Presdir Cilok

Presdir Cilok
66 Musuh dalam selimut


__ADS_3

Sesampainya di jalanan depan rumah, Damar tidak sendiri. Ada Bokir yang mengemudikan mobil perusahaan.


Damar memperhatikan orang-orang yang berkerumun di sekitar rumah. Ia curiga sesuatu hal yang buruk terjadi. “Kenapa banyak orang yang berkerumun?” gumam Damar, lirih.


“Cepetan kamu turun, Mar. Takutnya terjadi apa-apa sama Ibu dan adikmu!” seru Bokir.


Damar segera membuka pintu mobil dan keluar, ia langsung berlari menuju rumahnya. Tidak memperdulikan kerumunan orang-orang, dipikirkannya suatu gambaran yang buruk terlintas. Sesampainya di teras rumah, ia mengedarkan pandangannya, menatap jendela dengan kaca yang sudah pecah, pintu yang tersingkap lebar.


Saat sampai di ambang pintu rumahnya, ia mengedarkan pandangannya, dan tercengang melihat keadaan ruang tamu yang porak-poranda, sofa yang terbalik serta semua perabotan rumah yang terlihat berserakan dimana-mana. Damar mencari keberadaan Ibunya dan juga Danum, “Ibu! Danum!”


Dari arah dalam, seseorang memanggil namanya, “Damar! Ini adik sama Ibu pingsan!”


Dari suaranya, Damar dapat mengenali bahwa suara itu. Damar segera masuk kedalam rumah, Damar melihat ada dua orang tetangganya yang juga ada di dalam rumah sedang menolong Danum. Damar segera mendekati adiknya dan melihat lebam di wajahnya, “Astaghfirullah, Danum!”


“Ini, kenapa bisa begini?” tanya Damar histeris.


“Kita juga nggak tahu Mar, tahu-tahu tadi ada empat orang tampilannya kaya preman. Terus ngancurin semuanya,” jawab salah seorang tetangga Damar yang menyaksikan preman datang seperti bayangan topan dengan brutal memporak-porandakan isi didalam rumah.


Bokir yang baru memasuki rumah Damar, ia juga ikut terkejut dengan keadaan yang terjadi. “Ada apa ini? Kenapa sangat kacau?!”


“Ibu, Mas, Ibu,” lirih Danum bersuara, mengkhawatirkan kondisi Ibunya.


“Ibu saya dimana Kang Karso?” tanya Damar kepada kedua tetangganya.


“Ada di dapur, Ibumu pingsan. Lagi di tolongin sama Mbok Mur dan Mbak Siti.” jawab Kang Karso


Damar segera berlari kearah dapur, “Ibu!”


Mbok Mur dan Mbak Siti mengalihkan tatapannya, menatap Damar.


“Cepat Mar, bawa Ibu mu ke puskesmas apa ke rumah sakit, takut terjadi apa-apa!” kata Mbok Mur.


••


Di perjalanan menuju rumah sakit,


Danum duduk di samping kemudi, sedangkan Damar menjaga Bu Suci di jok belakang.


Damar sangat panik dan mengkhawatirkan kondisi Ibunya. “Ibu, sadar Bu.” Ia beralih menatap Bokir dari belakang, “Cepet Kang! Cepet!” Damar meminta agar Bokir menambahkan kecepatan laju mobil.


Bokir mengangguk, ia lantas menambah gigi dan menekan gas mobil dengan lebih dalam lagi.


Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya sampai di rumah saki paling dekat. Damar segera keluar dari dalam mobil, dengan membopong Ibunya yang semakin kurus dan layu akibat penyakit diabetes yang mengikis kebugaran tubuhnnya.

__ADS_1


Di susul oleh Danum dan juga Bokir


Sesampainya di lobby hotel, Damar berteriak memanggil tenaga medis. “Suster, dokter tolong Ibu saya!”


Dengan sigap, Perawat yang berjaga menarik brankar dalam penanganan pasien darurat.


Kini Bu Suci sedang di tangani oleh para tenaga medis di kamar UGD, sedangkan Danum sedang di obati lebam di wajahnya oleh seorang perawat pria.


“Siapa yang sudah melakukan ini Num?” tanya Damar yang menemani Danum di ruang perawatan bersama dengan Bokir.


