Presdir Cilok

Presdir Cilok
138 Season 2; Berdiri bulu romaku!


__ADS_3

Ilham heran, mengapa Damar menganggapnya suami Ratna? Apakah gerangan yang terjadi pada mantan pacar sang adik. Bukankah, Damar nampak sehat wal Afiat? Ia melihat wanita yang selalu mengapit lengan Damar, nampak wajah itu tidak asing. Tapi entah ia pernah melihat wanita itu dimana?


Ya... barangkali dengan cara sengaja melupakan tidak akan membuat wanita di sebelah Damar marah, entahlah.. Ilham merasa apa salahnya bertemu dengan mantan? Kenapa harus pura-pura lupa? “Biar aku ingatkan lagi, siapa aku dan siapa Ratna?”


Damar semakin bingung di buatnya. Namun, tiada sepatah katapun yang terucap. Damar hanya diam dan memerhatikan pria yang sedang mengajaknya bicara dan beralih menatap Ratna.


“Aku Ilham, dan ini...” Ilham menunjuk Ratna, namun belum sempat melanjutkan ucapannya, Ratna sudah lebih dulu berseru memanggil namanya.


“Mas Ilham!” seru Ratna, ada rasa takut menyeruak dari sudut hatinya.


Wulan jelas saja menampakkan mimik wajah ketidaksukaan bertemu dengan Ilham. Ia merasa mengapa Jogja serasa sempit kali ini, tiba-tiba bertemu dengan kedua orang itu. Tapi, kembali lagi... bukankah kehidupan ini memang selalu saja tidak lepasnya dari peranan masa lalu, karena masa lalu juga penentu masa depan?


Damar kembali merasakan kepalanya di landa rasa berat seperti sebuah paku yang menancap otaknya, ia refleks memegangi kepalanya dan itu membuat sang istri khawatir.


“Ada apa? Apa kepalamu terasa sakit lagi?” Wulan panik, sambil memeriksa kepala sang suami. Seperti biasa jika Damar sedang merasakan sakit seperti ini, maka ada hal yang membuat Damar teringat.


“Kamu kenapa Nang?” tanya Bu Suci langsung mendekati putra sulungnya, lalu beralih menatap Wulan, “Wulan, sebaiknya kita cepat bawa Damar pergi dari sini,”


Wulan mengangguk


Damar mendesah, sejenak memejamkan matanya dan menggeleng, memandangi Wulan, “Aku nggak apa-apa, hanya sedikit nyeri, seperti sekelebat bayangan dalam ingatan,”


Wulan spontan menatap Ratna giginya mengerat, rahangnya menegas; Apakah Damar sedang mengingat Ratna?’


Ratna terkejut melihat reaksi Damar yang terlihat menahan sakit, ia berniat mendekati Damar. Namun, ia urungkan mengingat siapa dirinya sekarang ini. Bukanlah siapa-siapa Damar, dan yang lebih berhak untuk menyiratkan rasa kepanikan. Yaitu Wulan. Istri Damar. Untuk sekian kalinya, hatinya serasa tercubit.


Ilham nampak terkejut dengan apa yang terjadi terhadap Damar, “Apa kamu baik?”


Damar menatap Ilham tapi tidak memberi jawaban.


Ratna merasa situasinya sekarang ini tidak kondusif, ia rasa harus segera pergi dari hadapan Wulan maupun Damar. Ia tidak ingin menimbulkan rasa bersalah lagi di sudut hatinya. Tatapan Wulan juga mengisyaratkan ketidaksukaan yang jelas tergambar di sana.


“Mas Ilham, kita juga harus segera pergi. Papi pasti sudah menunggu kita,” ajak Ratna, agar Ilham tidak membuat Damar kebingungan dalam mengingat kembali siapa Ilham dan siapa Ratna. Terlebih-lebih pengkhianatan yang Ratna lakukan di belakang Damar. Jangan sampai diingat lagi? Ia pun ingin sekali melupakan semua kenangan suram. Dan memulai kehidupan baru. Semoga Damar juga demikian.


