
Setelah melaksanakan sholat dhuhur di dalam ruangan kantor Damar, Wulan duduk sekejap di kursi kerja sang suami. Merasakan aroma yang tidak asing. Aroma tubuh suaminya, kehangatannya, cintanya. Semua ini benar-benar membuatnya merasa sangat hampa tanpa seorang Damar.
Karena hari-harinya kini dipenuhi dengan Damar lagi, Damar terus, dan mentok di Damar. Sampai Wulan merasa sangat hampa tanpa laki-laki yang menikahinya dua bulan lalu, dua bulan adalah waktu yang membuat seorang Nawang Wulan terlena, terpana, dan penuh kasih sayang mesra.
Wulan menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Ia mendesahh saat kram perut mulai terasa lagi, seharian ini ia merasa kram otot di perutnya semakin berasa. Sejenak memejamkan matanya, seperdertik kemudian ia menatap bingkai foto dirinya dan juga Damar. Mengusap perlahan foto Damar, lantas beranjak dari duduknya.
Dan berjalan menuju pintu, sebelum keluar dari dalam ruangan suaminya, Wulan mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan ruangan. Sungguh berasa ada yang hilang dan kosong. Lalu menutup pintu, dan berjalan menuju lift, tidak banyak orang yang ia jumpai di lantai empat.
Lift langsung menuju lantai satu, Wulan melangkahkan kakinya keluar dari lift dan melihat beberapa karyawan staf yang masih melakukan pekerjaannya. Sesekali ia menganggukkan kepalanya kepada staf yang menyapanya.
Sesampainya di pelataran parkiran pabrik, ia melihat masih ada beberapa polisi dan beberapa karyawan staf, “Pak polisi saya tinggal dulu,” ujarnya, agar tidak menimbulkan kesan sombong.
Polisi Farhana pun mengangguk, “Iya Nona Wulan, tapi mungkin berikutnya saya juga akan memintamu untuk memberikan keterangan,”
“Baik. Hanya keterangan singkat kan?” jawab Wulan.
“Iya.” jawab polisi Farhana.
Setelah mendengar jawaban perwira polisi itu, Wulan meminta pada Mang Sugeng untuk mengantarkannya ke rumah sakit guna menemani Damar melakukan pemeriksaan tes CT-scan yang sudah di jadwalkan oleh tim Dokter ahli radiologi diagnostik. Dalam sebuah dilematis, ia tidak ingin merengek apalagi mengeluh. “Tolong antarkan saya ke rumah sakit, Mang.”
“Nggih(iya) Den Ayu.” Mang Sugeng mengangguk ringan.. lantas memasuki mobil jok kemudi, perlahan mobil pun meninggalkan pelataran pabrik.
Pandangannya perwira polisi ini terus tertuju pada Wulan sampai mobil yang membawa wanita dingin itu, meninggalkan pelataran pabrik. Kesan dingin itulah tanggapan Farhana saat pertama kali bertemu dengan Wulan. Namun, ia merasa ada sesuatu yang sangat akrab dengan wanita itu. Sekian menit terpaku di tempatnya berdiri, Farhana tidak ingin ambil pusing akan hal itu, ia kembali melanjutkan tugasnya.
• •
Setelah melewati jalanan selama satu jam kini mobil yang dikemudikan Mang Sugeng memasuki pelataran rumah sakit. Mang Sugeng pun melihat kebelakang, persisnya dimana Wulan sedang tertidur. Pria berusia empat puluh delapan tahun ini merasa iba melihat Wulan yang jelas terlihat berwajah lelah dan pucat.
“Kasihan Den Ayu, pasti capek karena harus bolak-balik pabrik, rumah sakit, kurang istirahat juga kondisi Den Damar yang kritis, moga-moga Den Damar segera sehat.” gumam Mang Sugeng, ia pun mencoba memanggil Wulan, namun baru saja ia menggantungkan ucapannya. Wulan sudah lebih dulu terbangun.
Wulan celingukan ke kanan dan ke kiri, “Mang Sugeng, Damar di mana?”
Mang Sugeng tertegun mendengar pertanyaan Wulan.
Sesaat kemudian Wulan teringat, “Astaghfirullah.” Wulan mengusap wajahnya, dan teringat bahwa ia sedang berada di pelataran rumah sakit. Wulan kembali menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
“Terima kasih, Mang Sugeng.” ucapnya pada Mang Sugeng, Wulan lantas turun dari dalam mobil. Membenarkan tatanan rikmanya yang agak berantakan, jelas saja terlihat berantakan karena ia tidak menyisirnya tadi pagi. Bahkan make-up pun enggan memoleskannya. Sungguh ia menyadari dirinya kini terlihat sangat lusuh.
Berjalan melewati beberapa perawat dan pasien, Wulan sampai di depan kamar perawatan intensif Damar. Ia membuka pintu bercat putih dan melihat dua Dokter, empat perawat dan Bu Suci.
