
Damar melirik sekilas kearah Wulan, dan kembali fokus menatap jalanan depan. “Sebagai calon istriku!”
Wulan mengerjap-ngerjapkan matanya, ‘Nggak ada ungkapan cinta! Nggak ada ungkapan sayang, tiba-tiba mau ngenalin aku sebagai calon istrinya?’
•••
Wulan mengalihkan tatapannya, menatap keluar jendela kaca mobil. Ia merasakan sensasi sejuk seperti salju yang menyirami dahaga hatinya. Namun, berbeda dengan wajahnya, ia merasakan sensasi gerah dan panas secara bersamaan, ia menggigit bibir bawahnya. Hatinya bersenandung senang, meskipun tiada ungkapan cinta yang terlontar dari bibir Damar, ‘Calon mertua? Hihihi... beginikah rasanya? Kenapa aku sebahagia ini.’
Namun, berbeda persepsi Damar dengan cara Wulan yang tidak menjawab perkataannya, Damar mengira bahwa Wulan masih marah, masih salah paham, dengan caranya yang selalu melibatkan wanita yang sekian menit lalu ia sematkan cincin putih yang ia beli setelahnya mengakui pada sang Ibu, bahwa Wulan adalah wanita pilihan hatinya.
Dengan sangat perlahan dan hati-hati, Damar pun bertanya, “Apa kamu masih marah?” Ia melirik Wulan, namun Wulan masih saja tidak mendengarkannya.
Sedangkan Wulan masih saja terbengong-bengong hingga telinganya menuli. Ia sibuk sendiri, dan berseloroh dalam hati, ‘Ayah harus tahu tentang hal ini, agar aku nggak lagi di jodohkan! dan nggak lagi di sebut perawan tua!’
Damar merasa sangat bersalah kepada Wulan, ia sekilas melihat pergelangan tangan Wulan yang ia cengkeraman dengan kuat, “Semarah inikah dia, sampai tidak mau menjawab ku? Ah bodohnya lagi aku mencengkram tangannya dengan sangat kuat, sampai meninggalkan ruam merah di pergelangan tangannya.” ucapnya dengan suara kecil.
Damar pun berinisiatif mengalihkan tangannya dari kemudi, lalu mengusap lembut lengan Wulan yang memerah ruam akibat ulahnya. Masih dengan tatapan yang memfokuskan menatap jalanan depan.
Wulan terhenyak dengan sentuhan lembut di pergelangan tangannya. Ia pun mengalihkan pandangannya, menatap tangan Damar yang sedang mengusap lembut lengannya, lalu beralih menatap wajah Damar dari samping.
Damar kembali menarik tangannya dari lengan Wulan, dan fokus memegang kendali setir, “Maafkan aku!”
Kening Wulan mengerut, “Maaf untuk apa?”
Damar melirik sekilas kearah Wulan.
“Maaf atas semua kesalahanku yang telah melibatkanmu kedalam semua urusanku termasuk hari ini. Sungguh aku nggak pernah bermaksud menjadikan mu sebagai pelarian atau pelampiasan, atau hal apapun! Tapi ada hal lain yang lebih penting dari sekedar itu...” ungkap Damar, ia menghela nafasnya. Damar merasa Wulan harus tahu, sepenting apa Wulan baginya. Segenap hati, ia merasa bahwa Wulan adalah wanita yang hebat.
Wulan terdiam, ia tidak memungkiri bahwa ia tersentuh dengan ungkapan Damar. Meskipun ada alasan di balik alasan. Barangkali, dengan cara mendengarkan, ia bisa tahu apa alasan Damar sebenarnya.
“....Jujur, aku katakan--- Aku sendiri nggak menyangka bahwa aku sekarang sangat bergantung padamu. Terserah kamu anggap aku pria seperti apa? Pria lemah, pria payah atau hal apa pun... Namun, ada hal yang harus kamu tahu,” ungkap Damar bersungguh-sungguh, dan mengharap Wulan dapat memaafkannya. “Kamu sangat berarti di hidupku!”
Wulan menarik nafasnya yang serasa tercekat di tenggorokan, mendengarkan apa yang di ungkapkan oleh Damar. Ia merasa tersentuh, dan menyadari satu hal, bahwa kata-kata cinta hanyalah sebuah lambang, namun sikap yang lembut dan nyata, sudah cukup menjadi bukti bahwa memang pria yang sedang ditatapnya adalah pria yang penuh dengan tanggung jawab dan penyayang.
Perlahan Wulan mengangkat tangannya, lantas menyentuh tangan Damar yang masih memegangi setir. “Cinta itu sederhana, aku dan kamu... dan tidak ada orang lain, aku untukmu, dan kamu untukku.”
__ADS_1
Damar mengangguk tipis, mengiyakan apa yang di ucapkan Wulan. ‘Ah.. bodohnya aku, untuk mengatakan kata cinta saja, lidahku kaku!' Ia menatap tangan Wulan yang bertumpu di punggung tangannya, lalu membalikkan telapak tangannya, hingga telapak tangan Wulan bertemu dengan telapak tangannya, Damar menggenggamnya erat.
“Terima kasih Nawulku! Kini aku sadar ada alasan Tuhan, kenapa aku harus melepaskan sesuatu yang tidak penting, untuk menerima hadiah yang jauh lebih berarti!” ungkapnya, mengatakan bahwa memang benar pilihan Ibunya adalah benar.
