
Di ruang keluarga, tepatnya di rumah Kakek Bagaskara yang semula sepi, dingin terkesan hampa. Kini, seolah berubah drastis semenjak Bu Suci, Danum dan Damar tinggal di rumah berkonsep gaya arsitektur bangunan Jawa tengah yang kental dengan nuansa cat cokelat kayu, serta hiasan dinding rumah perwayangan serta beberapa koleksi tembakan dan anak panahan tertata rapih dan sangat menarik perhatian siapapun yang melihatnya.
“Apa Bang Rozak belum kesini Mah?” tanya Wulan kepada Mamahnya.
Bukan Mamah Almira yang menjawab, akan tetapi Ayah Wicaksono, “Abangmu sudah pulang lebih dulu, ada tugas dari komandan militer di markas,”
Damar antusias dengan jawaban Ayah Wicaksono, ia memang mengetahui bahwa Kakak dari istrinya seorang militer, “Apa Bang Rozak tergabung dalam organisasi khusus, Yah?”
Ayah Wicaksono mengangguk, “Ya begitulah, dia ikut dalam pelatihan khusus anti terorisme,”
Damar tercengang, sampai memuatnya seketika speechless memandangi Ayah Wicaksono, “A-anti terorisme! Bang Rozak? Wah hebat, pasti sangat menyita waktunya.”
“Bukan hanya waktu, Mamah pernah nggak ketemu sama dia hampir 2 tahun, karena Abangmu harus menjalani masa karantina dan pelatihan khusus di Manokwari,” kata Mamah Almira, ikut menimpali.
Damar manggut-manggut tipis, dalam benaknya ia begitu bangga,‘Wah, aku menikahi wanita dari keluarga abdi negara. Sungguh hebat!'
“Tapi kan memang dari kecil Abang Rozak udah tinggal dengan Almarhum Nenek di sana, Mah. Mangkanya pas ada bencana alam di Aceh, dia nggak ikut terlibat.” ungkap Wulan, seraya mengambil cangkir teh hangat di meja.
Danum terkejut mendengar jawaban Kakak iparnya, “Bencana? Bencana alam apa Mbak?”
Damar menatap istrinya, bahkan selama mengenal Wulan, ia sendiri pun tidak pernah mendengar istrinya membicarakan tentang bencana alam yang disebutkan sang istri, ia mengerti bahwa ia menikahi wanita yang mempunyai sifat introvert. “Kamu nggak pernah cerita apapun padaku tentang bencana alam yang kamu sebutkan tadi?”
Kakek Bagaskara menaruh gerabah gelas di meja, lantas beliau yang menjawab pertanyaan Damar, “Kejadiannya sudah 17 tahun lalu Damar, yah mungkin usiamu saat itu tujuh tahun,“ ujar Kakek Bagaskara, karenanya beliau adalah salah satu dari orang-orang dermawan penyumbang dana besar untuk membantu memulihkan kondisi Aceh yang porak-poranda pada saat itu.
“Kenangan kelam itu tidak dapat dengan mudah terlupakan oleh orang-orang yang selamat dari peristiwa itu,” imbuh Nenek Ayudia.
“Apa ini soal bencana alam tsunami?” ujar Bu Suci mengingat berita lama yang sempat menggemparkan dunia.
Kakek Bagaskara mengangguk bersamaan dengan Ayah Wicaksono dan Mamah Almira.
“Kami masih bersyukur, tempat yang kami tinggali bukan wilayah yang terkena dampak parah dari tsunami tersebut. Dampak terparah bencana gempa bumi dan tsunami di Provinsi Aceh dilaporkan terjadi di Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Jaya, dan beberapa wilayah di Aceh bagian timur seperti, Pidie, Bireuen, dan Lhokseumawe...” jelas Ayah Wicaksono, selaku korban yang selamat dari peristiwa naas tersebut.
__ADS_1
“Lebih dari rasa syukur, Ayah,” sela Mamah Almira. “Karena kami mendapatkan mukjizat selamat, diantara lebih dari 120 ribu orang meninggal dunia pada dalam bencana tersebut,” Mamah Almira menjeda ucapannya, beliau menghela nafas menatap satu-persatu orang-orang yang sedang menatapnya. “Terlebih putri kecil kami, Wulan. Yang saat itu sedang bermain di luar dengan seorang temannya yang juga anak dari anggota militer, dan sampai sekarang tidak diketemukan, masih hidup atau telah tiada.” lanjut Mamah Almira, sepintas kenangan masa menyeramkan itu teringat kembali.
