
Tersembunyi rasa demi rasa, dalam belenggu jiwa. Tersirat lewat air mata, mengalir seakan tak terasa. Berharap bisa menutupi semua luka, ketika jemari terdiam. Membasuh air mata membenamkan wajah yang merah.
“Semoga lembaran-lembaran cinta dan persahabatan dapat bertemu dan bersama mengarungi lautan kehidupan. Amin.” gumam Damar, dengan menengadahkan kedua telapak tangannya, selepas sholat subuh dan mengaji.
Damar beranjak dari duduknya yang masih berada di atas sajadahnya. Melipat rapih serta mencium sajadahnya lalu menaruhnya di atas nakas samping tempat tidur. Melepas peci yang ia gunakan untuk sholat dan menaruhnya di sana.
Lalu duduk di tepian ranjang, menatap langit-langit kamarnya. “Hhhh....” ia menghela nafasnya panjang. Wajah Wulan masih terngiang-ngiang indah di pikirannya. Lalu menggeleng pelan, seraya tersenyum lebar. “Aku nggak sabar pengen ketemu dia...” gumamnya, mengusap dadanya yang terasa menggelitik. “Aihs-- kenapa jadi begini ya perasaanku?!” lagi... ia mercacau seorang diri.
Damar mengulurkan tangannya, lalu ngambil benda pipih yang terdapat di atas nakas, menyalakan layar monitor ponselnya. Membuka apk pesan, jemarinya mulai berselancar di keyboard ponsel. Mengetik lalu menghapus dan kemudian mengetiknya kembali lalu menghapus, ia lakukan berulang-ulang. Ia ragu, untuk mengucapkan kata apa yang pas, untuk mewakili perasaannya pada wanita itu, selain kata cinta, yang menurutnya lebay.
“Akh.. kenapa mau ngirim pesan aja susah amat sih... padahal setiap hari juga aku sama Wulan biasa balas membalas pesan soal pekerjaan, tapi kenapa kali ini beda.” gerutunya, seraya membenarkan sarung yang tersingkap.
Pintu kamar Damar pun terbuka bersamaan dengan Danum yang melongokan kepalanya. Melihat Kakaknya tengah duduk di tepian ranjang sedang serius menatapi ponselnya sambil cengar-cengir gaje. Danum pun manggut-manggut dan mengatur siasat untuk mengetahui apa yang membuat Kakaknya begitu berseri-seri.
Remaja enam belas tahun inipun berjalan dengan terjinjit-jinjit, Danum melangkah masuk tanpa menimbulkan bunyi. Lalu duduk di samping Kakaknya. “Sopo (Siapa) Mas?!”
“Allah Akbar!!!” Damar terperanjat, tanpa sadar jemarinya mengirim emoji hati merah, semerah sirene alarm kebakaran. “Yah, yah, yah terkirim, dah tuh hati!! Aduhhh!! Ah Danum!” seru Damar bersamaan dengan ponselnya yang tergelincir dari tangan. Hampir saja menghantam lantai putih kamar kalau saja tangannya tidak langsung cekatan menangkap ponsel yang indah melayang di udara, seperti paralayang. “Hap!! Kena!” seru Damar, menangkap ponselnya.
Danum ikut terkejut, ia tidak menyangka ucapannya yang lirih membuat Kakaknya sampai sedemikian terkejutnya. Keningnya mengerut, heran. Melihat Kakaknya yang gelagapan, perkara emoji hati, “Memang Mas Damar, ngirim emoji hati ke siapa?” tanya Danum, rasa keingintahuannya meronta-ronta.
Damar beralih menatap adiknya dengan tatapan garang, “Mau tau aja sih!” sergahnya. Entah darimana adiknya datang, tiba-tiba duduk di sebelahnya dan membuatnya, tanpa sengaja mengirim emoji red heart dan hampir saja meremukkan ponsel yang sudah retak di bagian layarnya.
“Datang nggak di jemput! Pulang nggak di antar! Darimana sih kamu datangnya?! Hampir aja ponselku jatuh, kan nggak lucu kalau jadi kaya remekan gorengan peyek!” gerutu Damar, seraya menunjukkan ponselnya kepada Danum, lalu menaruhnya di atas tempat tidur.
Danum pun mencebikkan bibirnya, mendengar cecar dari Kakaknya, ia duduk di tepian ranjang, lalu berbaring miring, “Ck.. Enak aja, pulang nggak di jemput, datang nggak diantar! Memang aku jailangsi?! Ya, dari pintu! Emang aku Jin dan Jun, tiba-tiba nongol begitu!” gerutu di balas dengan menggerutu oleh Danum, “Lagian kenapa sih, Mas Damar nggak ganti aja ponselnya? Kan Mas Damar sekarang sudah jadi Sultan!”
