
Keesokan harinya..
Meskipun belum sepenuhnya sehat, akan tetapi kini Damar sudah siap untuk meninggalkan ruangan tepat ia di rawat dengan pakaian yang di bawakan oleh Wulan, pagi tadi.
Dalam hatinya Damar bersyukur, dari semua permasalahan yang dihadapi, ada hikmah yang terkandung didalamnya. Damar teringat akan salah satu ayat suci Al-Quran dalam surah Al-Baqarah 286; (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...)
“Dan itu terbukti benar, lebih baik banyak bersyukur daripada terus mengeluh.” gumamnya.
Ia juga bersyukur di pertemukan dengan orang-orang yang kini seolah menjadi perisai. Dan seorang sekretaris yang bisa di andalkan seperti Wulan, meskipun terkesan dingin dan bersikap acuh. Namun, Damar menyimpulkan, bahwasannya, hati setiap orang memiliki sisi yang penyayang.
Seorang Dokter wanita yang masih muda pun masuk kedalam ruangan, untuk memeriksa keadaan pasiennya. Namun, ia terkejut melihat Damar sudah bersiap dengan pakaian formal, “Anda mau kemana? Anda masih harus menunggu sehat.”
Damar yang sedang menatap keluar jendela dengan susah payah mengancing lengan kemeja putihnya lantas menoleh kearah Dokter cantik yang akan memeriksa kondisi dirinya, “Saya tidak betah Dokter berlama-lama menahan bau obat di rumah sakit, mending kalau Dokter cantik ini selalu menemani saya di sini,”
Mendengar pasiennya menggombal, Dokter Ellena pun menyunggingkan senyuman, pipinya bersemu merah, ia lantas mendekati Damar, dan membantu Damar mengancing lengan kemeja. “Baiklah, kalau nanti ada keluhan jangan sungkan untuk menyambangi saya, eh maksud saya rumah sakit.”
“Haha.. Dokter ini terlihat orang yang humoris,” kekeh Damar dengan tertawa kecil bersamaan dengan Dokter Ellena, “Dokter Ellena sudah punya pacar?” tanya Damar tiba-tiba.
Dokter Ellena pun mengangkat wajahnya yang semula menunduk, terkejut dengan pertanyaan pasien yang wajahnya masih penuh lebam ini, namun Dokter cantik dan terlihat kalem ini hanya menggeleng, dan kembali menunduk mengancingkan kemeja panjang di lengan Damar.
Damar merasa canggung atas pertanyaannya sendiri, “Maafkan saya Dok, wajah Dokter terlalu cantik kalau jomblo, hehe,” cetus Damar.
Dokter Ellena pun mengangkat wajahnya kembali, bersitatap dengan Damar lalu tersenyum simpul, “Apa wanita cantik dan pria tampan tidak boleh jomblo? Bukankah lebih baik sendiri daripada menjalin kasih, tapi di pecundangi? Sampai benar-benar dipertemukan dengan yang sejati,”
Damar manggut-manggut, membenarkan ucapan Dokter Ellena. “Yah, barangkali perumpamaan ini akan selalu menjadi inspirasi saya Dok, karena pada dasarnya jatuh cinta itu mudah tapi tanggung jawab cinta itu tidak.”
Dokter Ellena pun selesai membantu Damar mengancingkan kemeja panjang di lengannya. “Sudah.”
“Terimakasih Dokter Ellena,” kata Damar
Dokter Ellena lantas mengangguk seraya menjawab, “Sama-sama.”
Wulan yang telah menyelesaikan administrasi pun kembali ke ruang rawat di mana Damar berada. Namun, sebelum langkahnya memasuki kamar dengan pintu yang tersingkap separuh, ia menghentikan langkahnya. Wulan tidak sengaja mendengar pertanyaan Damar kepada Dokter Ellena. Ia kemudian berbalik badan dan hendak pergi, dari sana. Wulan merasa tidak baik mendengarkan pembicaraan orang lain.
Dan bertepatan Damar yang mengedarkan pandangannya, menatap pintu yang terbuka separuh dan melihat Wulan sedang berdiri di depan dengan membelakangi pintu yang terbuka. “Nawu!” seru Damar memanggilnya.
Wulan terhenyak Damar memanggilnya, ia lantas berbalik dan menatap Damar serta Dokter Ellena bergantian, canggung dan gugup yang ia rasakan.