Mendengar Mamahnya berkata tentang teman masa kecilnya. Wulan menunduk, lesuh. Ia menghela nafas panjang, seraya mengingat sosok anak laki-laki bernama Farhan.
Damar, Danum dan Bu Suci bergidik ngeri mendengarkan penjelasan Mamah Almira.
Damar menatap Wulan yang duduk di sebelahnya Bu Suci dengan tatapan sendu, hatinya seraya teriris mendengar penjelasan Mamah Almira. Seketika rasa syukur menyelimuti palung jiwanya. “Sepintas aku tahu tentang bencana alam itu, dan bukankah untuk mengenangnya telah di bangun museum?”
“Iya,” sahut Wulan, “Untuk membuat manusia mengingat dan dapat mengambil pelajaran dari setiap bencana yang terjadi, bahwa apapun yang hidup di dunia nggak abadi,” pungkas Wulan, bersitatap dengan sang suami yang duduknya berjarak tiga meter darinya, ‘Kenapa aku melihat matanya berkaca-kaca, apa dia mau nangis di sini? Ngga mungkin kan? ’batinnya berseloroh.
“Apakah pada saat itu kalian terpisah?“ tanya Danum, ia pun meralat pertanyaan yang seolah tidak sopan. “Maksudku, bagaimana ceritanya Pakde, Budhe dan Mbak Wulan bisa selamat?” tanya Danum penasaran kepada orangtua Wulan.
Ayah dan Mamah Almira saling menatap satu sama lain. Mengingat kembali pada saat keduanya sama-sama selamat dari peristiwa yang tak terlupakan.
“Kebetulan kejadiannya minggu pagi, saya pada saat itu sedang memberi pakan burung kenari di depan rumah dan Almira sedang menyapu halaman rumah, saya mendengar dentuman keras, entah dari arah mana...” kata Ayah Wicaksono, beliau pun menghela nafasnya, mencoba menyusun kepingan puzzle kenangan itu.
“Saya segera menghampiri Almira, takut ada sesuatu yang akan terjadi, saya juga mengkhawatirkan Wulan yang saat itu berusia 10 tahun sedang bermain di luar, dan benar saja, tak berselang lama dari dentuman itu, gemuruh suara, seperti gulungan ombak menerjang daratan, saya dan Almira berpegangan erat satu sama lain, dan seterusnya entah apa yang terjadi, yang saya ingat ketika terbangun....” Ayah Wicaksono menjeda ucapannya, beliau lantas mengulurkan tangannya di belakang punggung sang istri dan memegang pundak Mamah Almira.
Mamah Almira mengusap tangan suaminya yang berada di pundaknya.
“.....Saya melihat keadaan kompleks rumah dinas yang saya tinggali sebagian besar sudah porak-poranda, ada genangan air bercampur lumpur dan tumpukan puing-puing bangunan dan hal apapun yang ikut tersapu oleh ombak. Saya juga terpisah dengan Almira yang tidak sadarkan diri tertutupi tanah yang berlumpur dengan jarak sekitar sepuluh meter dari saya. Saya menyeret kaki saya yang pincang akibat tertimpa kayu bangunan, dan segera menghampiri Almira. Saya sangat bersyukur Almira masih hidup, namun rasa syukur saya seketika sirna saat mengingat Wulan,” sambung Ayah Wicaksono, bercerita panjang lebar tentang kejadian yang mengerikan itu.
“Sebuah mukjizat setelah sepekan kami mencari-cari keberadaan Wulan, kami akhirnya dapat bertemu di tenda pengungsian, meskipun saat itu Wulan tengah mengalami trauma psikologis hingga membuatnya kehilangan pita suara serta dalam keadaan linglung, dan harus melakukan trauma healing selama hampir empat tahu lamanya,” imbuh Mamah Almira.
Tatapan Damar langsung beralih menatap sang istri, ‘Ya Allah sungguh Maha Besar, Engkau Ya Allah, telah memberiku kesempatan untuk bertemu dengan wanita hebat yang sekarang menjadi istriku.' Damar secara spontanitas beranjak dari duduknya yang semula di samping Danum, lalu berjalan mendekati Wulan dan duduk disebelahnya, tangannya menyelinap kebelakang mengusap punggung istrinya. Seolah memberi Wulan kekuatan, kendatipun terlambat.
