Presdir Cilok

Presdir Cilok
113 Semoga Istikomah


__ADS_3

Pagi yang masih petang, pukul 05:15 waktu setempat adalah hari pertama bagi Wulan dan Damar menjadi sepasang suami-istri. Setelah melewati malam yang penuh gairah, membara, penuh cinta. Laksana taman surgawi, yang bertaburan sensasi. Namun, menyejukkan sanubari hati.


Dan, semalam pula mereka tidak tidur. Kendatipun, rasa lelahnya itu, terbayar dengan perjuangan, dan pergumulan hebat, laksana pemain sepak bola, saat bola menggelinding licin memasuki gawang yang penuh dengan alas roban...


Setelah sholat subuh bersama dengan sang istri. Ia pun menoleh kebelakang, tepatnya kepada Wulan yang memakai mukenah putih berenda terlihat sangat ayu rupawan. Memandanginya dengan seksama, ia tidak menyangka, semalam adalah pertandingan yang dimenangkan oleh dirinya. Terus tersenyum, dan menggigit bibir bawahnya.


Wulan speechless memandangi wajah Damar yang menunjukkan sisi lain dari hari sebelum ia menjadi istri pria dihadapannya, terkesan lebih maskulin, ‘Ya Allah, rasanya ini masih seperti mimpi, aku sekarang ini menjadi istrinya, dia pun nggak pernah mempermasalahkan bahkan nggak pernah membahas umurku yang berpaut lebih tua 3 tahun darinya.’


Saat menatap Wulan seperti ini, Damar mengingat kembali kejadian pada saat Wulan yang masih galak, ketika waktu itu Wulan menghadapi kedua preman hingga membuat kaki Wulan terkilir. Damar masih ingat dengan jelas, jangankan untuk menyentuh tubuhnya, untuk membantu memijit kakinya saja, Wulan yang segalak badak tidak mengizinkan kakinya sentuh oleh Damar. Namun, kini semua sudah berbanding terbalik. Dengan keikhlasannya, wanita yang ia nikahi semalam menyerahkan seluruh dirinya untuk ia jamah. ‘Semoga Istikomah.’


Damar tersenyum simpul, lalu menyalami tangan Wulan. “Apa masih sakit?”


Wulan tersenyum, lalu menyambut tangan Damar dan mencium punggung tangan sang suami yang ia panggil ‘Kang Cimar. Baginya panggilan sederhana itu, sangat berarti melebihi dari sekedar panggilan ‘sayang, “Udah mendingan,” jawabnya lirih.


Damar mengusap pucuk kepala Wulan yang tertutupi mukenah putih, “Kalau masih sakit, ke dokter yuk,”


Wulan mengerutkan keningnya, ia lantas terkekeh kecil. “Hehehe.... Nggak perlu selebay itu, Kang Cimar. Aku baik-baik aja,” ia lantas berdiri lalu melepas mukenanya, pandangannya mengedar dan tanpa sengaja menatap sprei berwarna cokelat pastel yang tak beraturan lagi tatanannya, ia juga melihat ada bercak-bercak merah di sana. Wulan mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu beralih menatap Damar. Seketika rasa malu menyelimuti pandangannya.


Damar pun ikut berdiri, ia menatap Wulan yang juga menatapnya dengan membulatkan mata. “Benar baik? Kayanya dari wajahmu nggak menunjukkan kalau kamu baik?!” ucapnya, seraya melepas sarung, lalu ia taruh di lantai untuk kemudian dicuci.


Wulan terperanjat dengan aksi Damar, yang melepas sarung di hadapannya. Terekspose jelas, warna paha sang suami yang tidak terlalu putih juga tidak gelap, “Allah Akbar, Kang Cimar! Kamu kok buka sarung di depanku, udah gitu cuma pakai celana dal*m lagi!!”

__ADS_1


Damar terkejut mendengar suara Wulan yang meninggi, “Loh, kenapa emangnya? Bukankah kamu juga udah lihat semuanya semalam?” jawabnya sambil membuka satu persatu kancing baju koko'nya. “Masa kamu lupa, biar aku ingatkan lagi gelora cintamu semalam!” sambungnya menggoda, seraya mendekati Wulan yang terlihat salah tingkah, dan semakin menyudutkannya sampai Wulan terduduk di tepian ranjang.


“Hah! Mana ada ya aku begitu! Yang ada kamu tuh, sampai aku nggak bisa berkutik...” Wulan semakin sewot dengan sikap Damar yang tidak peka. Kini, bukan hanya sekedar paha yang terekspose, tapi juga dada bidang, perut yang di ibaratkan seperti roti sobek, hanya saja bagian sensitifnya saja yang tertutupi celana dal*m warna hitam. Wulan menelan ludahnya, glek...


“Ih, kok kamu gitu banget! Masa nggak tahu kalau aku lagi malu!” ujarnya jujur. Ia melihat Damar melepas baju kokonya, “Astaghfirullah, masa telanjang begitu, cuma pakai cd! Kamu nggak lupa ‘kan, apa itu malu? Malu itu kayak memakan buah Cermai yang masih hijau, asem-asem gimana gitu!” omelnya, ba' burung kenari, seraya mendorong dada bidang Damar.


Mendengar omelan Wulan, membuatnya ingin tertawa. Lantas memegang tangan sang istri yang sedang mendorong dadanya. “Oh-- kamu lagi malu toh?!” Damar lantas mengecup kening sang istri, tatapannya beralih menatap objek bercak-bercak merah di atas sprei. Ia manggut-manggut tipis, lalu kembali bersitatap dengan istrinya. “Mau lagi?!”


