Presdir Cilok

Presdir Cilok
72 Bersama kesulitan pasti ada kemudahan


__ADS_3

Pukul 23:25 waktu setempat, Damar baru pulang. Banyak hal yang menjadikannya lembur, bahkan kedepannya akan lebih sibuk, juga tentang soal pemalsuan tanah. Ia berdiri di depan rumah yang masih dalam keadaan porak-poranda. Belum terjamah oleh perbaikan renovasi. Ia menatap nanar dengan kondisi rumahnya kini, memejamkan matanya di selingi dengan menghela nafas panjang. Karena ia merasa mengeluh pun hanya percuma saja.


Kali ini bukan Bokir yang mengantar Damar pulang, tapi Wulan. Karena pria berkepala pelontos itu, merasakan kram perut.


Wulan tidak langsung pulang, ia berdiri di belakang Damar yang sedang mengamati rumah dari halaman. Wulan merasa kasihan melihat keadaan Damar saat ini, tangannya terangkat namun ragu-ragu untuk menyentuh pundak Damar. Pada akhirnya, sebuah rasa iba menelusup masuk kedalam rongga jiwanya. Wulan memegang pundak Damar, “Bersama kesulitan pasti ada kemudahan, Damar.”


Damar manggut-manggut, ia lantas berbalik bersitatap dengan wanita yang beberapa belakangan ini selalu bisa menghiburnya, meskipun tiada candaan yang lucu keluar dari bibir wanita yang setiap hari selalu bersikap acuh tak acuh terhadap siapapun, termasuk dirinya. ”Terimakasih, tapi aku baik-baik saja.”


“Sejujurnya, orang yang sedang dalam masalah, terus dia bilang, baik-baik saja. Itu sungguh pembohong ulung, yang biasa digunakan untuk bisa terlihat kuat! Tapi padahal hatinya jejeritan.” pungkas Wulan dengan suara lembut.


Damar mengambil tangan Wulan, dan menggenggamnya erat, seolah dari sanalah ia membutuhkan seseorang untuk menemaninya di saat-saat seperti ini. “Kamu benar!” namun, Damar menyadari, bahwa bisa saja meskipun Wulan bekerja untuknya. Wanita yang sedang ia tatap memang tidak menyukai keberadaan dirinya. “Pulanglah, dan istirahat.”


“Kamu tahu,” ucap Wulan lirih seraya menunduk lalu kembali menatap Damar dengan tatapan sendu, “Kadang-kadang kita juga membutuhkan orang lain untuk bersandar,” Wulan terdiam sesaat, dan kembali bersuara, “Aku menawarkan diriku, untuk menjadi teman mu, bukan lagi hanya sekretaris mu.” lanjut Wulan sepenuh hati. Barangkali ucapan Damar waktu itu benar, bahwasannya hidup ini penuh dengan derita hati, dan akan sangat melegakan jika bisa mempunyai satu orang saja teman yang mengerti dan bisa di percaya itu sudah lebih dari cukup.


Damar tersenyum lembut, tangannya melepaskan di genggaman tangan Wulan. “Apakah hanya sekedar teman?”


Wulan mencebikan bibirnya, “Ish.. dasar otak udang! Sudah bagus aku menawarkan diri jadi temanmu, bukan jadi musuh mu!”


“Hahaha...” kekeh Damar, sambil menoel-noel pipi Wulan, “Sudah sana pulang, maaf yah aku nggak bisa nganter kamu.”


“Its oke!” seru Wulan, lalu membalikkan badan memunggungi Damar. Lalu pergi dengan mengendarai mobil Jip.


Damar melambaikan tangannya, setelah Wulan pergi . Ia segera masuk kedalam rumah, dan membersihkan diri.


Di kamar Damar tengah merebahkan tubuhnya, merasakan setiap rasa pegal yang masih di rasakan akibat bogeman yang dilayangkan preman bayaran Opik. “Di kamar inilah aku di lahirkan, di rumah inilah aku di besarkan. Kenapa, nggak ada Ibu dan Danum rasanya sangat hampa.”


Damar mengambil ponselnya, dan segera menghubungi Danum untuk menanyakan perihal kesehatan Ibunya.


••


••


Keesokan harinya,


Kini di perjalanan, kali ini bukan Bokir yang mengemudikan mobil. Akan tetapi Wulan sendiri, dengan Damar yang duduk di samping kemudi.

