
Keremangan malam dengan sedikit mendung temaram, tiada bias bintang dan rembulan penghias langit, seakan menggambarkan suasana hatinya yang kelam. Semilir angin malam, suara jangkrik saling sahut-sahutan bersembunyi di balik rerumputan, serta nyamuk pun ikut menemani seorang anak manusia yang sedang merasakan kegalauan hatinya.
Duduk meringkuk di atas lantai depan teras rumah bergaya minimalis modern tanpa adanya cahaya dari lampu penerangan rumah.
Rumah yang lumayan berjarak dari rumah ke rumah lainnya.
PLAK PLAK
Suara tepukan tangan, menepuk-nepuk di udara mencoba menangkap nyamuk-nyamuk nakal bin usil yang mengaung-ngaung di sekitaran telinganya.
“Aihss... matilah kau!!” seru Damar senang berhasil menangkap nyamuk di telapak tangannya. Dengan semangat, Damar menggures, memilin, melumatt nyamuk yang sudah terkapar tak berdaya di telapak tangannya.
Hatinya tidak bisa berpaling, dan di depan rumah Wulan saat inilah Damar berada... Damar pun mengingat kembali saat bersama dengan Angelina, Direktur muda yang menjadi rekan bisnisnya.
Flashback on Damar
Di perjalanan menuju rumah, Kakek Bagaskara. Di dalam mobil Lamborghini yang melaju dengan kecepatan sedang. Entah perasaan apa yang membuat Damar merasa terganggu dengan apa yang di lihatnya di taman, melihat Wulan bersama dengan pria lain. Sungguh membuat hatinya tidak rela.
Sampai-sampai Damar tidak mendengarkan Angelina yang sedang seriusnya mengungkapkan bahwa wanita karir ini telah jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Mas Damar, sejak bertemu denganmu. Entah apa yang membuatku terus saja terbayang olehmu,” ungkap Angelina, masih fokus dengan kemudinya. melirik sekilas kearah Damar yang melamun. “Mas Damar! Kamu denger aku kan?” ucapnya, karena merasa Damar tidak mendengarkan ungkapan hatinya.
Mendengar suara Angelina yang cukup meninggi, membuat Damar spontan menatap Angelina dari samping. “Benarkah?”
Angelina mengangguk tipis, “Sejujurnya aku ingin lebih dekat denganmu, Mas Damar...” Angelina menjeda ucapannya, ia malu-malu untuk mengungkapkan perasaannya, “Aku jatuh cinta denganmu sejak pandangan pertama, kamu menolongku,” sambungnya lagi, menguarkan apa maksud dihatinya.
Sejenak Damar terdiam, menyerap apa yang barusan saja ia dengar. Sebisa mungkin ia berkata agar tidak menyinggung perasaan rekan bisnisnya, “Nona, Angelina. Cinta bukan bagaimana saling menguasai dan sekedar mengungkapkan apa yang terpendam di benak kita. Tapi saling mengolah tenggang rasa.”
Hening... Angelina terdiam, ia memikirkan apa yang dikatakan oleh Damar, dan mencoba memahami apa maksudnya.
“Aku akan menunggumu, di mataku Mas Damar adalah seseorang yang mempesona dan mempunyai kualitas yang aku impikan,” kata Angelina, dengan suara kecil.
Damar mengangguk tipis, “Terima kasih Nona Angel,” ucap Damar, meskipun tidak tega melihat raut wajah kecewa wanita cantik dengan bulu mata cetar membahana, namun ia tidak ingin membodohi dirinya sendiri. “Namun, cintai apa pun dengan sewajarnya di dunia ini, karena apa pun di dunia tak ada yang abadi.”
__ADS_1
Angelina terdiam, ia merasa tersentuh dengan setiap kalimat yang Damar ucapkan. “Bolehkah aku memantaskan diriku, untuk sebaik-baiknya jodoh yang baik?”
Damar tersenyum simpul, “Tentu, karena cinta pun harus selalu melibatkan sang pemilik hati, yang bersemayam di atas Arsy!” Damar mengedarkan pandangannya, dan melihat jalanan yang biasa ia lalui sebelum menjemput sekretarisnya setiap kali akan berangkat ke kantor. Lalu kembali menatap Angelina, “Nona Angel, bisakah turunkan aku di sini?” ujarnya.
Angelina melirik sekilas kearah Damar, dan kembali fokus menatap jalanan depan. “Kenapa?”
“Ada sesuatu yang harus saya selesaikan,” kata Damar.
Angelina pun mengangguk, “Oke, tapi ada syaratnya, ajak aku ke pantai Parangtritis!”
Dengan sangat terpaksa, Damar mengiyakan, “Insya Allah.” jawabnya, seraya mengangguk tipis, ‘Aku juga akan mengajaknya.’ sambungnya dalam hati.
Dengan terpaksa Angelina pun menepikan mobilnya, di sisi kanan jalan.
Damar keluar dari dalam mobil Lamborghini, “Terima kasih, Nona Angel,”
“Sama-sama.” jawab Angelina, lalu kembali melanjutkan mobilnya.