Wulan mengusap paha Damar yang di balut celana pendek koloran. Seolah menjabarkan; Aku baik-baik saja.'
Semua orang kini beralih menatap Damar yang berpindah posisi tempat duduk.
“Lalu kapan Pak Wicaksono dan keluarga pindah ke Jakarta?” tanya Bu Suci, seraya mengusap pundak Wulan.
__ADS_1
“Setelah kaki saya sembuh, dua tahun pasca kejadian yang memberikan kami pengajaran berharga dalam hidup kami dan kami mengerti apa itu artinya hidup. Saya juga bersyukur Komandan masih memberikan kesempatan kepada saya untuk kembali menjadi anggotanya, dan saya di pindah tugaskan di Jakarta sampai saya pensiunan.” pungkas Ayah Wicaksono.
“Jangan ragu untuk menengok masa lalu. Di situlah kalian belajar akan arti kehidupan.” kata Nenek Ayudia, menatap satu-persatu orang-orang yang berada di ruang keluarga.
Ayah Wicaksono mengangguk tipis. “Ibu Ayudia benar, Kita tidak akan membiarkan masa lalu menyeret kita ke bawah dan menghentikan kita untuk bergerak maju. Kita mengerti ke mana kita harus pergi.” Ayah Wicaksono beralih menatap Kakek Bagaskara. “Seumur hidup saya, saya juga berhutang budi kepada Pak Bagas, karena beliau adalah salah satu dermawan yang sudah berbesar hati berkenan merelokasikan dana yang tidak sedikit untuk membantu korban bencana alam tersebut.”
Kakek Bagaskara mengangguk, kemudian tersenyum. “Itu tidak seberapa Wicaksono, sudahlah tidak perlu di ungkit-ungkit lagi.”
Damar terkejut atas pengakuan dari Ayah mertuanya, ia tidak menyangka dari awal pertemuannya dengan sang Kakek, dengan stigma tamak. Ternyata Kakek Bagaskara tidak seperti gambaran dalam pikirannya.
“Ingatan terhadap tsunami bukan hanya dimaksudkan untuk mengingat kesedihan terkait korban jiwa atau pun kerusakan dan kehilangan harta benda,” kata Mamah Almira, beliau menunduk sesaat dan kembali menatap satu-persatu orang-orang yang sedang menatapnya.
“Namun yang lebih penting adalah untuk mengambil pelajaran dan menyiapkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan bencana di masa depan. Ingatan tersebut harus selalu diceritakan, diteruskan, ditularkan, serta diajarkan baik secara horizontal (satu generasi) maupun vertikal (berbeda generasi). Pelajaran terkait peristiwa alam seperti gempa dan tsunami, baik yang diajarkan melalui lagu, nyanyian, syair dan sebagainya.” lanjut Mamah Almira, dengan untaian perkataan bijak, sebagai penggambaran dalam kehidupan.
“Ibu Almira benar, semua yang terjadi dalam kehidupan ini, harus selalu membuat kita waspada dan mawas diri.” kata Bu Suci, menatap besannya dengan seulas senyuman hangat.
Damar pun kemudian teringat sesuatu, namun ia tidak hanya menyebut satu sebutan, karena di sana tidak hanya Ibunya saja, akan tetapi ada kedua orangtua Wulan. “Bu, Ayah, Mamah. Hari ini Damar akan mengajak Wulan untuk liburan, apa ada yang ingin ikut bersama dengan kami?”
“Terima kasih, Damar. Tapi kalian jalan-jalan saja, ada banyak obrolan Ayah dengan Kakek mu,” jawab Ayah Wicaksono.
“Memang kita mau pergi kemana?” tanya Wulan, karena sebelumnya, ia tak merencanakan apapun dengan Damar.
“Nanti kamu juga bakalan tau,” sahut Damar.
“Tapi sebelum pergi, kalian makan dulu. Ibu akan menyiapkan sarapan pagi lebih dulu.” ujar Bu Suci.
“Wulan bantu Ibu masak,” usul Wulan kepada Bu Suci.
Bu Suci menyambut hangat usulan anak menantunya, “Dengan senang hati..”
“Saya juga ikut.” kata Mamah Almira, lalu menyusul Wulan dan besannya yang berjalan lebih dulu ke arah dapur.
__ADS_1
•••
Bersambung...