
Dua puluh menit sudah, Dokter berhijab hijau botol ini selesai memeriksa keadaan pasiennya. Ia pun keluar dari kamar perawatan medis, guna memberikan keterangan kepada keluarga dari pasien yang ditanganinya.
“Keluarga pasien?” seru Dokter bernama tag-nya Nisa Farisa.
Danum pun sigap, ia berdiri di hadapan Dokter dengan jarak dua meter. “Saya Dokter, saya adiknya,”
Dokter Nisa pun melihat ketiga pria di hadapannya, ia melihat satu-persatu. “Disini, adakah suami dari pasien?”
Danum, Bokir dan Farhana saling menatap satu sama lain.
“Mas Damar,” gumam Danum. Ia mengalihkan pandangannya menatap Dokter yang menangani Wulan, “Sebentar Dokter, saya panggil Mas Damar, sebentar!” kata Danum, lalu berlari meninggalkan ketiga orang dewasa itu.
Remaja ini terus berlari menyusuri koridor rumah sakit, sampai di depan kamar perawatan intensif Damar. “Mas, Mas Damar!” serunya dengan suara ngap-ngapan.
Damar, Bu Suci, Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia pun menoleh kearah Danum yang masih berdiri di ambang pintu. Ke empat orang berbeda generasi ini, heran melihat Danum yang nampak sangat semangat untuk menyampaikan informasi penting.
Danum pun berjalan mendekati brankar Kakaknya.
“Ada apa toh le?” tanya Bu Suci, mewakili pertanyaan ketiga orang yang sedang menunggu penjelasan Danum.
Danum memegang tangan Damar yang tidak di infus, “Mbak Wulan, Mas...”
Dengan kesehatan yang sebelumnya pulih, Damar memegang kepalanya yang serasa berat, “Ada apa Num sama Wulan, dimana dia sekarang?” tanyanya antusias, namun terdengar lirih.
“Mbak Wulan sekarang di rawat di UGD!” seru Danum.
“Apa?!” seru semua orang, menatap Danum.
“Gimana bisa Wulan di ruangan UGD, Num. Semalam nggak ada kabar dan sekarang di UGD?” tanya Bu Suci panik.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Danum?” tanya Kakek Bagaskara.
Plak... Nenek Ayudia agaknya sudah terbiasa melakukan tampolan di lengan cucu keduanya, “Kamu itu kalau bicara jangan suka sembarangan, Danum!”
Danum menatap satu persatu dari ke empat orang yang ada dihadapannya, ia mengangguk berulang kali, “Bener, suwer Danum nggak bohong! bahkan tadi Dokter nanyain suami Mbak Wulan, yaitu Mas Damar!” kata Danum, seraya mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V.
Dengan susah payah Damar beranjak, ia membuka selimutnya, dan hendak turun dari brankar, namun tindakannya di hentikan Bu Suci. “Ada apa, Bu? Damar ingin ketemu sama Wulan!”
Bu Suci pun menoleh kearah Danum, “Danum, ambilkan kursi roda buat Mas, mu,”
Danum mengangguk, lalu mengambil kursi roda yang ada di samping sofa dalam ruangan kamar perawatan medis Damar. “Ini Bu,”
Danum dan Bu Suci pun membantu Damar turun dari brankar lantas mendudukkannya di kursi roda.
“Cepet Bu, Damar mau ketemu sama Wulan,” seru Damar, tidak sabaran. Kendati demikian kepalanya seraya nyut-nyutan, tapi rasa sakitnya tidak ingin menyurutkan semangatnya untuk bertemu dengan sang istri.
Danum pun mendorong kursi roda Kakaknya, dengan Bu Suci memegang infus Damar. Sedangkan Kakek Bagaskara menuntun Nenek Ayudia berjalan mengikuti kemana langkah Danum menyusuri koridor rumah sakit.
Bokir dan Farhana pun melihat kedatangan Damar yang duduk di kursi roda.
“Mar!” sapa Bokir.
“Dimana Wulan, Kang Bokir?” tanya Damar antusiasme.
“Dia ada di dalam, sedang di tangani oleh Dokter,” jawab Bokir.
Damar pun meminta Danum untuk mengantarkannya masuk kedalam kamar UGD, dan melihat sekilas kearah seorang pria yang tidak dikenalnya.
Dokter dan kedua perawat melihat kedatangan seorang pria yang duduk di kursi roda, Dokter Nisa menyadari bahwa pria yang duduk di kursi roda adalah pasien yang mengalami kecelakaan.
__ADS_1
Kini Wulan sudah kembali sadar, ia tersenyum simpul melihat suaminya telah kembali sadar.
“Nawulku.” gumam Damar, menatap Wulan dari jarak dua meter.
“Apakah Mas Damar adalah suaminya Mbak Wulan?” tanya Dokter Nisa.
Damar mengangguk, ia tidak mengalihkan pandangannya, masih fokus menatap wajah Wulan yang tengah tersenyum sumringah menatapnya pula. “Iya Dok, saya suaminya,”jawan Damar, lantas mengalihkan tatapannya, menatap Dokter Nisa, “bagaimana keadaan istri saya, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa bisa istri saya berada di ruangan UGD?” tanyanya heran, sejak ia sadar tidak menjumpai sang istri, dan kini malah mendapati istrinya tengah berbaring di atas brankar dengan wajah pucat pasi.
