
Pagi hari yang cerah, di tengah hari mendung, sore hari pun turun hujan. Inilah kehidupan, tidak ada yang dapat memprediksi kapan pelangi akan muncul, karena itu sebagian dari keindahan setelah mendung dan hujan.
Setelah pulang dari rumah sakit. Damar tengah merasakan guyuran air hujan diselingi semilirnya angin pelan. Damar merasa sudah sangat lama ia tidak merasakan hidup dalam kebebasan seperti ini.
Di taman tengah-tengah alun-alun kota Bantul. Ia sengaja meminta agar Wulan menepikan mobil.
Dibawah payung hitam, Wulan geleng-geleng kepala, melihat tingkah laku Damar sudah seperti anak kecil jika bertemu dengan air hujan. Meskipun hanya duduk di bangku kayu yang tersedia di beberapa sudut taman.
Wulan kembali teringat akan ucapan Bu Suci di rumah sakit, dan ia hanya mampu menjawab, “Beri Wulan waktu untuk berpikir, untuk memantapkan hati, dan memantaskan diri.”
Teriakan Damar bersamaan dengan gemuruhnya air hujan membuyarkan lamunan Wulan, “Nawang Wulan, kemarilah. Kita nikmati hujan sore ini?!” seru Damar dengan melambaikan tangannya kearah wanita yang saat ini memakai baju kasual dipadupadankan blazer putih dengan celana jeans panjang warna navy.
Wulan hanya mengibaskan-ngibaskan tangannya, pertanda ia adalah orang yang tidak suka bermain hujan. “Nggak mau!”
Namun, peringatan Wulan tak di hiraukan oleh Damar. Damar menghampiri Wulan, “Ayolah, ini sangat menyenangkan!” lalu tangannya meraih payung hitam yang di pegang Wulan, dan menghempaskan nya begitu saja ke sembarang arah.
“Aaaaaa... yah yah basah kan?!” gerutunya, seketika Wulan pun terkena guyuran dari rintik air hujan, ia sangat kesal akan hal ini. Beberapa kali ia menghentakkan kakinya ke tanah yang di tumbuhi rumput Jepang sebagai penghias taman.
“Hey, ayolah hujan adalah Rahmat Tuhan, biarkan sejenak hujan ini membasuh jiwa kita yang panas akan kehidupan nyata ini.” bujuk Damar, ia memejamkan matanya dan meresapi setiap tetes hujan.
Wulan menatap Damar dari samping, ia berpikir untuk mencobanya, barangkali hujan ini bisa memuaskan dahaganya yang lelah akan kehidupan ini. Padahal Wulan sangat menyadari betul, bahwa kini ia dan Damar tengah menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang berteduh di bawah warung pinggir taman.
Ia membiarkan orang-orang stigma apapun tentangnya dan juga Damar. Karena, Wulan sadar, seperfect apa pun manusia tidak ada yang sempurna, secacat apa pun manusia pasti memiliki kelebihan yang diberikan Tuhan.
“Apa yang Ibuku katakan padamu?” tanya Damar tanpa menoleh kearah Wulan. Damar merasa selama setelah ia mengajak Danum untuk keluar, ada sesuatu hal serius yang dibicarakan Wulan dan Ibunya.
Wulan diam
Kali ini Damar menatap Wulan, “Jujur, akhiri-akhir ini selama aku mengenalmu, aku merasa nyaman. Tapi aku belum pernah bercerita tentangmu pada Ibuku, karena perasaanku masih dibatas kenyamanan berada di sisi mu,”
Wulan mengerjap-ngerjapkan matanya, ia merasa ungkapan Damar membuat degupan jantungnya semakin kencang, kata ‘nyaman. Adalah suatu hal yang sangat sensitif terhadap rangsangan hati, “Mar, kita pulang yuk, badanku menggigil dingin. Hahaha... lihat aja bibir kamu udah membiru kaya pantat panci!” selorohnya dengan bibir yang menggigil, mengalihkan pembicaraan.
Damar tersenyum, dugaannya benar. Semenjak pulang dari rumah sakit, Wulan selalu menghindari tatapannya, dan itu sudah cukup menjadi bukti bahwa ada sesuatu yang sudah Ibunya bicarakan kepada Wulan. “Ayok dah pulang!” jawab Damar.
Damar dan Wulan pun berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir, di bahu jalan taman.
Saat Wulan hendak membuka pintu mobil, ia merasakan kedinginan yang sangat luar biasa. Bahkan tangannya saja kram sampai tidak bisa merasakan genggaman tangannya sendiri, inilah mengapa ia tidak suka hujan.
Damar melihat Wulan tanpa adanya pergerakan membuka pintu, ia lantas menghampirinya. “Kenapa?”
Wulan menunjukkan tangannya yang pucat pasi, tanpa menjawab pertanyaan Damar. ia lantas mendekapkan kedua tangannya di depan dada, dan menggigil hebat, dengan bibir yang memucat.
