa yang akan Engkau rizkikan kepada kami (anak, keturunan). Wallahu alam.” Lalu mencium kening Wulan dengan sangat khidmat dan lembut, selembut sentuhan marshmellow.
Perlahan Damar membaringkan tubuh istrinya. Seraya memainkan bibirnya di bibir sang istri. Melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Wulan. Rasa cinta semakin mendalam, ia menciumi leher Wulan, dan meninggalkan beberapa kepemilikannya di sana, yang berwarna kemerahan.
Rangsangan demi rangsangan, Damar lakukan dengan sangat perlahan.
Begitupun juga dengan Wulan, semakin tak terkendali menerima rangsangan yang diberikan oleh Damar, secara reflek lengannya melingkarkan di tengkuk leher sang suami, dengan posisi Damar mengungkung dirinya, “Ssshhh...” desahann keluar begitu saja dari bibirnya.
“Sakit yah?” Mendengar desahann sang istri, membuatnya menjadi lebih bersemangat. Namun, ia masih dalam mode pelan.
“Sedikit....” jawab Wulan dengan suara berat. Desahann demi desahann meraung rintih dari bibir Wulan. Ia mencengkram kuat punggung sang suami.
Begitupun juga dengan Damar, yang sedang menyalurkan dana yang tak terlihat untuk mengisi rahim sang istri.
Penyatuan dua insan pun berakhir di pukul 04:12 waktu setempat. Dengan skor empat, tiga. Sebelum terbuai dalam mimpi, Damar membawa Wulan untuk membersihkan diri dari hasil permainan panas penuh gelora gairahh jiwa. Untuk selanjutnya menunaikan sholat subuh bersama.
•••
Bersambung...
♠
Note: Sebagian doa-doa di atas ada tulisan bahasa arabnya, tapi saya lebih memilih langsung kepada artinya saja.
__ADS_1