
Damar memegang mic, seraya menatap ke arah panggung pelaminan yang berjarak tiga meter dari panggung orkestra.
Musik perlahan pun mengalun,
•••
Iringan musik mengalun pelan, namun terkesan pop.
Damar sudah siap-siap dengan lagu yang akan ia bawakan... Lagu dari Iwan Fals Pesawat tempur..
♪♪♪
Waktu kaulewat aku sedang mainkan gitar
Sebuah lagu yang kunyanyikan tentang dirimu
Seperti kemarin kamu hanya lemparkan senyum
Lalu pergi begitu saja bagai pesawat tempur
ref
Kalau saja aku bukanlah penganggur
Sudah kupacari kau
Jangan bilang tidak, bilang saja iya
Iya, lebih baik daripada kau menangis
Penguasa, penguasa
Berilah hambamu uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang
Sangat aneh dengan pemilihan lagu yang Damar nyanyikan, dan lebih membuat para hadirin berdecak heran. Apalagi dengan orkestra yang mau-maunya mengiringi lagu yang Damar nyanyikan.
Tanpa para tamu tahu, pengiring musik orkestra tak lain adalah teman-teman Damar yang ada di cafe milik Bu Mariska pemilik Wedding organizer, tempat biasa Damar ngamen. Juna, Anwar dan Imam. “Anjirrt bat momennya Mar!” gumam Juna.
Damar baru akan bernyanyi memasuki reff kedua. Akan tetapi, ia melihat di atas panggung pelaminan. Kusumo, Ana. Dan juga Opik sudah seperti kebakaran hutan. Panik dan juga kalangkabut. Damar terus saja bernyanyi dengan hati riang, seolah ia tak menghiraukannya.
Sesekali ia melirik Wulan dan Siska. Lalu pandangannya mengedar ke para hadirin undangan yang merasa janggal melihat aksinya bernyanyi. “Ayok para hadirin yang saya hormati, siapa yang bisa bernyanyi, mari ikut saya bergembira membawakan lagu ini.” ajak Damar, berseloroh di mic.
Opik tidak tahan dengan kelakuan Damar, “Brengsek! Jancok kamu, Mar!” seru Opik, ingin segera bangkit dari singgasana seharinya sebagai raja di atas kursi pelaminan. Ratna terkejut dengan kemarahan Opik, ia segera menarik lengan Opik agar tidak menimbulkan kericuhan.
__ADS_1
Kusumo tidak tahan dengan lagu yang Damar nyanyikan. Serasa membuat telinganya tersumbat arang yang membara nyala. “Pengawal! Seret pemuda kacung itu dari atas panggung!” sentak Kusumo memberi perintah kepada ketiga bodyguardnya untuk menyeret Damar dari atas panggung orkestra.
Damar menyadari sesuatu dari pergerakan Kusumo, ia melihat Kusumo sedang memberi perintah terhadap ketiga bodyguard yang bertubuh besar dan tegap. Sekian menit ia melihat Kusumo, kini beralih menatap ketiga bodyguard yang menuju kearah dirinya dengan wajah garang.
Wulan menyadari itu, “Waduh.. Damar-Damar Lo dodol banget si akh! Nyanyi begituan di acara nikahan!” Wulan menatap pancake yang ada di tangannya. “Pancake, gue tinggal dulu yah! Jangan kemana-mana, nanti gue bakal habisin elo dah! Gue janji. Oke!” gerutunya pada pancake di piring yang tinggal separuh dengan balutan lelehan cokelat lumer, lalu menaruhnya di atas meja.
Wulan pertama-tama melepas heels agar lebih leluasa, dan segera menghadang ketiga bodyguard Kusumo agar tidak melakukan hal yang menyakiti Presdirnya, atau kalau tidak ia akan berurusan dengan Kakek Bagaskara.
Ia merentangkan kedua tangannya, dihadapan ketiga bodyguard yang tubuhnya tiga kali lipat dari dirinya. “Stop, atau kalau kalian tidak berhenti berbuat anarkis. Gue bakal...” hardik Wulan, belum selesai ia menyelesaikan ucapannya, salah seorang preman sudah menyela ucapannya.
“Bakal apa? Hah, Hay Nona cantik. Dari pada aku membuat wajah cantikmu berdarah lebih baik minggir!” seru salah seorang bodyguard kepada Wulan.
Seketika keributan pun terjadi, dan mengundang semua pasang mata para tamu undangan yang merasa seperti menonton drama. Bisik-bisik mulai menggema di ruangan yang sangat luas. Sudah seperti seekor nyamuk yang terbang di sekitaran telinga.
