Presdir Cilok

Presdir Cilok
126 Jangan pernah menyerah


__ADS_3

“Jika kamu tidak bisa memelukku, maka peganglah ingatanku dengan hormat. Dan jika aku tidak bisa berada dalam hidupmu, setidaknya biarkan aku hidup di hatimu.” Wulan hanya bisa memegang, memandang, terbawa arus dalam dilema besar. Semu merajam menghantam dinding batas kesabaran, air mata mulai mengering di pipi, hanya meninggalkan jejak sekumpulan air yang mengambang di kedua netranya, yang ruam kemerahan dan sembab.


Netranya tak mampu terpejam, sungguh pilu semakin membeku. Ia duduk di samping brankar, hanya berdua. Yah, berdua dengan sang suami yang tak berdaya, terkulai lemah, dengan mata yang masih terpejam. Sesekali Wulan menatap Monitor yang menampilkan grafis tentang kinerja organ tubuh, misalnya detak jantung, kadar oksigen di dalam darah, atau tekanan darah.


Rasa takut semakin menghimpit sanubari hati dan pikirannya.. Sekilas ingatan kelam kembali memutari otaknya, dimana detik-detik Farhan terseret arus ombak besar. Wulan menggeleng keras, jelas saja ia menolaknya, menolak untuk kehilangan. Ia tidak ingin lagi kehilangan orang yang sangat berarti di hidupnya.


“Nggak, aku nggak akan pernah membiarkan mu meninggalkan ku, nggak akan pernah membiarkan mu melepaskan ku, kita sudah terikat bersama. Peganglah aku, ikutlah aku, karena aku nggak akan pernah meninggalkanmu. Aku bersumpah nggak akan pernah mengecewakan mu.”


Rintihnya lirih, sambil mengusap dahi Damar yang di balut perban.


Dalam sebuah geliat kegusaran, Wulan berpikir. Mengapa demikian sang suami dan Amanah food terjadi dalam sebuah permasalahan secara bersamaan. Bukankah ini aneh? Bukankah ini seperti direncakan oleh seseorang? Lalu siapa? Siapa yang telah bermain-main dengan cara selicik ini? Bukankah ini sangat keterlaluan?


Ataukah ini dendam? Hah, iyah dendam! Jika benar semua ini terjadi akibat dendam yang tak berkesudahan. Hingga harus menghadirkan dua sisi pergolakan antara hidup dan mati. Maka harus dengan cara apa untuk mengendalikan emosi guna pembalasan terhadap orang yang telah tega berbuat sekejam ini? Wulan teringat dengan peringatan Ratna.


“Apakah ini ulah Opik?!”


Wulan memegang dan mengusap punggung tangan Damar, netranya masih dengan setia menatap netra Damar yang terpejam, terlihat di sana wajah damai nan meneduhkan. Seperti dua bulan belakangan ini, saat ia terbangun melihat wajah yang sudah menemani malam dan menyambut pagi dengan wajah Damar yang ceria penuh dengan semangat.


Namun, kini perbedaan seolah nyata? Wajah yang tenang, manik hitam yang meneduhkan ini sedang terpejam dengan goresan memar-memar bekas darah yang mulai mengering di sebelah wajah kiri Damar. Perbedaan yang jelas terlihat! Karena situasi kamar, dan selang masker oksigen yang menutupi separuh dari wajah sang suami.


Lagi.... Wulan hanya bisa menghela nafas berat, berdoa menolak putus asa, semoga suaminya baik-baik saja. Yah, ungkapan kata (Baik-baik saja) selalu bisa menjadi penyemangat di kala hati sedang mencari jawaban di atas segala jawaban.



Sementara itu, di luar ruangan kamar Intensive Care Unit. Danum duduk di kursi tunggu, dengan bersandarkan pada dinding putih rumah sakit. Netranya nanar menatap pintu ICU, ia menghela nafasnya berulang kali. Remaja ini hanya sekilas menjenguk Kakaknya, ia tidak tega melihat keadaan Damar. mengingatkannya pada saat Almarhum Bapak Gusli meregang nyawa.


Sementara itu Bu Suci baru kembali setelah sholat malam di mushola yang terdapat di rest area rumah sakit. “Mbak mu masih di dalam, Le?”


Danum hanya sekilas melihat kearah Ibunya, sesaat kemudian ia mengangguk tipis.


Perlahan Bu Suci membuka pintu kamar ICU, hatinya serasa teriris. Bukan hanya melihat satu orang saja yang terpuruk akibat kecelakaan yang di alami putra sulungnya. Kini, ada seorang wanita dengan setia menunggui anaknya. Beliau berjalan mendekati anak menantunya, perlahan memegang pundak Wulan.


