Presdir Cilok

Presdir Cilok
21 Cilok


__ADS_3

Pria memang lebih cepat move on, tapi wanita lebih baik saat menyembuhkan hati mereka, daripada sakit hati yang dialami pria. Menurut penelitian dari Binghamton University, pria disebut bisa move on lebih cepat, tapi sakit hati yang dialami masih belum terobati dengan sempurna.


Barangkali itulah yang sedang di alami Damar. Meskipun bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Nyatanya kini ia sedang berusaha untuk melupakan sosok Ratna dalam ingatannya.


Setahun bukan waktu yang singkat untuk menjalin asmara dengan gadis yang sudah tega menelantarkan hatinya. Butuh waktu untuk melupakan semua kenangan.


Meskipun Damar merasa lega, sudah meluapkan segala amarahnya yang bersemayam dalam dada di hadapan Ratna dan juga Opik semalam.


Namun semua rasa yang membuncah di dalam hatinya, tidak membuat Damar terpuruk, ia juga memiliki kesibukan yang lebih sibuk dari kebanyakan orang-orang.


Seperti biasa Damar menjajakan dagangan ciloknya, ia tengah menyusuri jalanan yang cukup lengang. Panasnya matahari begitu terik, ia selalu memakai baju lengan panjang untuk menghalau sinar matahari yang bisa saja menghanguskan kulitnya, juga di tambah memakai masker untuk menutupi bengkak pada bibir atasnya.


Bukan perkara ia takut kulitnya menghitam, namun Damar ingin lebih berpakaian rapih ketika berjualan, agar para pembeli tidak merasa risih. Seringkali ia mendengar para Ibu-ibu mengeluhkan tentang pedagang yang berpakaian kumel.


Dari situlah Damar belajar, bahwa ia harus memakai pakaian yang rapih. Meskipun ia hanya pedagang cilok.


Saat hendak menyeberangi jalan, Damar dikejutkan dengan seseorang yang mengendarai motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan, menyerempet gerobak ciloknya dan seketika.


BRAK


Gerobak ciloknya terjungkal dan semua ciloknya jatuh berserakan di jalanan beserta kuahnya. Juga botol-botol toping cilok, saus, kecap, cabe halus dan juga bumbu kacang.


"Astaghfirullah,” seru Damar.


Tidak merasa bersalah, pengendara motor itu pergi lenggang kangkung tanpa perduli dengan keadaan Damar dan tancap gas.


"Edan tuh orang!” teriak orang-orang melihat si pengendara motor yang kabur.


"Woy berhenti! Dasar kancil! Tanggung jawab!” teriak seorang pedagang es dawet keliling kepada penabrak yang melarikan diri.


Orang-orang yang sedang lewat pun ikut membantu Damar, "Sabar ya Mas,” kata salah seorang yang membantunya memunguti panci dandang yang jatuh serta penyok.


Damar tidak mungkin memunguti cilok yang sudah kotor, ia hanya membereskan botol-botol bumbu, juga panci dandangnya.


"Makasih Mas, Mbak.” ucap Damar berterima kasih kepada orang-orang yang sudah membantunya.


"Sama-sama, lain kali lebih hati-hati yah Mas,” jawab seseorang yang menolongnya.


Kerumunan orang-orang yang membantu Damar pun membubarkan diri, Damar sudah kembali mendorong gerobaknya yang mengalami sedikit kerusakan bagian depannya. "Hemmm, ini perlu diperbaiki." gumam Damar.


Di dalam mobil sedan yang berhenti, dua orang sedang melihat kearah pemuda yang sedang mendorong gerobak ciloknya, Mereka sedang memperhatikan Damar.


"Apa kita samperin aja Kir," tanya anak buahnya kepada sang atasan.

__ADS_1


Bokir menoleh kearah teman yang duduk di jok kemudi, "Bego, kalau kita samperin dia sekarang, dia bakalan curiga Jojon!”


"Tapi aku kasihan ama tuh orang, sebenarnya siapa si dia? kenapa Tuan memberikan perintah buat kita mengawasi dia,” tanya Jojon yang tidak tahu misi visi untuk mengawasi Damar, matanya masih memfokuskan menatap Damar di seberang jalan.


"Tuan belum memberikan wejangan lebih lanjut, kita hanya diberi perintah buat ngawasin pemuda colok itu Jon,” kata Bokir, yang kesal akan sifat Jojon yang lebih dominan kasihan menatap orang-orang yang sedang dalam derita.


"Ih, kok colok! Cilok Bokir, Cilok!” seru Jojon, membenarkan ucapan Bokir.


"Iya-- iya. Lidah gue cuma kepeleset!” celetuk Bokir.


"Lah, pakai acara kepeleset, bilang aja kamu nggak pandai bicara!” cibir Jojon


Bokir melirik sekilas kearah Jojon dengan tatapan seperti ingin menelan, "Jasuke!”


"Apa tuh Jasuke?" tanya Jojon tidak mengerti akan istilah yang digunakan Bokir.


"Akh Lo gaptek banget sih, kaya Romusa! Jasuke ntuh! Jangan suka kepo!”jelas Bokir, yang lebih mengerti arti singkatan bahasa gaul.


Pria bertubuh gemuk namun pikiran yang sangat lemot itupun mengerutkan keningnya, "Apa tuh gaptek? Terus Romusa? Janda baru Kir?”


