Presdir Cilok

Presdir Cilok
77 Percaya kepada takdir


__ADS_3

Ba'da isya, setelah menjenguk Ibunya di rumah sakit, serta membawakan Danum pakaian ganti dan makanan. Kini, Damar menuju tempat tinggal sekretarisnya. Di depan rumah minimalis ia memarkirkan motor Vespanya.


Lalu berdiri di depan pintu berwarna putih, “Assalamualaikum..” seru Damar bersamaan dengan suara ketukan dari tangannya.


Dari dalam rumah Wulan menjawabnya, “Wa'alaikumussalam... sebentar!”


Tak lama Wulan membuka pintu dan melihat Damar yang berdiri dengan membelakangi pintu.


Damar memutar badannya, menghadap Wulan yang saat ini terlihat lebih anggun. Dengan rok panjang warna hitam serta baju atasan lengan panjang warna hijau botol. “Cantik!”


Kali ini Wulan tidak ingin terpengaruh mendengar gombalan lelaki di hadapannya, ia berjalan melewati Damar. “Cepet!” serunya.


“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Damar sesudah duduk di atas jok motor, dengan Wulan yang masih berdiri di samping motornya.


“Apa?” tanya Wulan tanpa menatap Damar.


“Kenapa yah, aku merasa kamu lagi menghindari tatapan ku? Memang ada yang salah dari raut wajahku?”


Sesaat Wulan tertegun, “Nggak pa-pa, cuma...” Wulan enggan melanjutkan ucapannya, ia masih merasa pertanyaan Bu Suci terkait hal tentang bersediakah dirinya menemani hidup Damar, membuatnya merasakan perasaan yang aneh jika bersitatap dengan Damar, “Ah.. sudah lah, aku lagi lempeng aja!” sergahnya berkilah.


“Emm.. baiklah kalau kamu lagi lempeng, aku juga mau belok!” jawab Damar, lalu menyalakan mesin motornya.


Sepanjang jalan menuju pedestrian Malioboro, Wulan maupun Damar sama-sama terdiam, keduanya sibuk di pikiran masing-masing.


Tak butuh waktu lama, keduanya pun sampai di tujuannya, dan mencari keberadaan Bokir. “Sebentar, aku telpon dulu, Kang Bokir nunggu di mana,”


Damar mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempangnya, dan mencari nomor telepon Bokir. Berdering sekali dua kali, “Kang Bokir lagi di mana?” tanya Damar setelah tersambung di sambungan telepon.


“Oke!” jawabnya, lantas memutuskan sambungan telepon.


Damar dan Wulan kembali menapaki jalan, dan melewati beberapa stam bangku kayu yang berjajar, Damar melihat Bokir melambaikan tangannya. Keduanya pun menghampiri Bokir.


“Kalian lama bener sih, habis dari mana aja?” tanya Bokir, setelah Damar dan Wulan mendekati meja.


“Dari penghulu!” celetuk Damar, dan duduk berhadapan dengan Bokir dengan sekat meja panjang di tengah.


“Oalahh... Damar mah bisa ae!” seru Bokir.


Wulan menyikut lengan Damar, “Bisa nggak kalau di tanya, jawabnya jangan kemana-mana?! Udah kaya mikrolet!”


Damar cengengesan, “Hehe... Maaf Kang, aku tadi habis dari rumah sakit, soalnya Ibu besok sudah boleh pulang,” jawab Damar, ia pun melihat seorang wanita yang duduk di sebelah Bokir.


“Alhamdulillah, semoga Bu Suci selalu sehat Mar,” jawab Bokir.


Mendengar nama Bu Suci, Wulan menjadi salah tingkah, dan duduk di sebelah Damar seraya tersenyum simpul di hadapan istri Bokir yang sebelumnya sudah ia kenal.


“Amin,” jawab Damar.


“Gimana kabarnya, Mir,” sapa Wulan, kepada istri Bokir yang seumuran dengannya.

__ADS_1


“Alhamdulillah, Baik,” Mirna beralih menatap Damar dan kembali menatap Wulan, “Wah.. udah lama nggak ketemu sama kamu, tahu-tahu kamu sudah punya pasangan toh, Lan?” Mirna mengira Damar adalah pacar Wulan, karena memang ia tidak tahu siapa sebenarnya pria yang datang bersama dengan rekan suaminya.