“Bu Suci, Wulan, saya permisi, Assalamualaikum,” ramahnya pada Bu Suci dan Wulan, lantas menyalami tangan wanita setengah baya itu. Ratna melihat Bu Suci nampak tersenyum lembut, terlihat dengan sangat jelas sebuah pancaran ketenangan di sana.


Sedangkan Wulan hanya bersikap datar


“Wa'alaikumussalam, hati-hati Nak,” Bu Suci menatap kepergian Ratna yang menarik lengan Ilham. Sampai membawa kedua Kakak adik itu memasuki mobil, perlahan mobil pun melaju meninggalkan parkiran.

__ADS_1


“Sebaiknya kita juga harus pulang, kamu belum minum obat siang ini,” Wulan dengan setia melingkarkan tangannya di pinggang Damar.


Damar mengangguk, “Apa ada sesuatu yang telah terjadi di masa lalu di antara kedua orang tadi?”


Bu Suci dan Wulan saling bersitatap


“Jangan di pikirkan, Nang. Mereka hanya teman kalian, dan kebetulan Ibu juga mengenalnya,” Bu Suci mencoba membuat Damar lebih rileks, lagi pula memang tiada hal yang sepatutnya di ingat oleh putranya.


Damar kembali menganggukkan kepalanya, “Iya Bu,”


••


Di perjalanan, Ilham masih saja bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi pada Damar. “Kenapa Damar seolah nggak kenal sama kita, Na?”


Mata Ratna memicing menatap Ilham dari samping, “Aku heran kenapa Mas Ilham memanggil dan menghampiri Damar sih, Mas?”


Ilham melirik Ratna sekilas, “Lah emang kenapa? Niatku cuma sekedar menyapa, memang ada yang salah? Lagian dia sekarang berubah jadi orang yang sombong, apa karena kita udah jadi miskin dan dia kaya?!”


Ratna mendengus kesal, “Bukan sombong Mas! Hanya saja terjadi sesuatu,”


“Sesuatu apa? Ya jelas saja sombong! Buktinya dia sok-sokan nggak kenal siapa kita. Kalau sama aku mah nggak papa nggak kenal! Lah sama kamu?” Ilham bersungut-sungut.


Ilham terkejut akan kabar yang di katakan Ratna, “Ke-kecelakaan? Hilang ingatan?”


Ratna mengangguk, “Lagi pula nggak selayaknya juga Damar mengingat ku, Mas. Ada bagusnya juga, dia bisa memulai kehidupan baru bersama istrinya,”


“Lalu kamu? Kamu masih mencintainya kan? kamu masih saja berkubang di ingatanmu tentang Damar,” sangka Ilham, karena ia tahu. Diam-diam Ratna masih mencari tahu perihal kabar tentang Damar. Tentu saja dari Ustadzah yang mengajar. Karena ustadzah yang mengajar di pondok pesantren tempat Ratna belajar, masih teman Ilham. Dan apapun yang di lakukan Ratna, pasti tembus kepada Ilham.


“Sudahlah Mas, jangan lagi di bahas! Aku memang pantas nggak di ingat Damar, aku yang sudah mencampakkannya aku yang bersalah, dia pantas hidup bahagia bersama istrinya yang bernama Wulan, aku cukup bahagia untuk hal itu. Setidaknya, orang sebaik Damar bersanding dengan wanita baik pula, nggak sepertiku yang hanya bisanya menyakiti,” pungkas Ratna.


“Bisa saja kamu berkata seperti itu, tapi mungkin sekarang ini kamu masih mengharap untuk kembali lagi sama Damar,” Ilham terus saja mengorek perasaan sesungguhnya sang adik kepada si mantan.


Ratna membulatkan matanya menatap Ilham, “Jangan berkata begitu Mas Ilham, aku cukup tau diri!”


“Seandainya saja Damar mengingat dan memaafkan mu lalu menjadikan mu istri kedua, kamu juga pasti mau,” Ilham tersenyum jaim sekilas melirik adiknya yang nampak terkejut dengan ucapan yang terlontar barusan.


