Presdir Cilok

Presdir Cilok
84 Indahnya pengendalian


__ADS_3

Keesokan harinya..


Burung berkicau merdu, menyatu dengan alam dan semilirnya angin yang menggerakkan dahan serta dedaunan. Dengan semburat kuning jatuh memenuhi halaman rumah berciri khas Indonesia Jawa.


Dari pepohonan yang terjejer di beberapa sudut tembok keliling, kesan asri dapat di rasakan dengan adanya pendopo dan kolam ikan koi juga bunga teratai yang kuncup berwarna pink keunguan.


Duduk di pendopo kayu jati, dan memberi pakan ikan koi, setelah sarapan. Itulah rutinitas baru yang Damar lakukan setelah beberapa hari tinggal di rumah Kakeknya. Damar mengedarkan pandangannya, dan ia melihat Danum yang akan berangkat ke sekolah.


“Bareng yuk, Num?” tawar Damar, seraya menaruh wadah pakan ikan koi di atas papan pendopo.


Danum menggeleng, “Nggak ah, Mas!”


Damar mendekati adiknya yang tengah duduk di bangku tanam sedang memakai sepatu. Lalu duduk disebelahnya, “Kenapa?”


Danum beranjak dari duduknya setelah memakai sepatunya, “Aku nggak mau jadi pusat perhatian, dengan Mas Damar nganter pakai mobil,”


Damar ikut beranjak, ia mengembangkan senyuman, Lalu merangkul adik satu-satunya. Ia menyadari betul, bahwa Danum adalah orang yang anti ribet menanggapi pertanyaan dari teman-temannya, “Mas, nggak pakai mobil,”


Danum menoleh, remaja ini mengangkat alisnya, “Kenapa? Mobil Mas rusak?”


Damar menggeleng pelan, “Kangen, pengen menikmati waktu pagi pakai motor Vespa kaya dulu,”


Danum terkekeh, “Hahaha... ku kira, Mas Damar nggak inget lagi sama tuh motor butut!”


Mendengar jawaban adiknya yang seperti mengejek, Damar mengeratkan lengannya di leher Danum.


“Aaaaa.... sakit Mas, sakit!” erang Danum, seraya menggeplak lengan Kakaknya.


Damar pun melepaskan rangkulan lengannya dileher Danum, “Danum Mahesa! Denger yah! Kehidupan ini bukan mewahnya kendaraan, tetapi indahnya pengendalian.”


Danum mencebikkan bibirnya, “Ck, iya Mas Damar. Aku tahu, ayo ah.. keburu siang!”


Danum berjalan kearah pintu gerbang, meninggalkan Kakaknya.


Damar menggeleng heran, “Magnum! Kamu nggak pamit sama Kakek, Nenek sama Ibu dulu.”


Danum menghentikan langkahnya, lalu menggeplak jidatnya sendiri, “Weleh... Lali (lupa) aku!” ia pun berlari menyusul Kakaknya masuk kedalam rumah, untuk pamit kepada, Kakek, Nenek dan juga Ibunya.


••


Kini, di perjalanan menuju sekolah SMA negeri, di salah satu sudut kota Bantul. Damar menyetir motor vespanya yang sudah di modifikasi agar mempunyai tampilan yang menarik.


Danum duduk di jok belakang, seraya mengedarkan pandangannya. Namun, pandangannya jatuh pada seseorang yang sedang duduk di pinggiran jalanan. Ia pun melihat Kakaknya dari kaca spion, “Mas...”


“Hem..” sahut Damar, masih fokus dengan laju motornya.


Danum kembali mengedarkan pandangannya, melihat orang yang sudah semakin jauh dari penglihatannya, “Mas Damar, udah move on kan dari Mbak Ratna?”


Damar mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Danum, “Kenapa emang?”


“Iya, nggak apa-apa, cuma tanya aja. Soalnya tadi aku lihat Mbok berek duduk sendirian di pinggir jalan,” jawab Danum, menyebut Ratna dengan sebutan Mbok berek.

__ADS_1


“Kamu nggak percaya sama Mas mu ini, Num?” Damar melirik adiknya dari kaca spion.


Alis Danum terangkat, “Percaya soal apa?”