Wulan membelalakkan matanya, menatap Mirna, ia mengibaskan-ngibaskan tangannya, “Bukan!”


“Doakan saja Mbak!” cetus Damar, seolah menggoda Wulan adalah hal yang bisa mengembalikan mood booster nya. Dan mendapat lirikan tajam dari manik mata Wulan.


Bokir terkekeh mendengar salah mengira istrinya, “Bukan Mimi, dia adalah Damar Mangkulangit, bos kita,” kata Bokir di selingi terkekeh kecil, “Tapi kalau di lihat-lihat kalian memang cocok,” sambungnya lagi, melihat Damar yang sedang menahan senyum dan beralih menatap Wulan.


“Oh, maaf, aku kira kalian pasangan!” kata Mirna.


Damar mengangguk dan lagi-lagi melayangkan ledekan, “Doakan saja Mbak Mirna, semoga kali ini sampai ke pelaminan, hehe!”


Wulan menatap Damar dari samping seraya membulatkan matanya, “Ih, apaan!”


“Udahlah Lan, aminkan saja, siapa tahu memang Damar jodohmu, kan kalian sama-sama jomblo!” seru Bokir.


“Nggak, nggak gitu! Aku nggak jomblo, aku punya seseorang yang jauh di sana!” sergah Wulan. Namun, sesudah mengatakan itu, Wulan menggigit bibir bawahnya dan merutuki dirinya dalam hati. ‘Aduh Lan, ngomong apa kamu barusan! Dodol banget!'


Meskipun terkejut, Damar tersenyum simpul, “Oh begitu yah, selamat. Semoga hubungan ldr mu sukses dan bahagia selalu,”


Wulan hanya mengangguk pasrah


Sedangkan Bokir yang sudah mengenal Wulan sejak lama, menyangsikan ucapan Wulan, “Emang iya, kamu punya pacar? Kok aku baru tahu?!”


Wulan bersitatap dengan Bokir, “Memang, urusan pribadiku harus jadi konsumsi publik!”


“Oke, baiklah- baiklah. Mungkin memang benar apa yang di katakan olehmu,” balas Bokir, meskipun masih meragukan kejujuran Wulan.


Damar pun memanggil pelayan, “Mbak,”


Seorang pelayan wanita pun menghampiri Damar, “Iya, pesan apa Mas?”


“Saya wedang jahe,” kata Damar, lalu ia beralih menatap Bokir, “Kang Bokir, sama Wulan dan Mbak Mirna mau pesan apa? Aku yang traktir,” ucapnya.


“Tadi, aku udah pesan,” jawab Bokir, ia beralih menatap Wulan, “Kamu Lan,”


”Aku teh tarik Mbak, sama pisang keju cokelat.” kata Wulan.


Setelah mencacat menu yang di pesan, pelayan itupun pergi dari sana menuju kedai. Dan tak lama kembali dengan membawa nampak berisikan pesanan Damar dan Wulan.


Obrolan pun berlanjut, tentang membicarakan tentang banyak hal, dan tidak jauh-jauh dari perusahaan dan Kusumo.


Karena malam sudah semakin larut, Bokir pun berinisiatif untuk pulang, “Mar, Lan, saya pulang dulu yah, kasihan Mirna,”


Damar mengangguk, “Hati-hati Kang Bokir mbak Mirna.”


Bokir dan Mirna pun meninggalkan Wulan dan Damar.


Menit pun silih berganti waktu, setelah mengetahui pengakuan Wulan, Damar lebih dingin dan acuh. Bukan karena merasa penasaran tentang siapa pasangan wanita yang sejak tadi hanya diam. Namun, ia lebih menjaga apa-pun hal yang sudah menjadi milik orang lain. Damar lebih fokus memikirkan sesuatu hal tentang gudang penyimpanan. ‘Kenapa perasaan ku ganjal dengan gudang itu, apa ada yang sudah berbuat curang di dalam perusahaan?'

__ADS_1


“Damar!” seru seseorang membuyarkan lamunan Damar.


Wulan dan Damar pun menoleh ke sumber suara,


“Siska!” seru Damar.


“Aku boleh duduk di sini?" tanya Siska, seraya menunjuk bangku kosong berhadapan dengan Damar dengan sekat meja memanjang di tengah.


“Tentu!” jawab Damar, “Kamu sama siapa kesini?” tanya Damar, menatap gadis manis berwajah seperti Ariel Tatum.


