Presdir Cilok

Presdir Cilok
59 Simpan saja air matamu


__ADS_3

Dengan berani Damar menatap Kusumo dan Ana, ia memasang wajah dengan senyuman menyeringai. “Halo Tuan Kusumo, bagaimana kabar Anda?”


•••


Kusumo dan Ana menatap dengan sorot mata tajam, menggambarkan ketidaksukaan. Laksana seekor singa yang siap menerkam seekor tupai melompat. Kusumo bersitatap dengan Damar dan beralih menatap tangan Damar yang di ulurkan di hadapannya.


“Cihh...” Kusumo berdecih, lelaki setengah baya yang berpakaian jas formal dengan gagah ini. Enggan menanggapi tangan Damar, seolah tangan yang terulur di hadapannya penuh dengan kotoran.


Damar kembali menarik tangannya sendiri, ia sudah tahu ini akan terjadi. Damar tersenyum simpul, “Tenanglah Tuan Kusumo, tangan saya bukanlah tangan orang miskin lagi. Bahkan jabatan Anda sekarang pun dapat saya singkirkan dengan sekali hentakan tangan yang Anda anggap hina ini,”


Damar bisa mendengar suaranya sendiri, bahwa ia sedang berbicara layaknya dengan kesombongan. Bahkan, ia sendiri pun tidak yakin akankah jabatannya saat ini mampu menggoyahkan iman Kusumo agar masuk kedalam perangkapnya. ‘Berteguh hatilah Damar!' semangatnya dalam hati.


Ana, wanita setengah baya yang berpakaian kebaya elegan ini sangat terkejut mendengar suara Damar yang ditekankan terdengar sangat berani, telah mengancam suaminya. “Dasar pemuda gila!” seru Ana, mempelototi Damar.


Damar mengalihkan tatapannya dari Kusumo dan beralih menatap Ana, dengan senyuman menyeringai, Damar membalas tatapan tajam Ana, ibu dari Ratna. Damar lantas menjawab cibiran Ana dengan suara yang ditekankan, “Iya Nyonya Ana, Anda sangat benar sekali. Saya memang gila! Dan Anda bebas jika menyebut saya sikopat. Suatu saat nanti, suami yang Anda banggakan ini, akan merangkak meminta jabatan dan pertolongan kepada saya hahahaha.... Camkan ini baik-baik!”


Ana dan Kusumo mendelikan matanya, menatap Damar. “Dasar pemuda sinting!” bentak Kusumo meradang.


“Us..us..uuhs.. Tenanglah, Tuan Kusumo, kecilkan suara. Simpan saja makian Anda! Anda tidak mau, bukan? Semua tamu kolega bisnis Anda disini tahu seperti apa tabiat buruk dan liciknya, Anda!” jawab Damar, dengan nada suara seperti gertakan.


Semakin terlihat jelas, Kusumo dan Ana sangat menahan amarahnya. Laksana kobaran api yang menyala-nyala.


“Kamu!” amarah Kusumo semakin menggebu-gebu. Hampir saja tangannya mengayun dan terangkat hendak menggampar wajah Damar, namun tatapan dari kolega bisnisnya membuatnya mengharuskannya untuk tetap bersikap ramah.


Damar mengangkat satu alisnya, sangat meremehkan amarah yang tersirat dari raut wajah orang tua mantan pacarnya. Ia kembali melangkahkan kakinya mendekati mempelai pengantin yang hanya berjarak dua meter dari orang tua Ratna.


Berdiri tepat di hadapan Opik, “Halo Pik, apa kabar? Selamat atas pernikahan mu. Hahaha... tak ku sangka seorang Opik Alamsyah menikahi wanita bekas pakai,” Damar menyindir dengan sengaja untuk menyulut perangai buruk Opik. Dan dengan sengaja pula Damar tidak mengulurkan tangannya, dihadapan Opik. Ia tidak ingin lebih menjatuhkan harga dirinya, di hadapan musuh-musuhnya.


Pernikahan yang semula nampak bahagia, kini seolah bersitegang..


Jelas saja Opik merasa terbakar, mendengar ejekan Damar, sebisa mungkin ia tahan. Karena tamu undangan yang hadir adalah dari golongan pebisnis dan konglomerat, “Hehh... Jadi kamu datang kesini cuma mau mengatakan itu, Mar? Kalau kamu iri, itu wajar. Tandanya memang kamu nggak mampu!” cetus Opik dingin.


“Hahaha... Iri, kenapa dari dulu kamu suka bercanda Pik, seorang Damar tidak pernah iri, aku sangat bersyukur akhirnya dapat terlepas dari wanita matre!” cetus Damar. Seraya geleng-geleng kepala.


Opik beralih menatap Ratna yang masih saja speechless menatap Damar. Lantas menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat, untuk memperingati Ratna agar tersadar.


Ranta mengalihkan tatapannya menatap suaminya, jeda beberapa detik ia beralih menatap tangan yang di genggam erat oleh Opik.