Damar bingung dengan Wulan yang masih mematung di depan pintu, “Kenapa kamu masih di sana?”
Wulan menatap Dokter Ellena, dan beralih menatap Damar, “Uhmm... aku sudah menyelesaikan administrasi.”
Dokter Ellena pun mendekati pintu dan tersenyum ramah kepada Wulan, Dokter cantik dan masih muda ini merasa wanita yang sedang berdiri di depan pintu sudah mendengarkan pembicaraannya dengan Damar, “Tidak ada pembicaraan yang spesifik, kami hanya berbincang ringan,”
Wulan bersitatap dengannya, ia merasa aneh mendengar penjelasan Dokter Ellena, “Maaf, aku hanya mendengarnya sedikit, tapi aku nggak bermaksud menguping, sumpah.” kata Wulan seraya mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V.
__ADS_1
Dokter Ellena lantas mengulurkan tangannya di hadapan Wulan, dan memperkenalkan dirinya, “Saya Ellena,”
Wulan menatap tangan Dokter Ellena dan menjabat tangannya, “Wulan.”
Damar pun mendekati kedua wanita yang berdiri di dekat pintu, lalu ia menatap Wulan, “Aku sudah selesai,” dan beralih menatap Dokter Ellena, “Dokter saya permisi. Oh ya soal pertanyaan tadi, anggap saja saya tidak pernah bertanya, hm.”
Dokter Ellena membalasnya dengan tersenyum simpul, dan melihat Damar serta Wulan berjalan beriringan. Ia lantas kembali melanjutkan kembali pekerjaannya, untuk memeriksa pasiennya lain.
Damar dan Wulan berjalan beriringan di koridor rumah sakit. Namun, Damar menghentikan langkahnya di depan kamar rawat inap, diikuti Wulan yang ikut berhenti. ‘Maafin Damar Bu, saat ini Damar nggak bisa bertemu dengan Ibu, karena kondisi wajah Damar yang masih lebam, Damar nggak mau membuat Ibu khawatir.’
Wulan, melihat raut wajah Damar yang terlihat sendu, “Dokter bilang keadaan Bu Suci sudah lebih baik, apa kamu ingin melihatnya?”
Damar menggeleng, lalu ia kembali melanjutkan langkahnya.
Wulan mengangkat satu alisnya, heran dengan sikap Damar. Lalu menyusul Damar yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju luar gedung rumah sakit.
“Dimana Kang Bokir?” tanya Damar, sesampainya di parkiran rumah sakit.
Wulan pun membuka pintu mobil dengan menekan tombol pada kunci mobil, “Lagi ada keperluan.” jawab Wulan bersamaan dengan ia memasuki jok kemudi mobil, dan disusul oleh Damar yang duduk di samping kemudi.
Wulan merasa kali ini Damar lebih pendiam dari pada sebelumnya, yang selalu saja bisa memecahkan keheningan. Wulan melirik sekilas kearah Damar, dan kembali fokus menatap jalanan depan.
“Uhmm... apa masih sakit?” tanya Wulan, canggung. Karena tidak biasanya ia menunjukkan sikap perhatiannya kepada orang lain.
Damar yang sedang memfokuskan tatapannya keluar kaca jendela, lantas menoleh kearah Wulan yang fokus memegang setir. “Masih,”
Damar tersenyum tipis, “Cie... perhatian banget, sampai sentuh-sentuh pipi segala, hm.”
Wulan menyadari tangan kirinya yang berada di pipi Damar, ia berdehem untuk menghilangkan kecanggungan, dan menepuk-nepuk pipi Damar, seolah ia sedang mengecek apa benar Damar masih sakit atau hanya akal bulus.
Damar mendesah menahan sakit, akibat tepukan tangan Wulan yang cukup keras di pipinya yang masih membengkak, “Arhh.. sakit tau!”
“Hehe... sorry, iya masih sakit. Aku kira kamu cuma bercanda,” kekeh Wulan, ia merasa dengan memanggil ‘aku, kamu, lebih menyesuaikan diri dengan keadaannya sekarang.
Damar mendengus gemas, “Iih.. aku kawinin juga.” celetuk Damar.
Wulan melirik tajam dengan ekor matanya, “Kawin, kawin, memangnya ayam. Kawin, aja sono sama Dokter cantik tadi.” sergah Wulan, ia nampak berpikir, “Siapa tadi namanya, oh iya Ellena, dia lumayan juga.”
