
Damar membalas para preman dengan membabi buta, menghancurkan komplotan preman jatuh terkapar bersimbah darah oleh belatinya. “Tiada ampun lagi!!”
•••
Damar merasa bahwa pertarungannya kali ini, suasana hatinya sangat tenang, seperti bertarung berdampingan dengan orang yang pernah dicintainya dahulu! Menumpahkan semua rasa sesak di dalam hatinya. Urat nadinya terus mengalirkan darah dan menggiringnya masuk ke jantung memompa gejolak rasa yang membara.
Bokir berdiri dengan nafas yang tersengal-sengal, “Aaa.. sshh..” ia mendapat serangan peluru di bagian pundaknya,“Dasar narapidana brengsek!!” Bokir lagi-lagi mengayunkan belati dan merobek celana mengenai pangkal paha preman yang dahulu pernah melukainya, dalam pertempuran melawan para bandit narkotika.
“Aaaaa....” erang preman menahan sakit di pangkal pahannya, seketika menguar darah segar dari sana. “Jangan panggil aku Bondan! Kalau aku tidak bisa menghunuskan peluru ini di jantung mu, Botak!!” teriak preman bernama Bondan, menarik pelatuk mengarahkannya ke kepala pelontos Bokir.
Bunyi tembakan menggema di ruangan gudang yang luas.
Namun, kali ini Bokir dapat membaca pergerakan peluru, ia menghindari peluru. Bokir membulatkan matanya, lantas kembali menatap Bondan yang akan menarik pelatuk pistolnya kembali.
Bless... Bokir melemparkan pisau belati, ujung belati tajam tepat mengenai kening Bondan. Seperti anak panah yang menangkap mangsanya. Seketika pria berambut gimbal itu jatuh terkapar, tewas dengan sia-sia sebelum bertobat dari dosa-dosanya.
Bokir melirik kearah anggotanya, “Erik! Lepaskan kawan-kawan Didi!!”
Anggotanya yang bernama Erik pun menganggukkan kepalanya, lantas berlari menghampiri para sandera yang terluka parah dengan posisi tangan dan kaki terikat di tiang-tiang penyangga gudang. Erik melepaskan sandera berjumlah empat orang kawan-kawan Didi.
Masing-masing ke empat anggota Bokir pun menghadapi preman lebih dari satu.
Damar memegang dua pisau belati di tangan kanan dan kirinya. Bless... ia kembali menggoreskan pisau belati yang sudah berlumuran darah, kembali melukai betis preman dan mengayunkan kembali pisau belati di lengan lawannya.
“Aaaa...” erangan preman mendapat luka sangat parah dari sayatan pisau belati dari Damar. Pertumpahan darah tak dapat terhindarkan. “Damar!!! Kali ini kamu akan mati di tanganku!!” teriak penuh dendam membara menatap musuh lamanya.
Damar tersenyum menyeringai, menatap preman punk yang dahulu pernah menusuknya dan hampir membuatnya tewas, “Tidak disangka, kita bertemu kembali Anton! Sudah puaskah kamu di dalam penjara?!”
Damar menatap musuh lamanya yang berjarak 2 meter darinya. Sedang memegangi pergelangan tangannya.
Anton sedikit membungkuk, menekan darah di lengannya. “Bacot!! Lebih baik aku mati!!” berang Anton, ia kembali berdiri dengan langkah kakinya yang diseret, mengangkat golok tajam. “Hiyaahhrr...”
Anton dan Damar sama-sama berjalan mengangkat senjata masing-masing.
“Baiklah! Anggap aku adalah malaikat mautmu!” seru Damar. Bless... tusukan pisau belati di perut tak dapat di hindarkan. Damar membalaskan dendamnya kepada pria yang tubuhnya di penuhi dengan tato. Damar menusukkan pisau belati lebih dalam lagi di perut Anton, tangannya berlumuran darah dari musuh lamanya.
Anton jatuh tersungkur, dengan mata terbelalak merah, darah keluar dari mulutnya.
Dalam pertarungan inilah, antara Bokir maupun Damar dan ke lima anggotanya yang lain dipertemukan kembali dengan musuh-musuh lama.
Terhitung dari preman yang berhasil terkapar 20 preman narapidana yang berkelompok dalam organisasi khusus para bandit kejahatan.
