Presdir Cilok

Presdir Cilok
44 Kesederhanaan yang disyukuri


__ADS_3

Di halaman rumah yang sangat sederhana, menunjukkan sisi kehidupan yang kompleks dengan ciri kehidupan dalam masyarakat kalangan menengah kebawah. Tiada yang dapat di bilang indah dari segi manapun bangunan.


Sebagian cat sudah mengelupas, genteng yang melorot serta susunan kayunya yang sudah tidak layak pakai.


Di dapur Bu Suci sedang duduk di kursi menunggu kepulangan putra sulungnya. Beliau terlihat sangat mengkhawatirkannya, sejak keluar rumah pagi hari sampai senja hingga hampir memasuki waktu Maghrib Damar tidak ada kabar.


Danum melihat Bu Suci yang duduk melamun di kursi meja dapur. Lantas menghampirinya “Ibu kenapa?” tanya Danum, seraya menuangkan air dari teko ke gelas dan duduk berhadapan dengan Ibunya.


Bu Suci menatap putra bungsunya yang baru pulang bermain sepak bola. “Mas mu kok belum pulang yah, Le?”


Danum meneguk air putih untuk melepaskan dahaganya, lalu menaruh gelas di atas meja “Mungkin Mas Damar langsung wawancara kali Bu,”


Bu Suci kembali menatap perabotan dapur yang tersusun di rak piring dapur. “Tapi nggak biasanya Mas mu pulang sampai sore, kalau pun iya sampai sore. Pasti dia sudah pulang lebih dulu, Le?”


“Istighfar Bu, kata guru ngaji Danum. Perasaan khawatir yang berlebihan hanya akan membawa kepada kemusyrikan, dan tidak percaya atas kehendak Allah, Bu,” Danum mencoba memberikan Ibunya ketenangan. Bahwa mungkin saja perusahaan itu memang berniat bekerjasama.


Bu Suci kembali menatap putra bungsunya, “Kamu benar, Le.” beliau lantas beranjak dan berjalan ke lemari pendingin seukuran setinggi pusarnya lalu membuka pintu lantas mengambil wadah dan kembali ke meja, “Ibu buat bubur kacang hijau, Le,” Bu Suci membuka penutup wadah persegi empat berukuran sedang.


Danum menatap bubur kacang hijau kesukaannya dengan mata yang berbinar-binar. “Wah, pas banget. Danum lagi laper,” seru Danum.


“Ibu ambilkan mangkuk sama sendok dulu,” Bu Suci lalu berjalan ke rak piring dapur dan mengambil mangkuk juga sendok.


“Sebentar Bu,” Danum beranjak dan berjalan ke meja belajarnya di ruang tengah lalu mengambil uang yang ia peroleh dari hasil berjualan cilok hari ini, lantas kembali lagi ke dapur dan duduk di kursinya semula.


Bu Suci memberikan semangkuk bubur kacang hijau dingin di depan Danum.


“Bu, ini uang hasil penjualan cilok tadi di sekolah,” kata Danum, memberikan uang yang ia ikat dengan karet gelang.


Bu Suci menatap Danum dan mengembangkan senyumnya. “Ibu akan menabungnya, untuk biaya sekolah mu, Le,”


Danum menggeleng, “Nggak usah Bu, lagipula Danum juga sudah simpan uang sebagian di celengan.”


“Ya buat tambah-tambah toh. Kan biaya sekolah sekarang semakin meroket naik.”


“Ya sudah, terserah Ibu.” jawab Danum, ia beranjak dan berjalan menuju belakang rumah dengan membawa semangkuk bubur kacang hijau lantas duduk di bangku kayu dan memakan bubur kacang hijau sambil melihat ayam-ayam yang ia pelihara.


Bu Suci beranjak menuju kamarnya, menyimpan uang Danum dari hasil penjualan cilok dan menggabungkannya dalam satu wadah berisikan uang yang sudah terkumpul di dalam wadah biskuit Khong Guan. “Semoga dengan uang-uang ini menjadi bermanfaat untuk kedepannya.”


Beliau tidak ingin Danum mengikuti jejak Damar yang harus merasakan putus sekolah. Bu Suci sangat menyayangkan hal itu terjadi, anak yang sangat berprestasi namun akhirnya pupus sudah harapan dan cita-cita putra sulungnya, dikarenakan beliau tidak mampu membiayai sekolah Damar, pasca Gusli tiada.


Duduk di tepian ranjang sambil menatap foto mendiang suaminya. Tak terasa mata sayunya mulai mengumpulkan awan mendung dan menetes menjadi rintik yang membasahi pipi keriputnya.


Bu Suci mendengar deru mesin mobil dari arah depan rumah. Beliau segera menghapus jejak air matanya, dan lekas beranjak tak lupa menyambar hijab instan yang beliau taruh di atas tempat tidur.


Mobil sedan abu-abu gelap berhenti di jalanan depan rumah. Jelas saja mengundang rasa penasaran orang-orang yang lewat maupun para tetangga yang melihat.

__ADS_1


Bu Suci keluar dari dalam rumah dan berdiri di teras. Beliau sangat mengamati mobil yang berhenti. Namun, netra rabun jauhnya seakan tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang keluar dari dalam mobil.


Sampai seseorang itu semakin mendekat dan terlihat jelas putra sulungnya yang berdiri tak jauh dari Ibunya. Bu Suci mengembangkan senyumnya.


“Assalamualaikum,” ucap salam Damar dan mengambil tangan Ibunya lantas menaruhnya di antara kedua alisnya.


“Wa'alaikumussalam,” jawab Bu Suci.


