
Seorang wanita tengah merasakan bahagia, sukacita dan hati yang berbunga-bunga. Bagaimana tidak, ia akan menikah dengan seorang pria yang menjadi tambatan hatinya.
Dengan memakai pakaian kebaya, putih, dan batik tulis sebagai bawahanya. Dengan rikma yang di sanggul sedemikian cantik, terselipkan bunga putih yang mempesona. Aura ayunya begitu terpancar, berbinar-binar.
Saat ini, ia sedang menunggu mempelai pengantin pria, untuk mengucapkan janji suci yang akan mengikatnya ke dalam tali pernikahan.
“Wulan! Damar sudah datang!” seru seorang wanita memanggil Wulan, yang sedang duduk di kursi meja rias.
Wulan yang sudah di dandani bak seorang ratu solo ini pun menoleh kearah temannya, yang juga memakai pakaian kebaya, sebagai pengiring pengantin. Ia hanya mengangguk, lalu kembali menatap dirinya di pantulan cermin.
Kemudian, teman yang memanggil Wulan pun mengiringnya untuk menuju altar resepsi pernikahan.
Namun, Wulan begitu terkejut, syok dan dilematis menyayat ulu hatinya. Ia melihat pria yang akan menikah dengannya justru kini bersanding dengan wanita lain, dan duduk didepan penghulu dengan wajah tersenyum sumringah serta menjabat tangan penghulu.
Dengan hati yang kelu, kemelut pikiran yang merajam, buliran-buliran kristal bening meleleh, menyelaraskan gambaran hatinya yang merana, nestapa dan lara. Ia menyaksikan pria yang dicintainya akan mengikrarkan janji suci pernikahan..
“Saya terima nikah dan kawinnya Angelina Lusia binti Abdul Aziz dengan maskawin emas seberat 25 gram di bayar...”
“TIDAK!!!” Wulan terbangun dari tidurnya, ia membuka netranya lebar-lebar, lalu terduduk dan menyadari bahwa dirinya masih berada di kamarnya yang remang cahaya dari lampu tidur samping ranjangnya. Dengan peluh yang membasahi sekujur tubuh dan wajahnya. Nafas tersengal-sengal seolah ia habis lari maraton.
Wulan segera menepuk-nepuk pipinya dengan sangat kuat. “Astaghfirullah!! Mimpi! Cuma mimpi!” tegasnya, menegaskan dirinya bahwa apa yang terjadi barusan hanyalah mimpi. Tangannya refleks mengusap dadanya, jantungnya bertalu-talu hebat laksana genderang pawai. Dan sesaat kemudian, air matanya mengalir tak terbendung, “Kenapa rasanya sangat aneh, sakit, seakan dadaku tertikam belati, padahal cuma mimpi.”
Wulan lantas menoleh kearah meja kecil samping tempat tidur, ia melihat jam baker di atasnya. Waktu menunjukkan pukul 02:13 dini hari. Ia menggeleng pelan, lalu beranjak dari tempat tidur, dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan diri, agar lebih bugar dan mengharap kejadian yang di mimpi hanyalah sekedar mimpi. Lantas mengganti pakaiannya, dan berjalan kembali ke kamar mandi untuk berwudhu..
Ia mengharap, dengan berwudhu dan melaksanakan sholat malam dapat membuat hatinya merasa lebih tenang... Setelah wudhu, Wulan mengambil mukenah putihnya lalu menggelar sajadahnya membentang kearah Kiblat, dan melaksanakan sholat malam.. dengan khidmat dan berderai air mata mengiringi sholat Qiyamullailnya.
Setelah sholat, ia tidak langsung beranjak dari atas sajadahnya. Berzikir dan berdoa, dalam meminta petunjuk kepada Sang Maha Pencipta, agar senantiasa diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, diselingi dengan derai air mata yang membasahi pipinya. “Ampuni aku, khilaf ku yang tidak ku sadari, maupun yang kusadari Ya Rabb..” sejenak Wulan mengatur nafasnya, menghirup udara memenuhi paru-parunya untuk melegakan hati yang seakan terhimpit oleh bebatuan ngarai.
