Presdir Cilok

Presdir Cilok
49 Senyumlah syukuri hidupmu


__ADS_3

Keluar dari butik baju khusus pakaian Pria. Dua pegawai menenteng paper bag yang berisikan pakaian-pakaian Damar. Lalu membawanya menuju mobil sedan Corolla.


Wulan dan Damar berjalan lebih dulu. “Buka Kir!” pinta Wulan.


Bokir membelalakkan matanya melihat kedua pegawai butik yang membawa sekian banyaknya paper bag mengajukan pertanyaan, “Apa ini Lan? Kenapa banyak bener?”


“Ck. Nggak usah banyak nanya, cepat buka bagasinya. Kakek Bagaskara sudah menunggu di hotel Kamboja. Kita harus ke sana sekarang!” kata Wulan, agar Bokir tidak banyak bertanya.


Bokir pun mencebikkan bibirnya, “Dih, galak bener!” dan segera membuka bagasi mobil. Dan diikuti kedua pegawai yang memasukkan paper bag kedalam bagasi mobil.


Sebelum Wulan memegang handle pintu mobil, sudah lebih dulu Damar memegang handle pintu mobil lantas membukanya sebelum memasuki mobil, ia berbalik badan dan mengucapkan terima kasih kepada kedua pelayan butik, “Terimakasih.”


Di angguki kedua pegawai butik


Damar masuk kedalam mobil tanpa menoleh Wulan yang sedang memperhatikannya. Wulan memutari mobil dan duduk di jok depan samping kemudi. Kali ini tiada protes yang di ajukan Damar. Pria ini seolah bersikap dingin dan selayaknya atasan yang disegani.


Bokir sudah siap dengan kemudinya, lantas menyalakan mesin dan menginjak pedal gas.


Selama perjalanan tiada yang membuka percakapan. Sampai pada akhirnya Bokir merasa bosan dan menyalakan lagu dari MP player mobil. Mengalun mengiramakan dentingan lagu Andmeh...


♪♪♪


Bila banyak masalah hidupmu


Kuharap dirimu tak usah mengeluh


Percayakan dan yakinkan dirimu


Kau bisa mengubah keluh jadi senyum...


ref


Senyumlah syukuri hidupmu...


Tunjukkan pada dunia bahwa kau mampu..


Masih banyak yang lebih susah hidupnya...


Senyumlah syukuri hidupmu..


“Mar, kamu nggak keberatan kan kalau aku hanya memanggilmu dengan nama, tanpa embel-embel?” tanya Bokir, masih fokuskan tatapannya menatap kedepan diselingi lagu yang masih mengalun seraya sesekali melihat Damar dari kaca atas kemudi.


Damar yang sedang mengedarkan pandangannya menatap keluar jendela mobil, beralih menatap Bokir dari belakang.


“Aku malah seneng Kang, kedengarannya lebih akrab dan nggak ada kecanggungan.” jawabnya sekilas melirik Wulan dari arah samping belakang yang sedang menatap fokus ke depan.


“Mar, Ibu mu memang mendidik mu juga adikmu dengan sangat baik. Bahkan saat kamu tahu kalau kamu ternyata cucu seorang milyuner pun kamu nggak sombong,” kata Bokir.


Damar mengalihkan pandangannya, mengedar ke luar mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang. “Sudahlah Kang, jangan bahas hal itu lagi. Saya rasa itu adalah hal yang tidak perlu di bahas secara berlebih-lebihan.” tukas Damar.


Bokir manggut-manggut, “Baiklah, aku setuju denganmu, Mar.”


Wulan merasa tersentuh dengan perkataan Damar, ia menoleh kebelakang melihat Damar yang sedang menatap keluar jendela mobil.


Damar mengalihkan pembicaraan lain, mengenai pakaian yang sekarang dikenakannya, “Sekretaris Wu, lain kali aku tidak mau belanja pakaian di sana.”


Wulan mengerutkan keningnya, “Kenapa? Apakah Anda tidak suka.”


“Terlalu mahal,” jawab Damar.


“Dasar pelit!” cetus Wulan.


“Hey, bukannya aku pelit, aku nggak ada duit! Lagi pula memang harus berpakaian mahal seperti ini?” sanggahnya, Damar berpikir dengan harga satu jas yang di pakainya bisa untuk membeli beras dua ton. “Kan, masih banyak orang yang kesusahan. Kenapa harus membeli barang mahal-mahal hanya untuk sekedar gaya-gayaan!” sambung Damar dengan suara menggerutu.

__ADS_1


Wulan terhenyak mendengar gerutu Damar, ia lantas menjawab, “Jangan memprotes akan hal itu sama saya, Tuan. Proteslah dengan mahkamah Agung. Yaitu, Kakek, Tuan sendiri!”


Damar mencebikkan bibirnya, sungguh ia tidak senang dengan cara bicara sekretarisnya, “Cara bicaramu sangat menggangu telingaku!”


