Presdir Cilok

Presdir Cilok
50 Doa orang tua


__ADS_3

please Like, Vote, Komen. Terimakasih



Dunia hanya sebagai tempat persinggahan maupun penginapan untuk menunggu hari akhirat. Tak seorang pun mengetahui datangnya kematian, termasuk Rasulullah SAW juga tidak mengetahuinya.


Saat ini Damar dan Kakek Bagaskara berkunjung ke pemakaman Gusli Wijaya. Mobil mewah Mercedes Benz C-Class terparkir di area parkiran pemakaman.


Dan dua lagi mobil mewah terparkir tidak jauh dari mobil Mercedes Benz C-Class milik Kakek Bagaskara. Seorang supir membukakan pintu untuk Kakek Bagaskara, sedangkan Damar lebih memilih membukanya sendiri.


Damar mempersilahkan Kakek Bagaskara untuk jalan terlebih dulu, “Silahkan Tuan,”


Kakek Bagaskara heran akan sebutan cucunya yang masih saja menyebut dengan sebutan ‘Tuan. Namun, beliau kali ini tidak menegurnya. Kakek Bagaskara lebih dulu berjalan dan di susul Damar.


Serta ajudan Kakek Bagaskara, tidak luput Bokir dan Wulan yang berjalan beriringan dengan ajudan Kakek Bagaskara yang berjumlah empat orang. Di belakang Damar dan juga Kakek Bagaskara.


Damar mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling pemakaman. Pohon bunga kamboja putih berjajar di area pemakaman umum disalah satu sudut kota Bantul.


Batu nisan dengan nama-nama dari orang-orang yang telah tiada. Hanya meninggalkan kenangan di dunia fana. Orang kaya maupun orang miskin pasti akan menemui ajalnya. Tanpa di sadari, dengan cara apapun. Tanpa menunggu siap dan tidak siap.


“Sebelah pohon kamboja besar itu adalah makam Bapak.” ujar Damar menunjuk salah satu pohon bunga kamboja putih yang tumbuh subur.


Kakek Bagaskara mengikuti arah telunjuk Damar


Dari kejauhan Damar dapat melihat seorang wanita tengah bersimpuh di samping makam Bapaknya. Semula ia tidak menyadari itu, Damar mengira seseorang itu peziarah makam lain.


Kakek Bagaskara mengikuti langkah Damar, dan sampailah di makam yang di tuju cucunya.


Damar dapat mendengar dengan jelas seseorang yang sedang bersimpuh di samping makam Bapaknya sedang menangis pilu. Rintihan dan tangisan serasa berat, tangan yang sudah tidak lagi muda mengusap batu nisan bertuliskan Gusli Wijaya lahir dan wafat di tanggal sekian...


“Ibu...” seru Damar mengenali wanita paru baya yang ia lihat dari belakang.


Wanita paruh baya dengan hijab syar'i warna cokelat muda serta abaya hitam menoleh kearah sumber suara yang memanggil dirinya dari arah belakang, “Damar!”


Damar mendekati Ibunya, ia melihat mata yang memerah serta jejak-jejak air mata yang masih mengambang di kelopak mata Ibunya dan juga memperlihatkan wajah yang sembab. “Sejak kapan Ibu disini?” tanya Damar, lantas beringsut di samping makam Bapaknya.


Sedangkan Kakek Bagaskara nampak terdiam masih berdiri mematung kan diri, dari jaraknya lima makam dari deretan makam anaknya. Melihat menantu yang tidak pernah beliau anggap.


Kakek Bagaskara dapat melihat bahwa cucunya sangat menyayangi Ibunya, dan juga terlihat sangat menghormatinya.


Damar mengusap air mata yang membasahi pipi keriput Ibunya. “Ibu datang sendiri?” tanya Damar.


Bu Suci mengangguk


Beliau nampak mengamati pakaian yang dikenakan putranya, Bu Suci belum menyadari putranya datang tidak sendiri, “Kamu datang kesini sama siapa Nang? Terus kenapa pakaian mu seperti ini? Ibu masih ingat kamu keluar rumah pagi tadi memakai kemeja hijau botol dan celana panjang warna hitam?”