“Sshhh....” Danum meringis menahan sakit, “Nggak tahu Mas Damar, ada empat orang preman yang datang ke rumah, lalu tiba-tiba menghancurkan semua isi didalam rumah. Saat aku mencoba melawan, mereka memukuli ku,” ungkap Danum, ia pun teringat sesuatu.


Danum merogoh saku celananya, ia teringat salah satu preman menyelipkan surat di dalam saku celananya. “I--ni Mas Damar, dia ngasih ini.” Danum memberikan selembar kertas yang terlipat.


Damar mengambil selembar kertas dari tangan Danum, sejenak ia membacanya dengan seksama. Lalu setelah membaca ia meremasnya dan membuang ke sembarang arah. Rahangnya mengeras, urat di lehernya mempertegas bahwa Damar sedang dalam kemarahan yang memuncak.


“Kenapa Mar? Sepertinya itu bukan suatu hal yang baik?” tanya Bokir, yang melihat raut wajah Damar begitu tegang.


Damar tidak menjawab pertanyaan Bokir, ia lantas beranjak dan berkata kepada adiknya, “Jagain Ibu, Mas harus menyelesaikan urusan!”


Bokir melihat keseriusan yang tergambar jelas dari diri Damar. “Saya akan temani kamu, Mar.”


Damar menggeleng, “Nggak Kang, Opik hanya ingin bertemu dengan ku saja, dan aku harus menyelesaikannya sekarang juga!”


Danum membulatkan matanya, menatap Kakaknya, ia pun merasa khawatir. “Jangan lagi berkelahi Mas, kasihan Ibu!”


Damar keluar dari ruangan Danum mendapat perawatan. Ia berjalan dengan langkah jenjang, hatinya bergejolak dalam rasa emosional. Damar keluar dari gedung rumah sakit dan menghentikan ojek yang lewat. Setelah menyebutkan alamat, tukang ojek pun siap mengantar Damar menuju alamat yang di tuju.


Satu setengah jam sudah, Damar sampai di sebuah gedung kosong bekas bioskop yang jauh dari pemukiman penduduk. Damar mengamati gedung kosong yang sangat terlihat seram. Dua kali ini ia datang ke tempat ini. Pertama kali datang, saat ia di ajak duel oleh salah satu geng anak pank.


‘Untuk apa dia ingin menemui ku disini?’ dalam hatinya bertanya-tanya, rasa ingin membalas perbuatan Opik karena sudah berani mengacak-acak rumah serta mencelakai adik dan juga Ibunya. Membuat nyali Damar tertantang.


Berjalan memasuki pelataran gedung yang di tumbuhi semak belukar, dan memasuki lobby gedung kosong berlantai tiga yang sudah tidak berpintu, serta di tumbuhi berbagai semak-semak, rerumputan, dan berlumut. Ia mengedarkan pandangannya, berdiri di tengah-tengah lobby gedung yang bernuansa suram.


“Opik, dimana kamu?!” teriak Damar nyaring.


Dari balik tembok yang sudah terkelupas pelapisnya, Opik dan beberapa preman keluar dari sana. “Aku tahu, nyali mu memang besar Damar!” kata Opik, dengan senyuman menyeringai.


Damar menatap Opik dan beralih menatap empat preman yang sudah mengepungnya. “Jadi apa maksud mu ingin bertemu dengan ku di sini?”


Opik masih berdiri lumayan jauh dari posisi Damar, “Tenanglah Mar, kenapa terburu-buru. Kita main-main saja sejenak,”


“Tidak perlu basa-basi Opik!” sentak Damar berang.

__ADS_1


Opik memberi isyarat, agar ke empat preman yang bertubuh kekar berduel dengan Damar.


“Jadi kamu takut Pik, jika berhadapan denganku seorang diri?!” sergah Damar.


Ke empat preman bayaran menekuk jari jemarinya hingga berbunyi geletukan saling sahut menyahut, seolah mereka siap menghajar Damar.


Pukulan pertama dapat Damar hindari, bahkan ia bisa membalasnya. Namun, Damar kewalahan menghadapi ke empat preman bertubuh kekar yang menghajarnya secara bersamaan dan brutal.


