Presdir Cilok

Presdir Cilok
48 Sawang sinawang


__ADS_3

Damar kembali kepada pertanyaan yang seharusnya ia tanyakan, untuk apa Wulan memintanya datang ke butik. “Untuk apa kamu menyuruh ku datang ke butik ini?”


•••


Wulan mendekati Damar dan memutari pria yang saat ini hanya memakai celana panjang hitam seperti tidak pernah ganti dan kemeja hijau botol serta sepatu sneaker shoes yang sama seperti dipakainya kemarin.


Damar merasa risih mendapat serangan tatapan dari mata intrik Wulan. Seolah ia sedang di telanjangi bulat-bulat oleh wanita yang menjabat sebagai sekretarisnya. Damar mendekapkan kedua tangannya didepan dada.


“Kapan terakhir kali Anda mengganti pakaian?”tanya Wulan tanpa basa-basi.


“Se--setiap hari?” jawab Damar tergagap.


‘Buset dah nih cewek, serasa lagi di ruang investigasi dah!' benak Damar bermonolog.


“Ini celana yang sama Anda pakai kemarin kan?” tuduh Wulan dengan prasangkanya.


Damar membulatkan matanya, “Enak aja! Mentang-mentang warnanya sama! Emang aku sejurik itu apa?” sanggahnya.


“Aku punya celana panjang hitam tuh banyak, kalau kamu mau pinjam, pinjam aja!” cetus Damar.


Wanita dengan keanggunan serta kesombongannya, mencebikkan bibirnya, “Ogah!” sinis Wulan dengan pedas laksana bon cabe level 10.


Wulan kembali berdiri tegak dan memanggil salah seorang pegawai butik laki-laki untuk me make over Damar. Yang tak lain adalah teman kuliah Wulan saat di Jakarta, “Agung, tolong make over Bos gue.”


Pegawai yang masih muda itupun mengangguk dan membulatkan jemarinya, “Oke, Mak. Dia pasti bakal jadi cogan. Cowok ganteng.”


Damar mengerutkan keningnya, “Bentar, emang cara berpakaian ku salah?”


Pegawai butik dan Wulan pun menatap Damar, kemudian Wulan kembali menatap pegawai butik. Ia pun segera meminta Agung untuk me make over Damar, “Cepet, Agung. Gue nggak ada waktu lagi. Ada meeting siang ini.” bentaknya.


“Yeelah, ketus amat yeay. Nggak pernah berubah dari dulu. Dasar jutek!” cibir Agung.


Wulan mengibaskan tangannya, “Sera Lo dah, yang penting Bos gue penampilannya nggak kaya gini lagi.”


Damar menatap Agung dan beralih menatap Wulan, “Kenapa nggak kamu aja Nawu yang me make over ku?” Damar mengedipkan matanya kepada Wulan.


Wulan menatap Damar dengan ketidaksukaan, “Apa Nawu?”


Damar mendekati Wulan, dan lagi-lagi berbisik di telinganya sampai menyentuh anting-anting yang di kenakan Wulan, “Nawang Wulan! Masa sayangku?”


Wulan merasa geli dan segera menjauhkan dirinya dari Damar, “Dasar sinting!” sinis Wulan.


Damar melebarkan senyumnya bagaikan bunga matahari. Semakin membuat Wulan merasa kesal.


Agung dengan lagak kemayu mengibarkan senyuman menatap Damar dan beralih menatap Wulan. Langsung saja mendapatkan pelototan dari mata Wulan, membuat Agung serasa di tatap mata oleh burung hantu.“Ih... ngeri kali mata kau tuh, Lan!” dengus Agung.


Agung pun menghindari tatapan mata burung hantu Wulan, dan menggandeng lengan Damar, “Mari, cogan. Ikut eke. Yeay bakal eke make over biar jadi kaya artis India favorit eke, Sharukh Khan.”


Ketika di dalam sebuah dongeng wanita yang akan di make over oleh seorang pria kaya raya. Tapi kali ini pria lah yang sedang di make over oleh sekretarisnya.

__ADS_1


Wulan menunggu sambil memilah memilih pakaian pria yang sekiranya cocok untuk Damar kenakan. Saat sedang memilih pakaian ponselnya yang sejak tadi bertapa di dalam tasnya bergetar..


