Presdir Cilok

Presdir Cilok
90 Membongkar kejahatan


__ADS_3

Setelah mendapatkan perawatan medis, dan luka goresan di wajahnya yang sudah ditutup perban. Saat ini Damar lebih memilih menyambangi ruangan Bokir mendapat perawatan. Ia menunduk dalam-dalam di hadapan pria berkepala pelontos yang duduk di tepian brankar. “Maaf Kang, karena dendamku. Kang Bokir terluka,”


Meskipun sakit di bahunya, Bokir tidak terlihat seperti orang sakit. Seolah ia sudah terbiasa akan hal ini. “Tenanglah Mar, dengan ini saya bisa membalas hutang budi saya pada Kakekmu,”


Damar mengangkat wajahnya, bersitatap dengan pria yang ia anggap seperti Kakaknya sendiri. “Maksud Kang Bokir?”


Bokir mengulas senyuman, dan memegangi bahunya yang terasa nyeri, “Kakekmu sudah berbesar hati mau menampung saya dan adik saya yang yatim piatu ini. Ayah saya adalah penambang batu bara, tapi naas. Dia meninggal dalam kecelakaan kerja dan Ibu saya pergi entah kemana,”


Damar menatap Bokir dengan tatapan sendu, “Setiap manusia mempunyai ceritanya masing-masing, yah Kang. Saya turut berduka.”


Bokir beralih menatap Damar, ia menepuk pundaknya, “Betapa jauh pancaran cahaya dari sebatang lilin kecil. Begitulah pancaran cahaya sebuah perbuatan baik di tengah dunia yang jahat,” Bokir beranjak dari duduknya di tepian brankar, “Bisakah kamu mengartikannya, Mar?”


Damar manggut-manggut, “Seperti halnya hidup ini terlalu singkat Kang, dan terbagi hanya 24 jam, selebihnya masih rahasia.”


Bokir menjentikkan jarinya, “Betul!” Bokir pun teringat soal Didi dan ke empat kawannya yang menjadi sandera, “Gimana si Didi dan teman-temannya?”


“Alhamdulillah mereka sudah membaik Kang,” jawab Damar.


“Syukurlah,” Bokir mengelus dadanya, merasa lega.


Pintu ruangan tempat Bokir di rawat pun tersingkap Bokir dan Damar mengalihkan tatapannya.


Bokir menatap istrinya yang baru tiba di rumah sakit, dan berjalan masuk kedalam kamar rawatnya bersama dengan Wulan. “Mirna!”


Mirna berjalan mendekati suaminya dengan tatapan berkaca-kaca, seraya mengusap perutnya, “Berapa kali kamu membuat kami khawatir, Pipi. Apa kami tidak pernah berarti di matamu?”


Bokir mempelototi Wulan yang datang bersama dengan istrinya. Seolah memberi isyarat; Kenapa kamu memberitahu istriku, Wulan!'


Wulan mengibaskan-ngibaskan tangannya, “Mirna yang telepon aku mulu! Kan aku cuma mau jawab jujur!”


Mirna menepuk pelan pipi suaminya, “Jangan salahkan Wulan, aku yang merecoki nomernya, habis nomer kamu nggak aktif?!”


Bokir mengulas senyuman di pipinya, lantas ngusap perut besar istrinya yang hamil tua, “Kalian sangat berarti di hidupku Mirna,” lalu mencium kening wanita yang dinikahinya setahun yang lalu. “Jangan beritahu Laksmono, tentang keadaan saya. Biarkan dia belajar dengan baik,”


Mirna mengangguk, “Kamu adalah Kakak yang sangat baik, Pipi.”


Damar tersentuh melihat keharmonisan rumah tangga Bokir dan Mirna yang saling pengertian, ia menatap Wulan yang juga sedang menatap Bokir dan Mirna.


Bokir semakin menjadi-jadi, ia hendak melayangkan ciumannya di bibir sang istri. Namun, deheman Wulan yang terdengar keras membuyarkan Bokir dan juga Mirna.


“Eheeeemmm...” Wulan menggaruk tengkuknya. Dia yang dehem, dia juga yang malu.


