
Keesokan paginya..
Di perusahaan, Bokir tengah mengamati mobil yang habis menabrak tiang-tiang listrik. “Wah-wah ini gila! Siapa yang mengemudikan ini?” lalu pria berkepala pelontos ini mengamati raut wajah Damar, “Terus kenapa tuh muka? Kok bisa bonyok begitu?!” tanya Bokir sambil menunjuk-nunjuk lebam merah kehitaman yang terlukis di wajah sang Presdir.
“Kalian, habis kondangan? Apa habis tawuran sih? Heran saya?!” sambung Bokir, dengan apa yang sudah terjadi. Selama Damar dan Wulan tidak dalam jangkauan penglihatannya.
Damar memutar bola matanya jengah, atas semua rentetan cecar Bokir untuknya. “Kang Bokir! Sudah yah, semalam aku di ceramahin Ibu habis-habisan. Dan sekarang, apa perlu telingaku ini tersumbat oleh ocehan Kang Bokir yang seperti burung kutilang?!”
“Enak aja burung kutilang! Kalau saya tu sejenis burung beo!” sanggah Bokir.
Wulan merasa celotehan kedua pria ini tidak ada faedahnya, “Apaan sih kalian, kenapa berlanjut jadi bahas soal burung?! Sekalian aja burung cucak rowo.”
Spontan Damar dan Bokir menyanyikan lagu cucak rowo, yang di ciptakan oleh mendiang Didi kempot dan populer di tahun 2014. “Manuke manuke cucak rowo. Cucak rowo dowo buntute. Buntute sing akeh wulune. Yen digoyang ser-ser aduh penake....”
Wulan geleng-geleng kepala, “Gila!” cibirnya lantas melenggang pergi dari hadapan Bokir dan Damar yang masih saja melanjutkan nyanyiannya.
“Kamu masuk saja, Mar. Nanti akan saya urus mobil ini,” tukas Bokir.
Damar mengangguk, “Terimakasih Kang, kalau begitu saya masuk dulu.”
Damar melewati beberapa staf wanita cantik, dan tersenyum ramah kearahnya. Ia pun kembali meleparkan senyuman hangatnya. Dan langsung menuju ruangan kantornya.
••
Di dalam ruangan kantornya, Damar kini lekas paham soal penggunaan laptopnya. Dalam menyimpan data perusahaan, serta dokumen lainnya. Tentu, saja Wulan dan Bokir dengan setia menemani cara kerja Damar di perusahaan yang kini sudah berganti wajah dan merek perusahaan, menjadi Amanah food.
Ketika Damar sedang asik berselancar di laptopnya, suara ketukan pintu bersamaan dengan Bokir yang membukanya. Ia melongokan kepalanya, “Siang Presdir,”
Damar mendongakkan wajahnya menatap kearah Bokir, “Kenapa Kang? Masuk saja,”
Bokir melebarkan pintu, lekas masuk kedalam ruangan tak lupa menutup pintu kembali. Ia juga membawa setumpuk koran berita hari ini, “Presdir...”
Damar menggeleng, “Damar, saja Kang,”
Bokir mengangguk, “Apa benar, semalam Tuan Bagaskara datang ke pernikahan mantan mu?”
Damar mengangguk
__ADS_1
“Lalu, apa Tuan Bagaskara mengatakan kalau kamu adalah cucunya?” lagi Bokir mengajukan pertanyaan perihal sesuatu berita yang sudah tersebar di berbagai linimasa dan koran.
Lagi Damar hanya mengangguk
Bokir geleng-geleng kepala, “Heboh- Mar, heboh!”
“Heboh kenapa?”
Bokir menunjukkan koran berita yang ia bawa, “Kamu tahu Mar. Sekarang ini mata-mata saya, menginformasikan. Kalau orang suruhan Kusumo sedang mencari tahu tentangmu dan juga Tuan Bagaskara,”
Damar sama sekali tidak terkejut dengan apa yang di ucapkan Bokir, “Biarkan saja mereka tahu siapa aku sekarang! Supaya mereka tidak lagi semena-mena terhadap ku,”
“Tapi, kamu harus hati-hati Mar. Orang suruhan Kusumo terbilang brutal, Kusumo tidak sembarang merekrut orang-orang. Mereka mantan narapidana!” kata Bokir memperingati Damar.