__ADS_1
“Ya Rahim, apabila benar dia yang akan menjadi imamku, cermin jiwaku, yang rela menghabiskan sisa hidupnya bersamaku, yang ikhlas menerima aku dengan kurangku. Aku ingin belajar bersamanya untuk meraih cinta-Mu. Sesungguh-Nya, Hawa-Mu ini telah mendambakan Adam. Yang akan meredakan tangisku, di sanubari menepis gundah di dalam hati, aku tak ingin lama dalam gelisah ini. Tolong sabarkan aku Ya Rahman, amin.”
Setelah mencurahkan segala isi hati, dan kemelut pikirannya. Kini Wulan merasa lebih tenang, ia menyeka air matanya, berulang kali ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Lalu mengedarkan pandangannya menatap dinding kamarnya.
••
Sementara di sisi lain..
Damar pun sedang duduk di atas sajadahnya, setelah sholat malam dan sholat istikharah serta berzikir. Kini, ia sedang menengadahkan kedua telapak tangannya, dalam berdoa, meminta petunjuk, sekiranya dapat menjadikannya sebagai landasan agar memantapkan hatinya. “Untuk seseorang yang ada di hatiku. Ya Allah, bila diriku belum bisa menjadi yang terbaik untuknya, izinkan aku berusaha memperbaiki diri. Ya Allah, bila diriku belum mampu membuatnya bahagia, jangan biarkan diriku membuatnya sedih dan terluka. Ya Allah, bila hatiku belum sepenuhnya dapat setia, jangan biarkan hati ini berpaling, Ya Allah, Engkaulah yang Maha Tahu dan Maha Pengasih atas Kehendak-Mu. Semua yang tak mungkin menjadi mungkin.”
Usai berdoa dengan kesungguhan hatinya, ia meraup wajahnya dengan telapak tangannya. Mengharap, apabila Wulan benar-benar adalah tulang rusuknya, dialah wanita yang akan menjadi Ibu dari anak-anaknya. Setelahnya, Damar mengambil ponselnya yang terdapat di atas nakas.
Ia lantas menghidupkan ponselnya, sekian menit menunggu ponselnya menyala maksimal. Ada banyak pesan yang masuk, juga panggilan telepon, Termasuk kedua nama wanita, ‘Siska dan Direktur Angelina.’ Dan dari beberapa teman, juga partner bisnisnya.
Namun, Damar mengacuhkan kedua pesan dari wanita itu, ia lebih herannya, tidak ada pesan atau panggilan apa-pun dari wanita yang saat ini sedang ada di dalam pikirannya.
“Kenapa bisa aku menyukai wanita sedingin dan se acuh Nawul?! Tapi, dia memang sudah mengambil hatiku. Lantas apa aku harus melayangkan demo padanya?” gumamnya lirih, diselingi membaca satu-persatu pesan yang masuk, dan salah satunya dari nomor yang tidak bernama. Damar pun membaca pesan dari nomor yang tidak bernama.
“Aneh!” gumamnya lagi, mengacuhkan pesan-pesan yang tidak penting.
“Baiklah, aku akan mengirimkannya pesan, sebagai ungkapan rasa syukur ku bisa mengenalnya.” gumamnya, jemari tangannya pun mulai berselancar di keyboard ponselnya. “Sudah terkirim!” celetuknya, melihat pesan yang ia ketik sudah terkirim cantik ke nomer berinisial ‘Nawul’ tanpa adanya kurir yang menjadi perantara.
••
Waktu pun terus bergulir, menyongsong masa demi masa yang telah terlewati. Setetes demi setetes embun di kuncup-kuncup dedaunan mulai mengering oleh sinar mentari pagi yang mulai sepenggelahan naik menyapa hari. Dan kuning dedaunan pun satu demi satu berguguran meninggalkan tangkainya..
Kini, Wulan memulai aktivitas paginya dengan memasak menu ala kadarnya sebagai sarapan paginya, seperti halnya capcay kuah dan telur dadar gulung daun bawang yang di beri toping saus sambal dan tomat.
Setelahnya, semua masakan matang. Ia melepas celemek dan menggantungnya di gantungan samping pintu dapur, lalu berjalan menuju kamarnya, mengganti pakaian dengan pakaian kerja formal. Wulan melirik ponselnya yang ia diamkan semalaman di atas meja riasnya, setelah membicarakan tentang Damar pada sang Ayah.
