
“Gimana sudah baikan?” tanya Damar memastikan.
Wulan mengangguk seraya melenturkan kakinya, “Terimakasih.” ia lantas memakai sepatu Kitten Heels dan berdiri, namun kakinya tidak mendukung untuk menyanggah tubuhnya. Wulan kembali terduduk di sofa. “Ishh.. Kenapa lagi nih kaki?” ucapnya memandangi kakinya yang masih terlihat ruam memerah, akibat berkelahi semalam dengan dua preman.
Damar melihatnya dengan tersenyum geli, “Sudah, kalau masih sakit jangan pakai sepatu itu.”
Wulan menunduk sambil memijit kakinya lantas menengadahkan wajahnya melihat Damar yang tersenyum geli. “Terus! Kalau nggak pakai sepatu, nyeker?” sergahnya.
Damar berjalan menuju ruangan di balik kaca lebar dan mengambil sandal jepit di samping tempat untuk beribadah. Lalu kembali lagi ke sofa hitam dimana Wulan berada.
“Pakai ini.” ucapnya, seraya menaruh sandal jepit di samping kaki Wulan.
Wulan melirik sandal jepit yang diberikan Damar dan kemudian menatap Damar yang sedang mengangkat alisnya sedetik dan melebarkan senyumnya bagaikan kepakan sayap burung pipit.
“Anda, dapat darimana sendal jepit ini?” tanya Wulan menatap lagi sandal jepit bermerek swalow.
“Nyolong!” celetuk Damar, dan duduk di sandaran samping sofa.
Wulan menatap Damar malas, “Iya, emang wajah Anda tampang nyolongan, Tuan!” cetus Wulan sinis.
“Yang penting nggak nyolong hati kamu!” sahut Damar, dan mendapat pelototan tajam dari manik hitam wanita yang sedang ia tatap.
“Tadi aja waktu marah, Damaaaaaaar! Sekarang, Anda, Tuan, Anda, Tuan! Akh nggak konsisten banget!” gerutu Damar.
Wulan delming ia tidak ada pilihan selain memakai sandal jepit yang diberikan Damar. Beranjak dari sofa seraya menahan sakit yang menyiksa di pergelangan kakinya. Lantas berjalan menuju pintu.
Akan tetapi ia tiba-tiba jatuh terjungkal kebelakang saat mendapati beberapa pasang mata dan telinga dari para karyawan, seperti sedang menguping di depan pintu ruangan Damar.
“Arhh.... Sedang apa kalian?!” hardik Wulan berang, sekaligus heran.
Karyawan yang sedang menguping pun menyadari suara Wulan dan pintu yang sudah terbuka, melihat sang sekretaris baru terjatuh di atas lantai.
Damar segera menghampiri Wulan yang terjatuh di lantai. Ia baru menyadari beberapa karyawan sedang berdiri di depan pintu ruangannya. “Sedang apa kalian, di depan ruangan saya?” Damar bertanya seraya membantu Wulan berdiri.
Melihat dengan sigapnya Damar membantu sang sekretaris baru. Para karyawan berasumsi bahwa Presdir baru serta sekretaris baru mereka memang sudah menikah.
“Uhmm... Ta--di. Ada investor dari Singapura yang ingin bertemu dengan Presdir.” ucap salah seorang karyawan kepada Damar.
Setelah membantu Wulan berdiri dengan tegak, Damar kembali menatap beberapa pasang mata karyawan yang menatapnya dengan keanehan. “Terus, dimana beliau sekarang?” tanya Damar.
“Beliau sedang di ajak keliling perusahaan oleh Pak Bokir, karena tadi anu--anu Presdir.... anu...” seloroh seorang karyawati wanita yang berusia 30 tahunan.
__ADS_1
Damar mengerutkan keningnya, “Anu apa?”
“Anu--- itu Presdir sedang wikwik sama sekretaris Wulan.” ucap salah seorang karyawan pria yang seumuran dengan Damar.
Damar dan Wulan saling tatap, lalu kembali menatap karyawan yang masih setia berdiri di depan pintu ruangannya.
“Cara bicara kalian aneh! Apaan Anu--anu sama wikwik! Wik rambut maksudnya?” sergah Damar heran. “Terus kenapa kalian masih di depan pintu ruangan saya? Ada hal lain lagi yang kalian ingin sampaikan?” tanya Damar.
Beberapa karyawan yang berjumlah lima orang itupun canggung, tiga diantaranya pergi, “Kami permisi dulu Presdir.”
“Terus kalian?” kali ini Wulan yang bertanya kepada kedua orang yang masih bertahan di depan pintu ruangan Damar seraya memegangi map yang mereka dekap di depan dada.
“Oh, saya mau Anda menandatangani map ini Presdir,” ujar salah seorang karyawati wanita dan mengulurkan map di hadapan Damar.
“Biar saya yang akan mengeceknya terlebih dulu, sebelum Presdir menandatanganinya. Mari ikut keruangan saya,” kata Wulan dan berjalan dengan terseok-seok lebih dulu dan diikuti kedua orang karyawan yang bertugas di lantai dua.
Setelah Wulan dan kedua karyawati pergi dari depan ruangannya. Damar kembali masuk kedalam ruangan dan kembali melanjutkan pekerjaannya untuk mengecek semua dokumen yang masuk.