Siska tersenyum ramah di hadapan Wulan, dan beralih menatap Damar, “Aku tadi sama Jihan, tapi dia ketemu sama Ratna, karena aku masih sebel sama Ratna ya udah aku cabut dari sana, eh nggak taunya aku lihat kamu,”


Damar dan Siska melanjutkan obrolan, sesekali keduanya tertawa kecil.


Melihat kedekatan Damar dan Siska, membuat Wulan merasa terasingkan. Ia hanya menunduk dan memainkan gelas berisikan teh tarik yang tinggal separuh, dan beranjak, “Mar, aku mau ke toilet dulu.”


Damar hanya menoleh sekilas kearah Wulan, dan mengangguk.


Entah mengapa, mendapat perlakuan dingin dari Damar sebuah rasa hampa merasuki palung jiwanya. Wulan berjalan menyusuri jalanan pedestarian dan toilet hanyalah alasannya saja, apakah rasa ini sebuah kecemburuan? Atau sebuah rasa yang tak berujung? Kenapa begitu menyakitkan?!


Wulan duduk di bangku yang jauh dari keramaian, ia menengadahkan wajahnya menghadap ke langit gelap dengan bias bintang, lalu memejamkan matanya. ‘Oh Tuhan, kenapa rasanya sangat berat aku rasakan.'



Sementara di sisi lain, meskipun ada Siska di hadapannya. Namun, sesekali Damar melirik jam di pergelangan tangannya, ia merasa mengkhawatirkan Wulan yang sudah satu jam lamanya pergi ke toilet tapi tidak kunjung juga kembali.


“Kamu tahu nggak Mar, sebenarnya aku suka sama kamu,” ungkap Siska malu-malu.


Namun, Damar tidak menjawab, ia celingukan mencari keberadaan Wulan.


“Damar!" seru Siska.


Damar menatap Siska dan beranjak, “Maaf Sis, aku pergi dulu.”


Damar berlari meninggalkan Siska yang kecewa dengan sikap Damar, ia mendengus kesal.


Damar berlarian kesana-kemari mencari keberadaan Wulan, bagaimanapun Wulan datang bersamanya, dan pulang pun juga harus bersama. Ia merasa jika sesuatu terjadi kepada Wulan, itu juga tanggung jawabnya, meskipun Wulan pandai berkelahi akan tetapi tetap saja rasa tanggung jawabnya tak bisa berdusta.


Akhirnya Damar menemukan keberadaan Wulan yang tengah duduk di bangku kayu dengan membenamkan wajahnya di antara kedua lekukan lututnya serta tangannya yang memeluk lutut, ia menghela nafas panjang. Lalu menghampiri Wulan, dan duduk di sampingnya.


Merasa ada seseorang yang menduduki bangku di sebelahnya, Wulan pun mengangkat wajahnya. Matanya membulat melihat Damar sedang duduk bersandar pada sandaran bangku sedang menengadahkan wajahnya menatap langit gelapnya malam, Wulan pun menurunkan kakinya dari bangku.


Damar menghela nafasnya, dengan matanya yang terpejam, “Untuk semua manusia di dunia ini. Tuhan telah memberikan sesuatu yang mulia dan baik kedalam hati, selalu jaga hatimu.” lalu beralih menatap Wulan yang sedang menatapnya pula.


Wulan terdiam mendengar suara Damar, namun ia menjawabnya dalam hati, ‘Saatku diam, saatku menutupi semua rasa luka dan lara hati di dalam senyuman palsuku dan saat ku membendung air mataku menahan semua derita. Ku yakinkan diri pada Tuhan karena hanya di tangan-Nya semua kehendak terjadi. Memang tak selamanya hatiku dan pikiranku bisa positif. Tapi aku selalu mempercayakan diri pada takdir.'


Sekian menit bersitatap dengan Wulan, Damar beranjak, “Pulang yuk, udah malem. Seorang teman akan menjaga temannya sampai ke rumah dengan selamat.” Damar berjalan menuju motornya yang terparkir.


‘Kenapa rasanya aku ingin menuli kamu mengatakan hal itu padaku, Damar.’ selorohnya dalam hati, lalu beranjak dengan langkah kaki gamang, mengikuti kemana perginya Damar.

__ADS_1


•••


Bersambung...


__ADS_2