
(Please, jangan lupakan dukungannya dan semua perangkatnya kalau ada, Like, vote, komen. Halah-Halah mengharap saya, hehe.)
♠
“Damar, tinggallah di sini, dan bawa Ibu serta adik mu juga. Lagi pula rumah mu, belum di renovasi, Nenek dan Kakek sudah semakin menua. Kapan, pun ajal menjemput kami berdua.” pungkas Kakek Bagaskara dengan permintaannya, beliau sadar. Harta dan tahta tidak bisa menjamin usia manusia untuk hidup selamanya
•••
Mendengar permintaan Kakek Bagaskara membuat hati nurani Damar terkoyak. Yah, usia manusia memanglah rahasia illahi, namun ucapan Kakek Bagaskara adalah benar sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan macam notifikasi, ajal sudah pasti akan menjemput nyawa.
Damar berdiri dan bersitatap dengan Kakeknya dengan tatapan sendu, “Akan Damar tebus semua kesalahan yang pernah Bapak Gusli lakukan, dan Damar mohon maafkan Bapak Gusli, Kek--Nek, jika selama ini beliau tidak menjadi anak yang berbakti kepada kalian,” ucapnya, meskipun lidahnya masih merasa kelu, dengan sebutan ‘Kakek dan Nenek', namun Damar menyadari bahwa, memang ia harus terbiasa dengan hal ini.
Rasa haru seketika menyelimuti hati Kakek Bagaskara. Benturan tulang pipinya seolah menjadi gambaran perjuangan hidup, netranya berkaca-kaca, meneteskan eluh bening tak terkira, “Te--terimakasih Damar,”
Damar menghapus jejak air mata di pipi Kakeknya, “Jangan menangis lagi, Damar mohon,“ Damar menjeda ucapannya, ia menunduk dan kembali menatap Kakek serta Neneknya, matanya mulai mengumpulkan titik awan mendung di sana, “Seharusnya Kakek tidak perlu berterima kasih padaku, karena selama ini Damar pun tidak benar-benar membenci Kakek...” Damar menggantungkan kembali ucapannya, seolah lidahnya kelu. Ia merangkul tubuh tua Kakeknya.
Kakek Bagaskara menepuk pelan pundak Damar, tangisan yang semula terdiam, kini berubah menjadi lebih tersedu-sedu. “Maafkan Kakek, Nak. Ketamakan Kakek selama inilah penyebab perpecahan keluarga Wijaya,”
Damar mengurai pelukannya, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. Surah Al-Kahf ayat 46.” jelas Damar, menerangkan ayat suci Al-Quran sebagai perumpamaan kehidupan ini. “Terlepas dari semua harta yang Kakek miliki, apa Damar boleh meminta restu kepada Kakek dan Nenek, untuk menghubungkan kembali ikatan silahturahmi yang sudah terpisah ini?” tanya Damar, dengan penuh harap.
Kakek Bagaskara mengangguk, “Sudah lama, ini yang Kakek harapkan, Damar.”
Damar manggut-manggut, “Terimakasih Kek, maaf atas ucapan Damar yang secara tidak langsung telah melukai perasaan, Kakek.”
Kakek Bagaskara mengangguk pelan, diselingi tepukan tangan di pundak cucunya.
Damar kembali berlutut di hadapan Nenek Ayudia, “Sudah yah Nek, jangan lagi menangis. Meskipun Damar tidak setampan Almarhum Bapak Gusli, tapi anggaplah Damar ini seperti beliau.” ucapnya, seraya menghapuskan jejak air mata di pipi keriput Neneknya.
“Semoga Allah menjauhkan kita dari sengketa kepada sesama dan semoga Allah memudahkan kita dalam mencapai apa yang menjadi tujuan,” sambung Damar, ia memeluk Nenek Ayudia.
“Amin.” ucap Kakek Bagaskara.
Kali ini, Nenek Ayudia tidak sediam sebelumnya. Beliau membalas pelukan hangat cucunya, namun Nenek Ayudia hanya menangis teringat akan sosok putra semata wayangnya.
Untuk kesekian kalinya Wulan melihat, betapa lembutnya hati seorang Damar bisa merangkul kembali hubungan yang terpisah, bahkan mampu menghapuskan segala kebencian serta ketamakan. Ia menyadari, memiliki hati yang penyayang adalah salah satu ilmu penting dari kebijaksanaan, dan bisa menjadi terapi untuk menyembuhkan hati yang di rundung duka lara.