“Sini kuncinya,” pinta Damar.
__ADS_1
Wulan menatap Damar, ragu. Karena beberapa kali Damar gagal dalam pelatihan mengendarai mobil yang ia ajarkan.
“Percayalah, kali ini aku pasti bisa.” kata Damar meyakinkan Wulan.
Dengan keterpaksaan Wulan pun memberikan kunci kepada Damar, dan melihat Damar membukakan pintu mobil bagian jok belakang untuknya.
Damar pun membuka pintu mobil kemudi, dan duduk lalu memegang kemudi, menoleh sekilas kearah belakang tepatnya Wulan yang kini berbaring miring dengan perasaan bersalah. Damar meneguhkan hatinya, dengan membaca doa, lalu kembali menatap lurus ke depan, menyalakan mesin mobil dan memasukkan gigi dan menginjak pedal gas diselingi menginjak pedal kopling, mobil pun melaju pelan.
“Hacciiiihhhh....”
“Haaccciiiiihh...” sudah kesekian kalinya Wulan bersin-bersin secara berulang ulang.
Membuat Damar melajukan laju mobilnya dengan tingkat konsentrasi yang terbagi, tidak ada pilihan lain. “Sabar, Nawu, sabar kita hampir sampai di rumahmu!” dengan gemetar Damar mencoba untuk bersabar melajukan mobilnya. Tujuannya adalah rumah yang di tempati Wulan, karena jaraknya yang terbilang cukup dekat dari alun-alun Kota Bantul.
Tak butuh waktu lama, sekitar lima belas menit Damar pun sampai di depan rumah bergaya minimalis modern. Sebelum turun dari mobil, ia menoleh kearah Wulan. Wanita itu sudah seperti mayat hidup, pucat basi dan menggigil hebat dengan giginya yang saling sahut-sahutan.
Damar keluar dari jok kemudi, lalu membuka pintu mobil belakang, ia mengulurkan tangannya, dan memapah Wulan yang kesulitan untuk berjalan. Sesampainya di depan pintu, tak kunjung jua ada pergerakan Wulan mengambil kunci.
“Mana kuncinya?” tanya Damar.
Dengan setengah kesadarannya, Wulan menatap Damar. Dalam pikirannya, ia terlalu berprasangka buruk. Biar bagaimanapun, meskipun Damar terlihat baik, namun adakalanya manusia bisa saja berbuat khilaf. “Ka--kamu ja--jang-an macam-macam!” kata Wulan penuh peringatan, dengan suara menggigil.
Damar menghela nafasnya, “Jangan mudah berburuk sangka agar hatimu tak gelap dan hidupmu tak sengsara, ini kata Mbah Maimoen Zoebair,”
“Haaccciiiiihhhh.... Ta--tapi kan, banyak lelaki yang berbuat mesum!” sanggah Wulan.
“Haaccciiiihhh....”
“Brisik!” sergah Wulan, dengan suara ditekankan, namun masih menyandarkan kepalanya di pundak Damar.
“Nah gitu dong, ngasih kunci aja nunggu aku ceramah dulu!” cecar Damar, diselingi memutar handle pintu.
Sesampainya di dalam rumah, Damar membantu Wulan untuk duduk di sofa, “Diam bae dah di sini, tapi terserah deng, inikan rumahmu, hehe. Aku mau buat teh hangat, ada kan?” tanya Damar, sesudah Wulan duduk bersandar di sofa, Wulan mengangguk. Damar berjalan menuju dapur, namun kemudian ia berbalik, “Kamu mau juga nggak?” tawarnya, dan lagi-lagi Wulan hanya bisa mengangguk.
Inilah kali kedua Damar masuk kedalam rumah yang ditempati Sekretarisnya, sedikit bingung dan beruntung tidak terlalu sulit untuk menemukan keberadaan panci di rak piring. Sembari menunggu merebus air, Damar mencari keberadaan teh, namun ia tak menjumpainya. Tapi ia menemukan cokelat bubuk dalam kemasan yang bisa di seduh, bermerek bangbang.
“Boleh juga, dingin-dingin begini nyokelat, tuh cewek lupa kali yah, orang teh nggak ada bilangnya ada?!” Damar ngedumel sendiri. Lalu menuangkan dua sachet cokelat dalam kemasan kedalam cangkir sedang.
Air pun mendidih, lalu menuangkannya ke dalam cangkir. Ia pun kembali ke ruang tamu, namun tidak menjumpai Wulan di sofa. ‘Mungkin dia lagi ganti baju, kasihan lihat dia dengan wujud kaya anak ayam nyemplung parit.'
Ia pun akhirnya duduk sendirian, sambil menikmati segelas cokelat yang masih mengepulkan uap, tak kunjung melihat Wulan keluar dari kamar. Damar akhirnya berinisiatif untuk pulang tanpa permisi.
Sebelum benar-benar beranjak, pintu kamar pun terbuka lebar, dengan Wulan yang sudah berganti pakaian.