Sebagian preman pecundang kabur lari tunggang langgang mencari aman. Dan sebagian para preman yang masih tersadar sudah terikat tangannya kebelakang punggung.
“Siapa di sini ketuanya?!” teriak Damar, dengan nafas yang menggebu-gebu, menatap satu-persatu para preman yang masih tersadar.
Tiada jawaban dari para preman
Damar mendekati salah satu preman berwajah dipenuhi tato yang menatapnya tajam. Ia berjongkok dihadapan preman yang bersimpuh dengan tangan terikat kebelakang dengan wajah lebam hidung yang berdarah serta koyakan di pakaiannya.
__ADS_1
“Mereka, benar-benar jaringan bandit narapidana yang dulu pernah kita tangkap Kir!” seru salah satu anggota Bokir, yang sudah melumpuhkan para preman bandit narapidana.
“Kamu benar Jon!” jawab Bokir, seraya memegangi pundaknya yang berdarah.
Damar mencengkram kuat baju yang dikenakan preman dihadapannya. “Siapa dari kalian ketuanya!?” tanya Damar lagi, dengan suara di tekankan.
Karena tidak ada preman yang mau membuka suara. Dengan perasaan kacau Damar segera menyeret preman yang masih tersadar. “Bawa mereka ke rumah Kusumo!!”
“Fa--fatir...” jawab preman yang di seret oleh Damar.
Damar berhenti sejenak, “Fatir?!”
“Fatir adalah kelompok begal motor sadis! Buronan polisi!!” jawab Sodik, salah satu anggota Bokir.
“Mereka juga bisa menjadi pembunuh bayaran kelas kakap!” kata Rinto, menimpali ucapan Sodik.
Damar membulatkan matanya, terkejut mendengar jawaban dari rekan-rekan Intel Bokir, “Jadi mereka, sebenarnya memburu nyawaku?!”
“Kusumo sudah mengetahui rencana, yang sudah kamu susun Mar!” jawab Bokir, seraya memegangi pundaknya yang terdapat peluru bersarang di sana. “Dia nggak akan membebaskan mu begitu saja!”
“Begitu yah!!” Damar menatap satu-persatu preman-preman yang terkapar. “Bawa mereka ke rumah Kusumo, biarkan bandit tanah itu menikmati kejutannya!”
Bokir memberi isyarat pada lima anggotanya, “Bawa sebagian dari mereka yang masih tersadar, yang lainnya hubungi polisi. Katakan kepada pihak kepolisian bahwa kita telah menggagalkan rencana penyelundupan narkotika!”
Sodik pun menganggukkan kepalanya.
“Erik, bawa kawan-kawan Didi ke rumah sakit!” lanjut Bokir, memberi arahan kepada anggotanya yang lain.
Jojon menyeret preman-preman yang terkulai lemah, ia melirik Bokir.
“Sepertinya, peluru bersarang di pundakmu cukup parah!” balas Jojon, melihat rekannya memegangi pundak.
Bokir menatap Jojon tajam, “Kenapa otakmu masih saja dodol, kenapa kamu malah bawa belati! Bukan pistol?!” berang Bokir menatap Jojon.
“Tidak ada pilihan lain, selain belati! Tetua tidak memberi izin untuk membawa persenjataan tembakan!” jawab Jojon, seraya mengangkat bahunya.
Mobil jenis APV yang di bawa oleh anggota Bokir pun membawa sandera dan mobil lainnya membawa preman ke rumah Kusumo.
••
Di rumah megah ruah, dengan pencahayaan lampu yang menambah kesan elegan.
“Haha... aku tidak akan membiarkan Bocah itu menang, dan menggeledah perusahaan ku!!” tawa seorang pria tengah baya di ruang tamunya, dengan memegangi gelas bir di tangannya.
Ketua dari preman pun tertawa, dengan mata yang tertutup sebelah seperti bajak laut. “Apa kau puas, Kusumo?!”
“Ya, tentu aku sangat puas Fatir!! Akhirnya tidak ada yang akan mengacaukan tanah-tanah ku dan juga perusahaan ku!” Kusumo menjunjung tinggi gelas birnya, lalu bersulang dengan para bekas narapidana yang menjadi anak buahnya.
“Dimana anak dan istrimu Kusumo?” seru salah satu orang yang paling berperan penting dalam semua akal bulus kelicikan Kusumo dalam memalsukan surat keterangan tanah.