__ADS_1


Bukan perusahaan tujuan Wulan, membuat Damar bingung dengan jalan yang di lalui Wulan. “Kita mau kemana?” tanya Damar, menatap Wulan dari samping.


“Ke rumah Kakek Bagaskara, beliau ingin bertemu denganmu di rumahnya, Bokir juga sudah ada di sana.” jawab Wulan masih memfokuskan tatapannya ke depan, seraya memutar kemudi membelok ke kiri.


“Apakah ini soal PR yang dikatakan Kang Bokir?” tanya Damar, menduga.


“Betul, ada hal penting yang ingin beliau rencakan.” jawab Wulan, melirik sekilas kearah Damar. Damar tidak lagi menjawabnya, ia kemudian membuang tatapannya keluar depan kaca mobil.


Sesampainya di depan rumah bergaya Joglo modern, dua orang penjaga menarik gerbang kayu, mobil yang di kemudikan Wulan lantas memasuki pelataran rumah yang sangat luas.


Damar dan Wulan keluar dari mobil, dan sudah di sambut oleh pelayan rumah Kakek Bagaskara. “Anda sudah di tunggu Tuan.” kata pelayan berseragam hitam dan menunjuk kearah pendopo yang ada di samping rumah utama.


Damar pun berjalan mendekati pendopo dan di susul oleh Wulan. Damar melihat Bokir juga duduk di antara tiga orang yang berpenampilan formal dan Kakek Bagaskara, dan salah satunya adalah seorang pria dengan pakaian seragam polisi berpangkat dua bintang.


Kakek Bagaskara pun melihat Damar sudah datang, “Kemarilah Damar,” kata Kakek Bagaskara agar Damar mendekatinya. Damar pun mendekati Kakek Bagaskara.


Kakek Bagaskara lantas mengenalkan ketiga orang yang menjadi tamunya, kepada Damar, “Perkenalkan ini adalah Bapak Surya, Staf Ahli Menkeu Bid. Pengawasan Pajak,” kata Kakek Bagaskara menunjuk seorang pria berumur setengah baya dengan jas formal. Kemudian Kakek Bagaskara kembali menunjuk dengan telapak tangannya yang terbuka kepada orang berikutnya,“Dan ini Pak Seno Wibisono, beliau adalah seorang manajer Notaris, yang mengurusi soal jual beli tanah,”


Dan beralih ke seseorang dengan seragam polisi berpangkat dua bintang di bahunya, “Dan beliau adalah Bapak Purnawan Syailendra, beliau adalah Inspektur Jenderal.”


Kakek Bagaskara kembali melanjutkan pembahasan mengenai perpajakan dan pemalsuan dokumen tanah.


“Ini adalah bukti tindak pelanggaraan tata tertib administrasi pertanahan di kota Surabaya seluas satu hektar, atas nama Kusumo.” ungkap Pak Suryo, selaku pengawas perpajakan.


“Betul, dan kami sudah mencari bukti bahwa ada seorang notaris yang membantunya untuk memalsukan dokumen dan akta jual beli tanah,” imbuh Pak Seno, selaku manajer notaris.


“Maaf Pak, saya menyela pembicaraan.” Damar lantas menunjukkan bukti lain, berkas yang ia punya dari Pak Rudi, orang yang ia temui di warung kopi. “Apakah surat-surat ini juga palsu?”


Pak Seno pun melihat berkas yang diberikan Damar, setelah membaca dan mengamati tanda tangan yang tertera adalah tanda tangan palsu, “Benar, ini palsu,” ungkap Pak Seno, lantas beralih menatap Damar, “Anda mendapatkannya dari mana?”


“Saya mendapatkan dari seorang Bapak bernama Rudi, beliau sudah membayar 50 juta, dari sebagian besar jumlah 200 juta yang di tawarkan oleh pihak notaris dan yang bersangkutan.” jelas Damar.


“Bukan hanya itu Pak Seno, setelah kami menyelusuri lokasi. Tidak ada tanah yang terkait di sana, karena itu adalah bangunan Masjid. Dan sangat berbeda dari yang di tawarkan oleh pihak Kusumo.” ungkap Bokir menambahkan ucapan Damar.


“Kusumo lagi?” sela Pak Surya, selaku orang yang mengawasi perpajakan, “Bahkan, banyak sekali tanah-tanah pertanian dan tanah bangunan yang mengatasnamakan nama Kusumo, tapi tidak ada satupun yang masuk ke dalam daftar pajak.” pungkas Pak Surya.