Bu Suci melihat kedatangan Wulan, beliau tersenyum tipis menatap anak menantunya. Beliau melihat Wulan berjalan mendekatinya, lantas menyalami tangan Wulan. “Apa kamu sudah makan, Nduk? (Nak)”
Wulan mengangguk serta menjawab lirih, “Sudah.” kendati demikian ia makan sangat sedikit di kantor.
Pandangannya beralih menatap Damar sendu, Wulan heran. Mengapa Damar tidak juga bangun, siapa yang pria ini temui di dalam mimpi? Sampai-sampai masih enggan membuka mata.
Damar yang masih tidak sadarkan diri di pindahkan dari brankar satu ke brankar yang akan membawanya menuju ruang radiologi. Dengan perawat yang melakukan pendampingan khusus berjumlah empat orang dan dua Dokter dari tim ahli radiologi diagnostik.
__ADS_1
•
Tiga puluh menit sudah Damar melakukan pemeriksaan tes CT-scan. Kini Wulan dan Bu Suci sedang mendengarkan penjelasan seorang Dokter ahli radiologi diagnostik, dan Dokter menunjukkan gambar Rontgen mengenai gambaran samar hitam putih bagian dalam otak Damar yang di ambil dari pemeriksaan CT-scan.
“Hasil menunjukkan tidak ada gejala parah, di tempurung otaknya maupun di selaput lendir lainnya.” kata Dokter ahli radiologi bernama tag Irfan Bahtiar.
“Lalu kenapa suami saya masih belum sadarkan diri Dokter?” tanya Wulan lagi, untuk memastikan benarkah demikian yang di sampaikan Dokter padanya, antara lega dan cemas berbaur jadi satu.
“Trauma kepala ini adalah trauma kepala yang paling sering disebabkan oleh pasien kecelakaan lalu lintas, dan bisa jadi itulah penyebabnya masih belum sepenuhnya dapat mengembalikan kesadaran diri pasien,” jelas Dokter Irfan.
“Jadi, tolong katakan saja Dokter, berapa lama anak saya bisa segera siuman?” tanya Bu Suci, khawatir.
“Seperti kasus-kasus yang pernah saya tangani, pasien akan mengalami penurunan kesadaran selama satu minggu bahkan sampai satu tahun, dan proses penyembuhannya terjadi secara bertahap, dengan melakukan berbagai macam kemoterapi untuk memulihkan kesadaran, semoga tidak sampai satu minggu, pasien sudah kembali sadar,” Dokter Irfan, mencoba menenangkan keluarga dari pasien yang sedang ditanganinya, juga mengenai gambaran serangkaian tes CT-scan yang pernah dilakukannya terhadap banyaknya pasien yang pernah di tangani.
Wulan beranjak dari duduknya, ia menggeleng perlahan. Sungguh hatinya serasa terkulai lemah, satu hari saja hidup tanpa Damar sudah terasa hampa? Lalu bagaimana jika sampai satu minggu, bahkan satu tahun? Nggak, ini nggak mungkin! Wulan merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan Dokter setengah baya itu.
Bu Suci menatap Wulan dengan tatapan nanar, sesaat kemudian beliau melihat anak menantunya itu keluar dari ruangan yang memisahkan dengan ruangan radiologi diagnostik.
Wulan menunggu di depan ruangan radiologi diagnostik, sesaat kemudian. Dua perawat membuka pintu lebar-lebar dan brankar yang membawa Damar pun keluar dari ruang radiologi dengan di dorong kedua perawat lainnya. “Jangan pernah menghukumku dengan cara seperti ini, Kang Cimar. Kamu pasti bisa kembali lagi bersama ku!”
••
Bokir sedang membagi tugas kepada para anggotanya guna menemukan keberadaan Opik juga untuk mengevaluasi waktu, agar melakukan penyisiran dengan cara berpencar ke seluruh wilayah Kota Jogja.
Bokir sendiri sedang bersama dengan seorang anggotanya mendatangi tempat-tempat penyewaan mobil rental, dari satu jasa rental ke jasa rental mobil lainnya.
“Mas, disini menyediakan mobil rental apa saja?” tanya Bokir, berpura-pura.
“Mobil apa saja ada, Om,” jawab seorang pria yang menjadi karyawan dari jasa penyediaan mobil rental.
Bokir melirik sekilas kearah temannya Budiono, lalu kembali menatap seorang karyawan yang masih terlihat muda. Lalu menunjukkan foto di ponselnya, foto mobil Jeep yang ia temukan di pinggiran sungai. “Ada mobil Jeep yang kaya gini nggak?”
Sejenak karyawan ini terdiam, “Oh, mobil ini lagi di sewa orang, katanya cuma sehari. Malah udah tiga hari ini nggak juga di balikin. Katanya sih temennya si Bos,”
Bokir lantas menunjukkan foto orang yang sedang ia cari-cari, “Ini bukan orangnya?”
Karyawan inipun sontak saja membenarkan foto yang disodorkan oleh pria berkepala pelontos di hadapannya, “Nah, iya bener ini orangnya, tapi kok Om nya bisa tau, kalau yang menyewa dia, anak orang kaya pemilik club sepakbola di Kota ini?”