“Arhk... Brengsek!” berang Opik, ia segera mengibaskan tangannya dari genggaman Ratna dengan kasar. Hingga Ratna kehilangan keseimbangan dan terhuyung jatuh. Opik sama sekali tidak menghiraukan Ratna, ia lebih fokus untuk memberikan pelajaran kepada Damar.
“Damar!” teriak Opik, terlihat sangat jelas garis-garis urat emosinya, membentang seperti garis katulistiwa di leher dan raut wajahnya. Opik membuang mic yang sedang di gunakan untuk Damar bernyanyi. Sampai berbunyi lengkingan panjang dari mic dan sound sistem.
Teman-teman Damar, dan juga kedua vokalis pun terkejut atas tindakan Opik. Mereka semua menghentikan lagu yang sedang dimainkan.
Tanpa persiapan tanpa ancang-ancang Damar terkejut, ia mendapat cengkraman tangan Opik di jas tuxedo yang dikenakannya. Damar segera mencekal tangan Opik, menghempaskanya begitu saja. Membuat Opik terhuyung.
Seketika pernikahan yang elegan dan meriah pun berlanjut dengan keributan. Hadirin, para tamu undangan yang datang menyaksikan seolah berganti saluran, dari ke pernikahan yang seharusnya romantis dan harmonis. Kini, berganti tayangan keributan dan kericuhan.
Para tamu undangan pernikahan, tatapan mereka terbagi di beberapa titik. Sebagian ada yang fokus menatap Damar dan Opik yang masih berada di atas panggung orkestra. Sebagian ada yang melihat kemarahan Kusumo dan keheranan yang jelas terlihat dari raut wajah orangtua Opik yang tidak tahu apapun.
Salah satu bodyguard mampu melumpuhkan Wulan, dengan cara mencekal lengannya. Dan dua diantaranya siap memberi pelajaran kepada Damar. Kali ini Damar berhadapan dengan kedua bodyguard berwajah garang, bertubuh tegap, bongsor.
Damar bersitatap dengan kedua bodyguard yang berdiri berjarak satu setengah meter darinya, lantas beralih melirik Opik yang turun dari atas panggung orkestra, “Woy, Pik, takut kamu kalau harus berhadapan langsung dengan ku?” teriak Damar.
Opik menatap Damar nyalang..
Kini siap dengan ancang-ancangnya, Damar menatap kedua bodyguard bergantian. Sama-sama bersitegang, namun ia melirik sekilas kearah para tamu undangan yang hadir. Ia merasa inilah momentumnya memerankan sikap bijak Abu Nawas, untuk mencari simpati dari tamu undangan yang kebanyakan adalah kolega bisnis Kusumo, untuk menunjukkan sisi buruk Kusumo.
Damar kembali melihat kedua bodyguard yang Kusumo perintahkan. Kedua bodyguard mulai mendekati Damar, yang seolah terlihat ia tak berdaya untuk melawan, diam-diam Damar tersenyum mengejek kepada kedua bodyguard. Salah satu bodyguard tidak bisa menahan emosi kala pemuda di hadapannya memasang cengiran dan mimik wajah seperti mengejek.
BUGH..
Damar jatuh dari atas panggung orkestra dan tersungkur ke lantai. Sebisa mungkin ia tahan rasa sakit di pipinya yang meninggalkan lebam ruam merah, para tamu undangan merasa kasihan melihat Damar.
“Sudahlah Kusumo, dia hanya ingin bernyanyi. Tidak perlu berbuat sedemikian anarkis!” seru salah satu hadirin tamu kepada Kusumo yang sudah turun dari atas panggung pelaminan.
Damar meringis menampakkan kesakitan seolah ia telah mendapatkan bogeman maha dahsyat. Ia masih bersimpuh di lantai.
Kusumo mendapat serangan tatapan tajam dari beberapa para tamu undangan pasang mata yang menaruh rasa keburukan untuk dirinya, lantas sebisa mungkin Kusumo menyanggah. “Pemuda bodoh ini sudah membuat keributan sendiri dengan menyanyikan lagu yang membuat gendang telinga tamu sakit dengan suaranya, jadi tidak ada salahnya jika saya memberinya pelajaran.” tukasnya.
“Tapi tidak harus memukulinya seperti ini, Kusumo. Secara tidak langsung kamu sudah menunjukkan sisi anarkis mu!” seru tamu undangan yang lainnya, seumuran dengan Kusumo.
__ADS_1
“Lagi pula, suaranya tidak buruk!” seru salah satu para tamu undangan, menimpali ucapan yang lainnya.
Kusumo beralih menatap kedua bodyguard yang sudah melayangkan tinju ke wajah Damar, “Saya tidak menyuruh kalian untuk memukul pemuda kacung ini, saya hanya meminta untuk menyeretnya keluar! Kenapa kalian bertindak begini? Hah!” teriak Kusumo melempar batu sembunyi tangan, membela dirinya.