“Sudah, lupakan! Kenapa jadi bahas masa lalu!” Damar menghentikan laju motornya.


Danum terhenyak, ia mengira Kakaknya marah, karena sudah membahas soal Ratna, “Kok berhenti Mas? Mas Damar marah. Kalau tadi aku nggak lihat dia, aku juga nggak bahas soal si Mbok berek itu! Napa si nih mata, nggak merem aja, ih.” gerutunya, seraya mengucek-ngucek matanya yang tidak sengaja melihat mantan pacar Kakaknya.


Damar menggeplak paha adiknya yang di balut celana biru keabu-abuan, “Udah sampai, Magnum....”


Danum mengedarkan pandangannya, melihat sekolah tempat ia menimba ilmu di seberang jalan, dan kembali menatap Kakaknya. Ia memasang cengiran kuda, “Hehehe.... Iyah, udah sampai!” Danum pun turun dari boncengan motor Vespa.


“Sadarkah waktu kita berlalu begitu cepat seperti jam pasir yang setiap saat terus berkurang?” Damar menepuk pundak adiknya, “Jadi, ikhlas adalah segala sesuatu yang disampaikan sebagai kebenaran oleh Tuhan yang harus diterima. Dan sekarang, kamu fokus aja sama UTS mu, awas nanti kalau nggak dapet nilai bagus!” sambung Damar, penuh dengan peringatan.


Danum manggut-manggut, “Insya Allah Mas Damar,” Danum menyalami tangan Kakaknya, “Dan aku juga tahu kenapa Mas Damar cepat move on. ‘Kan, kan sekarang sudah ada Mbak W!” cetus Danum.


“Siapa W?” tanya Damar.


“Wulan!” jawab Danum seraya berlari menuju sekolah.


Damar melihat adiknya yang sedang berlari hanya bisa geleng-geleng kepala, ‘Wulan?' dalam hatinya, ia bergumam. “Tidak ada cinta yang dapat memahami sepenuhnya, jikalau tidak adanya persahabatan yang menjadi landasannya.” lalu menarik gas motor Vespanya.


Kali ini, Damar tidak ingin terjerat dalam permainan hati. Bukan karena masih terjebak di masa lalunya yang dikhianati. Akan tetapi, memilih lebih penting dari pada yang dipilih, ia tidak ingin sampai salah dalam memilih pasangan hidup yang bisa memenuhi separuh dari hatinya, melengkapi agamanya.


Tak terasa, kini ia sampai di depan halaman rumah sekretarisnya. Seperti biasa, ia akan menjemput Wulan, biar bagaimanapun yang menjadikan Wulan masih berada di Jogja adalah dirinya. Jadi, Damar merasa berperan penting dalam menjaga wanita itu, meskipun ada jarak yang harus ia jaga.


Wulan membuka pintu, dan tersenyum simpul menatap Damar. “Aku seneng kalau kamu pakai motor!” serunya lalu berbalik badan dan mengunci pintu.


Damar tersenyum melihat wajah Wulan yang terlihat berseri-seri meskipun tiada riasan tebal di wajah ayu alami sekretarisnya, “Kok seneng? Bukannya kalau cewek lebih suka di jemput pakai mobil apalagi ber'ace? Kalau pakai motor kan panas, udah panas, kena debu lagi?” Damar memberikan Wulan helm


Damar mengangguk, entah kenapa hatinya selalu saja termehek-mehek jika sudah melihat wajah ceria dan senyuman dari raut wajah sekretarisnya. “Oke!” serunya, lalu menarik gas motor Vespanya.


Di selingi semilirnya angin pagi, dalam hatinya, Damar bersenandung merdu, melirik tangan Wulan yang memegang ujung jaket jeans yang ia kenakan.. “Kamu tahu Lan, yang menjadikan pria mengejar-ngejar wanita itu bukan karena kecantikan. Tetapi daya tarik, aromanya, kesopanannya, cara bicaranya, kemudian keanggunannya, dan kebaikannya.”


Di jok belakang, Wulan tersenyum mendengar penuturan Damar. Ia mengangguk tipis, dan lebih mengeratkan lagi pegangannya di pinggang Damar. ‘Entah, kenapa aku sebahagia ini Mar. Tapi, please Lan, please jangan baper! Belum tentu hati Damar sama sebahagia ini dekat denganmu!'