Damar tidak menyepelekan peringatan Bokir, bukan pula merasa takut. Satu tahun menjalin hubungan dengan Ratna, sudah cukup untuk mengenal tabiat keluarga Kusumo. “Kang Bokir. Kita juga harus menggunakan otak kita untuk menyusun strategi, bukan karena ketakutan lalu kita hanya berdiam diri saja. Kita tidak akan tahu seperti apa pergerakan musuh apabila kita hanya diam.”
Bokir manggut-manggut, “Lalu, apa yang ingin kamu lakukan?”
“Mintalah bantuan mata-mata Kang Bokir, untuk tetap mengawasi gerak-gerik anak buah Kusumo. Kalau sampai mereka macam-macam, kita babat habis. Tapi, kalau mereka belum menyerang, maka jangan memulainya,” pungkas Damar, ia merasa butuh penyegaran dalam perusahaan dan bantuan dalam memata-matai musuh.
Kali ini Damar terkejut, “Benarkah? Lalu apa bahaya Kang? Terus apa yang harus dilakukan untuk menghalaunya?”
“Tenang saja, yang perlu kamu tahu. Saya adalah mantan hackers, bukan bermaksud bangga. Gini-gini, saya dulu pernah membobol perusahaan saingan berat Kakek mu, Tuan Bagaskara. Bahkan bukan perusahaan Indonesia, tapi perusahaan asal Finlandia.” pungkasnya, lebih-lebih membuat Damar terperanjat hingga berdiri.
“Be--benarkah Kang? Aku memang tidak begitu tahu apa itu Hackers, yang ku tahu seorang hackers sangat berbahaya, dia seorang pencuri data-data penting dari suatu perusahaan ataupun pemerintahan,” pungkas Damar, bahwa kata Hackers yang ia tahu adalah pencuri informasi.
“Hahaha... Tenanglah, tidak perlu terkejut begitu sampai berdiri. Duduklah,” kata Bokir, terkekeh melihat keterkejutan Damar. “Lagi pula, saya mencuri tidak sembarang mencuri data. Perusahaan Finlandia lah yang telah berkhianat dengan Kakek mu, aku hanya membantunya saja untuk mengambil apa yang seharusnya Kakek mu dapatkan,” ungkapnya, mematahkan anggapan Damar bahwa seorang Hackers adalah pencuri.
Damar mengalihkan posisi duduknya lebih mendekati Bokir, ia sangat penasaran dengan keahlian pria berkepala pelontos ini. “Terus, apa saja yang di lakukan oleh seorang Hacker, Kang?”
Bokir pun menjelaskan, beberapa rincian penting, cara kerja Hacking atau Hackers. “Hacking adalah tindakan menemukan titik entri yang mungkin ada dalam sistem komputer atau jaringan komputer dan akhirnya memasuki mereka. Hacking biasanya dilakukan untuk mendapatkan akses tidak sah ke sistem komputer atau jaringan komputer, baik untuk membahayakan sistem atau mencuri informasi sensitif yang tersedia pada komputer,”
Damar mengerjakan-ngerjapkan matanya, lalu mengacungkan kedua jari jempol tangannya kehadapan Bokir, “Kereeeeen! Sejak kapan Kang Bokir memahami sistem Hacking? Terus tujuan awalnya untuk apa?”
“Biasa saja!” Bokir menyombongkan diri, dengan mengangkat bahunya, sok cool. Lantas ia menjelaskan awal mula dan tujuannya dan apa itu Hackers, “Mungkin ada berbagai niat positif dan negatif di belakang melakukan kegiatan hacking. Kemungkinan alasan mengapa orang memanjakan diri dalam kegiatan − hacking. Hanya untuk fun. Pamer. Mencuri informasi penting. Merusak sistem. Menghambat privasi. Pemerasan uang. Sistem keamanan pengujian. Melanggar kebijakan kepatuhan, ”
“Wah--wah... ternyata memang berbagai macam seorang Hackers ini,” Damar geleng-geleng, kagum dengan kemampuan seorang Hackers. “Lalu, Kang Bokir sendiri, termasuk dalam tipe Hackers apa? Pencuri apa penguntit informasi?” tanya Damar, ia sangat tertarik dengan pembicaraan ini, sampai ia melupakan layar monitor laptopnya yang masih menyala.
