
Berharap lah pada harapanmu nanti, agar setiap permasalahan mu dapat terlihat kecil.
kartu AS
♠
Pak Bambang memasuki ruangan yang sekarang menjadi ruangan khusus untuk Damar. Beliau datang tidak sendiri ada seorang staf lagi yang membantunya membawakan setumpuk dokumen perusahaan di meja kaca memanjang di depan sofa hitam.
"Ini adalah bagian dari perusahaan yang harus Anda pelajari Mas Damar,” ujar Pak Bambang menunjuk dokumen yang beliau taruh di meja.
Damar membulatkan matanya menatap dua tumpuk dokumen perusahaan.
"Ini hanya sebagian Mas Damar, masih ada lagi hal yang harus Anda lakukan,” lanjut Pak Bambang lagi.
Damar mengalihkan tatapannya menatap dokumen dan menatap Pak Bambang. "Lagi?”
Pak Bambang mengangguk tipis, beliau menoleh kepada seorang lagi yang ikut membawakan dokumen lain.
"Putra!”
Seorang yang di panggilnya Putra pun menjawab, "Iya Pak,”
"Beritahu semua karyawan untuk menyambut Presdir baru di perusahaan ini,” titah Pak Bambang.
Damar tertegun mendengar perintah Pak Bambang dan segera menyela pembicaraan,. "Pak Bambang, saya rasa itu tidak perlu,”
Pak Bambang menoleh kepada Damar dan tersenyum simpul, "Ini harus di lakukan Mas Damar, semua orang harus tahu kalau pemilik perusahaan ini sudah berganti agar memudahkan Anda bisa membangkitkan image dari perusahaan ini.”
Tiada bantahan lagi dari Damar dalam pikirannya saat ini seolah di penuhi dengan berbagai macam benang kusut. Menjerat semua rasa yang dapat ia rasakan. Berharap semua jalannya di lancarkan.
Setelah seorang staf yang bernama Putra keluar ruangan. Pak Bambang mempersilahkan Damar untuk berjalan terlebih dulu. Bokir sudah siap membukakan pintu untuk Presdir baru dari perusahaan makanan dan minuman olahan siap kemas bermerek King food.
Pak Bambang dan Wulan berada di belakang Damar yang sedang siap mengatur nafasnya. Seolah ia akan terjun payung dari atas ketinggian bukit Himalaya.
"Sudah siap Mas Damar?” tanya Pak Bambang, melihat kesiapan mental dari seorang pemuda yang baru di tunjuk untuk menjadi Presdir perusahaan yang terpuruk. Pak Bambang akan mengenalkan Damar kepada karyawan dan juga untuk mengetahui apa saja fungsi dan kegunaan ruangan di gedung yang di jadikan kantor.
Pak Bambang menatap Damar dari samping belakang dengan perasaan kasihan. Pemuda yang seharusnya di banggakan setelah berpuluh tahun baru bertemu dengan Kakeknya yang memiliki kuasa di dunia bisnis.
Namun, sebaliknya. Damar harus di tempatkan pada posisi yang sulit. Meskipun ia menjabat sebagai seorang Presdir. Iya, Presdir dari perusahaan bangkrut.
Damar mengangguki ucapan Pak Bambang. Dengan segenap jiwa dan raga ia mulai melangkahkan kakinya dengan menggemakan takbir dihati untuk menopang pergolakan batinnya yang tertatih-tatih atas kenyataan yang harus ia songsong untuk lagi bisa membangkitkan semangat. "Bismillahirrahmanirrahim..”
Keluar dari ruangannya dengan pintu yang di bukakan oleh Bokir. Tidak banyak orang yang berada di lantai empat. Hanya dua orang yang sebelumnya Damar temui,
__ADS_1
"Selamat atas jabatan baru Anda Pak Damar,” ucap salah satu dari kedua orang yang berdiri dengan menyunggingkan senyuman.
Damar tidak menjawab dengan suara, ia hanya mengangguk. Dan melewati kedua orang yang terlihat seumuran dengan Pak Bambang.
Saat Damar mencapai lift di sisi kanan yang terdapat di lantai empat. Tak sengaja gendang telinganya mendengar bisikan dari salah satu kedua orang barusan ia lewati cukup mengganggu pikirannya.
"Mas Damar itu ibarat berlian dalam lumpur,” ucap salah satu dari kedua orang yang sama-sama membelakangi lift. Tidak sadar bahwa Damar sedang menatap keduanya dengan hati yang kelu.
Wulan menatap Damar, namun tidak ada suara yang keluar dari bibirnya.
Pintu lift pun tertutup, dengan Bokir yang sudah siap mengantarkan Damar ke lantai tiga. Yaitu kantor staf pemasaran.
Setelah sampai di lantai tiga gedung, kali ini Damar sudah mulai rileks menaiki lift. Di lantai tiga ia pun sama hanya tersenyum dan mengangguk serta menjabat tangan kepada karyawan yang berkenaan untuk menjabat tangannya.
Pak Bambang mengenalkan satu persatu jabatan dari pekerjaan karyawan di lantai tiga.
"Selamat datang Presdir,” ujar salah satu staf yang mewakili karyawan lainnya.