Damar mengurai pelukannya, “Nek, Damar pergi dulu,”
Nenek Ayudia menggeleng bayangan saat putranya pergi dari rumah kembali membayangi pikirannya, “Jangan pergi, jangan tinggalkan, Ibu.” ucapnya lirih, lebih tepatnya seperti permohonan.
Damar tersenyum lembut, lalu menggenggam jemari Neneknya. “Damar tidak akan meninggalkan Nenek,”
Seorang pelayan wanita yang sudah berumur setengah abad pun mendekati Kakek Bagaskara, “Tuan, sudah waktunya Nyonya makan dan minum obat.”
__ADS_1
Kakek Bagaskara berdehem, lalu menatap Damar dan beralih menatap istrinya. “Temani Nenek mu makan Damar, setelah itu dia akan minum obat dan beristirahat,”
Damar berdiri, “Baiklah, tapi dengan syarat Nenek Ayudia tidak boleh lagi mengkonsumsi obat penenang.”
“Bukan,” jawab Kakek Bagaskara, “Ini hanya vitamin, karena Kakek sudah membawa obatnya kembali ke rumah.” lanjut Kakek Bagaskara, rasa syukurnya bisa kembali merangkul keutuhan keluarganya, adalah hal paling berharga.
Saat pelayan hendak mendorong kursi roda Nenek Ayudia, Damar pun menawarkan diri untuk ia yang mendorongnya. “Biar saya saja Mbok.”
Pelayan yang Damar panggil Mbok pun tersenyum dan mengangguk.
Saat ada pepatah mengatakan, semakin tua usia manusia maka akan kembali sikapnya seperti anak kecil, dan ini memang terjadi kepada Nenek Ayudia, jika setiap waktu pelayan yang menyuapi makannya. Kali ini beliau meminta agar Damar saja yang menyuapi makannya.
Dengan senang hati, Damar menurutinya. Barangkali, dengan cara inilah, ia bisa memulai untuk bisa menjadi seseorang yang berguna untuk Neneknya.
Setelah aktivitas makan selesai, dan Nenek Ayudia pun sudah beristirahat.
Kini Damar pamit untuk menjenguk Ibunya di rumah sakit, “Kek, Damar pamit, mau menjenguk Ibu di rumah sakit.”
Kakek Bagaskara mengangguk, “Semoga Ibumu lekas sembuh,”
Damar tersenyum simpul, “Amin.”
Damar pun masuk kedalam mobil dengan Wulan yang masih mengemudikan mobil, karena Bokir akhir-akhir ini harus melakukan tugas yang diberikan oleh Kakek Bagaskara.
“Bagaimana rasanya, apa melegakan hati?” tanya Wulan, di sela fokusnya mengemudikan mobil.
Wulan melirik sekilas kearah Damar yang saat ini memakai pakaian kasual, “Apa?”
Damar menatap Wulan dari samping, “Menaklukan tantangan...” jawabnya, dengan menyangga dagu dengan telapak tangannya, memandangi wanita yang lebih tua tiga tahun darinya, namun wajah Wulan sama sekali tidak menunjukkan wajah yang lebih tua darinya, karena masih terlihat sangat imut, pikir Damar mulai tak karu-karuan, “Sshh... Kapan aku di lamar olehmu?”
“Wath?!” Wulan melirik tajam kearah Damar, ia mencebikkan bibirnya, dan kemudian tertawa. “Hahahaha.... Dasar gila!” cetus Wulan, “Dengar, aku ini wanita yang suka sekali tertawa dengan mulut lebar, dan makan ku banyak serta jarang mandi, jadi jangan coba-coba mengharap sesuatu yang lebih dari ku!” sambungnya dengan merendahkan dirinya sendiri.
Damar gemas akan sikap Wulan yang seolah, dia adalah wanita yang tidak pantas di cintai,
“Wanita bodoh pun tidak akan melakukan hal semacam ini di hadapan pria mana pun. Tapi tenang, meskipun tidak ada yang mencintaimu, aku masih bisa menyelamatkanmu.”
“Ehemm...” Wulan terdiam mendengar jawaban dari Pria yang selalu saja bisa mendebat dengan jawaban yang membuatnya tidak bisa lagi mengelak.
Tak terasa mobil pun memasuki pelataran rumah sakit. Damar turun dari mobil disusul oleh Wulan.