“Kalau kamu?” celetuk Damar, membuat Wulan salah tingkah dengan pertanyaan ataukah pernyataan yang Damar katakan.
Wulan lebih memilih diam dan fokus menatap lurus ke depan.
••
Sesampainya di depan perusahaan, Damar turun dari mobil ia mendapat tatapan dari para karyawan perusahaan. Bukan tanpa sebab, karena wajahnya yang masih lebam seperti habis tersengat lebah. Namun, Damar tak merasa keberatan dengan tatapan itu.
__ADS_1
Ia melenggang masuk kedalam lift dan disusul oleh Wulan. Sesampainya di lantai empat pun sama, ia mendapatkan tatapan aneh dari para staf di lantai empat.
Begitupun juga Pak Bambang, beliau menunjuk wajah Damar yang masih membekas ruam memerah, “Anda kenapa Mas Damar?”
Damar memegangi pipinya, “Oh ini, habis berantem sama kecoa, Pak Bambang.”
Pak Bambang jelas saja bingung dengan jawaban yang diberikan Damar, bukan hanya Pak Bambang. Staf yang berada di lantai empat pun bingung.
“Kecoa?!”
Damar menangkap kebingungan dari raut wajah Pak Bambang dan para staf yang lain lantas kembali berujar, “Hehe... nggak usah tegang gitu Pak, saya hanya bercanda. Kalau begitu saya permisi.”
Damar kembali melanjutkan lagi langkahnya memasuki ruangannya. Sedangkan Wulan pun kembali ke ruangannya sendiri, untuk menyusun kembali agenda apa saja yang akan di lakukan oleh Damar.
Di dalam ruangannya Damar langsung melakukan pemeriksaan terhadap berkas-berkas dan laptop yang ada di meja kerjanya. Meskipun masih terasa kaku jari-jemarinya berselancar di atas papan keyboard laptop.
Pintu pun terketuk oleh seseorang dari luar, “Masuk!”
Wulan membuka pintu, dan mendekati meja kerja Damar, “Kusumo ingin segera bertemu dengan Presdir perusahaan ini, dia menawarkan logistik pasokan bahan mentah dalam pengolahan makanan. Tempat pertemuannya, di restoran Golden food siang ini,”
Damar tersenyum menyeringai, “Baiklah!”
••
Setelah sholat dhuhur, Damar dan Wulan segera bergegas menuju tempat pertemuan yang sudah di atur oleh sekretaris Kusumo.
Bokir yang baru kembali dari urusannya, pun melihat Damar dan Wulan di lobby kantor. “Kalian mau kemana?”
“Restauran,” jawab Damar sekenanya.
Bokir pun beranggapan bahwa hubungan Wulan dan Damar terjadi begitu cepat, “Cie.. mau kencan yah?”
Wulan membelalakkan matanya, menatap Bokir yang sedang cengar-cengir gaje. “Gundulmu, kencan! Kita mau ketemu sama Kusumo!”
Seketika senyuman Bokir pun sirna, “Bilang kek dari tadi, saya ikut.” Bokir jalan terlebih dahulu meninggalkan lobby kantor dan menuju parkiran, “Bakal ada keseruan lagi nih?! Aseeeek.” Bokir kembali menoleh kebelakang, persisnya kearah Damar dan Wulan yang menatapnya tajam. “Woy, ayok dah.. lagi ngapain pada, buru pergi. Nanti si mafia tanah itu keburu los dol loh.” seru Bokir bersemangat.
Damar dan Wulan pun berjalan menuju parkiran. Wulan memberikan kunci mobil kepada Bokir.
Di dalam mobil, Damar pun bertanya kepada Bokir, “Urusannya udah selesai Kang?”
Bokir mengangguk, “Sudah! Malahan kita punya PR yang harus kita kerjakan malam ini juga.”
Damar dan Wulan saling tatap, lalu beralih menatap Bokir “PR apa?”
“Nanti dong! Kalau urusan ketemu sama Kusumo udah selesai, dan dia tahu kalau Damar sekarang menjabat sebagai Presdir King food yang berganti nama menjadi Amanah food. Saya penasaran pengen lihat reaksinya dia seperti apa? Baru dah, saya kasih tahu kalian, apa PR yang diberikan Tuan Bagaskara.” pungkas Bokir.
__ADS_1
•••
Bersambung..