Dokter Nisa mengulas senyuman, “Selamat Mas Damar akan segera menjadi Ayah, semula saya sempat khawatir karena istri Mas Damar mengalami pendarahan yang cukup hebat, saya berpikir janin di dalam rahim Mbak Wulan tidak akan selamat, tapi sebuah mukjizat, bahwa janin yang masih sekepalan tangan itu tetap bertahan,” pungkas Dokter Nisa.
Damar membulatkan matanya mendengar penjelasan Dokter Nisa. Rasa-rasanya, kepalanya seperti tersetrum hebat, “A--apa Dokter, istri saya hamil? pendarahan?!” kata Damar terkejut.
Dokter Nisa mengangguk, membenarkan ucapan Damar. “Benar, tapi Alhamdulillah sekarang Mbak Wulan sudah lebih baik,”
“Bagaimana bisa pendarahan itu terjadi?!” Damar beranjak dari atas kursi roda, berniat menghampiri istrinya yang hanya diam saja sambil tersenyum sumringah menatapnya.
Melihat Kakaknya akan beranjak, Danum segera menghentikannya. Karena Damar belum sepenuhnya pulih, kali ini ia mensyukuri apa yang baru saja Dokter Nisa katakan. Danum mendekatkan Damar ke brankar Wulan.
“Hal bahaya apa yang sudah kamu lakukan, Nawulku, sampai kamu mengalami pendarahan?!” Damar mengulurkan tangannya, mengusap lembut pipi Wulan, “Kamu hampir membuatku mengalami kematian dua kali, Nawulku.”
“Jangan berkata soal kematian, kamu sudah membuat ku kehilangan separuh nyawaku,” Wulan mengulas senyuman di bibir pucatnya, Ia membalas usapan lembut tangan Damar. “Aku akan selalu baik-baik aja, selama kamu ada di sisiku, Kang Cimar, apa sekarang kamu sudah lebih baik?”
Damar mengangguk tipis, lalu menarik tangannya dari pipi sang istri. Lantas menumpukan kedua tangannya di pegangan kursi roda, dan beranjak dari duduknya dengan susah payah karena kedua kakinya masih belum bisa sepenuhnya kuat untuk menopang tubuhnya, Damar menghambur memeluk istrinya dari samping brankar. Sungguh ia merindukan Wulan, seandainya waktu dapat menjabarkan seolah sudah satu abad lamanya memisahkan keduanya.
Kedua perawat yang melihat Damar dan Wulan pun tersenyum, rasa haru menyelimuti ruangan UGD saat ini. Begitu pula dengan Dokter Nisa.
“Kalau kondisi Mbak Wulan sudah membaik, siang ini akan di pindahkan ke ruang rawat,” kata Dokter Nisa.
Danum yang mewakili Damar menjawab Dokter Nisa, “Iya Dokter,”
“Kalau begitu saya permisi,” ujar Dokter Nisa, lantas mencolek kedua perawat yang terlihat masih fokus menatap Damar dan Wulan.
Dokter Nisa dan kedua perawat pun keluar dari kamar UGD.
••
Di ruangan perawatan medis Damar kinilah, Wulan di pindahkan itupun atas permintaan Damar yang menginginkan satu ruang perawatan bersama dengan sang istri.
“Nenek sangat senang, sebentar lagi Nenek akan dapat menimang cicit. Wulan tolong di jaga baik-baik cicit Nenek, jangan sampai terjadi pendarahan lagi,” kata Nenek Ayudia semangat, diselingi dengan peringatan.
Wulan mengangguk perlahan, “Iya Nek, kali ini Wulan janji, nggak akan melakukan hal yang dapat membahayakan cicit Nenek,”
Berulang kali, Damar menciumi kening Wulan, ia tidak risih dengan semua orang yang ada di dalam kamar rawat inapnya, sungguh ia sangat bersyukur bisa lolos dari jeratan maut dan kembali bersama dengan istri yang dicintainya.
“Aku sangat mencintaimu, Nawulku,” ungkap Damar, inilah kali pertama Damar mengungkapkan rasa cintanya.
Wulan tersenyum lembut, “Terima kasih, sudah mencintaiku, sudah kembali lagi bersamaku.”
“Sebenarnya, Danum masih heran. Misi apa yang dilakukan Mbak Wulan?” kata Danum, ia mengetuk-ngetuk dagunya, seolah berpikir keras.
Kang Bokir merangkul pundak Danum, “Sudahlah Num, jangan di pikirkan misi yang di katakan Wulan, sekarang lebih bersyukur aja karena semuanya baik-baik aja,”
“Assalamualaikum,” sapa seorang wanita di ambang pintu bercat putih.
Semua orang pun menatap kearah pintu dan melihat wanita yang berdiri dengan menggendong bayi, “Wa'alaikumussalam..”
“Mirna!” seru Bokir, lantas menghampiri istrinya.
