
Jika langit mendung..
Maka ingatlah, setiap hari mentari selalu menyinari.
Bangkit dan semangatlah...
♠
Namun berbeda ekspetasinya, Ratna berbalik dan melihat punggung Damar yang hendak berbelok menuju kamar mandi, "Damar!” seru Ratna.
•••
Damar menghentikan langkahnya, namun ia tak bergeming ataupun membalikkan badannya,
"Please Na, jangan lagi memanggil ku seperti itu,” benak Damar.
Ratna berjalan mendekati Damar, ia kini berdiri di hadapan Damar dan mengerjapkan matanya.
"Apa kamu baik Mar?” tanya Ratna, mengulurkan tangannya hendak menyentuh bibir Damar yang masih memperlihatkan bekas pukulan.
Damar segera menghentikan tangan Ratna, agar tidak menyentuh bibirnya. Menatap Ratna dengan sorot mata dingin, "Makasih atas kepedulian mu Na, tapi aku lebih baik dari apa yang kamu lihat."
Ratna terhenyak atas ucapan Damar, netranya membulat. Seketika suasana dingin malam ini seolah semakin mencekam, Ratna merasakan dinding pembatas yang sangat tinggi di antara dirinya dan pria yang memakai baju kasual dengan celana panjang warna hitam dan sedikit sobekan di lututnya, di tambah lagi sepatu sneaker shoes yang di pakainya menambah kesan maskulin.
Ratna merasa satu hari berpisah dari Damar, sudah merubah pria yang kemarin terlihat kalem, kini lebih dominan cool dan menjadi pria yang sedikit angkuh.
"Meskipun sekarang kita berpisah tapi bukan berarti aku tidak mengkhawatirkan mu Damar," ungkapnya, menatap manik mata Damar dengan mata yang berkaca-kaca.
"Makasih Ratna," Damar masih dengan jawaban singkatnya.
"Mar, sampai kapan pun aku masih sayang sama kamu," ungkap Ratna lagi, terdengar pilu.
"Bulset Na!" benak Damar nista.
Damar menggeleng tipis dan tersenyum getir.
"Haha... bisa-bisanya kamu Na, makasih udah mencoba menghibur ku dengan lisan manismu itu," kata Damar diakhiri dengan kekehan garing. "dan aku rasa dengan kita berpisah kita lebih bahagia." sambungnya lagi, tanpa melihat Ratna.
"Tapi Mar ..." kali ini keluh Ratna, bagaikan angin lalu.
Damar memotong ucapan Ratna yang belum usai, "Semoga kamu selalu bahagia dengan dirinya, Na."
Suara dari seorang laki-laki sangat lantang membuat Damar dan juga Ratna terkesiap, siapa lagi kalau bukan Opik.
"RATNA!" seru Opik, merasa terbakar api cemburu melihat Ratna dan juga Damar terlihat sangat dekat.
Damar enggan untuk ikut campur lagi, perihal asmara mantan pacarnya juga teman yang sudah menikungnya. Menengok sedikit ke arah samping. Melihat Opik dari ekor matanya.
__ADS_1
Ya, maaf! bisa saja Damar dengan mudah memaafkan mereka tapi untuk kembali akrab tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia pun hendak pergi dari hadapan Ratna, namun suara Opik kembali menghentikan langkahnya.
"Damar!” seru Opik, yang sudah berdiri di belakang Damar.
"Akh, Bulset!” gumamnya, dan kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Opik dan juga Ratna.
Niatnya untuk ke kamar mandi ia urungkan, toh memang ia tak ingin buang hajat. Hanya saja ingin menghindari mendengarkan lagu yang di nyanyikan oleh teman duetnya, Siska Pratiwi.
Lirih Damar mendengar bahwa Ratna mendapatkan kemarahan dari Opik, "Gila kamu yah Rat, masih diem-diem kamu nemuin si Damar!”
Dan entah kemarahan apalagi yang Opik katakan kepada Ratna. Damar sudah kembali ke panggung yang hanya setinggi lututnya.
Dari samping panggung, Damar dapat melihat Ratna yang di gandeng oleh Opik secara paksa. "Semoga kamu bisa mengendalikan sifat tempramental Opik, Na." batinnya.