Bokir menggeplak dahi Jojon, PLAK!


"Gusti, lemot amat sih nih pikiran, Napa gue bisa salah merekrut anggota baru sih? Kenapa juga si Wulan pakai acara datang bulan! Udah gitu pakai acara kram lagi perutnya.” kesal Bokir, dengan kekolotan rekan barunya yang di tugaskan untuk memata-matai Damar.


Jengah dengan celotehan Jojon, Bokir pun menyuruh Jojon untuk menyalakan mesin lalu membuntuti Damar, "Jalan Jon, jalan. Ntuh orang yang dagang colok udah jauh dah!” titah Bokir.


Dengan sigap, Jojon pun menuruti perintah Bokir, sang atasan.


Masih dengan kemudi mobil untuk membuntuti Damar secara perlahan, ocehan Jojon kembali membuat gendang telinga Bokir secara tersumbat.


"Tapi aku kasihan e, lihat dia begitu. Udah dorong gerobak ditambah lagi kena tabrak lari e,” ujar Jojon, dengan logat Jawa yang medok.


"Udah dah, diem bae kamu. Berisik, mending aku ama si Wulan, cepet sembuh dah tuh perempuan!” gerutu Bokir, ia lebih memilih bertugas dengan rekan mata-mata yang bernama Nawang Wulan.


"Eleh apaan! Dia kan super duper dingin, kaya es kutub. Masa perempuan nggak ada secuil pun tersenyum," ujar Jojon, mencibir sikap Wulan.


Bokir tidak mengindahkan ucapan Jojon, ia hanya melirik Jojon sinis. "Badan doang bongsor, tapi pikiran kaya tahu bulat. Kosong melompong!” gerutunya.


Sekilas Jojon mendengar celotehan Bokir pun mengiramakan kicauan saat pedagang tahu bulat keliling. "Tahu bulat di goreng dadakan lima ratusan. Mak nyusss!”


Sangat-sangat kesal akan tingkah laku Jojon, Bokir pun mengambil lakban hitam yang ada di laci mobil lantas menyobek lakban dan membekap mulut Jojon, Jojon pun mengerang histeris, "Emmm.... Mmmmm... Mmmm!”


"Diem!” hardik Bokir, sekejap kemudian Jojon diam dan kembali fokus dengan kemudinya.

__ADS_1


Sampai juga Damar di depan rumahnya, ia segera masuk kedalam rumah dan mencari peralatan untuk membetulkan gerobak ciloknya.


Dalam kejadian seperti ini. Damar hanya bisa mengelus dada, ia masih bersyukur cilok yang masih tersisa hanya sedikit meskipun pada akhirnya terbuang percuma.


"Ya Allah, kalau Engkau tidak menyabarkan ku pada siapa lagi aku bergantung.” gumam Damar, dengan segala kegundahan hatinya yang mulai redup.


Kehidupan ini terkadang membuatnya ingin menyerah, ia hanya terus mencoba layaknya batu karang. Yang terlihat kokoh namun sebenarnya rapuh terhantam deburan ombak.


Mbok Mur yang baru tiba di rumah Damar pun melihat Damar tengah membetulkan gerobak ciloknya, lantas bertanya, "Mas Damar, kenapa gerobak ciloknya?”


Damar menengadahkan wajahnya, menatap Mbok Mur, tetangganya yang setiap hari membantu ia membuat cilok. "Ini Mbok, tadi sempat jatuh. Terus gompel depannya,” jawab Damar.


"Kok iso ngunu toh Mas Damar? (Kok bisa gitu sih Mas Damar) tanya Mbok Mur.


"Ya namanya juga dijalan, kadang suka ketemu pengendara motor yang ugal-ugalan,” sahut Damar.


"Terus si pengendara motor kok nggak tanggung jawab?"


"Biasa, namanya juga manusia. Suka takabur Mbok,”


"Walah edan itu orang!” kata Mbok Mur memaki orang yang sudah melakukan penyerempetan terhadap Damar.


"Ya udah Mbok masuk kedalam dulu, Ibumu ada kan Mar?” lanjut Mbok Mur bertanya.


"Damar nggak tau Mbok, Damar belum masuk ke dapur,” jawab Damar, karena ia pulang pun belum melihat Ibunya.


Mbok Mur pun masuk kedalam rumah


Damar melanjutkan membetulkan gerobak ciloknya, namun teriakan Mbok Mur membuat ia kehilangan konsentrasinya. "Aaaaaakkhhhhh....”


Seketika Damar meletakkan palu yang ia pegang di tangan, lantas melesat pergi ke dapur. Dimana sumber teriakan Mbok Mur berasal. Damar melihat posisi Mbok Mur yang masih berdiri di dekat pintu dapur, lalu matanya mengikuti pandangan Mbok Mur yang sedang melihat Bu Suci tergeletak di lantai dapur.


Damar menghampiri Ibunya yang tak sadarkan diri,


"Ibu.” ucap Damar panik.


"Astaghfirullah, Ibu-ibu kenapa?” tanya Damar dengan kepanikan. Mbok Mur yang tidak tahu menahu hanya mengangkat bahunya.


"Mbok, juga nggak tau. Pas Mbok Mur masuk kerumah Ibumu udah pingsang Mar.” kata Mbok Mur.


•••


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2