
Budayakan like, karena satu like sangat berarti bagi Author.. Terimakasih
•••
Memasuki pelataran hotel dengan langkah mantap, seolah ia adalah seorang pendekar samurai. Keteguhan dan ketegarannya seolah menggambarkan perisai pedang Naga Runting membelah isi di dalam dada, laksana film Mak Lampir di laga kolosal Indonesia misteri gunung Merapi.
Sepatu berwarna hitamnya mulai menatapi lobby depan hotel, bersamaan dengan sepasang sepatu Kitten Heels yang ikut mengiringi langkah seorang pemuda yang menjadi atasannya. Namun, langkahnya tak semulus seperti paha orang Korea.
Damar dan Wulan di hentikan oleh dua orang yang bertugas berjaga keamanan, berseragam hitam dan memiliki bentuk tubuh seperti Almarhum Agung Hercules. “Berhenti.” serunya.
Damar pun menghentikan langkahnya, dan bersitatap dengan lelaki yang bertubuh tegap, “Ada apa Pak?.”
“Mau kemana kalian?” tanya salah seorang petugas hotel.
Wulan merasa jengah dengan pertanyaan salah seorang petugas, “Ya tentu saja mau kondangan, masa mau mancing!” cetus Wulan, sekenanya.
“Sebentar Nona! Memang Nona suka mancing toh? Di dalam bukan kolam pemancingan ikan, Nona!” tanya petugas hotel yang lainnya, seketika jawabnya mendapat tampolan di kepalanya.
“Sugeng! Dodol banget dah.” hardik temannya.
“Aduh, Winoto! Kenapa sih kamu suka jitak pala ku, emang nih pala lapangan bola tenis apa?” gerutu Sugeng.
Wulan memutar bola matanya, jengah.
Damar mengerutkan keningnya, lantas pergi melenggang begitu saja meninggalkan kedua orang penjaga hotel yang sedang cekcok sendiri.
Sampai Sugeng dan juga Winoto sadar, kedua muda-mudi sudah pergi dari hadapannya. “Tuh, kan mereka pergi! Kamu sih malah ngajak ribut.” omel Sugeng.
Winoto mengangkat bahunya, “Loh kok aku?”
Sugeng pun kembali melanjutkan langkahnya untuk menyusuri keamanan hotel.
Di meja resepsionis hotel, Damar dan juga Wulan kembali di hentikan oleh kedua orang wanita cantik yang berpakaian kebaya layaknya seorang pengiring pengantin, “Bisa tunjukkan kartu undangannya Tuan?” tanya salah seorang penjaga kartu undangan pernikahan.
Damar tersenyum dengan pesona, ia mengerlingkan matanya kearah wanita muda yang meminta undangan pernikahan pada dirinya. “Hanya undangan kah yang kamu inginkan cantik, kamu tidak menginginkan hatiku?” seloroh Damar.
Wulan seketika menatapnya dari samping, “Gila..” cibirnya lirih.
Sedangkan si wanita cantik dengan rikma yang di sanggul menawan, menatap Damar diselingi senyuman malu-malu meong menanggapi rayuan Damar yang malam ini jelas terlihat lebih elegan dan mewah, dengan celana panjang hitam, jas tuxedo dan dipadukan dengan kemeja panjang warna marun.
Namun, sekian detik terpesona dengan Damar, wanita ini beralih menatap Wulan yang berdiri di samping Damar dengan mengalungkan lengannya di lengan Damar.
“Maaf Tuan, saya tidak bisa memberikan hati saya. Kasihan istri Anda,” jawabnya seraya menatap Wulan yang juga menatapnya, lalu beralih menatap Damar.
“Kalau begitu, jadi istri kedua ku saja,” oceh Damar sekenanya, dan mendapat cubitan dari jemari Wulan. Ia refleks menatap Wulan, “Iya, istri pertama ku. Kamu tetap jadi istri ku setelah istri kedua, hahaha...,” celotehan Damar sangat membuat Wulan merasa jengah.