__ADS_1


Damar mengalihkan tatapannya, menoleh kearah belakang dan melihat Kakek Bagaskara yang terlihat sangat mengamati makam Gusli Wijaya.


Bu Suci mengikuti arah pandang Damar, seketika membelalakkan matanya. Beliau tercengang melihat Ayah dari mendiang suaminya. “Ayah!” lirih Bu Suci berkata.


Kakek Bagaskara mendekati makam anaknya, tanpa menatap menantunya yang sedang mengharap akan keikhlasan dan maaf dari Ayah mertuanya. Pria sepuh dengan tongkat kayu jati di tangan kirinya bergeming, beliau masih berdiri memandangi makam dari ujung batu nisan bertuliskan Gusli Wijaya dan ke ujung batu nisan yang tiada nama.


Dengan pandangan nanar beliau lantas ambruk di atas makam putra semata wayangnya. “Gusli... Gusli...” rintihnya lirih.


Tangisan semakin tak tertahankan, mematahkan penyangga keangkuhan, dari seorang Bagaskara Wijaya. Jiwanya seakan remuk redam, dengan emosi yang semakin merajam, bagai belati yang merobek sanubari dengan kejam.


Ke empat ajudan Kakek Bagaskara hendak mendekati pria renta yang tengah di rundung duka lara. Namun mereka berhenti, manakala melihat Damar mendekati Kakek Bagaskara, menopang tubuh tua Kakeknya yang sudah renta. Tangis kian pecah, senja kala semakin terlihat antah-berantah.


Haru terlihat sangat menyedihkan, Bokir, Wulan dan ke empat ajudan Kakek Bagaskara terenyuh dengan apa yang dilihatnya.


Wulan melihat Damar yang masih memegangi Kakek Bagaskara, dan beralih menatap Bu Suci yang hendak berdiri namun terlihat sangat lemah dan rapuh, Wulan lantas menghampiri Bu Suci dan membantunya berdiri.


“Ayah!” lirih Bu Suci memanggil Kakek Bagaskara, lantas mengulurkan tangannya di hadapan Ayah mertuanya.


Netra tua Kakek Bagaskara menatap menantunya dengan sorot mata tajam. Mengisyaratkan ketidaksukaan, namun tiada sepatah kata pun yang terucap dari lisan Kakek Bagaskara. Bahkan tangan Bu Suci tidak beliau gubris.


“Maafkan saya...” lagi suara Bu Suci terdengar sangat memohon.


Kakek Bagaskara meninggalkan pemakaman tanpa menatap Bu Suci, yang masih saja mengulurkan tangannya berharap dapat di maafkan semua kesalahannya.


Bokir berjalan mendekati Damar, dan menepuk pundaknya. Kasihan melihat menantu dari keluarga Wijaya.


Damar mengambil tongkat kayu Kakeknya, dan bersimpuh di samping makam Gusli Wijaya. Menatap batu nisan, kelopak matanya serasa memanas, namun sebisa mungkin ia tahan agar tak menetes. ‘Bapak...” serunya dalam hati. Menangis dalam diam, tanpa air mata, menahan duka nestapa.


••


Di dalam mobil sedan Corolla yang dikemudikan Bokir. Damar duduk di jok depan samping kemudi, ia selalu memperhatikan Ibunya yang terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


Sedangkan Wulan duduk berdampingan dengan Bu Suci yang melamun, menangis tanpa bersuara. Hanya air matanya lah yang mewakili perasaan beliau yang sangat terluka.


Merangkul pundak wanita paruh baya, mengusapnya lembut. Wulan merasakan sebagaimana sesama wanita, pasti akan sangat dilema jika di posisi beliau.


“Sudahlah Bu, jangan seperti ini? Ini bukan kesalahan Ibu ataupun Bapak. Damar yakin Kakek pasti akan memaafkan Ibu,” bujuk Damar agar Ibunya tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri.


Bu Suci tidak menjawab, beliau hanya menggeleng tipis.


Bokir diam sesekali ia menoleh kearah Damar, ia merasa kasihan dengan kehidupan yang di jalani Damar. Dengan tangan kirinya yang melepas pegangan dari kemudi, Bokir menepuk lengan Damar, “Sabar bro, semua ini butuh proses. Saya yakin semua masalah ini dapat terselesaikan dengan cara baik-baik.”


