Presdir Cilok

Presdir Cilok
96 Keteguhan iman dan hati


__ADS_3

“Jadi, setelah menumpaskan kejahatan Kusumo. Sekarang apa yang mengganggu pikiranmu, Nang?” tanya Bu Suci, melihat raut wajah putranya yang terlihat bimbang.


•••


Damar malu untuk bersitatap dengan Ibunya, ia menunduk dalam-dalam, dan menarik kedua tangannya dari atas meja, lalu memilin jemarinya di bawah meja. Gugup, gamang, bimbang, untuk menyuarakan maksud dihatinya.


Meskipun bukan yang pertama kalinya, ia menjalin asmara. Namun, inilah, kali pertama untuk seorang Damar, mengungkapkan perasaan terpendamnya pada seorang wanita. Karena, dulu pada saat ia menjalin asmara dengan sang mantan, tidak pernah ia utarakan pada Ibunya.


Dan jikalau, Ibunya mengetahui hubungannya dahulu dengan Ratna. Itupun, dari si biang ngadu, yaitu Danum Mahesa. Terkadang Damar merasa, entah akan jadi apa? adiknya setelah lulus sekolah. Karena, Danum selalu saja ingin tahu mengenai hal apapun, seperti halnya seorang jurnalis berita.


Bu Suci menghela nafasnya, menangkap kegelisahan yang tergambar jelas di wajah putranya. Beliau beranjak dari duduknya, lantas berjalan mengambil gelas dan menuangkan air mineral, dan kembali ke meja makan, lalu memberikan air putih kepada putra sulungnya. “Minumlah,”


Bu Suci lantas duduk kembali, di semula beliau duduk.


Damar menarik nafas yang serasa tercekat di tenggorokan, dan menghembuskannya perlahan, ia mengangkat wajahnya menatap gelas yang di berikan oleh sang Ibu, dan mengambilnya lalu meneguk sampai habis hingga hanya tersisa buliran air di dinding gelas.


“Emm... Bu...” masih ragu, untuk bersuara. Seolah pita suaranya tertimbun oleh material kebimbangan.


Bu Suci menghela nafasnya, “Bicaralah Nang, supaya beban di hatimu bisa segera teratasi,”


Damar mulai menatap Ibunya yang menatapnya pula dengan tatapan teduh. “Bu... Apa yang menjadi landasan Ibu dan Almarhum Bapak, ketika memutuskan untuk menikah?”


Bu Suci melebarkan senyumnya, bagaikan matahari fajar. Tatapannya berubah menjadi tatapan berseri-seri seolah kelopak bunga matahari.


Damar semakin malu, meskipun seorang pria. Tapi tidak di pungkiri lagi, bahwa kini jantungnya seperti akan melompat dan berlari meninggalkan dirinya di depan sang Ibu yang sedang menatapnya dengan senyuman sumringah, Damar kembali menunduk.


“Le cah bagus...” ucap Bu Suci, menatap putra sulungnya yang sedang menunduk, beliau tahu betul. Sebagai seorang Ibu, Bu Suci tahu bahwa kini putranya sedang kasmaran.


Damar mengangkat wajahnya, bersitatap dengan Ibunya.


Senyuman di wajah layu Bu Suci, masih terlukis di sana. “Istri adalah amanah untuk suami. Pernikahan menyikap tabir rahasia. Suami-istri haruslah berkomitmen hidup suka maupun duka. Bersama menerima kekurangan serta kelebihan untuk mengarungi bahtera rumah tangga, Nang,”


Damar tertegun, mendengar nasehat bijak dari Ibunya. “Jadi, apa yang mesti Damar lakukan Bu, apa Damar harus memantaskan diri terlebih dahulu? Untuk sebaik-baiknya jodoh Damar?”


“Nang, kamu ndak bisa membangun jalan, kalau Ndak ada batunya. Kamu ndak bisa membangun rumah, kalau ndak ada fondasinya. Kamu ndak bisa membangun cinta, kalau ndak ada persahabatannya. Karena menikah bukan hanya tanda tangan di buku nikah, dan penghulu berkata sah. Kamu harus mempunyai keteguhan iman dan hati, agar bisa menjadikan pernikahan dan rumah tangga yang akan kamu pimpin menjadi suatu ibadah hanya mengharap Ridho Gusti Allah, Nang,” jelas Bu Suci, menyingkap tabir rahasia pernikahan yang seharusnya.

__ADS_1


Meskipun beliau sendiri tahu, pernikahan yang di jalaninya dengan Almarhum Gusli. Tidak mendapat restu, namun harus mempunyai keteguhan dan pondasi yang kuat untuk saling menerima satu sama lain dalam suka maupun duka.


Damar manggut-manggut, menyerap semua nasehat bijak sang Ibu. Agar, menjadi landasan untuk ia memantapkan keteguhan hati serta imannya, dalam menjalin keseriusan dengan pilihan hatinya.


“Siapa wanita yang menjadi pilihan hatimu, Damar?!” seru Kakek Bagaskara menyambar pertanyaan, yang baru tiba di ruangan dapur dengan mendorong kursi roda Nenek Ayudia.


Bu Suci dan Damar pun menoleh kearah datangnya Kakek Bagaskara.


Bersamaan dengan Danum yang berlari-lari kecil dari arah kamarnya menuju ruangan dapur yang menghubungkan dua ruangan sekaligus, ruang dapur dan ruang makan. “Mas, Mas Damar! Aku tahu siapa inisial Nawul itu!”


Tatapan Bu Suci dan Damar pun beralih menatap Danum yang berdiri di samping belakang Kakek Bagaskara. Begitupula dengan Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia yang menoleh kearah cucu keduanya yang sudah berdiri di sebelahnya.