__ADS_1
Wulan lantas pergi mendahului Damar yang masih berdiri di depan meja penerimaan tamu undangan. “Heran! Apa karena dia pernah merasakan putus cinta, kan nggak harus juga jadi playboy?” gerutunya.
“Lah, ngambek dia. Kan aku cuma bercanda!” gumam Damar menatap kepergian Wulan yang lebih dulu melenggang masuk ke lobby hotel.
Damar kembali lagi menatap wanita muda yang sedang cengar-cengir menatapnya,
“Ini, Mbak undangannya,” ujar Damar, memberikan undangan pernikahan yang sempat ia remas, malah sempat ia buang di dalam tong sampah.
Wanita yang menerima undangan pernikahan dari Damar pun mengerutkan keningnya, heran dengan kartu undangan lecek serta sedikit kotor. “Kok begini Tuan, undangannya?”
Damar menatap undangan pernikahan yang memang lecek dan kotor, ia hanya mengangkat bahunya acuh. Lalu menyusul kemana perginya Wulan, “Udah yah Mbak, istri saya ngambek tuh. Nanti malah saya nggak di kasih jatah, hehe...”
‘Jatah omelan!' lanjutnya dalam hati. Lantas melambai kepada kedua wanita cantik penjaga kartu undangan, meninggalkan meja penerimaan kartu undangan.
••
Di dalam ruangan yang di jadikan sebagai resepsi pernikahan Ratna dan juga Opik. Nampak begitu megah dan mewah. Para kolega bisnis Kusumo dan juga rekan bisnis orang tua Opik yang juga seorang pebisnis sukses mulai berdatangan berbaur dengan para undangan tamu lainnya.
Wulan lebih dulu berdiri di ambang pintu masuk kedalam ruangan resepsi pernikahan yang berkelas. Seorang lelaki nampak sangat mengamati Wulan dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Lantas mendekati Wulan yang sedang berdiri di ambang pintu lebar nan besar. “Halo Nona,” sapa seorang lelaki yang menghampiri Wulan.
Wulan menoleh kearah sumber suara yang menyapanya, “Hay..” jawab Wulan.
“Nama saya Roni,” ucap si lelaki memperkenalkan diri.
Wulan dan juga Roni terkejut, Damar melepaskan jabatan tangannya dari tangan Roni.
Roni menatap Damar dan beralih menatap Wulan, “Saya kira Nona datang sendiri,” ucapnya.
Damar tersenyum, “Wanita cantik ini datang bersama dengan saya,”
Roni pun menggut-manggut dan pergi dari hadapan Wulan juga Damar. Damar mengangkat dagunya di hadapan Wulan. Pertanda ia ingin tahu apakah Wulan juga mengenalnya.
Wulan hanya mengangkat bahunya.. tanda ia pun tak tahu.
Damar dan Wulan berjalan menuju altar resepsi pernikahan, tidak sedikit pula pasang mata yang menatap kearah mereka berdua.
Damar memperhatikan Ratna yang nampak sangat anggun dengan gaun pengantin warna putih serta Opik yang terlihat gagah dengan stelan jas yang sangat mempesona, duduk di atas panggung pelaminan, bercengkrama dan sesekali menjabat para tamu undangan.
Damar mengalihkan tatapannya menatap kedua orang yang terlihat sedang menjabat tangan para tamu undangan di atas panggung pengantin, yah Kusumo dan Ana. Merekalah yang sudah menyulut ambisinya untuk membalas dendam, akibat hinaan juga pengkhianatan Kusumo terhadap Almarhum Bapaknya Gusli Wijaya. ‘Bapak, permainan akan segera di mulai.' benaknya berambisi.
Wulan nampak memperhatikan raut wajah sendu Damar, secara refleks memegang tangan Damar. Membuat Damar seketika mengalihkan tatapannya, dan menatap wanita berparas ayu yang menggenggam tangannya.
Seorang wanita berpakaian dress warna pink muda menghampiri Damar, “Hay Damar, kamu ganteng banget,” pujinya dengan senyuman manja.