Ia pun merogoh tas dan mengambil ponselnya, tertera nama ‘Kakek Bagaskara' dilayar monitor ponselnya. Wulan pun menggeser tombol hijau, “Assalammualaikum, Kek.” salam Wulan di sambungan telepon.


Terdiam sambil mendengarkan apa yang tengah Kakek Bagaskara katakan, “Wassalamu'alaikum. Kamu sudah bawa Damar ke butik milik Pak Yas, Lan?”


Refleks Wulan mengangguk, “Sudah Kek, sekarang cucu Kakek sedang berganti pakaian,”


“Hemm... Kakek akan membawanya bertemu dengan kolega bisnis Kakek, antarkan langsung Damar ke hotel Kamboja, Kakek akan menunggunya di sana,” kata Kakek kepada Wulan yang masih setia mendengarkan apa-apa yang Kakek Bagaskara sampaikan.


“Baik Kek,” jawab Wulan singkat.


“Kakek percayakan Damar padamu, urus dia.” titah Kakek Bagaskara, dan memutuskan sambungan telepon.


Wulan menarik ponsel dari telinganya dan mendengus kesal sambil menatap layar monitor ponselnya, “Urus, emang gue ini baby sitter!”


Ia lantas mencemplungkan ponselnya di tas Flap bag agak kasar. “Gimana bisa Kakek nyuruh gue buat ngurusi segala keperluannya? Emang dia bayi apa? Kenapa nggak nyewa jasa baby sitter sekalian!” gerutunya benar-benar jengkel dengan semua perintah Kakek Bagaskara. Namun, karena suatu hal ia tidak bisa menolak apa pun yang di perintahkan Kakek Bagaskara padanya.


Wulan kembali mencari pakaian dari deretan kemeja pria yang tergantung di hanger. Mengumpulkan pakaian dan rompi, jas warna netral, tuxedo dan berbagai kemeja untuk keseharian Damar di kantor.


Seseorang dengan gaya pakaian nyentrik menghampiri Wulan, “Halo girls,”


Wulan terkesiap dan beralih menatap seseorang yang sudah ia kenal, dan tersenyum ramah. “Halo juga Pak Yas, apa kabar?” sapa Wulan kepada pemilik butik.


“Kamu masih saja cantik girls,” puji Pak Yas.


“Haha.. Pak Yasin bisa saja nih. Pak Yas juga masih terlihat gagah,” puji Wulan kepada seorang pria yang berumur empat puluhan. “Dan tampan.” imbuh Wulan.


“Alhamdulillah baik Pak,” jawab Wulan.


“Ku dengar kau bawa cucu seorang milyuner kaya, Bagaskara Wijaya? Apa dia sedang berganti pakaian?” tanya Pak Yasin, dan berjalan kearah rak pakaian yang tergantung rapih.


Wulan kembali berjalan menyusuri deretan pakaian pria, jemarinya menyentuh kemeja pria dengan warna kalem. “Ya, beliau sedang berganti pakaian,” jawabnya, sembari menarik kemeja lengan panjang warna marun.


Pak Yasin menoleh kearah Wulan yang sedang mengamati kemeja yang ada di tangannya. “Bukankah dia seumuran dengan mu, lantas mengapa cara bicaramu sangat formal, girls?”


Wulan menoleh sekilas kearah Pak Yasin, “Saya hanya menghargainya sebagai atasan saya, Pak Yas,”


Pak Yasin manggut-manggut, “Lalu pekerjaan mu sebagai Intel bagaimana?”


Wulan menggeleng, “Saya takut untuk melawan Ayah, Pak Yas. Beliau sangat bergantung pada Kakek Bagaskara.”


“We'll, kau hanya bisa pasrah girls!” kata Pak Yasin, merasa kasihan dengan hidup Wulan yang selalu harus mengiyakan permintaan Ayahnya. Tanpa diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.


Tanpa Wulan dan Pak Yasin tahu, Damar tidak sengaja mendengarkan pembicaraan keduanya yang cukup lantang dari balik tirai merah pembatas untuk berganti pakaian.


Damar berpikir hidup Wulan tidak merasa dalam kenyamanan. ‘Bener apa kata pepatah bijak. Sawang sinawang (Melihat siapa yang dilihat) terkadang aku melihat orang lain bahagia, tapi belum tentu kenyataannya seperti yang aku lihat'


“Apakah itu penyebabnya, dia menjadi wanita yang bersikap dingin, juga kaku?” gumamnya pada diri sendiri.