Ratna saat ini sedang berolahraga pagi, sejenak ia duduk dipinggir jalan, di bawah pohon rindang. Namun, saat ia mengedarkan pandangannya menatap lalu lalang kendaraan bermotor, netranya menangkap seseorang mengendarai motor Vespa yang ia sangat kenal sedang berboncengan dengan seorang wanita.


Ratna membulatkan matanya, hatinya kelu. Laksana sebuah pasak yang menancap tajam di relung hatinya. “Damar?!” gumamnya lirih, tatapannya berubah menjadi tatapan sendu, dan mulai mengumpulkan titik-titik air di sana.


Sebuah penyesalan yang mendalam saja, tidak akan pernah bisa mengembalikan sesuatu yang telah hilang.


••


••


Damar dan Wulan pun sampai di pelataran parkiran pabrik. Wulan turun dari boncengan, namun ia kesusahan saat membuka pengait helm.


Damar mematikan mesin motornya, ia turun dari jok motor sesudah memarkirkan motornya. Damar membantu Wulan untuk membuka pengait helm. “Sini aku bukain,”

__ADS_1


Wulan mengangkat dagunya


Damar juga melepas helm di kepala Wulan dengan sangat pelan, agar tidak mengacak rikma cokelat kehitaman milik Wulan yang di kuncir kuda, dan menaruh helm di spion motor.


Wulan merekahkan senyuman, “Makasih.”


“Tersenyumlah setiap hari, karena dari senyuman kita sudah bersedekah.” kata Damar.


Wulan mengerutkan keningnya, “Sedekah?”


Damar mengangguk tipis, “Iya, senyum manismu dihadapan saudaramu adalah shadaqah. HR, Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Hiban.” jelas Damar menerangkan sebuah hadits.


Mendengar penjelasan Damar, membuat Wulan semakin terlena ia tersenyum malu-malu.


Melihat senyuman malu-malu sekretarisnya, membuat Damar juga ikut tersenyum simpul. Keduanya, lantas berjalan beriringan menuju kantor.


Otomatis adegan yang terlihat mesra, mengundang pasang mata hampir semua karyawan, melihat kearah Damar dan Wulan. Mereka masih menganggap bahwa Presdir dan sekretaris Amanah food adalah sepasang suami-istri muda.


“Mereka serasi yah?”


“Iya, Mbak Wulan sama Mas Damar juga bukan orang yang sombong.”


“ Bener tuh, buktinya. Meskipun mereka mempunyai jabatan penting di perusahaan ini, mereka masih mau memakai motor butut.”


Bisik-bisik dari beberapa karyawan yang hendak memasuki area produksi pabrik. Terutama karyawan wanita yang notabene baperan, bawa perasaan.


“Hayo... lagi ngomongin siapa kalian?!” seru pria berkepala pelontos, membuyarkan bisik-bisik yang sedang di bicarakan.


Beberapa karyawan pabrik pun terkesiap, “Pak Bokir!”


“Kita nggak gosipin yang aneh-aneh, yah?”


“Iya,”


“Hem.. tadi aku denger kalian lagi bisik-bisik soal Damar sama Wulan?!” kata Bokir menyelidik.


Beberapa karyawan pun lebih memilih menghindari Bokir, “Pak Bokir yang gantengnya mirip di pilm laga kolosal Bari Prima, kita kerja dulu yak?!”


Bokir pun tersanjung, “Iya, kok tahu kalau aku mirip Bari Prima?!”


“Iya, kalau di lihat dari ujung Monas pakai sedotan!” seru salah satu karyawan.


Mereka pun pergi dari hadapan Bokir, ke bagian produksi pabrik, seraya terkekeh geli. “Hahaha...”


Bokir pun mencebikan bibirnya, “Ck, kenapa mereka suka sekali menerbangkan ku di atas Nirwana, tapi kemudian menghempaskan ku jatuh ke lumpur!”


•••


Bersambung....


Hayo! Jangan lupa tinggalkan jejak, like vote dan komen.. Terimakasih..

__ADS_1


Jika berkenan silahkan mampir



__ADS_2