__ADS_1
Wulan seketika melepaskan genggaman tangannya, Damar sangat menyadari akan hal itu.
“Hay juga Sis, kan memang aku ganteng sejak lahir,” balas Damar dengan percaya diri, memuji dirinya sendiri.
Wulan membulatkan matanya mendengar celotehan Damar, “Kata siapa?” Wulan menyambar ucapan Damar.
“Kataku, tadi!” sahut Damar, menatap Wulan yang berdiri di sampingnya.
Siska nampak memperhatikan Wulan dan bergantian memperhatikan Damar, “Kalian cople yah?”
Damar menatap dirinya dan juga Wulan,
“Nggak!” sanggah Wulan.
Siska semakin di rundung kecemburuan kala melihat kedekatan Damar dan seorang wanita yang tidak ia kenal. “Ehmm... Mar, ini alasan kamu di ajak kondangan bareng aku susah yah?” tanya Siska menerka-nerka bahwa alasan Damar enggan di ajak ke pernikahan Ratna, karena ada seorang wanita yang berada di samping Damar dengan anggun dan terlihat dewasa.
Damar tidak menjawab pertanyaan Siska, ia malah mengalihkan pembicaraan. “Sebaiknya kita langsung memberikan selamat untuk Ratna dan juga Opik, Sis.”
Siska segera mengalungkan tangannya di lengan Damar. Dan hanya sekilas melirik Wulan, wanita yang jelas datang bersama dengan Damar.
Wulan menatap wanita yang tidak ia kenal, hanya bisa mencebikkan bibirnya,
Damar hanya bisa pasrah dengan lengan yang di apit Siska, wanita yang seolah menjadi selingkuhannya. ‘Anjay nggak sih nih, aku?' benaknya melucuti pikiran gugup atas tindakan Siska yang jelas menunjukkan over. Gugup telah hadir di tengah-tengah pernikahan konglomerat dan banyak kolega bisnis Kusumo juga orang tua Opik.
Damar menggenggam tangan Wulan yang hendak melenggang pergi, “Aku akan mengajak istri ku juga?”
Siska menatap Damar heran, “Apa, istri?”
Damar menangkap kebingungan dari raut wajah Siska juga beralih menatap Wulan yang sedang menatapnya dengan tatapan malas. “Sebut saja aku Bento, rumah real estate. Mobilku banyak harta berlimpah. Orang memanggilku bos eksekutif. Tokoh papan atas, atas segalanya.. simpanan ku banyak...” selorohnya dengan lagu yang biasa ia dengarkan. “Canda, Sis!” sambungnya.
“Asyiikk...” seru Wulan bersamaan dengan Siska.
“Hahahaha.....”
Ketiganya pun tertawa layaknya istri yang rukun dengan selingkuhannya. Tak terasa mereka mendapatkan tatapan dari para tamu undangan yang hadir.
Damar mulai berjalan lebih dulu untuk memberikan Ratna selamat. Sepatu yang terlihat mahal menapaki panggung pengantin, dengan dekor bunga putih sebagai lambang kesucian.
Kusumo dan Ana setelah menjabat tangan seorang hadirin yang lain, kini beralih menatap dengan tatapan nyalang terkejut sekaligus tercengang akan sikap berani Damar datang ke pernikahan putri mereka. Pemuda yang sudah mereka hina, bagaikan tikus dalam got. Seketika senyuman ramah keduanya luntur laksana uang palsu.
Bukan hanya orangtua Ratna yang terkejut akan kedatangan Damar. Opik pun membelalakkan matanya menatap mantan kekasih dari istrinya yang satu jam lalu sudah sah di hadapan penghulu. Sedangkan Ratna nampak speechless melihat ketampanan mantan pacarnya malam ini.
Dengan berani Damar menatap Kusumo dan Ana, ia memasang wajah dengan senyuman menyeringai. “Halo Tuan Kusumo, bagaimana kabar Anda?”
•••
__ADS_1
Bersambung...