Terlebih Damar, ia mempelototi adiknya.


“Apa sih Mas Damar, begitu amat natapnya, kan-kan aku yang pemalu ini jadi semakin malu!” gerutunya pada sang Kakak.


“Biasanya aja, malu-maluin!” celetuk Damar.


Danum mencebikkan bibirnya, “Ck, apa sih Mas!”


Kakek Bagaskara pun melepaskan pegangan tangannya di kedua sisi pegangan kursi roda.


Danum pun beralih mendorong kursi roda mendekati Ibu dan juga Kakaknya yang sedang duduk di kursi meja makan kayu jati dengan ukiran kayu khas Jepara.


Kini, Kakek Bagaskara, Nenek Ayudia dan Danum berkumpul di ruang makan, bergabung bersama dengan Damar dan Bu Suci. Dan melanjutkan pembahasan mengenai hal yang di bicarakan Damar dan Bu Suci.


“Jadi, siapa Nang, gadis yang akan menjadi anak perempuan Ibu?” tanya Bu Suci, menelisik pikiran putranya.


“Betul, siapa wanita yang akan memberikan cicit pada Nenek, Mar? Kamu tidak lihat, malaikat maut sudah menghampiri Nenek 72 kali dalam 24 jam, Nenek berharap, sebelum Nenek benar-benar pergi untuk selamanya, Nenek masih bisa melihat cicit Nenek,” kata Nenek Ayudia, ikut bertanya, dan mengharap bisa melihat cicitnya.


“Nenek, jangan berkata seperti itu,” kata Damar, ia pun menatap Ibunya, beralih menatap Nenek Ayudia, dan Kakek Bagaskara.


“Nawul!” celetuk Danum, “Iya, Nawul, Nawang Wulan!” serunya senang, dapat mengingat nama panjang sekretaris Kakaknya.


Remaja inipun kembali mendapat peluru tatapan dari Ibu, Nenek, dan Kakeknya. “Bu, Nek, Kek. Iya Mbak Wulan, Danum serius!”

__ADS_1


Sementara Damar menunduk sambil menggigit bibir bawahnya, ia malu untuk menatap ketiga orang dewasa yang duduk di hadapannya.


“Benar apa yang di katakan adikmu, Damar?” tanya Kakek Bagaskara, menatap putra pertamanya yang menunduk.


Damar tidak menjawab dengan suara, ia hanya mengangguk mantap. Tanda membenarkan ucapan adiknya. Dalamnya ia menunduk, untuk menyembunyikan kemerahan alami yang tergambar jelas di kedua pipinya. Damar tersenyum senang, ‘Cinta dan persahabatan kali ini, sangat terasa!’


Kakek Bagaskara, dan Nenek Ayudia pun menarik kedua sudut bibirnya. Menampilkan guratan keriput yang semakin terlihat jelas di kedua pipinya.


Bu Suci merekahkan senyumannya, “Naluri seorang Ibu, tidak pernah salah!” beliau memang sudah menduganya. “Bahwa wanita pilihanmu memang pilihan hati Ibu, meskipun saat kamu sedang pergi ke Jawa barat sempat ada seorang wanita berparas cantik yang datang ke rumah untuk mencarimu,” jelas Bu Suci, mengingat seorang wanita cantik, menyambangi kediaman Kakek Bagaskara, untuk menanyakan putra sulungnya.


Damar mengangkat wajahnya, bersitatap dengan Ibunya, mendengar bahwa ada seorang wanita yang datang ke rumah dan menanyakan tentang dirinya. “Siapa Bu?”


“Bernama Angelina,” kata Bu Suci, “Ibu, baru ingat, karena kemarin pas kamu cerita perihal Kusumo, sekejap Ibu lupa,” jelasnya, lagi.


“Anak muda memang seperti itu banyak wanita cantik yang mengerubungi, Kakek pun dulu juga begitu. Tapi pilihan Kakek tetap Nenek kalian, yang cantiknya kekal mengabadi, seperti seorang Dewi, hahaha...” tutur Kakek, Bagaskara, menggenggam jemari tangan istrinya yang sudah keriput.


“Ehem... ehem...” deheman Damar bersamaan dengan Danum.


“Danum nggak menyangka, ternyata Kakek adalah tipe pria yang yomantis.... abiiiss....” cetus Danum, dengan tingkah jenaka.


Damar mengedarkan pandangannya, menatap lukisan bunga tulip merah sebagai penghias dinding ruangan dapur. ‘Parasmu memang ayu, Nawul. Meskipun setiap harinya kamu berpenampilan tomboy. Akan tetapi, welas asihmu, adalah wanita sejati. Dewa asmara aku dendangkan doa. Berilah pertolongan padaku yang sedang jatuh cinta. Berilah kekuatan layaknya seekor harimau, agar rasa ini tak lagi menjadi benalu.’


“Jadi, kapan Ibu bisa melamarnya untukmu, Nang?” tanya Bu Suci, seolah beliaulah yang tidak sabaran untuk menimang cucu.


Damar beralih menatap Ibunya, “Akan Damar bicarakan terlebih dahulu dengan yang bersangkutan Bu,”


“Jika hatimu masih ragu, maka sholat istikharah. Mintalah petunjuk kepada Gusti Allah, Nang. Jika memang Wulan benar adalah jodohmu, bagaimanapun jalannya, Allah akan mendekatkan kalian berdua, begitupun sebaliknya,” tutur Bu Suci.


Damar mengangguk, “Iya, Bu.”


••


Setelah sarapan dan bercengkrama dengan Nenek, Kakek dan Ibunya. Kini, Damar mengantar adiknya untuk terlebih dulu berangkat menuju sekolah.


•••

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2