“Amin! Tapi Sultan apa? Apa Sultan Damar, begitu?!” jawab Damar menatap adiknya yang tengah berbaring di ranjangnya. Damar berjalan ke depan lemari dan melepaskan satu-persatu kancing baju koko putihnya. “Terus siapa lagi tuh Jailangsi?”
Danum mengikuti kemana Kakaknya melangkah, menggantung baju koko’nya di hanger dan membuka lemari lalu menaruhnya di sana. “Jailangsi ‘kan, adiknya si Jailangkung, masa Mas Damar ndak tahu?!”
“Terus, kamu Jailangsinya, begitu?” tanya Damar, sambil mengambil satu setel pakaian rumahan, dari lemari.
Masih dalam posisi berbaring miring, Danum menggeleng, seraya menumpukkan satu tangannya untuk penyangga kepala, “Aku tuyul, Maaas! Terus Mas Damar, Kentungnya! Hahaha...”
__ADS_1
Damar menoleh kearah Danum yang sedang terkekeh geli, dan kembali mengganti pakaiannya, melepas sarung lalu melipatnya rapih. “Hahaha... Lucu yah? Garing bat kamu, Num!” balasnya menirukan tertawanya sang adik. “Terus yang jadi Mbak Yul’nya siapa?”
Danum melirik ponsel Kakaknya yang berada tepat di sampingnya berbaring tiba-tiba menyala menunjukkan sebuah notifikasi pesan masuk. “Nawul!” seru Danum spontanitas.
Damar masih membelakangi adiknya, ia mengerutkan keningnya mendengar adiknya berkata ‘Nawul'. Spontan Damar menoleh, dan melihat Danum sedang mencondongkan kepalanya, melihat monitor ponsel yang menyala. Sesegera mungkin Damar mengambil ponselnya yang masih berada di atas tempat tidur, menyelamatkannya dari si biang kepo.
Danum heran dengan sikap Kakaknya, yang secara jelas menyembunyikan ponselnya, memandangi wajah berbinar-binar sang Kakak seraya senyam-senyum melihat monitor ponsel. ‘Ihs.. jiwa kepo ku jejeritan pengen tau, siapa si Nawul itu, sampai Mas Damar sebahagia itu?!'
Danum pun beranjak, ia perlahan mendekati Kakaknya, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya membungkuk mencoba menelisik silsilah ponsel sang Kakak.
Damar segera menyadari bahwa adiknya ini, seperti jurnalis. Menarik ponselnya, mendekapnya di depan dada, ia mengerutkan keningnya. “Apa sih kamu Num, pergi sana!”
Danum mengerucutkan bibirnya, “Ck, begitu aja sensi amat!” sergahnya, lalu mencoba mengingat kembali satu-persatu teman perempuan Kakaknya yang cukup dekat. ‘Siapa Nawul yah? Bukan Siska, bukan juga Meylina, apalagi si Mbok berek! iuhh!’ selorohnya dalam hati menerka-nerka, seraya jemari telunjuknya ia taruh di bawah dagu.
“Walah, aku di cueki ngene (Gini) rek!” Danum lebih memilih keluar dari kamar Kakaknya, yang jelas terlihat seperti sedang di taman asmara. Seraya mengingat nama berinisial ‘Nawul.
Damar kembali melihat isi balasan pesan emoji red heart yang tidak sengaja terkirim ke nomer Wulan, membacanya saja sudah membuat sanubari hatinya bersuasana seperti laksana birunya lautan. Ia membacanya dalam hati.
Damar mengedarkan pandangannya menatap dinding kamarnya yang berwarna crem, ia sendiri tahu betul. Bahwasannya, ia bukanlah seorang pria yang pandai bersyair tentang cinta, bahkan untuk mengungkapkan rasa, bisa membuatnya sangat gugup dan tergagap. Sama seperti dahulu saat ia mengungkapkan perasaannya kepada sang mantan.
Akan tetapi, kali ini sangat berbeda, sangat berkelas dan berkualitas. Antara cinta dan persahabatan terjalin di dalamnya, menjadi perpaduan yang unik dan asik untuk di simak, menggelitik sedemikian menarik.
Bisakah bersemi tanpa menjalin kasih, tanpa adanya aku nembak dia? Kenapa rasanya lebay banget, dengan kata-kata, (Aku cinta kamu) ih.. kok aku berasa geli sendiri yah!’ benaknya bermonolog. Jemarinya mulai mengetik balasan untuk ia kirimkan kepada wanita yang sudah mempertanyakan apa lambang dari emoji red heart. Memilih kata-kata yang pas, agar tak menjadi ungkapan yang lebay bin alay untuk di simpulkan menjadi penyelaras perasaannya.