Wulan menatap Damar dengan tatapan sendu, ia sendiri sadar bahwa selama mengenal seorang Damar. Damar adalah seorang pria yang selalu rela melakukan apa saja untuk membuatnya tersenyum, dan Wulan merasa Damar adalah pria yang pantas untuk ia pertahankan. Terlepas dari teman masa kecilnya yang tak kunjung juga ia temui; Mungkinkah dia telah tiada?!’
“Jadi, kapan waktunya kamu akan memperkenalkan ku pada Ayahmu?” tanya Damar, membuyarkan lamunan Wulan.
Wulan terhenyak dengan pertanyaan Damar, “Ah iya Ayah, segera kalau kamu mau, aku akan menghubungi Ayah sekarang,”
Damar menggeleng, “Jangan di telpon,”
Kening Wulan mengerut, “Kenapa?”
“Nggak sopan kalau ingin mengatakan sesuatu hal yang penting di telpon,” jawab Damar.
“Lalu?” tanya Wulan, mengangkat alisnya.
“Aku ingin meminta hak mu secara langsung kepada yang lebih berhak atas dirimu,” pungkas Damar.
Mendapat perlakuan manis Wulan, membuat Damar melebarkan senyumnya, “Jangan mancing-mancing! Belum halal nih, nanti kalau aku nggak bisa menahannya sebelum ijab Kabul, apa kamu mau tanggung jawab?!”
Wulan kembali menarik dirinya, dan duduk dengan tegak. Setegak tiang bendera. Ia menjawab Damar dengan suara menggerutu, “Kalau kita begituan dulu, pas malam pertama kita mau ngapain? Kan pepesan udah di buka. Masa cuma lihat-lihatan doang?! Sambil cengar-cengir gitu! Ihh, ogah yah.”
Damar terkekeh kecil, “Hahaha... cie, cie, udah bayangin yang begituan!” goda Damar, seraya mencolek pipi Wulan. “Eh tapi begituan apa yak?!” sambungnya, merasa inilah momentumnya yang sangat ia sukai dari seorang Nawang Wulan yang sedang tersipu malu.
Wulan membuang pandangannya menatap keluar jendela kaca mobil, “Au ah gelap!” hardiknya. Namun, dari itu, ia memilin bibirnya yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Tak terasa, perjalanan menuju rumah Kakek Bagaskara, berlalu begitu cepat. Karena dibarengi dengan candaan dan obrolan.
Damar dan Wulan sampai di depan rumah Kakek Bagaskara.
Damar melihat mobil yang terparkir di depan rumah, lalu menekan klakson agar penjaga rumah membukakannya gerbang. Bep... Bep.. cukup dua kali ia menekan klakson.
Wulan merasakan pergolakan batinnya yang hebat, perasaannya dag-dig-dug serr... ‘Kenapa aku jadi deg-degan?! Padahal hampir setiap hari aku kesini untuk membahas tentang pekerjaan! ”
__ADS_1
Penjaga rumah pun dengan sigap, menarik gerbang utama.
Damar membuka kaca mobilnya, merasa penasaran dengan mobil sedan silver yang terparkir di depan rumah membuatnya bertanya kepada penjaga rumah, “Mobil siapa di depan Mang Soni?”
“Mobil tamu Den!” jawab Mang Soni.
Damar pun manggut-manggut, “Tamu siapa? Kan Kakek pergi keluar kota?”
Penjaga rumah hanya menggelengkan kepalanya. Pertanda ia pun tidak tahu.
Damar kembali menginjak pedal gasnya, mobilnya pun masuk kedalam pelataran rumah yang memiliki halaman luas yang asri. Mesin mobil pun mati. Damar melepas sabuk pengamannya, lalu beralih menatap Wulan yang hanya diam mematung memandangi rumah bergaya Joglo modern. Ia bisa melihat bahwa Wulan sedang merasakan ketegangan.
Damar memegang tangan Wulan dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya mengusap lembut rikma Wulan.. membuat empunya tersentak.
Wulan refleks menoleh dan bersitatap dengan Damar.
“Kenapa tegang gitu?” tanya Damar, ia bisa merasakan bahwa tangan Wulan berkeringat.
Wulan menatap dalamnya manik mata hitam milik Damar, ia menelan ludahnya yang serasa mengganjal. “Aku gugup.” jawabnya, jujur.
Damar tersenyum lembut, “Ibu sudah menunggu anak perempuannya, jadi tenangkan dirimu.”
Wulan pun menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan.
Damar pun keluar dari mobil terlebih dahulu, ia memutari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Wulan. Sama-sama berjalan beriringan, dengan setia Damar menggenggam tangan Wulan yang berkeringat dingin.
“Assalamualaikum,” salam Damar, saat memasuki ruang tamu dengan pintu yang terbuka.
Namun, Damar dan Wulan terkejut dengan tamu yang berkunjung ke rumah Kakek Bagaskara, dan berdiri bersamaan dengan Bu Suci.
“Wa'alaikumussalam...” jawab Bu Suci, bersamaan dengan seorang wanita yang bertamu ke rumah Kakek Bagaskara.
•••
Bersambung...
__ADS_1