Damar menatap Wulan tersenyum geli melihat tingkah Wulan yang ambigu.

__ADS_1


“Kenapa Lan, kamu iri?” tanya Bokir, mengangkat kedua alisnya.


“Nggak! Mana ada seorang Nawang Wulan iri sama yang begituan!” sergah Wulan, ia pun berbalik badan. Akan tetapi ia teringat sesuatu dan memutar kembali badannya . “Oh iya, tadi si Jojon ngabarin, katanya ketua dari preman begal itu sudah di tangkap polisi.”


“Fatir maksudmu?” tanya Damar menatap Wulan lalu berjalan mendekatinya.


Wulan salah tingkah, ia merasa nervous di dekati seperti ini oleh Damar. Nafasnya serasa tercekat di tenggorokan. ‘Alahmak! Macam mana bisa awak panas dingin cam ni?'


“Terus si Kusumo?” tanya Bokir.


Damar tidak jadi mendekati Wulan, ia beralih menatap Bokir. “Bukankah kita masih punya rencana, untuk membongkar semua kejahatannya Kang?”


“Kamu benar.” jawab Bokir. “Kalau begitu, kita ke sana sekarang Mar!”


“Kamu mau kemana Pipi?” tanya Mirna, melihat suaminya berjalan mengambil jaket.


“Mimi, ada yang perlu saya, Damar, dan Wulan selesaikan!” jawab Bokir, memegang kedua pipi istrinya.


Mirna hanya bisa menghela nafasnya


Wulan keluar dari kamar rawat Bokir terlebih dulu, dan disusul oleh Damar.


Damar berjalan di belakang Wulan, ia melihat keseriusan Wulan berjalan. Ia pun menyambar tangan Wulan. Membuat si empunya tersentak.


“Kamu belum memberitahu Ibuku kan?” tanya Damar, dengan tatapan menyelidik.


Wulan bersitatap dengan Damar, “Saat ini belum, tapi mungkin nanti, iya.”


Damar melepaskan genggaman tangannya, “Biar nanti aku sendiri yang mengatakan hal ini pada Ibuku,” lalu berjalan mendahului Wulan.


Wulan mencebikan bibirnya, ia berbalik badan, menatap punggung Damar yang berjalan mulai menjauhi dirinya, dan lagi-lagi teringat sesuatu, “Direktur Angelina, terus saja meneleponmu, sepertinya ada hal penting yang ingin dia katakan padamu,”


Damar menghentikan langkahnya, dan berbalik badan melihat Wulan, “Kenapa bukan kamu yang menjawabnya?”


Wulan mengangkat bahunya, “Mana bisa aku mengutak-atik privasi orang lain!”


Damar mengangkat alisnya,“Kalau aku berencana kencan dengannya, bagaimana menurutmu?”


“Masihkah kamu bertanya, bagaimana caranya untuk berkencan? Bukankah kamu pernah menjalin asmara?” sergah Wulan, merasakan kelu mendapat pertanyaan hal itu dari pria yang saat ini mengisi kekosongan hatinya. Ia lantas berjalan meninggalkan Damar. ‘Aku tahu aku mengerti, apa yang kamu rasakan tak sama denganku, sahabat kapankah kamu sadari bahwa hatiku telah menyimpan hatimu.'


Damar menghela nafasnya, menatap kepergian Wulan menyusuri koridor rumah sakit. Lantas mengejar wanita yang jelas terlihat menyembunyikan guratan cemburu. Dan merangkul pundak Wulan.


Bokir dan Mirna yang baru keluar dari dalam kamar rawat pun dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah Damar dan Wulan.

__ADS_1


“Heran sama sikap Damar dan Wulan, jelas-jelas saling suka. Kenapa pada nggak bisa mengungkapkan perasaan!” kata Mirna dengan suara kecil. “Kan tinggal bilang aja, I love you! Begitu.” lanjutnya lagi, mencontohkan seseorang yang menyatakan perasaan.


