
Danum terbangun mendengar obrolan Kakak juga Ibunya di ruang tengah. Keluar dari kamar seraya mengucek matanya, dan duduk di samping Ibunya. Mungkin karena Danum adalah anak bungsu, lebih dominan manja daripada Damar.
"Mas Damar kok baru pulang?” tanyanya, pada Damar seraya menyandarkan kepalanya di pundak Ibunya.
Damar menggeleng akan sikap manjanya, sekian detik menatap Danum, Damar beralih menatap Bu Suci, dan melanjutkan pembahasan yang sempat tertunda akibat Danum yang terbangun dan menyela obrolan.
Secarik kartu nama Damar berikan kepada Bu Suci. Bu Suci menanggapi kartu nama bersampul biru di tangannya, kemudian membaca jeda beberapa detik Bu Suci kembali menatap Damar, "Apa ini?”
Damar tersenyum sumringah dan berujar, "Damar akan melakukan kerjasama dengan salah satu produsen makanan terkemuka di Indonesia, dan itu salah satu cabangnya yang berada di kota ini,
Danum terkesiap dan duduk dengan tegap, lalu mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu mengambil kartu nama yang ada di tangan Ibunya. Lantas membaca kartu nama, selang beberapa saat ia menatap Kakaknya.
"Mas, Mas Damar beneran di tawarin kerjasama sama perusahaan ini?”
Damar mengangguk
"Dapet dari mana Mas kartu nama ini?
"Dari seorang pembeli yang memborong cilok, tadi siang,”
Danum menatap kembali kartu nama dan kembali menatap Kakaknya, "Mas, kalau nggak salah berita yang pernah beredar di sekolah. Perusahaan ini hampir bangkrut, karena mengolah limbah makanan dari makanan yang tidak layak konsumsi,”
Bu Suci dan Damar terperanjat mendengar berita yang di sampaikan remaja berusia enam belas tahun yang memakai kaos oblong dan celana kolor. "Yang bener kamu Nang?” tanya Bu Suci.
Damar menatap adiknya dengan rasa hati yang mulai karut marut. " Jadi? Apa yang harus ku lakukan?”
Damar menghela nafas panjang, sudah mulai terbayang jalan menuju kesuksesan. Kini seolah ia terjatuh saat terbang menggunakan paralayang.
Danum mengerti kegundahan hati Kakaknya, ia pun berujar, "Tapi itu berita dua bulan yang lalu, Mas. Sebelum perusahaan itu di jual oleh pemiliknya yang harus mengganti rugi akibat ulah dari manajer yang mengelolanya,”
"Dari mana kamu dapatkan informasi itu?” tanya Damar.
"Di sekolah, kan dua bulan yang lalu satu sekolah geger akan kecurangan dari si manajer yang mengelola perusahaan ini. Dan kebetulan manajernya tak lain orangtua siswa yang satu kelas dengan ku. Sekarang manajer yang mengelola sudah di penjara, akibat ulahnya.” jelas Danum.
Damar manggut-manggut tipis, "Kenapa kamu nggak cerita? Kan biasanya kalau ada apa-apa di sekolah kamu pasti cerita!”
"Gimana mau cerita, kan pas itu Mas Damar lagi kacau balau akibat putus dari Mbak Ratna si pabu itu,”
Damar memejamkan matanya lalu membuka netranya, dan menghela nafas, ‘Konyolnya diriku. Sudah menyia-nyiakan waktuku hanya untuk wanita seperti Ratna!'
Damar menatap lurus kepada adiknya dengan rikma yang acak-acakan, "Jadi, apa kamu tahu siapa pemilik perusahaan makanan itu sekarang?”
__ADS_1
Danum menggeleng
Bu Suci yang tidak tahu menahu tentang perusahaan makanan yang sedang di bicarakan oleh kedua putranya yang sama-sama terlihat serius ini, hanya bisa mendengarkan.
Damar menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, dan menatap langit-langit rumah yang tersusun kayu serta genteng yang berbaris sejajar. "Apa aku urungkan niatku besok pagi.” gumamnya.
Danum mendengar gumaman Kakaknya pun membulatkan matanya, "Apa Mas? Besok! Mas Damar akan ke perusahaan makanan ini?”
Damar menoleh kesamping hingga telinganya bergesekan dengan sofa menatap Danum, dan mengangguk pelan.
"Sholat istikharah Nang, baru kamu tentukan pilihan.” kali ini Bu Suci yang berbicara memberikan nasehat untuk putra sulungnya dalam mengambil keputusan.
Damar kembali duduk tegak dan menatap Ibunya yang semakin sayu.
"Ibu yakin jika memang seseorang dari perusahaan yang memberikan mu kartu nama dengan niatan baik maka Allah akan senantiasa melancarkan. Dan begitu pun sebaliknya jika memang ada suatu keburukan maka berdoalah agar Allah senantiasa menjauhkan mu pula dari keburukan itu," lanjut Bu Suci, menasehati putranya.
Damar mendengarkan dengan seksama dan menyaring setiap kata demi kata nasehat bijak yang Ibunya katakan. Mengulas senyuman, "Ibu selalu saja bisa membuat Damar semakin bijak dalam memilih keputusan.” puji Damar untuk Ibunya.
Danum menjentikkan jari membenarkan ucapan Ibu dan juga pujian Kakaknya, "Betul betul betul.”
Bu Suci menyunggingkan senyuman, "Kamu sudah makan Nang?” tanya Bu Suci pada Damar.