__ADS_1
Meskipun terpesona dengan Wulan yang saat ini memakai pakaian kasual, dengan baju panjang dan celana panjang koloran, namun sebisa mungkin Damar menggemakan istighfar dalam hati, agar tidak terjerumus dalam lembah kemaksiatan. ‘Astaghfirullah!'
Damar menundukkan pandangan, bukan karena Wulan tidak mempesona, justru itulah mengapa ia ingin menjaga keindahan dari seorang wanita. “Kebetulan kamu keluar dan terlihat sudah baik-baik saja. Tadi aku sempet khawatir,” Damar masih menunduk, “Emm... aku pulang dulu, tadi di dapur aku cari-cari teh tapi nggak ada, terus aku lihat cokelat kemasan, tuh buat kamu ada di meja,”
Wulan berjalan mendekati Damar, dan duduk di ujung sofa. “Nih, ganti baju basah mu, nanti kamu malahan sakit.”
Damar menengadahkan wajahnya, ia melirik sekilas paper bag yang di berikan Wulan. Ia mengambil paper bag dan melihat isi di dalamnya, “Dapet darimana baju cowok ini? Punya pacar kamu?” pikiran Damar melayang, melanglang buana, ia berpikiran bahwa Wulan bukanlah wanita lugu.
“Nggak usah macem-macem, mikirnya! Ini aku beli karena suka aja, sama baju-baju cowok! Ciuman sama cowok aja baru ka--” ceplos Wulan, mengakui bahwa Damar lah lelaki pertama kali yang menciumnya.
Damar tertegun, ia segera mengambil pakaian yang diberikan Wulan, dan lekas berganti pakaian. Tak berselang lama, ia sudah berganti dan menaruh pakaian basahnya kedalam paper bag.
“Makasih, baju ini pas banget.” ucapnya, namun Wulan tidak mengindahkannya.
Damar hendak mendudukkan pantatnya di sofa tidak jauh dari Wulan yang sedang memfokuskan tatapannya ke monitor laptopnya, “What's?!” teriak Wulan, membuat Damar terperanjat.
Wulan menarik tangan Damar, “Duduk sini, cepet!” pinta Wulan dengan menepuk-nepuk sofa kosong disebelahnya. Damar pun menurut dan duduk di sebelah Wulan.
“Lihat deh, Oh My Good!” seru Wulan, seraya menunjuk layar monitor laptopnya.
Damar mengikuti arah pandang Wulan, “Oh... Ya Allah begitu aja heboh!”
“Ish, apaan sih. Ini itu heboh banget tahu nggak! Kusumo Mar, Kusumo! Aku yakin besok bakalan ramai!” seru Wulan lagi, ia lebih heboh dari Damar. Seolah Wulan lah yang menyimpan beribu-ribu dendam pada sang mafia tanah.
Akan tetapi, berbeda dengan Damar, ia lebih fokus melihat wanita yang sedang membiarkan raikmanya tergerai dengan setengah basah. Damar menggeleng pelan, mengamati keindahan alami yang terpancar dari wajah wanita di sampingnya. “Wanita yang bisa di cintai oleh cinta sejati adalah wanita yang menjaga dirinya dengan baik.”
Sekilas Wulan mendengar perkataan Damar, ia menoleh bersitatap dengan pria yang duduk tepat disebelahnya. “Dan wanita hebat adalah hadiah dari Tuhan bagi pria ikhlas yang menghebatkan dirinya!”
Damar tersenyum simpul, ia beranjak dari duduknya. Tidak ingin lama-lama berada di rumah Wulan dan hanya berdua yang bisa saja setan merasuki jiwanya, Damar pun pamit. “Aku pulang, jaga dirimu baik-baik.” tak lupa Damar menyambar paper bag berisikan baju basahnya.
Wulan mengangguk, dan mengantar Damar sampai ke depan pintu rumah, “Hati-hati.”
Entah mengapa dalam hatinya tidak rela meninggalkan Wulan sendirian, namun Damar tidak ingin dinding keimanannya runtuh, ia lalu mengangkat tangannya dan mengusap lembut pipi Wulan hingga mengenai telinganya dan di sela-sela rikma hitam kecokelatan milik Wulan.
“Aku bawa mobilnya,” Lalu meninggalkan halaman rumah minimalis dan berjalan menuju mobil yang terparkir.
Wulan tersenyum malu-malu, mendapat perlakuan lembut dari seorang Damar. Hatinya bersenandung merdu. Ia melambaikan tangannya, melihat mobil yang melaju pelan. Dan sekian detik kumandang adzan Maghrib menyadarkannya, bahwa ia sudah terpana.
“Astaghfirullah!!” ia segera masuk kedalam rumah, dan mengunci pintu.
•
Di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan rendah, pun Damar sama. Ia mesam-mesem nggak jelas, seolah baru saja memenangkan undian berhadiah. “Aih... kenapa hatiku rasanya kaya di gelitikin?!”
__ADS_1
•••
Bersambung...