
Semua orang yang berada di depan kamar UGD tempat Kusumo mendapat perawatan pun menatap seorang Dokter setengah baya yang menyerukan nama Damar.
Selaku sang pemilik, Damar pun berbalik badan dan melihat seorang Dokter yang berkacamata. Begitupun juga dengan Wulan, ia menatap kearah yang sama.
Vega, Ratna dan Ilham, langsung menghampiri Dokter yang baru keluar dari kamar UGD. Dengan wajah-wajah kepanikan, dan kekhawatiran, ketiganya mengharap orangtuanya akan baik-baik saja. Terlepas dari riwayat penyakit jantung yang di derita Papi mereka.
Pertanyaan Ilham, mewakili pertanyaan Vega dan Ratna. “Bagaimana keadaan Papi saya, Dokter?” seru Ilham, bertanya kepada Dokter yang menangani Papinya.
Dokter berjas putih inipun menatap satu persatu dari ketiga orang yang menatapnya, menunggu jawabannya, mengenai tentang kondisi pasien yang sedang di tanganinya, “Tekanan darah pasien sudah membaik, namun harus saya katakan, ada hal buruk yang akan menganggu kesehatan pasien dikemudikan hari,”
Ketiga dari anak-anak Kusumo pun membulatkan matanya, mendengar jawaban dari Dokter bernama tag Habibi.
“Tapi masih bisa sembuh kan Dok?” tanya Vega, panik.
Dokter setengah baya ini pun menghela nafas panjang, seolah menggambarkan. Sekeras apa-pun usaha yang sudah dilakukan, nyatanya memang organ jantung jika sudah berdampak negatif, akan ada hal-hal yang tidak diinginkan. Beliau pun menunduk, dan kembali menatap satu persatu orang-orang yang mengharap semuanya akan baik-baik saja.
“Kemungkinan besar, pasien akan mengalami struk yang berkepanjangan, akibat penyumbatan pembuluh darah yang tidak normal, karena beliau juga mempunyai riwayat penyakit jantung.” jelas Dokter Habibi, mendetail.
Mendengar penjelasan Dokter. Ratna, Vega dan Ilham terkejut. Ketiganya tidak menyangka, bukan hanya bisnis orangtuanya yang hancur dan menjadi tahanan. Kini, Kusumo yang malang juga harus mengalami struk. Seketika hening, merajam. Seolah di depan kamar UGD adalah pemakaman.
Ratna mundur selangkah, seraya membekap bibirnya, ia mencoba menyusun kepingan puzzle kehancuran yang ada di depan mata. Rasa sesak kian semakin menjadi antah-berantah, beringsut duduk di atas lantai rumah sakit, menyandarkan beban tubuhnya di dinding rumah sakit, “Nggak! Nggak mungkin!” ucapnya mendengung dibalik telapak tangannya, diselingi dengan menggelengkan kepalanya.
“Papi!” lirih Vega terdengar seperti rintihan di tengah guyuran hujan, tidak percaya dengan kenyataan orangtuanya kini.
Begitupun juga dengan Ilham, tiada orangtua yang bisa ia banggakan sebagai anak laki-laki. Ilham bersandar pada dinding putih rumah sakit.
Damar dan Wulan menatap, Ilham, Vega dan Ratna. Sebelumnya, bagi Damar tidak pernah menyangka hasil dari penangkapan Kusumo berbuntut panjang, dengan diwarnai kesuraman dan kenestapaan. Seperti benang kusut, dengan kemelut jarum tumpul.
Suara Dokter Habibi pun memecahkan keheningan yang menjalar kian jelas melukis kehampaan. Selama hidup sebagai seorang tenaga medis, suasana seperti ini sudah biasa beliau lihat. Dokter Habibi pun kembali bertanya, perihal nama seseorang yang disebutkan pasiennya, “Adakah seseorang disini yang bernama Damar?”