Spontanitas, Wulan mengalihkan pandangannya kembali menatap sprei yang tak beraturan seperti tersapu oleh badai asmara, semalam. Sekilas ingatan saat ia kehilangan kendali semalam membayanginya, refleks Wulan menutup bibirnya. ‘Dahsyatnya semalam!’


“Ehemm....” Wulan berdehem keras. Ia celingukan, mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan kamar milik suaminya, “A--aku laper...” ujarnya tergagap. “Tapi, aku malu keluar kamar,” sambungnya lagi, bukan tanpa sebab. Karena rikmanya masih setengah basah.


Damar pun tersenyum, ia lantas mengusap leher Wulan tepat di bekas hisapannya semalam, lalu menarik diri dan berdiri dengan tegak. “Baiklah nyonya,” jawabnya mengedipkan mata, lantas berjalan menuju lemari hanya dengan celana dal*mnya saja, dengan sikap acuh tak acuh. Toh, ia berpikir Wulan sudah melihatnya semalam.


Damar pun menarik satu setel pakaian rumahan, lantas memakainya secepat kilat. Ia kembali menatap Wulan, “Tunggu di sini, aku akan ke dapur.” ujarnya, lantas berjalan menuju pintu kamarnya.


Selepas kepergian Damar, Wulan segera menarik sprei dan membawanya masuk kedalam kamar mandi. “Walah-walah, aku harus menghilangkannya.” gumamnya lirih, seraya menyiramkan air kran ke seprei berwarna cokelat pastel, ia mengambil sabun mandi, selanjutnya mengucek seprei yang menjadi saksi atas pergumulannya semalam.


Selang waktu sepuluh menit, Wulan sudah selesai mengurus seprei yang sudah ia cuci bersih, saat kakinya melangkah keluar dari kamar mandi ia dikejutkan dengan Damar yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. Tanpa sengaja keningnya menyentuh benda kenyal milik Damar, “Alamak! Kang Cimar, kamu selalu aja ngagetin aku!” omelnya, seraya mengusap keningnya yang baru saja mendarat di bibir sang suami.


“Nyuci apa tadi? Kayanya sibuk banget?” tanya Damar pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


Wulan semakin nervous, ia kelabakan bersitatap penuh dengan kegugupan. “Eeee, itu, anu, apa yah...” tak dapat berkata-kata, ia pun kembali soal permintaannya kepada Damar. “Kamu bawa apa dari dapur?” tangannya menyingkirkan lengan Damar agar menyingkir dari ambang pintu kamar mandi, dan berjalan mendahului Damar.


Damar menatap seprei basah yang diperas terdapat di atas wastafel, ia merekahkan senyumnya seraya menggelengkan kepalanya perlahan. Lalu berbalik badan dan menyusul Wulan yang tengah duduk di kursi kerjanya sedang menikmati segelas susu dan roti tawar isi selai cokelat. Ia lantas berlutut di hadapan sang istri. “Ada hal yang membuatku memutuskan untuk menikahimu secepat ini,”


Wulan menatap Damar, seraya meminum segelas susu cokelat hangat. Ia hanya memberi isyarat mengangkat dagunya; Apa?


“Karena aku nggak ingin jauh-jauh darimu, ingin selalu ada bersamamu, kamu bisa mencintaiku tanpa menurunkan keindahan mu, itulah mengapa aku ingin memantaskan diriku untuk selebihnya bisa mencintaimu dengan keindahanku juga,” ungkap Damar bersungguh-sungguh.


Wulan menaruh gelas kaca dengan sisa sedikit susu cokelat di meja, hatinya terenyuh mendengar apa yang di ungkapkan oleh Damar. Ia memegang kedua pipi Damar dan beralih mengenai belakang telinga pria yang menatapnya dengan tatapan teduh, “Lalu tentang amanah Kusumo untuk memintamu menjaga anaknya?”


Damar mengingat kembali saat Kusumo memintanya untuk kembali bersama dengan Ratna.


Flashback on Damar


Ruangan UDG dengan keredupan semangat yang terus mengikis waktu perlahan-lahan mulai tak terkendali, seorang pria setengah baya meraung rintih dengan suaranya yang terdengar terbata, sangat pelan, lebih tepatnya seperti bisikan. “Da--mar ti-tip Rat--na, sa-ya moh-on.”


Damar mengerutkan keningnya, heran dengan jalan pikiran pria setengah baya yang dahulu menghinanya, dan berterus-terang menentang hubungan antara dirinya dan juga Ratna. Namun apa sekarang? Apakah ini sebuah permintaan terakhir? Oh tidak, ini tidak begitu mudahnya untuk diterima! Damar menggeleng. Ia melihat Kusumo meneteskan air mata.


Kusumo tak kuasa menahan air matanya, seolah air mata melambangkan penyesalannya kini. Penyesalan yang tak berarti lagi, rasa sesak yang semakin menghimpit pernafasannya, menghimpit waktunya, bahkan hanya untuk menyesali perbuatannya kini sudah tak berguna lagi. “Saya mohon Da-mar, te-rimalah Rat--na, kamu ti--dak per-lu me-ma-afkan saya. Rasa sesal sa-ya akan menjadi semakin besar, jika saya ti-dak bisa me-menyatukan kalian,”


•••

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2