Damar mengalihkan tatapannya yang semula terus saja memperhatikan Ibunya, dan beralih menatap Bokir. “Terimakasih, Kang.”


Selama hampir empat puluh menit terlewati. Mobil sedan Corolla sudah sampai di jalanan depan rumah yang sangat sederhana.

__ADS_1


Beberapa pasang mata yang melihatnya, mengundang berbagai macam pertanyaan. Dan mulai berbicara layaknya seorang penggosip.


Wulan membuka pintu mobil terlebih dulu, lantas memutari mobil dan membuka pintu mobil untuk Bu Suci. Ia menuntun Bu Suci hingga sampai di depan rumah.


Di susul Damar dan juga Bokir..


••


Di ruang tamu


Damar menceritakan semua tentang dirinya yang kini di tunjuk Kakek Bagaskara sebagai Presdir di perusahaan makanan.


Damar menunduk, ia merasa tatapan teduh Bu Suci laksana awan mendung tanpa hujan. Damar tidak ada keberanian untuk menatap Ibunya.


"Maafkan Damar Bu, Damar mengambil keputusan ini tidak meminta restu kepada Ibu terlebih dahulu,” ujar Damar.


Bu Suci menggelengkan kepalanya, heran dengan jalan pikiran putra sulungnya kini. Bu Suci menghela nafas kemudian berujar, “Apa kamu tidak melihat Damar, perusahaan itu sudah bangkrut. Bahkan sudah ditutup?”


Damar menatap Ibunya nanar, “Damar tahu Bu,”


Bu Suci menatap putra sulungnya dengan hati yang kelu, “Lalu, apa yang akan kamu harapkan dari perusahaan itu, Nang?”


Damar menghela nafasnya kali ini untuk membuat Ibunya yakin. Ia bersitatap dengan Ibunya yang jelas saja nampak ragu, “Damar akan berusaha semampu Damar Bu,”


Bu Suci nampak diam, beliau menatap lurus kepada putra sulungnya, dan bertanya "Jadi, sekarang kamu melupakan semua kesuksesan yang ingin kamu gapai dengan cita-cita mu, Damar?”


Damar menggeleng, jelas saja dugaan Ibunya tidak benar. Ia merasa menerima tawaran Kakek Bagaskara bukan serta-merta hanya duduk enak di singgasana tanpa adanya perjuangan. "Tidak Bu, Damar masih saja Damar yang penuh dengan cita-cita untuk mewujudkan impian Damar, menjadi pengusaha sukses dengan jerih payah Damar sendiri.” sanggahnya.


Bu Suci menggeleng cepat, "Kamu, tidak mengerti seperti apa kerasnya dunia bisnis, Damar! Bahkan bisa saja akan melukaimu,”


Damar merasa peringatan Ibunya tidak main-main, ia tidak menjawab Ibunya. Damar tidak ingin lebih mendebat Bu Suci. Konsekuensi yang akan ia dapatkan nantinya, tentu sudah Damar pertimbangan sebelum menerima tawaran Kakek Bagaskara.


Damar mengalihkan tatapannya menatap Danum yang sejak tadi hanya diam. Lalu kembali menatap Bu Suci dan mendekati Ibunya, lantas bersimpuh dilantai. Memegang tangan Ibunya,


“Bu, do'akan Damar selalu. Damar yakin tidak ada suatu keburukan satu pun yang akan mendekati Damar, selama doa Ibu yang menjadi perisai untuk melindungi Damar.” pinta Damar dengan suara lembut.


Bu Suci mengusap kepala putra sulungnya, air mata tidak lagi dapat terbendung, menyapu pipi yang sudah melewati masa-masa mudanya, “Restu Ibu, selalu menyertaimu Nang.”


Tiada jimat yang di keramatkan yang ampuh di dunia, selain doa orang tua.


Bokir dan Wulan yang sejak tadi hanya diam saja, lagi-lagi mereka menyaksikan betapa lemah lembutnya seorang Suciati dalam mendidik kedua putranya agar menjadi manusia yang berguna, mandiri dan tidak mudah putus asa


•••


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2