Opik kembali bersitatap sengit dengan Damar,


“Pinjam darimana pakaian norak mu ini?” tukas Opik dengan pertanyaan mengejek.


Damar enggan menjawab pertanyaan Opik. Sekilas ia melihat tangan Ratna yang di genggam erat oleh Opik. Lalu mengalihkan tatapannya menengok kebelakang tepat dimana kedua wanita cantik sedang berdiri menunggu antrian untuk mengucapkan selamat.


Damar kembali menatap Opik, ia bisa sedikit santai berada di atas panggung pelaminan memberikan selamat lebih tepatnya mengejek kedua pendusta. Karena hanya ada dirinya, Wulan dan Siska yang sedang memberikan selamat di atas panggung pelaminan. Sementara tamu undangan yang lain, tengah menikmati jamuan yang di hidangkan.

__ADS_1


Damar mencondongkan tubuhnya lebih mendekati Opik selayaknya sedang memeluk temannya, lantas berbisik di telinga Opik, yang jelas terlihat sangat mendidih, “Jangan takut pengkhianat! Aku tidak seperti dirimu yang suka dengan barang bekas! Lihatlah wanita di belakang ku, kedua wanita cantik ini sedang memperebutkan diriku. Dan mereka masih tersegel, hahaha...”


Opik melihat kedua wanita yang berdiri di belakang Damar, ia tertegun melihat kecantikan keduanya. Ia benar-benar merasa terhina atas ucapan Damar.


Damar kembali menarik diri dan berdiri tegak, lalu kembali melangkahkan kakinya, berdiri tepat di hadapan Ratna, ia tersenyum simpul. “Selamat Na, jangan lupa bahagia. Hanya itu kata yang dapat aku sampaikan, tiada uang, tiada harta.” ucapan Damar secara alami menyindir Ratna.


Tatapan mata Ratna berkaca-kaca, “Mar...”


Damar enggan menjawab panggilan Ratna, bahkan ia menatap Ratna dengan sorot mata dingin.


Ratna tak kuasa menahan air matanya, tanpa kuasa dan tanpa daya. Laksana sungai yang mengalir, jatuh tanpa permisi membasahi pipi dengan rona merah. “Makasih, Mar. Kamu mau dateng kesini,”


Damar tersenyum, “Simpan saja air matamu Na, tak guna kamu menangis. Apakah tangisan mu sedang mengejekku? Hahaha...” sinis Damar terkekeh ringan.


Ratna terhenyak, dengan ucapan Damar.


Wulan yang berdiri tepat di belakang Damar, ia merasa inilah perannya masuk untuk lebih memanaskan suasana yang sudah menggelegar ini. Wulan menyelipkan tangannya ke lengan Damar.


Ratna melihat tangan seorang wanita berparas cantik, di belakang Damar tengah mengalungkan tangannya di lengan Damar membuat pemandangan matanya sangat miris, ia menatapnya nanar. Seolah ada sesuatu yang terasa nyeri menusuk relung hatinya.


Damar beralih menatap lengannya sendiri, dan kembali menatap Ratna. Ia dengan sengaja mengalihkan posisi tangan Wulan, dan menggenggamnya mersa menyelipkan jari-jarinya di jemari lentik Wulan, “Makasih Na, berkatmu yang telah tega berdusta, kini aku mendapatkan wanita idaman, tanpa memandang fisik dan harta.”


Ratna menatap Damar dan beralih menatap wanita yang tidak dikenalnya.. hatinya semakin kelu..


Namun, Wulan lebih memilih diam. Ia sendiri pun tidak suka dengan seorang pengkhianat dan pendusta. Seolah ia membiarkan dirinya sebagai pelampiasan Damar untuk membalas perbuatan Opik dan Ratna.


Damar kembali melanjutkan langkahnya dengan ramah menjabat tangan orang tua Opik..


Setelah dari panggung pelaminan, Wulan benar-benar melampiaskan hasratnya untuk makan hidangan yang sudah disiapkan. Seolah memang inilah tujuan yang sebenarnya.


Sedangkan Siska ia lebih memilih mengambil minuman, dan heran akan cara Wulan yang tanpa basa-basi pasca turun dari atas pelaminan pengantin, langsung menyambar hidangan.


“Mar, sebenarnya siapa sih cewek itu? Pacar kamu?” tanya Siska kepada Damar, yang berdiri tepat disebelahnya tengah mengamati orkestra yang menjadi pengiring untuk memeriahkan gelar acara pernikahan Ratna dan Opik.


Masih tak mengalihkan fokusnya menatap orkestra, Damar menjawab sekenanya, “Bukan,”


“Terus kenapa kamu mesra banget sewaktu dihadapan Ratna dan Opik, apa karena kamu pengen membalas perbuatan mereka?” tanyanya, menyelidik.


Damar menoleh sekilas kearah Siska, dan kembali menatap panggung orkestra, dalam otaknya Damar sedang menyusun rencana, lantas menjawab pertanyaan Siska sekenanya, “Kalau saja di sebelah ku itu kamu, aku pun akan melakukan hal yang sama. Bahkan aku akan memelukmu di hadapan mereka.”