__ADS_1
“Bisa jadi dua-duanya! Tergantung pada siapa saja yang memberi perintah kepada saya,” jawab Bokir, jujur.
Damar manggut-manggut, “Lalu apa data perusahaan ini sudah aman Kang?”
“Sudah pasti aman, saya sudah mengganti password perusahaan yang sangat rumit. Dan sudah terkunci ganda!” pungkasnya, tanpa Damar tahu. Bokir adalah orang khusus yang di tugaskan Kakek Bagaskara untuk terus memantau Damar, dan data perusahaan agar tetap aman dari serangan Hacker.
“Alhamdulillah, saya sangat beruntung. Saya dipertemukan dengan orang-orang baik, seperti Kang Bokir dan Wulan, meskipun wanita itu jutek, hehe.” ucapnya, penuh dengan rasa syukur. Ia juga tak segan-segan untuk memuji keahlian orang-orang yang bekerja untuk membantunya dalam perusahaan ini.
“Hehe... Kalau Wulan mah-- udah nggak usah di perjelas dia.” Bokir ikut terkekeh, jika membahas soal Wulan. Si wanita berdarah dingin.
“Kamu tahu Mar, setiap perusahaan pasti akan mempunyai Hacking untuk mengamankan data perusahaan, agar tidak kecolongan untuk menyimpan dan menyampaikan informasi penting dari perusahaan lain.” Bokir menjelaskan apa kegunaan seorang Hackers pada perusahaan. “Dan saya mencurigai pegawai yang dahulu pernah bekerja di perusahaan ini,”
Damar membulatkan matanya, “Jangan-jangan penyebab kebangkrutan perusahaan ini, salah satunya adalah seorang pegawai yang menyusup data perusahaan?”
“Kita harus lebih hati-hati, dan waspada terhadap semua pegawai staf yang bekerja di perusahaan ini.” Bokir membenarkan ucapan Damar. “Mobilmu sudah masuk ke bengkel, butuh waktu satu bulan untuk perbaikan.” sambung Bokir.
“Makasih Kang, karena ulah saya. Mobil itu harus mengalami kerusakan yang parah.”
“Tidak apa. Lagipula kamu masih punya mobil satu lagi, yang bisa kamu pergunakan.” jawab Bokir, santai.
Saat perbincangan mengenai hackers sedang asyik-asyiknya di bicarakan. Benda pipih yang tidak jauh dari keberadaan laptop bergetar.
Bokir dan Damar terhenyak sejenak, Damar melihat nama yang tertera di layar monitor ponselnya, ‘Magnum. Danum lah yang telah melakukan panggilan telepon, “Sebentar yah Kang,” Damar mengambil ponselnya dan berkata kepada Bokir, mendapat anggukan dari Bokir. Lalu menggeser tombol hijau.
“Iya, kenapa Num?” sesaat setelah Damar meletakkan ponsel di telinganya. Seperdertik kemudian, ia beranjak dengan sangat terkejut. “Apa?! Iya, Mas akan segera pulang!” pekiknya, segera mematikan sambungan telepon.
Damar menatap Bokir, “Kang Bokir, aku harus pulang! Sesuatu yang tidak beres terjadi di rumah.”
Bokir ikut terkejut melihat kepanikan Damar, ia berdiri menyusul Damar, “Kenapa Mar?”
Damar segera berlari dengan kegugupan ia membuka pintu dan menabrak Wulan yang juga akan masuk ke ruangannya. Seketika dokumen berhamburan dan berserakan di lantai.
Tanpa berkata apa-apa, Damar segera menuju lift...
•••
Bersambung...
__ADS_1