__ADS_1
Kusumo menenggak habis bir yang ada di gelasnya, “Aahh... bir ini sangat enak!” menaruh gelas di atas mejas, dan menatap rekannya. “Istriku sedang berlibur di New York, putri bungsuku, dia pergi ke rumah anak tertuaku di pekanbaru.” jawab Kusumo.
Seruan satpam pun membuyarkan kelima orang yang sedang berpestapora.
“Tuan! Tuan!!” satpam penjaga rumah Kusumo pun berlari menghampiri sang Tuan rumah.
Dengan mata sayup akibat pengaruh alkohol dari bir yang di minumnya, Kusumo lantas berdiri dan memegang gelas berisikan bir kepada satpam rumahnya. “Minumlah ini Rasdi! Hari ini aku sangat puas! Aku senang!!”
Satpam penjaga yang bernama Rasdi pun melihat gelas, dan kembali menatap majikannya, satpam setengah baya inipun menggeleng.
“Di-- didepan rumah ada mo-mobil yang melemparkan orang-orang dengan luka parah!” ungkap Rasdi tergagap.
Kusumo membelalakkan matanya, ia membanting gelas bir ditangannya. Lalu berjalan dengan langkah jenjang menuju pintu gerbang.
Di susul oleh ketua dari geng preman bekas narapidana, dan ketiga pria lainnya. Berlari menuju gerbang teralis besi menjulang.
Seketika Kusumo, Fatir dan tiga pria lainnya membelalakkan matanya, menatap komplotan preman-preman yang terkapar bersimbah darah dengan mulut di bekap lakban hitam.
Fatir melihat selembar kertas di atas tubuh salah satu anak buahnya, bertuliskan dengan tinta darah segar. [JANGAN PERNAH LAGI MENGACAUKAN FAKTA!]
Ketua bandit preman itupun meremas kuat kertas membuangnya ke sembarang arah.
Kusumo mencengkram kuat kerah Fatir, “Aku sudah membayar mu mahal untuk ini, dan ini hasilnya?!”
Fatir jelas saja kesal akan hal ini, “Aku yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!”
Kusumo melepaskan cengkraman tangannya, dengan perasaan dongkol.
••
Di rumah sakit..
Wulan harap-harap cemas menunggu kabar dari Damar. Setelah Bokir datang lebih dulu di rumah sakit dengan membawa kawan-kawan Didi yang terluka cukup parah, dan kini sudah mendapatkan perawatan medis.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” gumam Wulan, mondar mandir di depan rumah sakit.
Tepat saat Wulan mengedarkan pandangannya menatap jalanan depan rumah sakit, ia melihat seseorang yang sudah ia nantikan dengan perasaan khawatir dengan mengendarai motor. “Damar!” ucapnya dengan suara kecil, lalu melihat Damar memarkirkan motornya.
Damar mengulas senyuman di pipinya yang di penuhi peluh, darah dan goresan. Tampilannya sangat berantakan, koyakan di pakaiannya tak beraturan. Perlahan ia melihat Wulan berjalan dengan langkah jenjang menghampirinya. Dengan merentangkan kedua tangannya berharap seperti di adegan film-film ia dipeluk oleh pujaan hatinya setelah lelah berjuang. Namun, berbeda dari ekspektasinya.
Wulan mengayunkan telapak tangannya dan mendarat mulus di pipinya yang tidak terluka, “Aaaa...” erangnya, menahan panas di pipinya.
Wulan mencengkram kuat kerah jas Damar yang sudah terkoyak, dan menangis tanpa suara, hanya air mata yang mewakili bahwa ia sangat mengkhawatirkan pria yang baru saja ia tampar, “Kamu tahu Damar! Aku sangat mengkhawatirkanmu!”
Damar memegang kedua tangan Wulan yang memukul dadanya, dan membawa wanita yang sedang menangis dalam diam masuk kedalam dekapannya. Damar mengusap lembut rikma hitam kecokelatan milik Wulan. “Nggak ada yang menyambut pejuang dengan tamparan!”
Wulan tidak menggubris perkataan Damar, hatinya sangat lega, bisa melihat Damar ada di hadapannya. Tangisnya semakin menjadi-jadi, ia membalas pelukan hangat Damar erat.
Warna keabu-abuan dengan guratan keemasan melabur dilangit, memasuki waktu subuh.
__ADS_1
•••
Bersambung...