Sesampainya di rumah pun, ia sudah di hadang oleh Ibu dan juga adiknya. Namun, ia berkilah akan menceritakannya lain waktu, sesudah menyelesaikan tugasnya. Setelah membersihkan diri, Damar segera mengendarai mobilnya, dan sengaja parkir jauh dari rumah sekretarisnya agar tidak menimbulkan curiga.
Flashback off
Perang dengan nyamuk, Berdiri, duduk, lalu berdiri lagi sambil celingukan. Lalu duduk kembali, berulang-ulang Damar lakukan. Menunggu seseorang yang sejak siang tiada kabar. “Mana sih nih cewek, nggak pulang-pulang juga!!” gumam Damar, antara geram, sewot, seolah ia ingin menelan bongkahan batu.
Plak.... pipinya yang masih di perban harus ia geplak dengan tangannya sendiri gara-gara nyamuk yang mengigit tanpa permisi. “Aaaa...” erangnya menahan sakit. “Nih nyamuk tahu aja sih, kalau pipiku masih murni!!” gerutunya kesal pada sang penghisap darah.
Baginya, menunggu selama berjam-jam pun tak menyurutkan niatnya, untuk memperbaiki kualitas hubungannya dengan sang sekretaris. Damar merasa menyadari satu hal yang pasti, ia ingin terbangun dari mimpi indahnya, jantung, dan hatinya mulai terjaga dan berbisik di telinga mulai menusuk relung di sukmanya. Tidak ingin menyia-nyiakan seorang wanita dengan tulus menawarkan rasa cinta yang sesungguhnya.
Setelah menunggu, sampai badan jadi bentol-bentol akibat ulah nyamuk usil. Penantiannya tidak sia-sia, wanita yang sejak tiga jam yang lalu ia tunggu pun akhirnya datang juga dan berjalan memasuki halaman rumah dengan langkah gontai serta pandangannya menunduk.
Damar mengulas senyuman bahagia, lalu berjalan dan berdiri tepat di mana wanita yang menduduki peringkat pertama di hatinya sedang berjalan menuju teras rumah dengan masih menundukkan kepalanya.
“Habis darimana saja kamu, Wulan?” serunya dengan suara tegas. Seperti seorang Ayah yang mengetahui anak gadisnya pulang larut malam.
__ADS_1
Bugh... Wulan terperanjat, sampai terjatuh dengan pantatnya yang menghantam keras lantai teras rumah yang ia tinggali, “Auw... ck... siapa sih gelap-gelapan di depan rumah orang?!” gerutunya, seraya menahan sakit.
Damar segera menghampiri Wulan yang terduduk di lantai, “Maaf-maaf, Lan!”
“Damar!” seru Wulan dengan suara nyaring. Untuk yang kedua kalinya, ia mendengar suara pria yang sudah membuat hatinya merasa gusar.
Wulan pun berdiri dengan di bantu Damar.
Secepatnya, Wulan melepaskan tangan Damar yang berada di pinggangnya. “Untuk apa kamu di sini?” ketusnya bertanya, lalu berjalan melewati Damar menuju pintu, dan merogoh kunci di tas kecilnya.
Damar berjalan membuntuti Wulan, ia berdiri di belakangnya. “Ya tentu nungguin kamu pulang,” jawabnya dengan suara lembut. “Nih, lihat sampai badanku bentol-bentol,” ujarnya lagi seraya menunjukkan lengannya yang tak terlihat, akibat tiada cahaya.
Wulan enggan bergeming, ia masih merasa bahwasannya Damar senang sekali menguji hatinya. Seolah tak perduli dengan apa yang dikatakan Damar, Wulan memegang handle pintu lantas membukanya.
Merasa tidak adanya jawaban dari Wulan, membuat hatinya sesak. Grep... Damar memeluk Wulan dari belakang.
Wulan terhenyak dengan apa yang dilakukan pria yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. “Apa yang kamu lakukan?!” tanyanya dingin, ia tidak ingin lagi dipermainkan oleh cinta yang tabu, semu, dan kelabu.
“Siapa pria siang tadi?” tanya Damar, masih memeluk Wulan dari belakang, membenamkan wajahnya di punggung wanita yang sudah berhasil membuat hatinya semakin meleleh.
Lagi.... Wulan terhenyak, mendengar pertanyaan Damar. Seolah pria ini belum juga puas membuatnya semakin bingung. ‘Dari mana dia tahu?’ dengan gerakan tangannya, ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, ‘Jangan-jangan Damar juga melihatku di taman?' Wulan pun mengingat saat apa yang terjadi siang tadi. Saat ada pria yang belum pernah ia kenal sama sekali tiba-tiba melamarnya.
Flashback on Wulan
Wulan menatap Roni dengan seksama, kemudian membuang tatapannya. Dan tanpa sengaja dari kejauhan, ia melihat Damar yang berjalan dengan Angelina menuju mobil Lamborghini warna merah.
•••
Bersambung....
♠
Please, like, vote, komen.... dan perangkat pendukung lainnya... Gak papa kan yak, mengharap??
__ADS_1