Presdir Cilok

Presdir Cilok
61 Siapa yang menanam dia yang akan menuai


__ADS_3

“BERHENTI....!”


•••


Seorang lelaki sepuh berdiri dari arah samping ruangan resepsi pernikahan. Dengan delapan ajudan berseragam hitam yang berada di belakangnya.


Semua tamu undangan pun mengalihkan tatapannya, menatap kearah pintu samping ruang resepsi pernikahan. Ada sebagian orang dari kolega bisnis Kusumo yang mengenali seorang lelaki sepuh yang mulai berjalan dengan tongkat kayu setinggi pinggang berukir apik, mendekati pemuda yang sedang di gelandang oleh security hotel dan bodyguard.


Damar membulatkan matanya, menatap seorang lelaki sepuh yang sedang menatapnya pula..


Sedangkan Wulan sama terkejutnya dengan Damar. “Kakek Bagaskara!” gumamnya.


Kusumo membelalakkan matanya, tidak Kusumo sangka dapat bertemu dengan seorang gladiator bisnis yang sudah lama ingin ditemuinya.


Bukan hanya Kusumo yang terkejut, orang tua Opik pun tidak mempercayai ini. “Bagaskara Wijaya!” seru Ayah Opik yang sudah berbaur dengan para tamu undangan yang hadir.


Kusumo berjalan mendekati Kakek Bagaskara. Namun, segera di halangi oleh ajudan Kakek Bagaskara. Begitupun juga orangtua Opik. Tiada seorang pun yang di izinkan untuk mendekati sang gladiator bisnis.


“Tu--Tuan. Tuan Bagaskara!” seru Kusumo, memanggil lelaki sepuh yang terus saja berjalan mendekati Damar.


Damar, security hotel dan juga bodyguard Kusumo tak berkutik. Mereka mematung kan diri, menatap seorang lelaki sepuh yang sangat elegan berjalan kearah mereka berada.


“Lepaskan dia!” titah Kakek Bagaskara, namun agaknya security hotel dan bodyguard enggan mengikuti perintah Kakek Bagaskara.


Ajudan berseragam hitam pun mendekati security dan bodyguard. Mereka segera menangkis tangan security yang mencengkram di tangan Damar. Memandang mereka dengan tatapan tajam.


BUGH


Dengan sekali pukulan tinju, security dan bodyguard pun jatuh terkapar di lantai. Damar terbengong-bengong melihat aksi ini. Ke empat Ajudan langsung saja berdiri di sisi samping kanan dan kiri Damar, dan dua lagi di belakang Damar. seolah sedang menjaga Damar dari serangan musuh dengan penjagaan ketat.


Kusumo heran akan situasi semrawut ini, dia tidak mengerti, untuk apa ajudan yang datang bersama dengan gladiator bisnis berdiri di samping pemuda yang dia anggap hina dan miskin. Kusumo lagi-lagi berniat untuk mendekati Kakek Bagaskara, “Tuan Bagaskara, saya sudah lama ingin bertemu dengan Anda.”


Kakek Bagaskara beralih menatap Kusumo dari jarak yang lumayan jauh, lalu memberikan isyarat agar ajudannya membiarkan Kusumo menghampiri dirinya. Setelah mendekati Kakek Bagaskara, Kusumo tanpa basa-basi mengulurkan tangannya di hadapan sang gladiator bisnis.

__ADS_1


Namun, tidak seperti yang diharapkannya. Kakek Bagaskara mengacuhkan uluran tangan Kusumo dan lebih memilih menaruh kedua tangannya di belakang pinggangnya.


Kusumo lantas memandangi tangannya sendiri yang seolah dicampakkan begitu saja. Sebisa mungkin Kusumo tersenyum ramah, “Saya sangat senang dapat bertemu dengan Anda disini Tuan,” kata Kusumo berbasa-basi.


Kakek Bagaskara enggan menanggapinya, dan kembali menatap Damar. Beliau geleng-geleng kepala melihat keadaan Damar yang nampak sangat berantakan.


“Bawa cucuku pulang!” titah Kakek Bagaskara kepada ajudannya, seolah sedang memberikan perintah kepada suster untuk membawa balita pulang kerumah.


Kusumo dan beberapa tamu undangan pun terperangah manakala mendengar seorang pebisnis termasyhur di seantero jagad raya memanggil Damar dengan sebutan cucu. “A--apa? cucu?” gumam Ana yang berdiri tak jauh dari Ratna berdiri.


Bukan hanya Ana, Ratna dan Opik pun terkejut.. Dan hanya menatap keseriusan kepada Damar dan seorang lelaki sepuh.


Kakek Bagaskara kembali menatap Kusumo, bersitatap seperti ini membuat Kusumo gugup,


“Emmm... A--ap ta--tadi saya ti--dak salah dengar Tuan Bagaskara, Anda memanggil pemuda kacung ini adalah cu--cucu?” tanya Kusumo tergagap.


Kakek Bagaskara mengacungkan jari telunjuknya tepat di hadapan wajah Kusumo, “Jangan lagi memanggil cucuku dengan sebutan seperti itu! Atau kau ingin perusahaan mu porak-poranda!” kata Kakek Bagaskara memberikan peringatan keras kepada Kusumo.


Tanpa berkata-kata apa-apa lagi, Kakek Bagaskara lantas pergi meninggalkan ruangan resepsi pernikahan Ratna dan Opik. Dan membiarkan semua orang mulai bertanya-tanya tentang Damar dan juga dirinya. Di susul Damar yang tidak dapat lagi berkata apa-apa seolah lidahnya kelu. Diikuti delapan ajudan yang datang bersama dengan Kakek Bagaskara berjalan di belakang Kakek Bagaskara dan Damar.