Wulan tidak menjawab seperti biasanya, ia mengacuhkan pembicaraan yang merujuk pada perdebatan.


“Kalau menurut ku, itu nggak pa-pa Mar. Selama uang yang kita beli buat beli barang yang kita senangi pakai uang sendiri dan nggak merebut hak orang lain.” Bokir melihat sekilas kearah Wulan dan beralih menatap Damar sekilas dari kaca yang ada di atas kemudi. Ia cengar-cengir dengan perdebatan sengit yang selalu saja terjadi diantara kedua muda-mudi yang sudah expired.


Wulan maupun Damar tidak menjawab perkataan Bokir.... Mereka sama-sama mempunyai ego yang tinggi.


Pukul 10:30 waktu setempat. Mobil yang dikemudikan Bokir sudah sampai di lobby hotel, ada seorang petugas hotel yang membukakan pintu mobil.


Wulan keluar dari mobil terlebih dulu, dan di susul oleh Damar. Sedangkan Bokir memarkirkan mobil di parkiran hotel.


“Selamat datang Tuan.” ramah seorang pegawai hotel yang memakai pakaian formal, kepada Damar.


Damar tersenyum simpul, ia sangat mengamati setiap inci dari bangunan hotel yang terlihat sangat megah dan berkelas. Ia mengedarkan pandangannya, hingga membuat Wulan menyenggol lengannya.


Damar tersadar dari kekagumannya dan menatap Wulan.


“Mari, Tuan.” ajak Wulan untuk segera masuk ke hotel.


Pintu masuk lobby bagian dalam hotel di bukakan oleh dua orang petugas. Dan sedikit membungkuk serta tersenyum ramah kepada Damar.


‘Apakah ini mimpi Mar?’ batin Damar berseloroh.


Kedua orang Pria lainnya menghampiri Damar dan Wulan. “Mari Tuan muda. Tuan Bagaskara sudah menunggu Anda.” ucap salah seorang kepada Damar.


Wulan dan Damar mengikuti kemana perginya kedua orang yang terlihat sangat elegan, stelan pakaian jas yang sangat formal. Damar hanya diam, karena ia pun tidak tahu untuk apa Kakek Bagaskara menemuinya di hotel semegah ini.


Setelah menaiki lift, Kedua orang itupun berdiri di depan pintu lebar dan membukanya untuk Damar.


Damar berjalan lebih dulu dan disusul oleh Wulan serta kedua orang yang mengantarnya sampai ke salah satu ruangan hotel khusus untuk pertemuan para pebisnis elit.


Wulan menunjukkan kursi duduk tak jauh dari Kakek Bagaskara. Sedangkan ia sendiri duduk tidak jauh dari Damar.


Damar masih tidak memahami tentang situasi sekarang ini. Ia hanya menuruti Kakek Bagaskara untuk berdiri. Dan semua orang yang berada di ruangan meeting pun berdiri.


“Saya akan memperkenalkan cucu saya, Damar Mangkulangit, dan sekarang ia bergabung dengan group Wijaya Company, mulai hari ini.” ujar Kakek Bagaskara kepada ke dua puluh kolega bisnisnya dari berbagai perusahaan.


Tepuk tangan meriah menyambut baik perkenalan yang Kakek Bagaskara ucapkan.


Satu persatu kolega bisnis Kakek Bagaskara menghampiri Damar dan menjabat tangannya.


“Selamat Tuan,”


“Selamat bergabung.”


Damar tersenyum ia mengingat akan salah satu hadits, *Senyumanmu dihadapan saudara mu adalah ibadah. Dan menjabat tangan para kolega bisnis yang terlihat sangat berkelas meskipun dengan kegugupan dan rasa canggung berbaur menjadi satu hingga ia berkeringat dingin di ruangan yang ber Ace.


Damar menarik nafas dan menghembuskan perlahan, ‘Cari titik dimana letak ketenangan Damar, kamu pasti bisa dan akan menjadi terbiasa akan hal ini. Ibu, Bapak do'akan Damar.'


Seorang bule menghampiri Damar dan menjabat tangannya, Damar tersenyum simpul.


“Introduce my name is Robert Jameson,” seorang Pria berkewarganegaraan asing memperkenalkan dirinya.


Wulan melihat raut wajah Damar menunjukkan kegugupan, ia lantas mendekati Damar yang tengah di ajak berkenalan dengan warga negara asing. Tapi hal yang Wulan tidak sadari ternyata kekhawatirannya sirna, kala Damar bisa mengucapkan bahasa Inggris dengan fasih.


“Hay Sir Roberts. My name is Damar Mangkulangit as my grandfather said I am his grandson.” jawab Damar, ia memang sedikit bisa berbahasa Inggris secara otodidak.