Dua balasan terkirim cantik, dengan kata-kata yang jujur. Karenanya, Damar merasa, terkadang cinta tidak perlu di gembar-gembor kan, cukup di rasakan dan di utarakan dengan sikap yang nyata. Karena, seindah-indahnya percintaan, yang tidak menjadi pernikahan tidak bisa mengalahkan pernikahan.
Menunggu balasan dari Wulan, yang tak kunjung datang, akhirnya Damar memutuskan untuk keluar dari kamarnya, ia merasa cinta butuh ketegasan, butuh nasehat orang tua. Ia berpikir untuk mencari solusi, dan tujuannya adalah Ibunya.
••
Sementara itu, di rumah minimalis, seorang wanita yang tinggal sendirian. Selepas menunaikan kewajiban sebagai umat muslim di waktu subuh. Kini, ia tengah duduk di kursi meja dapur, dengan menikmati cokelat manis yang masih mengepulkan uap.
📱(❤️)
__ADS_1
Dan semakin manis, saat ia menerima pesan singkat emoji red heart, dari pria yang sudah menduduki singgasana hatinya.
“Maksudnya apa? Aku nggak nyangka dia masih kekanakan buat mengungkapkan perasaan!” gumamnya lirih, lalu mengirim pesan balasan, untuk mempertanyakan lambang dari emoji red heart.
Namun, ia tidak menyangka, pria yang lebih muda darinya membalas pesannya dengan kata-kata yang terbaca romantis tapi tidak lebay karat. Dan rasanya, seperti terbang di atas Nirwana. 📱(Yang kumiliki bukan bunga setaman. Cuma seikat bunga yang ku genggam sekuatnya. Kamu yang dekat denganku. Dan, jika lagu dapat mengutarakan maksud di hatiku, maka namamu adalah judulnya.)
Belum terpikirkan, untuk membalasnya apa karena seketika muncul sebuah pelangi dimatanya, dan lagi notifikasi pesan pun masuk. Wulan mengerutkan keningnya, membaca pesan yang ketiga di awal pagi harinya. 📱(Dan soal emoji red heart, aku gak sengaja mengirimnya. Sampai jumpa di kantor.)
“Nggak sengaja gimana? Orang jelas-jelas dia yang ngirim!” ucapnya dengan suara kecil. Sedikit kecewa dengan balasan yang terakhir, ia memilih tidak membalas.
••
Di dapur yang luas, Damar melihat Ibunya sedang membantu Mbok Iyem memasak. Ragu, deg-degan, tidak karuan, wajahnya serasa memanas. Damar lebih memilih duduk di kursi meja makan yang berjarak 4 meter dari Ibunya yang tengah sibuk memasak. Dan terus saja melihat Ibunya dari belakang.
Mbok Iyem asisten rumah Kakek Bagaskara pun menyadari bahwa Damar, sedang duduk di kursi meja makan dengan terus menatap Ibunya, seolah ada hal penting yang ingin di sampaikannya pada sang Ibu. Wanita setengah baya ini pun, menyenggol lengan menantu dari keluarga Wijaya.
Bu Suci pun menatap Mbok Iyem, “Kenapa Mbok?”
Mbok Iyem pun memberi isyarat, dengan menunjuk Damar dengan dagunya.
Bu Suci mengikuti kemana arah Mbok Iyem memberinya isyarat, dan melihat putra sulungnya sedang duduk di kursi meja makan. Bu Suci menghela nafasnya, lalu kembali menatap Mbok Iyem. “Ambil ini Mbok,” ucapnya, seraya memberikan Sutil stainless kepada Mbok Iyem untuk membalikkan ikan yang sedang di gorengnya.
Damar melihat Ibunya yang sedang berjalan kearahnya, dan duduk di kursi di hadapannya dengan sekat meja lebar di tengah.
“Jadi, setelah menumpaskan kejahatan Kusumo. Sekarang apa yang mengganggu pikiranmu, Nang?” tanya Bu Suci, melihat raut wajah putranya yang terlihat bimbang.
•••
Bersambung...
♠
Saya mohon maaf, soal visual, saya memang tidak menampilkan visualnya. Karena, cocok di pikiran saya belum tentu cocok di pikiran pembaca. Jadi, readers pun bebas. Mau memikirkan tentang visualnya yang seperti apa? Atau kalau bisa, readersnya sendiri yang jadi pemerannya.
__ADS_1