"Udah buang hajat Mar?" tanya Imam.
"Udah," sahutnya, dan kembali memegangi micnya. Damar melihat kesamping persisnya kepada wanita yang menjadi teman duetnya yang berparas ayu seperti Ariel Tatum. Siska tersenyum manis.
"Siap Sis dengan lagu-lagu ambyar berikutnya?” tanya Damar.
Siska mengangguk tipis-tipis, "Siap dong Mas Damar, lagu apa yang akan kita bawakan kali ini?”
Damar mengedarkan pandangannya menatap pengunjung cafe, "Lagu apa guys yang asik, untuk menemani malam kita?”
"Cucak Rowo!”
"Ish... masa Cucak Rowo! Itu mah lagu aku masih kecil atuh Mas,” jawab Siska bersuara lewat micnya.
"Layang kangen!”
"Remukan hati, NDX!”
Seru sejumlah pengunjung cafe, yang kebanyakan adalah kaum muda-mudi, yang datang bersama pasangan maupun bersama teman-temannya.
"Oke, gimana Sis?” tanya Damar pada rekan duetnya.
"Aku ikut Mas Damar aja,” jawabnya dengan senyuman manis.
"Gimana guys,” tanya Damar pada grup musiknya.
"Oke, mainkan!" Seru Anwar, dan mulai memainkan alat musik cajon.
Lagu yang Damar dan Siska nyanyikan NDX AKA bareng dengan X-Tecto. Di single ciptaan Yolanda, berjudul Remukan hati.
♪♪♪
dek rungokno jerit tangise ati iki
__ADS_1
[dik, janji jerit tangis hati ini]
nggreges ra karuan, jebul sliramu mblenjanji
[meriang tidak karuan, tidak tahunya dirimu mengingkari janji]
dek rasakno loro atiku kepati-pati
[dik, rasakan sakit hati yang]
teramati yen kelingan tresnomu tekane mati
[jika janjimu cinta sampai mati]
kowe teko nggowo tresno, kowe lungo ninggal loro
[datang kamu membawa cinta, kamu pergi meninggalkan luka]
tresnomu tak labuh neng segoro
[cintamu ku buang ke laut]
Sebuah sindiran lewat lagu, Damar nyanyikan berduet dengan Siska, berharap bisa mewakili perasaannya yang nelangsa. Dan benar-benar bisa membuang rasa cintanya ke samudera.
Damar tersenyum melihat Opik yang terlihat geram akan pertunjukan dirinya, dan hanya sekilas menatap Ratna yang memang sedang memperhatikannya.
Opik beranjak dari duduknya dan segera membawa pergi Ratna dari cafe milik Bu Mariska.
Membuat Bu Mariska bingung dengan kliennya, "Mau kemana Mas, kan kita belum selesai jelasin konsep pernikahan yang seperti apa?”
"Lain kali aja Bu Mariska, saya ada keperluan lain.” jawab Opik.
"Maaf ya Bu,” ucap Ratna.
Sampai di parkiran mobil, Ratna melepaskan cengkraman tangan Opik. "Opik lepasin, kamu menyakiti ku.”
"Masuk!” titah Opik dengan suara tegas. Apalah daya, Ratna pun menuruti perintah Opik yang sudah terlihat kebakaran jenggot, akibat cemburu buta.
"Ck... belum apa-apa udah emosi.” gerutu Ratna.
Ratna lebih memilih membuang tatapannya keluar kaca mobil. Ia terus saja kebayang-bayang pesona mantan pacarnya yang sekarang menjadi lebih cool di banding sebelumnya.
Namun, juga tidak mengingkari pernikahan yang sebentar lagi akan di gelar. Ia berpikir untuk mengundang Damar tanpa memberitahu Opik.
Ratna mengalihkan fokusnya, sekilas menatap Opik yang sedang mengemudi namun mimik wajahnya tidak bisa menyembunyikan guratan emosi yang masih menguasai pikirannya.
•••
__ADS_1
Bersambung...
Yuk vote dan like serta komen.. aku juga butuh nih asupan dukungan untuk semakin meningkatkan semangat update. Dan yang udah memberikan dukungan, ku ucapkan terima kasih 👍🏼