Kedua bodyguard, seketika menunduk. Tidak berani menatap Kusumo yang jelas saja sedang menahan amarahnya.
Wulan tersenyum menyeringai melihat keributan yang di timbulkan hanya karena Damar menyanyikan lagu pesawat tempur milik sang Maestro Indonesia, Iwan Fals. “Gesrek da ah, keren!” gumamnya.
Sementara Siska, ia hanya bisa menyaksikan keributan yang terjadi dengan mimik wajah bingung sekaligus bertanya-tanya.
Petugas keamanan pun mulai mendekati keributan yang terjadi. “Maafkan atas ketidak nyamanan ini, Tuan-tuan, Nyonya-nyonya.”
“Bawa dia keluar! Dasar pemuda pembuat onar!” titah Kusumo, dan menuduh Damar pemuda pembuat onar.
Damar tidak tinggal diam atas tuduhan Kusumo pada dirinya, “Saya bukanlah seekor lalat Tuan Kusumo yang terhormat! Berhentilah merendahkan diri Anda dengan menghina saya!” berang Damar.
Semua tamu undangan pun terkejut dengan ucapan pemuda yang begitu lantang berdiri tegak bersitatap langsung dengan Kusumo.
“Berhenti Damar! Ini bukan karena orangtuaku yang tidak pernah menyetujui hubungan kita!” teriak Ratna, ia turun dari atas panggung pelaminan. Berjalan mendekati Damar dan Papinya, “Salahkan aku saja, karena akulah penyebab pertikaian ini. Aku yang sudah berdusta!” tukasnya.
“Ratna!” sentak Opik, ia berjalan dengan langkah jenjang mendekati istrinya, yang sudah berderai air mata.
“Nggak Pik, aku harus menyelesaikan masalah ini.” hardik Ratna.
Damar tersenyum menyeringai menatap Ratna, “Haha.. benarkah karena dirimu aku menjadi sinting? Oh tentu tidak Na. Wanita bukan dirimu saja! Please jangan lebih merendahkan dirimu di mataku.”
Ratna tersentuh hatinya terasa tercubit, kala mendengar ungkapan Damar.
Keributan semakin menjadi kegaduhan yang membuat semua orang dengan stigma negatif terhadap keluarga Kusumo. Dan merasa kasihan dengan Damar.
“Jadi, apa yang sebenarnya kamu inginkan Damar? Apakah tujuanmu datang hanya untuk menyebabkan kekacauan ini?” tanya Ratna dengan tampilan yang sudah tak karu-karuan.
Damar terkekeh kecil dan membela diri, “Hahaha.. kekacauan? Kamu sendiri yang sudah mengundangku. Apa salahnya aku bernyanyi Na, karena harta lebih berharga dari cinta. Ya sudah aku minta kepada penguasa yang banyak uang di sini.”
Damar beralih mengedarkan pandangannya menatap para tamu undangan, “Maafkan atas ketidak nyamanan ini, Tuan-tuan, Nyonya-nyonya. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa harta, sekarang jauh lebih menggiurkan dari pada cinta yang tulus.”
Kusumo dan Ana semakin terlihat berang. Lantas Kusumo memperintahkan security hotel dan juga bodyguard-nya untuk segera mengusir Damar dari dalam ruangan hotel yang di jadikan resepsi pernikahan Ratna dan Opik. “Cepat! Bawa pemuda kacung ini pergi!” titahnya.
Security hotel dan bodyguard Kusumo lantas menggelandang Damar untuk segera keluar pintu utama dari ruangan resepsi pernikahan. Satu security memegangi tangan kanan Damar dan satu security memegangi tangan kiri Damar. “Lepasin!” hentak Damar, namun tak di indahkan oleh security yang mencekal lengannya.
Wulan mencoba melepaskan diri dari cekalan tangan bodyguard yang sudah seperti preman. “Lepasin gue!” akan tetapi, bodyguard Kusumo enggan melepaskan cengkraman tangannya di lengan Wulan, dan terus saja menyeret langkahnya untuk membawa Wulan keluar dari dalam ruangan resepsi pernikahan. Wulan menatap sepasang sepatu Kitten Heels yang tergeletak tak berdaya dia atas lantai putih dan beralih menatap sisa pancakenya di atas meja. “Aihs.. pancake gue!” gerutu Wulan.
Namun, belum sampai Security dan bodyguard membawa Damar keluar dari ruangan resepsi. Suara teriakan berat seseorang menghentikan langkah mereka.
“BERHENTI....!”
•••
__ADS_1
Bersambung..
Ayok--ayok beri saya poin, beri saya vote.. masih ngerep saya! Terimakasih untuk yang sudah memberikan vote dan poin.. Sukses buat yang baca..