Mengikuti langkah Wulan, kedua karyawati nampak sangat memperhatikan sang sekretaris baru dari belakang,
“Eh Win, aksi mereka sangat panas kali yak? Sampai kaki sekretaris Wulan begitu jalannya, terpincang-pincang,” bisik-bisik karyawati wanita yang memang suka dengan adanya berita menggelegar.
“Hish.. ngeres banget kamu Win mentang-mentang udah kawin, pikirannya begituan?” sergah Manda.
Bisik-bisik kedua karyawati di belakangnya sangat menggangu telinganya. Wulan lantas berhenti dan berbalik badan memandangi kedua karyawati yang tidak jauh beda seumuran dengannya. “Bisik-bisik apaan sih kalian? Gosip yah, Bagi dong. Gue juga mau.”
Kedua karyawati seketika mengatupkan bibirnya dan menggeleng.
Wulan menatap kedua karyawati yang nampak sangat aneh, dengan tatapan menyelidik. Ia lantas berbalik badan dan kembali melangkahkan kakinya menuju ruangannya sendiri.
••
Sementara ketika Damar sedang mengecek dokumen pintu pun terketuk dari luar. “Masuk!” seru Damar dengan suara agak nyaring.
Bokir pun membuka pintu dan memberi jalan untuk seorang lelaki seumuran dengannya bermata agak sipit serta ketiga ajudannya masuk kedalam ruangan Damar. Damar berdiri dan menyambut baik perkenalan dirinya dan seorang investor asing.
“Selamat datang Tuan Cristian, My name is Damar Mangkulangit,” ramah Damar dan menjabat tangan lelaki yang akan melakukan kerjasama dengan perusahaan yang dikelolanya. “Mari silahkan duduk. Terimakasih sudah berkenan mengunjungi perusahaan yang sedang saya kelola ini.”
Damar pun mempersilahkan Cristian dan ketiga ajudannya duduk di sofa hitam.
Investor asing itupun menjawab. “Ya, sama-sama... meskipun harus mengulur waktu, Tuan Damar,” ucapnya dengan kefasihan berbahasa Indonesia.
__ADS_1
“Maafkan saya Tuan, saya sungguh menyesal, hal ini tidak akan terulang lagi. Saya tidak berjanji tapi saya akan berusaha menepati waktu, maaf karena saya sudah menyia-nyiakan waktu berharga Anda, Tuan Cristian,” pungkas Damar meyakinkan sang calon investor.
Seorang lelaki berkewarganegaraan Singapura inipun tersenyum. Mengingat kembali saat ia mendengar suara yang seperti des*han dari dalam ruangan rekan bisnisnya, “Bagaimana gairah Anda Tuan? Anda nampak masih sangat muda dan berstamina, pantas saja Anda melakukannya di mana tempat pun tak apa, hahaha..” selorohnya memperhatikan Damar dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Damar tersenyum lebar, meskipun ia tidak tahu apa yang sebenarnya di katakan investor asing di hadapannya. Ia menjawab dengan bahasa energik. “Oh, terimakasih Tuan Cristian, saya memang sedang berenergi tinggi. Mungkin karena pengaruh jamu tradisional yang saya minum tadi pagi.”
Bokir mengangkat alisnya heran, “Aih.. jamu?” serunya nyaring.
Cristian dan ketiga ajudannya serta Damar menatap Bokir yang sedang memasang tampang kebingungan.
“Jamu!” seru salah seorang ajudan Cristian.
“Iya jamu, jamu itu minuman rempah-rempah khas Indonesia.” sahut salah seorang ajudan lainnya.
“Nah betul itu,” seru Damar.
Cristian pun mengingat kembali akan ucapan Bokir yang mengatakan Damar adalah pengantin baru,
“Selamat atas pernikahan Anda, Tuan Damar.”
Damar terkejut mendengar penuturan Cristian, “A--aapa me--nikah. Bagiamana sa....” ucapannya terhenti kala kakinya diinjak oleh Bokir.
Damar refleks mengalihkan tatapannya menatap Bokir yang sedang mengedip-ngedipkan matanya, tanda ia sedang memberi Damar sebuah kode rahasia.
Pada akhirnya Damar mengangguk dan tersenyum masam. ‘Opo iki? (Apa ini?) Gimana menikah? Pacar aja nggak punya!' selorohnya dalam hati. “Terimakasih Tuan Cristian,” ucapnya dengan keheranan yang sendiri pun ia tidak tahu.
Mereka lantas berlanjut ke percakapan perihal kerjasama yang akan segera terlaksana mulai bulan depan.
••
Setelah satu jam lamanya Cristian pergi dari ruangan Damar. Bokir tidak tanggung-tanggung langsung mencecar Damar dengan pertanyaan yang sekian lama menggelitik lidahnya untuk mencari tahu perihal apakah yang sudah terjadi di antara Wulan dan Damar sewaktu di dalam ruangan kantor.
“Sebenarnya apa yang kalian lakukan di dalam ruangan ini. Nggak bisa ya kalian tahan pas lagi di rumah aja?” cecar Bokir dengan pertanyaan yang ingin ia ketahui.
Damar heran akan pertanyaan Bokir, “Apaan? Aku nggak ngapa-ngapain sama Wulan.” sanggahnya.
“Terus kenapa kalian mengerang dan mendesah? Perasaan Wulan nggak gampang takluk sama lelaki?” tuduh Bokir, semakin membuat Damar heran.
•••
Bersambung...
__ADS_1