Semua orang pun kembali menatap Dokter Habibi, tercengang mendengar nama yang kembali beliau sebutkan, lalu beralih menatap Damar, orang yang berdiri tidak jauh dari depan kamar UGD.
Damar limbung dengan adanya Dokter yang menangani Kusumo. Ada apakah gerangan? Kenapa menyebut namanya? Namun, ia diam tidak menjawab ataupun mengalihkan posisi berdirinya.
“Ada apa Dokter, kenapa Papi saya menanyakan Damar?” tanya Vega, terlihat wajah yang sembab.
__ADS_1
“Ini permintaan pasien Mbak, ada hal yang sepertinya sangat penting untuk di sampaikan kepada orang yang bernama Damar,” jawab Dokter Habibi.
Ratna beranjak dari duduknya yang masih bersimpuh di lantai, lantas menghampiri Damar dengan langkah kakinya yang lemas, selemas kehidupannya kini. Lalu berlutut di hadapan sang mantan.
Damar membelalakkan matanya menatap Ratna yang berlutut dengan menangkupkan kedua tangan di hadapannya.
Begitu juga dengan Wulan yang berdiri tepat di sebelah Damar. Ia tidak menyangka bisa ikut terlibat kedalam situasi yang seperti ini.
Tatapan Ratna nanar menatap Damar, dengan berderai air mata, diselingi isak tangis yang tertahan, menggambarkan kepiluan yang merajam, “Please Damar, temuilah Papi, aku mohon!”
Ilham pun menghampiri adik perempuannya, ia menarik lengan Ratna, agar berdiri dan tidak melakukan hal yang meruntuhkan dinding harga dirinya, “Apa yang kamu lakukan Ratna?!” bentak Ilham, melebarkan tatapan netranya.
Ratna terhuyung dengan tarikan tangan dari Kakaknya, ia berdiri, namun ia segera menepis tangan Kakaknya, lagi ia menangkupkan kedua tangannya di hadapan Damar. “Ku mohon Damar, aku mohon, aku tahu kamu mempunyai jiwa yang besar untuk bisa memaafkan kesalahan Papi,”
Kali ini Vega pun ikut memohon kepada Damar, demi orangtuanya yang sedang diambang antara hidup dan mati. “Saya mohon maafkan atas kelancangan saya, yang sudah berkata buruk padamu, tapi saya mohon temuilah Papi,”
Kali ini Ilham terdiam, egonya tidak bisa berkutik banyak untuk membuat Kakak serta adiknya agar tidak memohon kepada Damar.
Damar nanar menatap Ratna dan Vega, lalu beralih menoleh kearah Wulan.
Damar menatap pintu kamar UGD, ia memang tidak menjawab perkataan Ratna yang memohon. Seperdetik kemudian, ia memejamkan matanya, menghela nafas panjang, seolah mencari ketenangan di dalam diri, lalu kembali menatap pintu kamar Kusumo di rawat.
Lantas melangkahkan kakinya menuju kamar UGD. Yah, alasan berperikemanusiaan, yang teguh. Barangkali inilah yang bisa Damar lakukan mencoba untuk berlapang dada, menemui Kusumo yang sedang sekarat di dalam kamar Unit Gawat Darurat.
Semua orang yang berada di depan kamar UGD pun melihat kearah Damar yang mulai memasuki kamar UGD, bersamaan dengan Dokter Habibi.
•
Tatapan Damar langsung menuju kepada seorang pria setengah baya yang terkapar, terkulai lemah di atas brankar, dengan Elektrokardiograf (EKG) merupakan alat kedokteran yang biasa digunakan oleh tim medis untuk mendeteksi denyut dan irama jantung, memenuhi dada yang tak lagi gagah.
Damar menelan ludahnya yang serasa mengganjal, tatapannya sendu, laksana awan mendung yang bergelayut dalam pelupuk matanya, kondisi seperti ini mengingatkan kembali ingatan tentang Almarhum Bapaknya.