“Kamu kok baru pulang Nang?” tanya Bu Suci. Namun tatapan beliau beralih kepada kedua orang yang berdiri di belakang Damar.


“Siapa mereka Nang?” tanya Bu Suci melihat lelaki berkepala pelontos dan seorang wanita cantik.


Damar mengikuti arah pandang Ibunya, Damar menjawab “Ini Kang Bokir dan Nawang Wulan Bu,” jelas Damar menunjuk Bokir dan beralih kepada Wulan.


Wulan menyamping berdiri di samping kanan Damar, dan tersenyum ramah kepada Bu Suci. “Saya Wulan Tante?” ucap Wulan memperkenalkan diri lantas mengulurkan tangannya di hadapan Ibu Damar.


Bu Suci menjabat uluran tangan wanita yang baru beliau ketahui namanya, dan membalas dengan senyuman ramah, “Saya Suci, Ibunya Damar,”


Bokir pun menyamping kiri Damar, “Saya Bokir Budhe,”


Bu Suci menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Bokir pun mengangguk.


Danum baru keluar dari arah dalam rumah, dan melihat Kakaknya langsung memberondong pertanyaan, “Aku nggak denger motor Mas Damar?”


Danum terkekeh kecil. Tatapannya beralih menatap kedua orang yang tidak ia kenal, “Siapa mereka Mas?”


“Sudah-- sudah tanyanya nanti-nanti, biarkan tamu kita masuk rumah dulu, Le,” kata Bu Suci, mempersilahkan Bokir dan Wulan untuk masuk kedalam rumah.


“Silahkan duduk, Nak. Ibu buatkan minum dulu,” kata Ibu..


“Tante-- Tan nggak usah minum..” ucap Wulan hendak menghentikan langkah Bu Suci.


Bu Suci mengibaskan tangannya,


“Nggak papa, saya senang kalau temen Damar main kerumah.” jawab Bu Suci sambil melenggang ke dapur. “Danum, sini Le.” seru Bu Suci memanggil Danum yang hendak kepo-kepo.


Duduk di kursi usang, Bokir dan Wulan sangat mengamati rumah yang terbilang sangat sederhana. Wulan mengedarkan pandangannya menangkap objek foto keluarga di dinding ruang tamu dengan cat warna yang mulai terkelupas.


Terlihat Foto Almarhum Gusli, Bu Suci dan Damar remaja juga Danum yang masih kecil. Wulan berspekulasi foto keluarga yang di ambil sudah lama.


Setelah sesaat mengamati ruang tamu. Rumah yang sangat sederhana menjadi tempat tinggal keluarga Gusli, anak dari keluarga Wijaya yang sangat kaya. Bokir lantas berujar,


“Mar, aku nggak nyangka seorang cucu dari pebisnis kaya, harus tinggal di rumah seperti ini?”


Damar duduk tidak jauh dari Bokir dan Wulan duduk.

__ADS_1


Wulan mempelototi Bokir berharap Bokir dapat meralat ucapannya. “Bokir!” hardik Wulan dengan suara gigi menggigit.


Bokir segera mengantupkan mulutnya, dan menatap Damar. “Maaf Mar,” ucap Bokir.


Damar tersenyum simpul, “Nggak pa-pa Kang Bokir, rumah ini adalah sesuatu yang harus disyukuri.”


Wulan dan Bokir terhenyak mendengar jawaban Damar. Kesederhanaan yang di syukuri adalah cara terbaik dalam hidup untuk selalu berpikir optimis.


Bu Suci keluar dari dalam dengan nampan, juga Danum yang membawa nampan cemilan.


Bokir dan Wulan mengalihkan tatapannya, menatap seorang wanita paruh baya dengan hijab instan syar'i warna hitam di padu padankan abaya marun, yang tidak lain adalah menantu dari keluarga terpandang di dunia bisnis. Lebih tepatnya menantu yang tidak diterima.


Dan beralih menatap seorang remaja dengan pakaian oblong serta celana pendek ala rumahan.


“Silahkan, Nak. Maaf ala kadarnya,” Bu Suci menaruh gelas teh hangat yang masih mengepulkan uap serta pisang goreng. Pisang raja yang beliau panen di kebun belakang rumah.


“Kenapa repot-repot Tante,” Wulan merasa tidak enak hati. Tapi aroma teh melati dan pisang goreng sangat menggoda indra penciumannya.


“Iya, Budhe. Saya jadi nggak enak hati.” tukas Bokir.


Bu suci beringsut duduk di sofa disusul Danum yang mulai kepo-kepo.


“Nggak pa-pa, saya senang kalau teman-teman Damar main kerumah. Silahkan di cicipi.” Bu Suci tersenyum lembut kearah kedua orang yang sebenarnya adalah bawahan putranya.


“Nggak usah malu-malu Kang Bokir, Nawang Wulan. Biasanya yang malu itu malah malu-maluin,” seloroh Damar tersenyum garing.


“Damar!” seru Bu Suci menegur putranya.


Damar hanya memasang cengiran kuda


Setelah mencicipi teh hangat, Wulan menyenggol lengan Bokir. Untuk menyampaikan sesuatu. Namun, Bokir lebih dulu bersuara dengan berbisik lirih. “Kamu aja Lan, kamu lebih mahir dalam berkacap.”


Wulan menatap lurus kepada Bu Suci, jeda ia menatap Damar.


“Sebenarnya ada hal yang saya ingin sampaikan Bu-- eh Tante,” ujar Wulan bersitatap dengan Bu Suci.


“Ibu aja ndak pa-pa, lebih enak di dengar,” tukas Bu Suci


Wulan tersenyum canggung


“Biar nanti aku yang akan menjelaskan sama Ibu,” tukas Damar..


•••


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2