__ADS_1


Agung sudah selesai me make over dan sedang mengemas beberapa pakaian yang cocok di tubuh atletis Damar Lalu memasukkannya ke dalam paper bag berukuran besar. “Mari Sharukh Khan Indo, kamu cogan banget tau pakai ini, Wulan pasti terpesona melihat penampilan mu.” ucapnya sambil mencolek dagu Damar.


Untuk kesekian kalinya, Damar berkaca pada kaca lebar yang ada di hadapannya. Ia manggut-manggut dan merasa penampilannya kini sangat berbeda, sampai tertegun menatap pantulan dirinya di cermin.


Tirai merah memanjang pun tersingkap oleh tangan Agung.


Wulan dan Pak Yasin menoleh kearah Damar dan Agung. Seketika mata Wulan terbelalak tercengang menatap Damar yang jauh berbeda dari sebelumnya.


Pak Yasin menghampiri Damar dan berseru senang, “Oh wow! oh my God. Ini sumpah keren, keren banget. Sang pangeran Wijaya group Company.”


Damar menanggapi pujian seorang pria yang tidak ia kenal membalasnya hanya dengan tersenyum ramah.


Wulan masih tertegun melihat Damar dari ujung rambut yang disisir rapi. Sampai ujung kaki yang dibalut sepatu Oxford warna hitam.


Sedangkan pakainya, Jas hitam dengan kemeja putih di padu padankan dasi hitam celana panjang berbahan wool-flanel warna senada menambah kesan elegan.


Agung mendekati Wulan yang masih saja diam mematung diri. Melihat perubahan tampilan Damar yang cukup signifikan. “Gimana Lan, Bos Lo emang ganteng kan? Bener kan apa kata gue, dia ganteng seperti Sharukh Khan?”


Wulan menyadari dirinya yang sudah cukup lama mendiamkan diri. Ia mengalihkan tatapannya menatap Agung. “Biasa aja!” cetus Wulan.


Damar delming mendengar jawaban dari Wulan. Namun, ia tidak terlalu memikirkan pendapat wanita dingin ini. Damar teringat sesuatu. Ia sempat melihat bandrol harga untuk jas yang dikenakannya sekarang, Damar memperkirakan kisaran harga mencapai dua ton beras, belum celana, sepatu, dan dasi serta tatanan rambutnya yang cool abis? Dan masih ada beberapa pakaian yang di kemas oleh Agung.


Semua harga itu jika dikalikan membuat Damar limbung, “Tunggu- tunggu dulu!”


Pak Yasin, Agung dan Wulan menatap Damar


“Bagaimana saya bisa membayar semua pakaian mahal ini? Saya saja belum benar-benar bekerja?” ujar Damar.


Pak Yasin terkekeh geli, “Tenang saja Tuan muda, soal pembayaran ini sangat kecil bagi Kakek Anda.”


“Memang iya, harus memakai baju mahal hanya untuk pertemuan?” tanya Damar, heran.


Pak Yasin, Agung menatap Damar seraya cengar-cengir kuda.


Sedangkan Wulan, ia hanya menatap Damar dengan keseriusan. Seolah ia sedang menatap terdakwa kasus suap.


Nampaknya Damar tidak mengilhami pandangan orang-orang padanya, yang berada di dalam butik milik Pak Yas, lantas kembali bertanya kepada Wulan sang sekretaris, “Memang, sebenarnya apa pekerjaan sekretaris? Apa harus memperhatikan penampilan Bos'nya?”


Wulan memutar bola matanya jengah dengan celotehan Damar, sesabar mungkin ia menjawab. “Bukan hanya sekretaris! Tapi saya juga baby sitter Anda, Tuan!”


“Baby sitter?” gumam Damar terasa aneh dengan jawaban Wulan.


Lantas Wulan mengalihkan tatapannya menatap Pak Yas, dan tersenyum ramah. “Pak Yas, Wulan pergi dulu.”


Pak Yasin mengangguk, sedangkan Agung melambaikan tangannya kepada Wulan.


Wulan melenggang menuju pintu keluar butik. Meninggalkan sejuta kebingungan yang tengah Damar rasakan. Ia pun menyusul langkah sekretarisnya.


•••

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2