Bokir menatap Mirna dari samping, “Wah, padahal kan Mimi jarang banget ketemu si dua cecunguk itu, kenapa bisa langsung tahu kalau tuh berdua saling memendam rasa!”


“Cecunguk siapa?” tanya Mirna, polos.


Bokir menghela nafasnya, “Ya Damar sama Wulan, Mimi!”


“Oooh... Ya tahulah! Kan kelihatan banget Pipi, emang bener, si Wulan punya pacar yang lagi LDR?” kata Mirna sekaligus bertanya.


Bokir mengangkat bahunya, “Lah, kagak tahu!”


Sembari berjalan, Mirna pun berpikir. “Pi, Pipi kan kenal sama Ayahnya si Wulan, coba cari tahu sana, siapa tahu emang si Wulan lagi bohong!”


Bokir pun manggut-manggut, dan melingkarkan jari membentuk huruf O. “Oke,” jawab Bokir. “Pipi anter Mimi pulang dulu deh, baru Pipi bisa tenang menyelesaikan masalah pekerjaan.”


Mirna pun mengangguk.


••


Di perusahaan yang bergerak di bidang perindustrian perdagangan. Kini, kelima petugas dari BPOM sedang melakukan penggeledahan pemeriksaan terhadap PT Jaya Gemilang. Setelah mendapat izin dari pihak kepolisian dan dari sektor kepala Jenderal divisi BPOM.


Seorang manajer dari perusahaan PT Jaya Gemilang sedang merasa panik, “Mohon tunggu sebentar lagi Pak Setiono, Pak Kusumo sedang kemari,”


Kepala divisi BPOM setengah baya dengan seragamnya tidak bergeming dan tetap menyuruh anak buahnya melakukan tindakan pemeriksaan terhadap semua bahan mentah yang terdapat di pabrik. “Cepat! Kita harus melihat apakah benar pabrik ini sudah menyalahi aturan hukum lagi!” tegasnya meneriaki anak buahnya agar melakukan penggeledahan secara menyeluruh di area pabrik produksi.


Seorang lelaki bertubuh subur berlari tergopoh-gopoh menuju pabrik pengolahan. “Hentikan!” teriaknya di ambang pintu gerbang masuk area pabrik.


Manajer dan para pekerja serta serta petugas dari BPOM pun berhenti, dan melihat ke arah pintu gerbang yang terbuka lebar.


“Pak Kusumo!” seru sang manajer melihat bosnya yang sudah tiba.


Kusumo mendekati kepala divisi BPOM, “Apa yang sedang Anda lakukan Pak Setiono?!”


Lelaki berkumis tipis inipun menjawab dan mengacungkan tangannya yang terbuka menunjukkan bahan-bahan mentah dan anak buahnya, “Seperti yang Anda lihat Pak Kusumo, saya sedang melakukan tugas saya sebagai Badan Pengawasan Obat dan Makanan!”


Kusumo bersitatap dengan Pak Setiono penuh dengan amarah, “Bukankah Anda sudah sepakati ini, bahwa Anda tidak akan mengutak-atik perusahaan saya! Apa Anda lupa dengan perjanjian yang sudah Anda tanda tangani di atas materai Pak Setiono?!”


Pak Setiono hanya mengangkat bahunya, lalu mencondongkan tubuhnya dan berbisik di dekat telinga pemilik perusahaan PT Jaya Gemilang, “Sudah cukup kami berkontribusi dengan Anda, Pak Kusumo. Sekali dua kali kami memaafkan Anda dan memberikan Anda kesempatan untuk perbaikan produk. Tapi kali ini Anda sudah melibatkan banyak pihak dari kalangan perusahaan! Dan kami harus bertindak tegas!”


“Itu betul sekali Pak Setiono!” seruan seseorang di ambang pintu gerbang masuk kedalam area pabrik. “Bahkan Tuan Kusumo sudah membuat perusahaan saya mengalami kerugian besar, akibat Tuan Kusumo sudah memanipulasi truk kontainer yang seharusnya berisikan bahan mentah yang saya pesan dari PT Mekar Sari milik Bapak Hendroyono.” sambungnya lagi.


•••

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2