BUGH


Damar dapat membalas pukulan-pukulan dari salah satu preman, namun preman yang lain menendangnya dari arah belakang sampai Damar terhuyung dan jatuh tersungkur. Perkelahian empat lawan satu pun tak terelakkan, Damar jatuh bersimbah darah di bagian wajah dan pelipisnya.


Damar kembali berdiri, seraya menahan sakit di sekujur tubuhnya, yang babak belur. Salah satu preman menendang betis Damar, Damar kembali jatuh terkapar. Ia sudah tidak berdaya untuk melawan, tenaganya sudah terkuras habis. Pakaian yang dikenakannya pun sudah tak beraturan.


Kedua preman menyeret Damar untuk berdiri, memegangi tangan kanan dan kirinya, sedang dua lagi bergantian memukuli Damar tanpa ampun.


“Berhenti!” teriak Opik, kepada kedua preman yang masih memukuli Damar yang sudah tidak berdaya. Opik tersenyum menyeringai, ia mendekati Damar yang sudah terkulai lemah.


Opik memandangi wajah Damar yang sudah babak belur, darah segar membasahi sebagian wajah. “Kamu, ingat Mar. Dulu aku pernah menolong mu dari para anak pank yang terkenal radikal! Tapi sekarang aku akan membuatmu terluka parah, bahkan sangat parah dari dua tahun lalu!”


Dengan setengah kesadarannya, Damar membuka satu matanya perlahan, Karena satu matanya sudah merah kebiruan mendapat pukulan dari tangan para preman dan hampir tidak dapat di buka.


Damar menatap temannya yang dulu sangat di anggapnya baik, sekarang seolah musuh dalam selimut, tidak terbayang sebelumnya oleh Damar, bahwa kini Opik bisa sekejam ini padanya. Seolah ini adalah mimpi, dalam sekejap iblis di dalam diri Opik terkuak.


“Allah mengeluarkan kamu dari perut Ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia (Allah) memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur. Al-Hajr ayat 58.” jelas Damar terengah-engah menerangkan ayat suci Al-Quran, yang sekiranya dapat membuka pintu hati nurani Opik.


Opik berpura-pura menggaruk kepalanya, ia seolah menuli tentang ayat yang di terangkan oleh Damar. “Basi! Aku tahu kamu pintar soal agama! Tapi aku tidak butuh ceramah mu, itu!”


Opik kembali teringat akan tujuan awalnya, untuk memberikan Damar pelajaran. “Kamu tahu Mar, karena kamu sudah mengkambinghitamkan pikiran ku, aku menjadi gelap mata dan memukuli Ratna, Hahahaha... aku sangat bodoh Mar, sudah percaya perkataan mu begitu saja!” seloroh Opik. Diselingi terkekeh kecil, sudah seperti seorang psikopat.


“Kamu sangat lugu Pik----” Damar kembali terdiam, ia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, seolah malaikat maut sudah mendekati ajalnya. “Seharusnya, kalau kamu me--memang mencintai Ratna, kamu percaya padanya, bukan malah percaya dengan apa yang di katakan orang lain yang belum tentu itu fakta!”


PLAK


Opik melayangkan tamparan keras di pipi Damar yang sudah basah oleh darah. “Kamu sangat cerdas Damar, aku memang tidak mencintainya. Hahahaha .. iya aku tidak mencintainya.” Opik tertawa lepas, seolah hidupnya memang tidak ada beban.


Aroma bau anyir darah segar menusuk indra penciumannya, Damar terbatuk-batuk dan mengeluarkan cairan merah dari dalam mulutnya. Amarah di dalam hati Damar semakin mendidih laksana lahar panas, “Uhuk--uhuk--- urusan kita, jangan sangkut pautkan dengan keluarga ku, jangan lagi mengusik adik dan juga Ibuku. Atau kalau kamu berani, aku tidak akan segan-segan menghabisi mu dengan tanganku sendiri---”


Opik mengangkat satu kakinya hendak menendang perut Damar. Namun, terlebih seseorang menyerangnya dari arah samping. Opik jatuh terpental cukup keras, akibat tendangan dari seseorang itu.


BUGH


Ke empat preman pun terkesiap, tanpa sadar mereka sudah terkepung...

__ADS_1


•••


Bersambung...


__ADS_2