“Wulan, kesehatan mu juga perlu diperhatikan, kakimu juga terkilir, Nak.” bujuk Bu Suci untuk kesekian kalinya, meminta agar Wulan beristirahat di rumah.


Wulan menggeleng pelan, ia masih memandangi Damar. “Wulan baik-baik aja, Bu,”


Tangan Bu Suci beralih dari pundak Wulan, beliau membelai lembut rikma anak menantunya ini. Netranya menatap putra sulungnya. “Percayalah, Damar ndak akan suka melihatmu seperti ini, Nak.”


Pintu kamar ICU pun terbuka kembali, bersamaan dengan Bokir yang memasuki ruangan dan berjalan mendekati kedua wanita yang memunggungi pintu, lantas mengalihkan atensinya memandangi Damar. Bokir menghela nafas panjang, ia sudah menganggap Damar sebagai adiknya, netranya tak kuasa menahan kesedihannya. Sungguh, tidak bisa ia menerimanya dengan kondisi Damar seperti ini. Jika ia pun merasa tidak bisa? Lantas bagaimana dengan Wulan?

__ADS_1


“Damar,” lirih Bokir menyebut nama yang tidak sadarkan diri di atas brankar, dengan selang infus dan kepala yang di lilit perban. Sungguh pemandangan yang memilukan. Amanah food dan Damar, kini tengah sekarat.


“Kang Bokir,” sapa Bu Suci.


Bokir bersitatap dengan Bu Suci, “Bagaimana keadaannya sekarang?”


“Seperti yang Kang Bokir lihat, Damar masih dalam pantauan tim dokter.” sahut Bu Suci.


Tanpa menoleh kearah Bokir, Wulan menggenggam jemari tangan pucat Damar. Ia tidak rela, barang cuilpun melepaskan genggaman tangannya, Wulan pun berkata dengan nada yang terdengar seperti bisikan, sangat lirih, “Dia kalau tidur menenangkan seperti bayi,”


Bokir melirik sekilas kearah Wulan, dan kembali fokus menatap Damar, ia lantas menatap langit-langit kamar ICU menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, bau obat dan peralatan medis, membuatnya merasa tidak nyaman. “Dia pria yang kuat, Lan. Bukan hanya kuat, dia pria yang mampu bertahan dalam kondisi apa pun. Seolah-olah Damar sudah di latih untuk ini,”


Wulan mengangguk perlahan. Lagi .... air mata yang sudah mengering, kembali membasahi kelopak mata yang memerah dan sembab. “Kamu benar, Kir,”


Bokir berpikir untuk memberitahu Wulan, perihal apa yang ia lihat di CCTV pabrik. Meskipun ia tahu, bahwa keadaan sekarang ini kurang pas, tapi bagiamana pun juga Wulan harus tahu. “Kedua kawan saya dari penyidik kepolisian, sedang mencari informasi terkait sekelompok orang yang menghancurkan Amanah food,”


Bu Suci terkejut dengan perkataan Bokir. Bukan hanya Damar, bisnis putranya pun ikut terlibat, “Amanah food, apa yang sebenarnya terjadi?”


Bokir menghela nafasnya, ia kembali menatap Damar. mungkinkah semua yang terjadi kepada Damar dan pabrik secara bersamaan diakibatkan oleh orang yang sama. “Sekelompok orang melakukan penyerangan di pabrik, Budhe. Dan saya curiga ada seseorang yang mendalangi semua permasalahan ini,”


Wulan mengalihkan pandangannya, kali ini ia menengadahkan wajahnya menatap Bokir yang berdiri di sebelahnya dengan jarak satu meter. Seperti dugaannya benar pasti ada seseorang yang sengaja mencelakai Damar, rahang Wulan mengeras, giginya saling berpaut menggertak satu sama lain. Ia beralih menatap Damar. “Kita bicarakan di luar, Kir.”


Antara rela dan tidak rela Wulan melepaskan genggaman tangannya yang berpaut di tangan Damar, mendekatkan wajahnya ke wajah Damar, mencium hikmat kening suaminya, “Cepatlah bangun, jika kamu ingin menjadi seorang Ayah. Aku nggak pengen mengajak jalan-jalan anak-anak kita seorang diri.” ucapnya lirih. Lalu kembali menarik diri, berdiri tegak, ia mengharuskan dirinya menjadi wanita kuat dan tegar.


“Wulan keluar dulu Bu, ada yang harus Wulan bicarakan dengan Bokir,” ujarnya, bertemu pandang dengan netra sendu Bu Suci.