“Mas Ilham! Mustahil! Aku masih tau batasan ku, Mas. Jangan berbicara omong kosong!” pekik Ratna, agar Kakaknya itu menghentikan segala ocehan dan khayalan yang tidak berfaedah.


Ilham terkekeh kecil, “Kenapa kamu semarah itu, aku kan hanya berkata berdasarkan apa yang kamu rasakan sama Damar,”

__ADS_1


“Mas Ilham, bisa diam nggak? Atau turunkan aku!” tegas Ratna. Mendengar perkataan Ilham, membuat Ratna seolah berhenti bernafas, tak bisa mengelak. Bahwa benar ia masih belum bisa melupakan Damar.


Ratna membuang tatapannya menatap keluar jendela kaca mobil; Dalam kesendirian, kumerasa hidup, dalam kesendirian kumelihat sebuah arti. Hanya kepada Dia-lah ku mencari. Sebuah makna takdir yang kujalani. Kesendirian akan terasa bermakna, jika ku pasrahkan segala urusan, kepada Tuhan sang penentu kehidupan.’


“Mas berharap kamu dapat bertemu dengan jodoh terbaik juga, Na.” kata Ilham, memegang pundak Ratna.


Ratna menoleh kepada sang Kakak, dan membalas dengan senyuman. Mengamini doa Ilham dalam hati; amin.


••


Wulan kini duduk di kursi teras rumah sambil menikmati waktu senja yang sebentar lagi memasuki Maghrib. Pandangannya ia fokuskan keatas, tepatnya kepada mangga muda yang tumbuh subur di halaman rumah.


Namun, tidak seperti biasanya, ketika air liur reonian di dalam mulutnya dan selalu saja ingin mengecap asamnya mangga muda sesegera mungkin. Wulan pasti akan berteriak memanggil Damar untuk memanjat pohon mangga yang tingginya kira-kira sepuluh meter. Tapi, kini seolah hilang sudah gairahh akan primadona si mangga kulit hijau itu.


Padahal si mangga melambai-lambai tertiup angin seolah memanggil si Ibu hamil yang doyan ngerujak; “Lan ayo makan aku, aku asem manis apalagi di tambah bumbu kacang, pedesnya sedang, beh enak Lan!”


Wulan seolah dapat mendengar bisikan gaib dari si mangga, ia menggeleng. “Aku lagi nggak kepengen ngerujak!”


Angin kembali menyampaikan bisikan mangga muda untuk di sampaikan kepada wanita hamil yang sedang terbengong melompong duduk di kursi teras rumah; “Ayo Lan, panggil suamimu suruh dia manjat dahan ku. Kamu hari ini belum mengajak dansa gigi-gigimu dengan asem manisku.. rasanya kali ini pasti membuat lidahmu bergoyang, Wulan!”


Lagi... Wulan menggeleng, kembali teringat akan pertemuannya dengan Ratna memantik api cemburu sekaligus rasa bersalah. Timbullah berbagai macam argumen-argumen yang membuatnya takut kehilangan Damar.


“Aku udah bilang lagi nggak mau ngrujak, aku lagi bete, sebel, pengen minum es Boba, pengen makan nasi megono!” Wulan ngedumel sendirian di teras rumah.


Damar baru saja keluar dari dalam rumah, ia bingung melihat istrinya ngedumel seorang diri. Damar celingukan ke kanan dan ke kiri tapi tiada siapa-siapa; berdiri bulu romaku.’


Damar memegang pundak Wulan, “Kamu lagi ngomong sama siapa?”


Wulan yang sedang merasa bad mood pun menjawab sekenanya, “Sama pohon mangga!”


Otomatis-lah Damar menatap pohon mangga yang sudah ada semenjak ia terlahir ke dunia; ‘Apa benar pohon mangga ini ada penghuninya?’


•••


Bersambung...


Hemm... adakah yang mau menyumbang vote guna memberikan saya semangat??


•••

__ADS_1


__ADS_2