Damar langsung menuju tempat Ibunya di rawat, “Assalamualaikum,” salam Damar saat memasuki ruang rawat Ibunya.
“Wassalamu'alaikum,” jawab Danum dan Ibu serta seorang suster yang sedang memberikan obat.
__ADS_1
Damar mendekati brankar di mana Ibunya berada, dan menyalami tangan Bu Suci begitupun dengan Wulan.
“Ibu sudah lebih baik?” tanya Damar.
“Alhamdulillah, sudah lebih sehat,” jawab Bu Suci. Namun, ada sesuatu yang janggal melihat wajah putra sulungnya. Tapi, kali ini Bu Suci tidak bertanya dan mengomelinya. Beliau merasa akhir-akhir ini Damar sudah cukup memiliki banyak masalah, dan tidak ingin membuat anaknya merasa tertekan.
Damar beralih menatap adiknya, “Kamu sudah makan Num?”
Danum menggeleng, “Belum,”
Damar merangkul pundak adiknya, “Baiklah, ayo kita makan, Mas mu yang ganteng inipun tidak mau kalau adik Mas tersayang ini sakit,” Damar menoleh ke Bu Suci, “Bu Damar keluar sebentar, Ibu mau di beliin sesuatu nggak?”
Bu Suci menggeleng, “Ibu sudah di urus baik oleh Suster, jadi kalian kalau mau makan makanlah, jangan sampai sakit.”
“Mbak Wulan nggak ikut?” tanya Danum,
Wulan menggeleng, “Makasih, tapi aku masih kenyang.”
“Okelah kalau begitu.” jawab Danum. “Yuk Mas Damar kita let's go!”
Adik dan Kakak ini pun keluar dari ruang rawat Ibunya. Begitu pun suster yang memberikan obat kepada Bu Suci pun keluar.
Kini hanya ada Wulan dan Bu Suci, dengan Wulan yang berdiri di samping brankar Bu Suci. “Duduk lah disini Nak,” tawar Bu Suci menunjuk kursi yang ada di samping brankar.
Wulan tersenyum dan mengangguk, lalu duduk di kursi. Entah, perasaan apa yang seolah mengganjil di hatinya saat ini, ada rasa bangga melihat Bu Suci telah mendidik kedua putranya dengan sangat baik meskipun tanpa seorang suami yang mendampingi.
Bu Suci menatap Wulan, lalu mengedarkan pandangannya menatap pintu ruangan. “Sewaktu kecil, Damar itu lucu. Jika di tanya cita-citanya mau jadi apa, dia pasti menjawab ingin menjadi anak yang bisa membanggakan orang tua,”
Wulan mengerutkan keningnya, entah alasan apa Bu Suci tiba-tiba memulai obrolan dengan masa kecil putra sulungnya, “Saya bisa melihatnya Bu Suci, rasa hormatnya kepada Ibu, tidak lepasnya dari peran Bu Suci sebagai seorang Ibu yang mendidiknya, maka dari itu ada pepatah yang mengatakan, (Kasih Ibu sepanjang masa) dan saya bangga terhadap Anda,”
Wulan merasa canggung mendapat tatapan mata teduh dari Bu Suci, ia pun menunduk, “Maafkan saya, karena saya sudah terlalu banyak bicara,”
Bu Suci tersenyum lembut, “Boleh Ibu pegang tanganmu, Nak,”
Wulan mengangkat wajahnya, meskipun aneh mendengar permintaan Bu Suci, namun Wulan mengulurkan tangannya tanpa bertanya. Bu Suci menggenggam tangannya dengan penuh perasaan, membuat hatinya merasa di selimuti oleh kasih sayang seorang Bu Suciati, tak mengherankan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Seperti itulah gambaran untuk hati lembut yang Damar miliki.
“Mau kah kamu berjanji satu hal Nak,” ujar Bu Suci, menatap Wulan dengan tatapan sendu.
Wulan lagi-lagi merasakan sesuatu hal yang aneh dari pertanyaan Bu Suci, “Janji?”
“Maukah kamu temani hidup putra sulung Ibu, jika suatu saat Ibu tiada?” ungkap Bu Suci, beliau tahu bahwa Wulan masih sendiri.
Wulan mengerjap-ngerjapkan matanya, mendengar pertanyaan ataukah sebuah maksud pernyataan? Ia tidak menjawabnya. Terkadang ada dimana suatu pertanyaan yang seperti sebuah peluru senapan.
__ADS_1
•••
Bersambung...