Robert menggut-manggut dan bertanya kepada Damar, “Bahasa Inggris Anda cukup baik,”


Damar menyunggingkan senyuman, “Wah, Anda bisa berbahasa Indonesia? Saya sangat senang dengan warga negara asing yang mau belajar bahasa Indonesia,”

__ADS_1


“Of course, Bahasa Indonesia mudah dimengerti,” jawab Robert.


“Benarkah? Kalau begitu bagaimana kalau kita bersilahturahmi saja Sir,” tawar Damar mencari kesempatan, ia mengingat akan ucapan Wulan yang akan mencari investor. Mungkin disinilah peran ia bisa bertemu dengan Investor.


Robert mengerutkan keningnya, “what is silahturahmi?”


Damar tersenyum, “Make friends,” (Menjalin pertemanan).


“What is your business? (Apa bisnismu?)” tanya Robert.


Damar menjawab dengan jujur tentang situasi perusahaan yang baru ia pelajari, “Perusahaan bergerak di bidang perdagangan. Akan tetapi saat ini saya sedang ada sedikit masalah dan mencari seorang investor.”


Pria bertubuh tegap berkulit putih serta rikma kecokelatan pun manggut-manggut, “Saya juga sedang mencari pebisnis yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat,”


Damar tersenyum sumringah, “I'm sure you won't regret working with our company,” (Saya yakin anda tidak akan menyesal jika bekerjasama dengan perusahaan kami.)


Robert pun menjawab, “Okay, I'll think about it. My secretary will contact your secretariat soon sir.” (Oke, akan saya pikirkan. Sekretaris saya akan segera menghubungi sekretariat Anda Tuan)


Damar lebih cepat bisa menguasai dirinya dalam perkenalkan bisnis ini. Ia berbaur dengan kolega bisnis yang lain.


Sedangkan Kakek Bagaskara juga sibuk berbincang dengan pebisnis lainnya.


Tak terasa setelah berbincang-bincang selama hampir dua jam lamanya. Waktu dhuhur pun telah tiba, Damar menatap arloji di pergelangan tangannya, dan berniat melaksanakan sholat dhuhur. “Mohon maaf Tuan-tuan, Nyonya saya permisi dulu,”


“Mau kemana?” tanya seorang pebisnis asal Kalimantan.


“Sudah waktu dhuhur,” jawab Damar


“Baiklah, silahkan.” jawab pebisnis lainnya.


Damar pergi kepada pegawai hotel untuk menunjukkannya tempat untuk melaksanakan sholat dhuhur.


Robert nampak sangat mengamati Damar, ia mengagumi ketepatan waktu Damar dalam melakukan kewajibannya.


Selang waktu lima belas menit Damar sudah kembali lagi, untuk bergabung bersama para pebisnis.


Perkenalan itupun berjalan dengan baik dan Damar dapat dengan mudah menemukan investor asing dari pertemuan itu. Robert Jameson ia pada akhirnya memutuskan untuk bekerjasama dan langsung mengajukan kontrak kerjasama dengan perusahaan yang Damar kelola.


Dikarenakan investor asing asal Canada itu menyukai keramahtamahan dan ketepatan waktu Damar dalam menjalankan keyakinannya. Tanpa terasa pertemuan para pebisnis elit pun berakhir.


••


Kini Damar sedang berada di dalam mobil Mercedes Benz C-Class yang sama dengan Kakek Bagaskara. Sedangkan mobil sedan Corolla dibawa Bokir yang mengikuti dari belakang mobil Kakek Bagaskara yang di kemudikan sang supir.


“Antarkan Kakek, ke makam Ayahmu,” ujar Kakek Bagaskara.


Damar mengalihkan pandangannya menatap Kakek Bagaskara yang duduk disebelahnya, “Anda sudah tahu, kalau Bapak sudah tiada?”


Kakek Bagaskara memejamkan matanya seraya menghela nafas, sesaat kemudian bersitatap dengan Damar yang berwajah sangat mirip dengan anaknya, Gusli Wijaya. “Jika Kakek tidak bisa menggantungkan harapan pada Gusli, maka bisakah Kakek bergantung padamu juga Danum?”


Damar terhenyak mendengar suara Kakek Bagaskara yang terdengar sangat memelas. Sejenak terdiam, Damar tidak menjawab pertanyaan Kakeknya. Karena ia berpikir pertanyaan Kakek sudah menjadi kewajibannya.


“Boleh saya tahu, kenapa Anda berpura-pura buta saat pertama kali bertemu dengan saya?” tanya Damar, mengingat kejadian saat ia menolong Kakek Bagaskara yang berpura-pura buta.


Kakek Bagaskara tersenyum tipis, dan membuang tatapannya menatap keluar jendela kaca mobil. “Semua itu Kakek lakukan untuk menguji ketulusan mu, dan Kakek sudah tahu apa jawabannya.”


•••


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak like vote komen 🙏🏼 Terimakasih


Jika ada kesalahan dalam penulisan, silahkan berikan arahan yang baik. Di kolom komentar 👍🏼

__ADS_1


__ADS_2