Damar menyeret kakinya yang seakan mati rasa, melihat ruangan yang dipenuhi dengan bermacam-macam kabel medis. Tatapan Damar beralih menatap Monitor Holter adalah alat medis yang merekam ritme jantung secara terus-menerus. Dari bunyinya saja, sudah membuat merinding bagi orang yang awam tentang ilmu kedokteran.
Beberapa dari perawat pun menyingkir dari samping brankar, memberi ruang untuk seseorang yang baru memasuki kamar UGD bersama dengan Dokter Habibi, selaku penanggung jawab atas penanganan pasien jantung.
__ADS_1
Damar mendekati brankar, saat ia melihat wajah orang tua Ratna, ia sangat syok sekaligus terenyuh melihat keadaan Kusumo yang sangat miris, dengan bibir yang miring, serta tatapan mata yang sayu, dengan selang oksigen yang berada diantara kedua lubang hidung pria setengah baya ini.
Dengan setengah kesadarannya, Kusumo menyadari bahwa kini ia melihat seorang pemuda yang dulu sering ia hina. “Da--mar.” lirih Kusumo bersuara dengan sangat kesusahan menggerakkan bibirnya yang terdampak struk, yang mengakibatkannya mengalami kelumpuhan dari separuh tubuhnya.
Damar terdiam, ia terus saja menatap wajah yang pucat pasi. Seolah menjelaskan bahwa memang pria setengah baya yang dulu selalu tertipu dengan kemegahan fatamorgana kini tidak berarti apa-apa lagi.
•
•
Taman kanak-kanak, saat inilah Damar sedang mengajak Wulan untuk menikmati waktu di kala senja. Langit biru, melebur dengan warna keemasan serta jingga menjadi sebuah pemandangan yang eksotis dan menentramkan.
Damar menengadahkan wajahnya menatap hamparan sang mega yang teduh untuk di pandang mata. Waktu berlalu begitu cepat, dari saat ia bertemu dengan Kusumo di rumah sakit tepatnya kamar UGD. Ia mengalihkan pandangannya menoleh ke samping, persis dimana Wulan sedang duduk di ayunan taman, memandangi wajah ayu Wulan yang terlihat berseri-seri.
“Wulan!” seru Damar, membuyarkan lamunan Wulan yang sedang menatap tanaman bunga yang tumbuh di taman kanak-kanak di sebelah barat taman kota Bantul.
Wulan menoleh kearah samping, persisnya dimana Damar sedang duduk di bangku yang tersedia di taman. “Hemm...”
Damar mendekati Wulan, dan berjongkok di hadapan wanita yang dibiarkannya tergerai indah rikma tertiup angin sore ini. Tangan Damar terulur, menyelipkan anak rikma Wulan yang sebagian menutupi telinga Wulan yang di pasangi anting-anting kecil. “Kamu nggak mau tau apa yang sudah ku bicarakan dengan Pak Kusumo?”
Wulan mengangkat alisnya, sedikit memiringkan kepalanya, dan kembali tegak. “Ku rasa, hanya kata maaf?”
Damar menggeleng, tanda bukan itu yang sudah ia bicarakan dengan Kusumo. Damar menggenggam kedua tangan Wulan, lalu menciumnya lembut, dan bersitatap dengan wanita yang sudah mengembalikan rasa percaya dirinya, “Satu hal yang pasti, Nawulku! Apa pun alasannya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
Wulan terkejut dengan perkataan Damar, ia semakin di buat tidak mengerti dan tidak dapat ia baca dengan mudah seperti apa sebenarnya Damar Mangkulangit.
•••
Bersambung...
♠
telat update yah?? Maklum lagi nggak enak badan.. Buat kalian yang sudah setia membaca karya ini, terimakasih.
Terlebih yang sudah memberikan dukungan, Like, Vote, Komen dan bintang 5. Terimakasih sebanyak-banyaknya. Sehat dan sukses yah.
__ADS_1