Bu Suci mengangguk, lantas mengangkat tangannya membelai pipi Wulan.


Wulan menarik langkah kakinya keluar dari kamar ICU, tak perduli dengan keadaannya kini. ia melihat Bokir sedang berbincang dengan Danum. Ia langsung menyambungi pembicaraan yang sempat tertunda. “Kita harus bergerak cepat Kir, aku curiga si biang onar yang sudah menyebabkan ini terjadi,”


Bokir mengerutkan keningnya, “Siapa maksudmu? Apakah dia, Opik?”


Mendengar pembicaraan yang sangat serius dari Bokir dan Wulan membuat Danum heran. “Apa hubungannya semu ini dengan Opik, Mbak Wulan, Kang Bokir?”


Bokir dan Wulan menatap Danum.


“Ini belum terbukti benar, Danum. Tapi jika kenyataanya benar. Maka dia harus mendapatkan hukuman setimpal dan sebanding dengan perbuatannya!” kata Wulan tegas.


Bokir menyetujui pendapat Wulan. “Aku akan menghubungi tim Elang untuk menyusuri setiap gerak-gerik Opik, dan mengusut tuntas kasus penabrakan yang di alami Damar.”

__ADS_1


“Aku yang akan langsung turun tangan Kir!” balas Wulan.


“Jika memang benar Opik adalah dalangnya, kita harus menyusun rencana terlebih dahulu untuk memulihkan kondisi Amanah food dan menyiapkan cara untuk memancing Opik keluar dari persembunyiannya.” pungkas Bokir.


Wulan mengangguk, lalu beralih menatap Danum. “Mbak pulang dulu, Num.. jangan pernah tinggalkan Ibu dan Damar, jika Damar sudah siuman segera hubungi Mbak.”


Danum mengangguk, “Iya Mbak.”


“Danum, saya juga pamit,” kata Bokir, ia beralih menatap Wulan. “Apa kamu mau saya antar, Lan?”


Wulan menggeleng, “Nggak perlu, supir Kakek Bagaskara sudah ada di depan.”


“Baiklah.” Bokir pun berbalik badan dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit, dan di susul oleh Wulan.


••


Sampai di rumah terlebih dahulu Wulan membersihkan diri dan sholat subuh, masih di atas sajadahnya. Ia mengharap setiap untaian sajak doa' yang ia panjatkan mengharap kesembuhan Damar.


Wulan meraup wajahnya dengan telapak tangannya yang tertutupi mukenah putih berenda, yang dibelikan Damar khusus untuknya. Lantas menatap dinding tepat dimana foto pernikahannya terpampang jelas di sana.


Senyuman Damar, membuat Wulan tak kuasa kembali meneteskan eluhnya.


Lalu membungkukkan punggungnya, melongok ke bawah kolong tempat tidur. Ia membuka satu keramik dan membuka kotak kayu, lantas mengambil pistol dari sana. Memandangi pistol yang ada di tangannya, pistol yang ia dapatkan dari hadiah sang Ayah karena berhasil lolos tahap seleksi menjadi seorang intelijen.


“Aku akan menembak kepalanya!” geramnya membayangkan seorang Opik! Ia lantas menaruh pistol di dalam tasnya. Itulah nazar seorang Nawang Wulan pada seseorang yang telah membuat suaminya terluka.


Fajar pun menyingsing mengitari rotasi bumi dari ufuk timur, biar bagaimanapun juga rasa gelisahnya. Wulan merasa harus memenuhi nutrisi dalam tubuhnya dengan segelas susu, ia juga mengharap ada kehidupan di dalam rahimnya. Wulan mengusap lembut perutnya yang masih rata, “Jika kamu benar ada di rahim Mamah, Mamah berharap kita bisa melewati masa kritis ini.”


Setelah bersiap membawakan sarapan pagi untuk Bu Suci dan Danum, Wulan lantas keluar dari dalam rumah, tak lupa untuk mengunci pintu. Di halaman rumah sudah ada mobil yang tidak asing. “Kakek Bagaskara.” gumamnya.


Lantas berjalan menuju mobil, dengan seorang supir yang membukakan pintu mobil untuknya, “Terima kasih.” ucapnya kepada Mang Sugeng, supir Kakek Bagaskara, ia melihat Kakek Bagaskara sebagai sapaannya Wulan mengangguk tipis. Lalu duduk di sebelah Kakeknya. “Kakek.”


“Kakek juga akan menjenguk Damar.” ujar Kakek Bagaskara.


Wulan mengangguk


Perlahan mobil pun meninggalkan halaman rumah lama Damar.


•••

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2