Damar pun beranjak dari duduknya, "Damar mau mandi dulu Bu, baru setelah badan menjadi segar. Damar makan,” kata Damar, ia pun berjalan menuju kamarnya untuk mengambil handuk. Tak lama keluar dan bertanya kepada Ibunya, "Ada lauk apa di dapur, Bu?”
"Oke. Ibu kalau mau tidur, tidur duluan aja.” kata Damar sambil melenggang pergi ke kamar mandi.
"Bu, Danum mau lanjutin mimpi lagi, Ibu juga tidur yah.” kata Danum dan beranjak lalu melenggang pergi ke kamarnya.
Hatinya sudah tenang kala melihat putra sulungnya pulang dalam keadaan baik-baik saja. Kelopak mata yang sudah mengeriput pun mulai didera rasa kantuk, Bu Suci lantas beranjak dan berjalan menuju kamarnya.
Di dalam kamarnya, sebelum tidur Bu Suci seperti biasa ia akan mengambil foto mendiang Bapak dari kedua putranya.
"Pak, kedua putra kita sudah tumbuh dewasa. Obrolan mereka pun seperti dirimu yang sangat serius ketika berbicara soal bisnis. Apa keduanya akan mengikuti jejakmu dan juga jejak Kakeknya.” Bu Suci mengusap foto Gusli berbingkai kayu cemara yang di pahat sendiri oleh Gusli sewaktu beliau masih hidup dan mendekapnya erat di dada.
Bu Suci lantas berbaring miring, masih mendekap foto mendiang suaminya,
"Berulang kali aku mengatakan, aku sangat merindukanmu Pak. Kamu adalah laki-laki satu-satunya yang membuatku berubah dan merasa menjadi wanita paling di hargai di dunia. Semoga saat malaikat maut menjemput ku nanti, kita akan di pertemukan lagi di alam lain.”
Matanya mulai terpejam, dan membaca basmalah serta doa pengantar tidur.
••
__ADS_1
Lima belas menit sudah Damar berkutat di dalam kamar mandi. Ia pun keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya, melihat ruang tamu sudah sepi, Ia lantas berjalan ke kamarnya.
Damar secepat kilat mengganti pakaiannya, sebelum keluar kamar untuk makan. Damar menoleh kearah Danum yang tidur terlentang.
"Untuk saja, kamu bukan orang yang tertidur sambil mendengkur.”
Damar keluar dari kamar dan menuju dapur, membuka tudung saji di atas meja. Lantas mengambil piring dan mencuci tangan, kemudian mengambil nasi hangat dari rice cooker.
Duduk di kursi meja dapur, dan menikmati makan sorenya yang sudah terlambat jika di sebut dengan istilah makan sore. Karena sudah jam sebelas malam.
Saat mengunyah makanannya, ia tak sengaja mengigit bagian bibir bawahnya. Dan refleks memegang ujung bibirnya yang tergigit. Mengingatkannya akan ciuman yang sudah ia layangkan kepada wanita bernama Wulan.
"Nawang Wulan.” ucapnya menyebut nama lengkap wanita yang sudah ia cium untuk pertama kalinya. Bibirnya merasakan kekenyalan dari bibir seorang wanita.
"Aih ... Los dol Damar! Lupakan soal wanita!" hardiknya pada dirinya sendiri.
"Berpikirlah untuk sukses, ayok nyalakan ambisi mu untuk terus maju, dan lupakan soal wanita. Para wanita hanya akan membuat mu terlihat bodoh dan naif.” semangatnya pada diri sendiri.
Ia pun segera menghabiskan makanannya, dan meminum segelas air. Lalu mencuci piring bekas ia pakai.
Dan segera menuju kamar untuk tidur. Damar menggeser Danum yang tidur terlentang.
"Royal banget sih ni anak tidurnya.”
Menjatuhkan tubuhnya ke kasur seraya menarik bantal dan bantal guling. Matanya mulai terpejam namun ada yang membayangi pikirannya.
Pikirannya kembali terbayang-bayang saat Wulan terjauh di atasnya. Wangi harum rikmanya yang melambai-lambai di pipinya serta nafas mint nya hingga membuat Damar susah tidur.
"Dasar wanita magnet! Aku sampai nggak bisa tidur. Awas nanti kalau ketemu lagi, akan ku uyel-uyel.” gumamnya, kesal. Karena tak kunjung tertidur.
Damar pun berganti posisi ke samping kiri, kanan, terlentang hingga menutupi wajahnya dengan bantal. Tanpa sadar kakinya menendang adiknya yang sedang tertidur pulas.
Hingga membuat Danum jatuh ke lantai. Damar terperanjat lalu terduduk melihat Danum yang masih memejamkan matanya. Sambil berkomat-kamit.
"Aduh ..... Alien apa yang jatuh ke bumi. Mereka mulai menyerang bumi dengan hujan meteor. Pasukan siapkan tembakan! Seraaaang ...”
"Apa dia sedang mengigau?” kata Damar, mendengar ucapan Danum yang tidak terlalu jelas.
"Akh.. biarlah si Magnum tidur di lantai untuk sementara waktu. Palingan dia bakal bangkit sendiri." gumamnya, dan melanjutkan tidur.
Benar saja seperti dugaannya, Damar merasakan Danum yang berdiri dengan sendirinya dan tanpa membuka mata lalu berbaring di sampingnya.
__ADS_1
•••
Bersambung...