__ADS_1


“Kalau begitu, kita harus bertindak tegas. Jangan ada lagi orang yang menjadi korban.” kata Pak Purnawan, selaku penegak hukum.


“Lalu, menyangkut jual beli tanah yang Tuan Bagaskara bicarakan, salah satunya di provinsi Kalimantan Tengah luas dua hektar, dengan kisaran harga mencapai 50 miliyar sudah saya selesaikan, dan itu masih terkait dengan jaringan mafia tanah Kusumo, dan seorang notaris gadungan bernama Sucipto.” jelas Pak Seno, dengan penjelasan yang gamblang.


Damar terkejut dengan perkataan Pak Seno, “Jadi, Kakek pun tertipu?!”


“Bukan tertipu Damar, Kakek hanya ingin menarik serigala itu keluar dari tempat persembunyiannya.” jelas Kakek Bagaskara, bahwasannya beliau memang harus merelakan menggelontorkan dana hanya untuk memancing bandit tanah, yang bersembunyi sudah sekian lama.


“Tenanglah, Damar. Saya sudah membekuk salah satu anggota pejabat yang ikut terlibat dalam permainan kotor ini.” pungkas Pak Purnawan. “Karena komplotan penipu ini, tidak bekerja sendirian, mereka berkelompok dan tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia.” imbuhnya lagi.


Selama hampir tiga jam lamanya, obrolan serius pun usai. Dengan semua tamu penting Kakek Bagaskara sudah mengantongi izin untuk penggeledahan pemeriksaan lebih lanjut terhadap anggota mafia tanah, untuk berikutnya adalah menyeret semua orang yang terlibat untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.


Kini di taman belakang rumah Kakek Bagaskara, Damar sedang melihat seorang wanita sepuh sedang duduk di kursi roda. Ia berjalan mendekati Nenek Ayudia yang sedang memandangi bunga-bunga mawar dengan berbagai warna, lalu berlutut di samping kursi roda.


“Nenek Ayudia,” ucapnya lembut, melihat raut wajah Nenek Ayudia yang sangat sayu, seperti tidak adanya gairah untuk hidup, membuat hati Damar merasakan kelu di ulu hatinya.


Nenek Ayudia masih tak bergeming, dengan suara Damar. Beliau masih menatap lurus ke arah bunga-bunga mawar yang nampak sangat cantik.


Damar menghela nafasnya, ia lantas menggenggam tangan renta Neneknya, masih berlutut. Kali ini ia sengaja menggeser tubuhnya ke hadapan sang Nenek.


Nenek Ayudia beralih menatap seorang pemuda yang wajahnya sangat mirip dengan Gusli Wijaya, “Gusli.” lirih Nenek Ayudia bersuara bahkan terdengar seperti gumaman. Beliau mengangkat tangan renta'nya, lalu mengusap lembut pipi cucunya, netra yang sekian detik lalu masih terlihat seperti tatapan kosong, kini mulai berkaca-kaca.


Damar tersenyum, dan mencium tangan Neneknya, “Ini Damar Nek, cucu Nenek.”


“Cucu?” ucap Nenek Ayudia, lalu mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan area taman, namun beliau tidak menjumpai orang yang sedang dicarinya, “Lalu dimana Gusli Wijaya?” tanya Nenek Ayudia, meskipun sudah di jelaskan oleh Kakek Bagaskara, bahwa Gusli telah tiada, namun pikiran Nenek Ayudia selalu menolak perkataan suaminya.


“Bapak....” Damar menggantungkan ucapannya.


Suara Kakek Bagaskara pun menyambar pertanyaan Nenek Ayudia, “Nini, Gusli Wijaya telah tiada, dan ini kenyataannya. Sudah berapa kali saya katakan.”


Damar menatap Kakek Bagaskara, dan beralih menatap Nenek Ayudia yang mulai menangis dalam diam. “Anggaplah, Damar ini pengganti Bapak Gusli, Nek.” Damar menghapus jejak air mata yang membasahi pipi keriput neneknya.


“Damar, tinggallah di sini, dan bawa Ibu serta adik mu juga. Lagi pula rumah mu, belum di renovasi, Nenek dan Kakek sudah semakin menua. Kapan, pun ajal menjemput kami berdua.” pungkas Kakek Bagaskara dengan permintaannya, beliau sadar. Harta dan tahta tidak bisa menjamin usia manusia untuk hidup selamanya


•••

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2