Bokir tersenyum girang, akhirnya sepanjang hari ia mencari-cari penyewaan mobil rental, membuahkan hasil. “Jadi benar dia yang udah menyewa?”
Karyawan ini pun mengangguk, tepat pada saat itu, seorang pria muda keluar dari dalam ruangan lain, “Nah, itu si Bos,” seru karyawan menunjuk Bos-nya.
“Ada apa ini?” tanya Bos rental.
Bokir mendekati Bos rental mobil yang terlihat songong, lalu memperlihatkan mobil Jeep di ponselnya, “Kami mau menyewa mobil ini?”
Bos rental melihat foto mobil Jeep yang di sodorkan pria berkepala pelontos di hadapannya, ia terkejut bagaimana bisa ada foto mobil yang sedang ia pinjamkan kepada temannya dengan jaminan uang muka yang begitu tinggi, “Nggak ada! Nggak ada! Pergi sana!” kilahnya.
__ADS_1
Bokir curiga dengan jawaban Bos rental yang jelas terlihat sedang berkilah, ia lantas memberikan kode kepada Budiono.
Budiono segera mengeluarkan kartu nama polisi, menunjukkannya pada Bos rental. “Kami dari pihak kepolisian, ada keterlibatan mobil ini dengan kecelakaan seseorang. Jadi cepat katakan siapa yang menyewa mobil Jeep itu?”
Agaknya Bos rental meremehkan kartu nama yang di sodorkan pria bertubuh kekar di hadapannya, ia tersenyum miring, “Halah... palingan itu cuma palsu!”
Bokir gerah dengan jawaban Bos rental yang terlihat seperti preman, tidak ingin mengulur waktu juga suasana di jasa penyewaan mobil rental ini cukup sepi, dengan sekali pelintir Bokir mengunci tangan Bos rental ke belakang punggung dengan satu kaki ia injak tepat di bagian betis si Bos rental.
Seketika bertekuk lutut lah Bos rental dalam jurus jitu Bokir, dengan sekali hentakan tangan dan kakinya yang cepat.
Sontak karyawan terkejut dengan perilaku pria berkepala pelontos yang tidak dikenalnya.
“Diam!” seru Budiono menyodorkan pistol kearah karyawan agar karyawan itu tidak berteriak.
“Si--siapa kalian sebenarnya?!” ucap Bos rental, menahan sakit di tangannya yang di kunci oleh pria berkepala pelontos tak dikenalnya.
“Jangan mengulur waktu, saya hanya ingin tau, siapa orang yang sudah menyewa mobil Jeep dengan plat DK palsu?” gertak Bokir, mendesak agar Bos rental tidak mengulur waktunya.
Bos rental ini enggan menjawab, masih terdiam. Ia sudah berjanji bahwa tidak ada orang yang tahu tentang hal ini, dan juga membayangkan uang yang sudah diterimanya dengan harga sewa mahal, “Apa urusannya sama kalian?” ucapnya mencoba melawan.
Bokir lebih memplintirkan lagi tangan Bos rental, lantas mengeluarkan pistol yang ia simpan di balik jaket hitamnya. “Cepat katakan siapa yang sudah menyewa mobil Jeep yang saya sebutkan tadi?!”
“Nggak tau! Sumpah nggak tau!” sahut Bos rental mengelak.
Bokir mendekatkan ujung pistol di kepala Bos rental, dan terus mendesaknya, “Kalau kamu masih mengelak, saya nggak akan segan-segan menarik pelatuk pistol ini dan menghancurkan isi otakmu?!”
Bos rental ini masih meremehkan pria berkepala pelontos yang menyodorkan pistol di kepalanya, “Mana berani kamu menembak ku?!”
“Saya hitung sampai tiga, kalau kamu nggak menjawabnya juga, maka otakmu akan meleleh dan seketika kamu akan mati, saya nggak takut dengan ancaman penjara, karena dengan mudahnya saya akan terbebas, sedangkan kamu akan mati dan jadi bangkai!” gertak Bokir.
“Satu!” Bokir mulai menghitung untuk memberi jangka waktu agar Bos rental mengatakan siapa yang sudah menyewa mobil Jeep, karena Bos rental inilah salah satu kunci untuk mengungkapkan kasus tabrakan Damar, “dua!”
Krek... bunyi pelatuk mulai di tarik oleh jemari telunjuk Bokir. ”Ti....”
Bos rental membelalakkan matanya, gemetar dan takut, terus terdesak membuatnya merasa di ambang kematian, “Oke! oke! Opik! Opik Alamsyah yang sudah menyewanya!”
Bokir dan Budiono melempar tatapan mata satu sama lain.
“Lalu alasan apa si Opik menyewanya?!” gertak Budiono bersuara menggelegar.
Dengan suara gemetar, Bos rental menjawab. “Ba--balas dendam! Yah hanya itu yang ku tau!”
Bokir segera mengikat tangan Bos rental untuk ia jadikan saksi kunci, juga seorang karyawan. Lantas menyeret keduanya masuk kedalam mobil.
•••
Bersambung...
__ADS_1