
Wijaya group Company adalah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batubara di provinsi P dan perusahaan kelapa sawit di provinsi K. Sudah dapat di pastikan, bahwa Kakek Bagaskara Wijaya adalah orang terpandang dan berpengaruh di dalam dunia bisnis.
Dari mulai bisnis yang memakai cara licik dan kotor untuk memajukan sebuah perusahaan. Hingga perusahaan yang jujur mulus karena dirintis dari nol.
Namun baru-baru ini Kakek Bagaskara tertarik membeli perusahaan makanan dan minuman yang hampir saja mengalami keterpurukan karena suatu penyebab. Masyarakat enggan lagi bergantung kepada produk-produk dari perusahaan yang bermerek King food.
Di dalam mobil Mercedes Benz C-Class. Kakek Bagaskara yang tengah duduk di jok penumpang sedang mengedarkan pandangannya menatap jalanan yang dahulu sudah melewati masa remajanya, namun karena perusahaan yang bergerak di pertambangan.
Beliau pun mengharuskan berpindah tempat ke Provinsi P bersama dengan istrinya, Ayudia Sriningsih. Menjalani kehidupan berteman kesepian serta kehampaan setelah kepergian putra satu-satunya yang rela meninggalkan harta kekayaan demi bisa menikahi wanita yang jelas saja tidak mendapat restu dari Kakek Bagaskara.
Di karenakan latar belakang keluarga Suciati yatim piatu, dan di besarkan dalam panti asuhan. Dan bekerja di hiburan malam.
Sekelebat bayangan masa silam, membuat Kakek Bagaskara merasa menjadi manusia yang sangat terluka hatinya dan angkuh. Akibat anaknya Gusli Wijaya yang telah tega meninggalkan keluarga Wijaya hanya karena wanita seperti Suciati.
"Tuan Bagaskara,” seru seseorang yang duduk di jok depan samping sang supir.
Kakek Bagaskara pun mengalihkan pandangannya, dan menatap lelaki yang masih mudah namun sudah menjabat sebagai sekretarisnya. "Ada apa?” jawab Kakek.
Lelaki yang berpakaian formal dengan jas hitam dasi hitam di padukan dengan kemeja putih serta celana panjang hitam itupun menoleh ke samping kearah Kakek Bagaskara, sang pemilik Perusahaan group Wijaya Company.
"Apa Anda tidak mengkhawatirkan jika cucu Tuan Bagaskara yang tidak mengenyam pendidikan itu bisa memegang kendali perusahaan yang sudah terpuruk itu?” tanyanya.
Kakek Bagaskara menyadari betul, akan kekhawatiran dari sekretarisnya yang brilian. Kakek Bagaskara sangat menyukai energik kaum muda yang berpotensi memiliki masa depan dan ambisi seperti dirinya dahulu. Kakek Bagaskara pun berujar.
"Tenanglah Romy, Saya percaya akan kemampuannya. Damar adalah pria yang energik, meskipun demikian Damar tidak mengenyam pendidikan sebagaimana mestinya, dia akan di dampingi oleh staf ahli di bidangnya,”
Kening Romy mengerut, "Maksud Tuan, Pak Bambang?”
Sekian menit menatap Romy sang sekretaris yang berusia 28 tahun ini. Kakek Bagaskara pun kembali mengedarkan pandangannya menatap pemandangan di luar mobil yang sedang melaju pelan, "Bambang adalah direktorat pembinaan pangan dan gizi, dia pasti akan mengupayakan kelancaran perusahaan King food yang hampir tutup itu,”
Romy pun manggut-manggut, "Baiklah Kek, saya rasa analisa Anda memang tidak pernah meleset,” kata Romy, sangat mengagumi sosok sang maestro dalam dunia bisnis ini, Bagaskara Wijaya. Beliau di kenal dengan kecerdikannya dalam menyiasati bisnis dan kewirausahaan tingkat Asia. Meskipun Kakek Bagaskara bukanlah orang terkaya nomer satu di Indonesia.
••
__ADS_1
Setelah selesai makan di restoran yang tidak jauh dari perusahaan.
Di ruangannya Pak Bambang meminta Putra sang asisten marketing untuk memberitahu agar semua karyawan di perbolehkan pulang terlebih dulu. “Minta semua karyawan di bagian produksi untuk pulang saja. Dan besok pastikan semua karyawan berangkat seperti biasa.”
“Baik Pak,” jawab Putra.
“Dan satu hal lagi, minta tim marketing untuk memberitahu semua supermarket dan kantor pemasaran lainnya agar segera melaksanakan tanda tangan kontrak.” ujar Pak Bambang.
Putra mengangguk “Siap, Pak.”
Selepas Putra keluar dari ruangan Pak Bambang yang bersebelahan dengan ruangan Presdir.
Pak Bambang langsung sibuk dengan pekerjaannya serta mengatur strategi untuk produk-produk pangan yang akan di produksi dalam bentuk massal agar tidak mengulur waktu. Demi kelancaran perusahaan.
Beliau adalah orang yang menjabat sebagai manajer sekaligus orang yang di percaya oleh Kakek Bagaskara untuk membimbing Damar.