Siska merekahkan senyuman mendengar penuturan pria yang disukainya. Dan lebih membuatnya bahagia adalah kabar Damar dan teman kuliahnya, yaitu Ratna memutuskan untuk berpisah. Lebih-lebih Ratna kini menikah. “Kesempatan emas ku, hihi...” serunya senang.


Telinga Damar agaknya terganggu dengan seruan Siska, “Kesempatan apa Sis?”


Siska menatap Damar lekat, “Kesempatan untuk...?” Siska menggantung ucapnya, ‘Masa iya aku duluan yang ngungkapin perasaan? Gengsi akh. Biar si Damar aja yang diam-diam terpancing dan dia juga yang menyatakan cinta, hihi..' selorohnya dalam hatinya. Membayangkan jikalau Damar menyatakan cinta padanya.

__ADS_1


Damar heran, melihat tingkah laku Siska yang senyam-senyum sendiri. “Sis, hey Siska?” agaknya seruan Damar tidak cukup membuat Siska tersadar. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan Siska yang masih saja terbengong-bengong. “Aku ke sana dulu Sis!” lagi Siska masih melamun..


Damar pun benar-benar meninggalkan Siska, yang masih melamun kan diri.


Saat Siska tersadar ke samping dengan senyuman merekah, serekah bunga kelopak merah. Damar sudah berjalan menjahui dirinya dan kini berdiri di atas panggung orkestra.


Diam-diam Ratna masih memperhatikan Damar dari atas panggung pelaminan..


“Halo, para hadirin yang berbahagia.” suara Damar menggema di seluruh sound sistem yang ada di setiap sudut ruangan hotel yang di jadikan resepsi pernikahan Ratna dan Opik.


Semua tamu undangan pernikahan pun, melihat kearah panggung orkestra. Dan melihat seorang pemuda dengan pakaian yang menawan memperlihatkan ke gagahan dari seorang pemuda yang sedang memegangi mikrofon.


Bukan hanya para tamu undangan, keluarga Kusumo dan keluarga Opik pun melihat kearah panggung orkestra, mereka membelalakkan matanya atas tingkah yang Damar lakukan. Sebagian ada yang mengenalinya sebagian ada yang tidak mengenalnya.


Wulan yang sedang menyendok kue keck kedalam goa mulutnya pun tercengang dengan apa yang akan di lakukan Presdir nya. “Kekonyolan apa yang akan dia lakukan?”


Damar menatap kearah panggung pelaminan, lalu beralih menatap tamu undangan, yang sebagian adalah tamu kolega bisnis Kusumo,


“Baik, terimakasih atas perhatian Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya.”


“Saya berdiri disini ingin menghadiahkan sebuah lagu untuk kedua mempelai pengantin yang sedang berbahagia. Hehe... Kawan baik saya Opik Alamsyah dan Ratna Monalisa, semoga kalian menjadi keluarga yang humoris, eh maksud saya harmonis,”


Seloroh Damar di atas panggung orkestra, menatap ke arah pelaminan, dimana Ratna dan Opik sedang menatapnya pula. Terlebih Opik, andai saja ini bukan di acara bahagianya. Pastilah ia sudah memboikot Damar dengan bogeman halilintar panca roba.


Kusumo juga istrinya pun mempelototinya seolah dua pasang bola matanya akan keluar. Menatap Damar dengan serangan laksana lahar panas yang menggelinding dari kawah gunung Semeru. Wallahu alam.


Sekian menit saling bersitatap dengan ketegangan, Damar kembali bersuara dan mengalihkan tatapannya kepada setiap hadirin yang ikut menjadi saksi pernikahan Ratna dan Opik, kemudian menatap kedua vokalis orkestra, yang seumuran dengannya,


“Tadi saya sudah meminta izin, kepada vokalis orkestra yang tidak lain adalah teman saya Wendi dan Caca,”


“Terimakasih Wendi, Caca. Saya akan membawakan sebuah lagu berbeda, bukan lagu bertemakan romantis khas orang menikah.”


Damar berjalan kearah Wendi untuk di setelkan musik yang akan mengiringi lagu yang akan ia bawakan, sempat terkejut dengan lagu yang di pinta Damar. Namun, pada akhirnya. Wendi dan teman-teman orkestra nya pun menyetujuinya.


“Maaf apabila saya sudah terlalu banyak bicara. Ehmmm... boleh saya minta tolong teman-teman. Iringi lagu yang mewakili perasaan saya,”


Damar memegang mic, seraya menatap ke arah panggung pelaminan yang berjarak tiga meter dari panggung orkestra.


Musik perlahan pun mengalun,


•••


Bersambung...


Mari-mari dukungannya... Saya menerima dengan lapang dan berterima kasih jika ada Kakak pembaca yang berbesar hati berkenan, Vote, like, dan komen, Jangan lupa sertakan gift kalau bisa koin-koinnya.. heleh-heleh ngarep saya? Monggo... Monggo...

__ADS_1


__ADS_2