__ADS_1
Lalu mendudukkan dirinya, di kursi meja rias, lantas menyalakan layar monitor ponselnya. Betapa bahagianya, setelah mimpi yang tidak mengenakan semalam, ia mendapatkan penawar dari rasa gelisahnya pagi ini. Wulan pun membaca pesan yang masuk dari si pengirim berinisial ‘Kang Cimar’ alias ‘Cilok Damar.’
📱 Ketika rasa rindu ini menyapa, oleh seorang wanita ba’ bidadari surga. Iya, kamu yang baca pesan ini, kamu adalah bidadarinya. Selamat pagi Nawul, garing bat kan? Maaf yah hanya itu yang ku bisa untuk merayu mu.”
Wulan terkekeh geli, membaca isi pesan yang garing abis dari Kang ciloknya. “Nggak usah merayu pun, aku udah klepek-klepek Kang cilok!” gumamnya lirih, dan seperdertik kemudian, ia teringat kembali dengan mimpinya semalam. “Tapi, aku masih kecewa dengan mimpi semalam! Rasanya pengen aku remek-remek dan ku uyel-uyel kalau ketemu sama kamu, Kang cilok!”
Ia pun menaruh kembali ponselnya di atas meja rias. Mengikat rikmanya menyanggul ke atas. Lalu beranjak dari duduknya.. dan berjalan menuju dapur untuk sarapan paginya. Lima belas menit ia habiskan untuk mengunyah dan menelan makanannya.
Setelah sarapan paginya, seperti biasa sebelum akan berangkat bekerja. Sembari menunggu jemputan, Wulan mengambil sapu, dan membersihkan seisi rumah, dan hal berikutnya adalah membuang sampah. Ia pun mengikat plastik berisikan sampah kering yang sudah ia pisah dengan sampah basah. Berjalan menuju pintu utama rumah, ia memegang handle pintu dan membuka pintu bercat putih.
Namun, ia terkejut mendapati kardus yang berada tepat di depan pintu rumahnya lalu membaca tulisan besar yang tertulis di atas kardus berlakban hitam. “Paket untukmu!” ia bingung, dan mengingat kembali, apa ia pernah memesan paket, “Perasaan aku nggak pernah pesan apa pun?!”
Wulan menendang-nendang kardus, akan tetapi tidak ada suara yang terdengar dari dalam kardus, ia lantas celingukan dan hanya melihat orang-orang yang berlalu lalang lewat jalanan depan rumah. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya untuk membuang sampah terlebih dahulu, di tempat sampah yang sudah tersedia di depan halaman. Lalu, kembali menatap kardus misterius.
Karena merasa penasaran, ia pun berjalan menuju dapur untuk mengambil pisau, dan kembali ke teras rumah lantas membuka kardus. Akan tetapi, betapa terkejutnya Wulan sesaat setelah membuka kardus hingga membuatnya jatuh terjungkal kebelakang, “Aaaa...” eranganya menahan sakit di pantatnya yang menghantam lantai teras.
“Astaghfirullah!! Siapa yang jahil ngirim begituan?!” serunya bergidik ngeri . Wulan merasa ingin memuntahkan makanan yang barusan ia makan sebagai sarapan. “Oeeekk!!”
Damar yang baru tiba di depan jalanan rumah yang ditempati Wulan pun membelalakkan matanya, melihat ekspresi wajah Wulan yang sedang bersimpuh dilantai, ia segera keluar dari dalam mobil dan menghampiri Wulan.
“Kamu kenapa?” tanya Damar dengan suara panik.
Wulan menatap Damar, tangan kanannya masih menutup mulutnya, dan menunjuk kardus yang terbuka dengan tangan kirinya. “I--itu!” ucap Wulan mendengung di balik tangannya yang menutupi bibirnya.
Tatapan Damar mengikuti arah kemana jari telunjuk Wulan.
•••
Bersambung...
__ADS_1
♠
[Terimakasih yang sudah like, komen, dan vote. Sehat dan sukses selalu untuk yang membaca karya ini.]