Kini di dalam ruangan Damar pun tidak kalah sibuk. Selama seharian ini Damar langsung berkutat kepada berkas perusahaan yang ada di hadapannya. Dengan di bantu Wulan serta Bokir yang ikut menjelaskan tentang berbisnis secara energik dan cermat.
Selama pergumulan dengan berkas yang ada di hadapannya, tidak sedikit pun ia mengeluh. Semua seolah sudah Damar terima dengan hati yang lapang pikiran yang tenang.
Tak terasa memasuki waktu dhuhur, Damar beranjak dari duduknya. Dan meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat kaku. Tidak biasanya ia akan duduk selama ini.
Ketika Damar hendak melangkahkan kaki, seruan dari Wulan menghentikan langkahnya, "Mau kemana?” tanya Wulan dengan suara ketus.
Damar berpikir untuk sedikit menggoda wanita yang tidak pernah menunjukkan senyumnya ini. ‘Ketus si ketus, tapi nggak perlu jutek juga kali, aku kerjai akh... hihi. Cari sedikit hiburan.’ oceh Damar dalam hati.
Ia berbalik badan dan memandangi Wulan, hingga Wulan menjadi salah tingkah. Wanita dengan cara bicaranya yang dingin serta acuh ini mengalihkan tatapan mengedar ke dinding ruangan.
Damar mencondongkan tubuhnya membungkuk, mendekati wajah Wulan dan berbisik di telinga wanita berambut cokelat kehitaman, membuat Wulan seakan mencekat nafasnya di tenggorokan kemudian terpejam.
"Sholat yuk?” bisik Damar membuat bulu kuduk Wulan merinding.
Bokir yang melihat keberanian Damar hanya bisa menghela nafas, dan mengalihkan pandangannya sok sibuk dengan buku yang harus ia susun kembali setelah di acak-acak oleh Damar.
__ADS_1
Wulan seketika tertegun bertatap muka dengan Damar dari jarak sedekat ini. Netra hitam keduanya sama-sama terjebak dalam pusaran waktu yang membawa degupan kencang dari detak jantung yang mulai mengirama. Wulan berasumsi bahwa pemuda di hadapannya dapat mendengar irama detak jantungnya.
Wulan mengulurkan tangannya dan mendorong dada Damar dengan cukup keras. Sampai Damar hilang keseimbangan dengan sekejap membuatnya terjungkal kebelakang. Wulan berdiri dan berjalan lantas dengan sengaja menginjak kaki Damar, dibagian betis kanannya.
"Arhhh... Awas kamu!” erang Damar menahan sakit secara refleks memegangi kakinya yang bekas di injak oleh wanita sedingin es.
Wulan hanya menatap sinis kearah Damar yang bersimpuh dilantai dan melenggang pergi.
Sedangkan Bokir hanya tersenyum geli melihat tingkah kedua muda-mudi yang sudah kadaluarsa ini. “Wah.. kayanya bakalan alot dan terus berlanjut nih, ketegangan antara keduanya.” kata Bokir dengan suara kecil.
Menahan pantat dan kakinya yang di injak Wulan. Damar pun berdiri dan bertanya kepada Bokir di mana kamar mandi, "Kang Bokir, dimana kamar mandi?”
Bokir mengangkat wajahnya, "Tuh...” jawab Bokir menunjuk letak kamar mandi yang terdapat di dalam ruangan kantor.
Damar berjalan dengan tertatih-tatih menyeret kakinya, menuju kamar mandi yang di tujukan Bokir. "Dasar tuh cewek, otot kawat tulang besi kali yak? Sedikit-sedikit nendang, sedikit-sedikit adu kekerasan!” gerutu Damar.
Bokir mendengar gerutu Damar pun tersenyum miring, "Siapa suruh, menggoda macan betina!” cetus Bokir.
Suara gemericik air dari dalam kamar mandi terdengar nyaring, karena ruangan kantor Damar cukup kedap suara. Selang beberapa saat Damar keluar dari kamar mandi dengan basah di wajahnya kedua tangannya juga kakinya.
Bokir melihat Damar terlihat bingung dalam mencari posisi untuknya bisa melaksanakan sholat. "Di balik kaca itu, ada ruangan pribadimu juga di lengkapi meja kerja dan kursi. Serta tempat tidur juga mushola kecil.” ujar Bokir.
"Kang Bokir nggak sholat?” ajak Damar.
Bokir menggeleng, "Lagi males, kerjaan masih banyak,"
Damar menghela nafasnya, "Mati nggak menunggu kita siap loh! Sewaktu-waktu tanpa di tunggu dan tanpa dapat di undurkan.”
Bokir terhenyak mendengar penuturan Damar, dengan hati setengah terpaksa ia pun berjalan menuju kamar mandi dan berwudhu. Entah karena seketika ingat mati atau karena merasa malu atas ceramah dari orang yang lebih muda darinya.
Damar melihat kaca lebar yang tidak tembus pandang, berjalan lebih dulu menuju ruangan lain dalam satu ruangan kantornya. Bisa di katakan tou in one. Dan benar saja apa yang dikatakan Bokir, "Ini kantor, apa hotel?" gumamnya.
Ada ruangan lain berpintu di samping tempat untuk beribadah.
__ADS_1
•••
Bersambung