“Pipi, kenapa sih kamu susah banget di hubungi, kan kasihan anak kita semalem dia rewel terus.” kata Mirna, mengomeli suaminya yang selalu sibuk dalam urusan pekerjaannya.
__ADS_1
“Maaf, Maaf sayang,” kata Bokir bersungguh-sungguh, ia lantas menggendong jagoan kecilnya yang baru berusia 2 bulan.
“Masuklah, Nak Mirna,” kata Bu Suci.
Mirna pun tersenyum, dan bergabung bersama keluarga besar Wijaya serta keluarga Ayah Wicaksono yang belum lama tiba di kota Gudeg.
Farhana merasa asing di lingkungan keluarga Wijaya dan keluarga Wicaksono, ia lantas berbalik badan hendak pergi dari ruang perawatan Wulan. Toh, iya berpikir Wulan sudah baik-baik saja, dan Damar juga sudah kembali siuman. Namun, suara yang familiar menghentikan langkahnya.
“Pak polisi Farhana.” seru Wulan memanggil polisi berpangkat perwira yang telah membawanya ke rumah sakit.
Farhana tercenung, kembali menghadap Wulan dan beralih menatap Damar
“Terima kasih, sudah berkenan menolong saya,” kata Wulan, tersenyum simpul.
Semua orang yang kini berada di ruang perawatan intensif Damar pun menatap Farhana, “Sudah menjadi kewajiban ku dalam melindungi setiap orang,”
Kakek Bagaskara mendekati Farhana, lantas beliau menepuk pundak polisi berpangkat perwira itu, “Kamu sudah tau Lan, bahwa polisi berpangkat perwira ini adalah teman masa kecilmu?” kata Kakek Bagaskara, lalu menatap cucu menantunya.
Wulan membulatkan matanya mendengar perkataan Kakek Bagaskara. “M--maksudnya?”
Begitu pula dengan Damar, ia tercenung mendengar apa yang Kakeknya ungkapkan.
“Ini juga berkat kamu Damar, kamu sudah bekerja keras dalam menemukan informasi mengenai keberadaan Farhan, dan ternyata dari informasi teman-teman Ayah, Farhan menetap di Jogja semenjak bencana alam itu,” jelas Ayah Wicaksono.
Wulan menatap Damar, seniat inikah suaminya bisa menemukan keberadaan Farhan. Tanpa sepengetahuannya, Damar meminta orang-orang Kakek Bagaskara dan Ayah Wicaksono dalam mencari informasi terkait tentang Farhan.
Farhana baru mengetahui bahwa Wulan adalah teman masa kecilnya, setelah bertemu dengan Kakek Bagaskara dan Ayah Wicaksono di depan kamar UGD saat Wulan belum di pindahkan ke kamar perawatan intensif Damar.
“Aku beruntung bisa melihat mu lagi Wulan, kamu adalah wanita yang tangguh, sejak kecil kamu sudah di latih untuk menjadi wanita hebat,” kata Farhana, lantas beralih menatap Damar, “kamu sangat beruntung Damar, bukan! biar ku ralat ucapan ku, kalian memang sama-sama beruntung, pasangan yang saling melengkapi, semoga anak kalian menjadi anak yang Sholeh, Sholehah, berguna bagi agama dan bangsa.”
“Amin.” seru semua orang.
“Terima kasih juga, karena berkatmu yang sudah menolong Wulan 17 tahun lalu, kami akhirnya dapat bertemu.” ujar Damar, tersenyum simpul.
Semua orang benar-benar beruntung dapat memiliki teman yang sejati, dalam kehidupan ini. Satu teman yang sejati lebih berarti dari pada 1000 teman yang mementingkan diri sendiri.
...•••Sekian•••...
...•••...
...••...
...•...
Sampai jumpa di next karya, mungkin awal Maret baru saya up. Itupun kalau ada yang menunggu karya saya, hehe...
•
Terimakasih kepada semua Kakak pembaca, yang telah setia membaca karya Presdir Cilok ini, sungguh apresiasi yang sangat besar, telah membuat saya semangat up sampai bab ke 132 ini. Terimakasih untuk semuanya.
Sebenarnya karya ini ikut serta dalam lomba dalam tema Mengubah takdir, dan Kakek Bagaskara hanyalah sebuah klis cerita untuk membuat Damar bisa cepat kaya, cerita aslinya nggak begitu, Damar sukses karena dari jeri payahnya sendiri.
Dan kenapa alasan saya selesaikan karya ini, karena dari semua perkara yang ada di dalam hidup Damar, atau semua orang yang pernah menghina Damar sudah mendapatkan balasan masing-masing. Jadi, saya berharap tidak ada yang kecewa karena karya ini telah selesai.
Bukan selesai juga sih, karena kehidupan Damar terus berlanjut dan hidup bahagia bersama dengan Wulan. Jadi, Damar-Wulan dapat dikatakan pasangan yang klop!
Jika saya boleh minta tolong, jangan langsung di hapus dari daftar favorit yah😊
Sekali lagi terimakasih 😊 sehat dan sukses semua Kakak setia pembaca.
__ADS_1
Jangan lupa bahagia dan tetap semangat dalam menjalani kehidupan ini.....