"Mohon kerjasamanya,” ucap Damar, ia pernah melihat tontonan di YouTube ketika seorang atasan berbicara kepada bawahannya. Harus terdengar tegas kalau berwibawa Damar sudah biasa bersikap selayaknya laki-laki yang memimpin di rumah.
Selang waktu hanya lima belas menit setelah menyusuri area lantai tiga. Damar, Pak Bambang, Bokir dan juga Wulan yang juga di rekrut untuk menjadi sekretaris Damar hanya bisa pasrah mengikuti arah kemana Pak Bambang akan membawa atasannya.
Sampai di lantai dua pun sama halnya di lantai tiga. Damar hanya tersenyum dan sesekali mengangguk.
Setelah mendengar kembali berbagai persoalan yang ada di perusahaan. Pak Bambang meminta agar Damar kembali melanjutkan langkahnya.
"Mari Tuan Damar...” ucapan Pak Bambang mengambang kala Damar menyelanya terlebih dulu.
"Saya mohon Pak Bambang, jangan memanggil saya dengan sebutan Tuan,” pinta Damar.
Pak Bambang pun mengangguk, pria setengah abad itupun kembali berujar, "Baiklah Mas Damar, mari kita lanjutkan ke bagian produksi di bagian belakang gedung kantor ini.”
Setelah melewati gedung utama, kini bagian produksi makanan. Banyak karyawan yang menaruh harapan besar kepada Damar. Selaku Presdir yang akan menjalankan. Yang tentu saja jika bukan karena merasa tertantang akan situasi yang sangat nol ia pahami.
Damar hanya bermodalkan tekad dan keberanian untuk mengemban misi visi ini.
Pak Bambang merasa sudah cukup untuk melakukan survei bagian produksi. Karena sudah memasuki jam makan siang. Beliau pun mengajak Damar untuk menikmati makanan yang berada di restoran tidak jauh dari perusahaan.
Restoran yang berkonsep outdoor, canggung dan gugup yang Damar rasakan.
"Silahkan Mas Damar..” ujar Pak Bambang meminta agar Damar duduk terlebih dulu di bangku kayu yang sudah di sediakan resto dengan meja segi empat dan empat kursi.
"Saya rasa, Anda tidak perlu berlebihan terhadap saya Pak Bambang. Anggaplah saya seperti saat Anda pertama kali bertemu dengan saya,” ujar Damar, dan menarik kursi untuk Pak Bambang.
__ADS_1
Pak Bambang menatap Damar dengan senyuman hangat. "Anda terlalu ramah Mas Damar, tapi terimakasih.” ucap Pak Bambang dan duduk di kursi yang sudah Damar persilahkan.
Bokir menarik kursi dan duduk di sebelah Pak Bambang
Kini giliran Wulan dan Damar yang belum menduduki kursinya. Damar berinisiatif menarik kursi untuk Wulan namun wanita itu dengan angkuhnya menarik kursi sendiri dan mengacuhkan niatan Damar.
Dengan mendengus kesal dalam hati, Damar duduk berdampingan dengan Wulan. Yang seolah tidak menganggapnya ada.
Bokir melihat Wulan geleng-geleng kepala
Damar menatap Wulan dari samping dengan perasaan bersalah. ‘Mungkinkah dia sangat marah padaku, baiklah setelah ini aku akan meminta maaf padanya.' hati Damar berseloroh.
Bokir pun memanggil salah satu waiters, "Mbak-mbak...”
Seorang waiters melihat lambaian tangan Bokir, dan menghampirinya. "Silahkan, ini menunya?”
Waiters menuliskan pesanan yang di minta Pak Bambang dan juga Bokir.
Namun lain saat waiters menanyakan Damar dan Wulan ingin pesan apa, "Lalu Mbak sama Mas nya Mau pesan apa?”
"Es jeruk!” seru Damar bersamaan dengan Wulan.
Tulis waiters di buku pesanan, setelah menulis minumannya, "Lalu makanannya?”
"Nasi gudeg!” lagi Damar dan Wulan menyebutkan menun yang sama.
Bokir dan Pak Bambang saling bersitatap dan membulatkan matanya. Pak Bambang seolah menanyakan perihal ada kedekatan apa antara Damar dan Wulan dengan dagunya kepada Bokir.
Bokir menjawab menjawab isyarat Pak Bambang hanya dengan mengangkat bahunya.
Wulan dan Damar saling menatap, sampai Wulan lah yang memutuskan kontak mata secara sepihak. Dan kembali menatap waiters,
"Tambahkan kerupuknya Mbak,” ujar Wulan.
"Saya juga Mbak.” imbuh Damar.
Wulan menoleh kearah Damar dan mencebikkan bibirnya, "Ck. Nggak bisa lihat menu lainnya apa?” cetus Wulan.
Dengan polosnya Damar menggeleng, nasi gudeg Jogja memanglah salah satu makanan favoritnya. "Nggak, karena aku hanya melihat kamu!” celetukan Damar, ia seolah sedang melonggarkan hatinya dari rasa kegugupan.
"Wes... Wes... Ambyarrrr Lan, Ambyar rek!” celetuk Bokir.
•••
__ADS_1
Bersambung...