Wulan segera menatap mempelototi bodyguard yang masih saja mencekal lengannya, “Lepas nggak!” dengan sekali sentakan keras Wulan melepaskan diri dan menampar wajah si bodyguard..


“Uhhh..” seru beberapa orang yang melihat betapa kerasnya seorang wanita berparas cantik menampar pipi seorang bodyguard bertubuh tegap.


Wulan segera menyambar sepatu Kitten Heels nya dan juga menyambar pancake yang ada di atas meja, lalu berjalan melewati beberapa tamu undangan dan juga melewati wanita setengah baya, yaitu Mami dari Ratna, Opik dan juga Ratna sendiri.


Ia bukan hanya lewat di depan Ratna, Wulan sejenak berhenti dan bersitatap dengan mantan pacar Damar. Wulan tersenyum menyeringai, “Seorang gadis tidak menjadi wanita yang anggun hanya dengan menua. Indahkanlah hati, pikiran dan tindakan mu!”


Opik geram dengan apa yang di ucapkan wanita di hadapan istrinya. Ia mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan di wajah Wulan, namun Wulan segera menghardiknya, dan menangkis tangan Opik.


Wulan menatap tajam seolah melucuti dosa-dosa Opik, Wulan kembali mengingat siapa sang pengendara mobil yang ugal-ugalan di malam setelah Wulan ketahuan di labrak Damar telah membuntutinya, adalah Opik sang pengendara mobil yang ugal-ugalan di tambah seorang wanita yang memeluk Opik saat itu, tapi bukan Ratna.


“Dosa kepada manusia bisa saja di maafkan, tapi dosa terhadap Tuhan harus di lalui dengan taubat nasuha. Ingat barang siapa yang menanam dia yang akan menuai!” ketus Wulan dengan suara ditekankan.

__ADS_1


“Wanita sialan!” umpat Opik geram, namun Ratna segera menghentikan aksinya agar tidak lanjut berlaku kasar kepada wanita yang Ratna pikir kata-katanya benar.


“Opik!” seru Ratna, menatap Opik yang berdiri disebelahnya. Beberapa detik kemudian kembali menatap wanita yang ada dihadapannya, wanita yang tidak ia kenal.


Wulan mencebikkan bibirnya, lantas melenggang pergi begitu saja, menyusul Damar yang sudah lebih dulu pergi bersama dengan Kakek Bagaskara.


Kini pernikahan yang seharusnya berjalan dengan kebahagiaan dengan keromantisan. Harus di warnai dengan keributan serta kericuhan. Tidak dapat di pungkiri, hampir semua orang tamu undangan dalam acara pernikahan Ratna dan Opik, mulai membicarakan tentang sesuatu yang sudah terjadi.


Opik benar-benar meradang, menahan sesal terhadap Damar. Ia menyoroti Ratna yang sudah mengundang mantan pacar tanpa sepengetahuan dirinya. Lantas pergi meninggalkan resepsi pernikahan dan juga Ratna begitu saja. Ia sudah terlanjur menarik urat malunya, akibat kericuhan yang terjadi.


“Opik!” seru Ratna, namun Opik tak menghiraukannya. Ratna tak kuasa melawan kesedihannya seolah betis penyangga tubuhnya lunglai dan membuatnya terhuyung, ia masih beruntung tidak jatuh sendirian saat kekecewaan yang tengah melanda palung hatinya. Ibu yang ia panggil Mami, dan dua orang Kakaknya dengan sigap membantunya berdiri dan menuntunnya untuk pergi dari ruangan resepsi pernikahan.


Sedangkan Kusumo masih dalam keadaan limbung atas pernyataan sang gladiator bisnis Bagaskara Wijaya, yang sudah menyebut Damar adalah cucunya. Kusumo masih menatap pintu utama masuk kedalam gedung resepsi. “Benarkah, pemuda kacung itu cucu dari Bagaskara Wijaya?”


Kusumo sama sekali, tak menghiraukan putrinya yang tengah di rundung kekecewaan. Kusumo lebih fokus kepada sang lelaki sepuh yang sudah mengaku bahwa pemuda yang selalu dihinanya adalah seorang cucu milyuner kaya. “Ini tidak mungkin! Lalu kenapa bisa lelaki tua itu membiarkan cucunya hidup susah di rumah yang sangat buruk itu?”


Semua tamu undangan yang seharusnya masih mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan acara pun mulai pergi dari ruangan resepsi pernikahan. Sebagian ada yang menghampiri Kusumo dan orang tua Opik. Sebagian ada yang pulang tanpa permisi terhadap sang penyelenggara acara.


Hampir semua kolega bisnis Kusumo sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


••


Di kamar hotel yang di sewanya sekaligus tempat untuk dijadikannya tempat menggelar acara pernikahan. Opik sangat murka, ia duduk di tepian ranjang. “Arhhh... brengsek!”


•••


Bersambung..



Saya mohon maaf, karena tidak dapat up 2 bab dalam sehari. Karena, saya pun bekerja. Setelah project yang saya kerjakan di dunia nyata selesai, insyaallah akan saya usahakan up 2 bab perhari. Terimakasih untuk Kakak pembaca yang setia masih mengikuti kemana arah kisah hidup Damar Mangkulangit.


Sekali lagi, Terimakasih untuk pengertiannya 🙏🏼

__ADS_1


__ADS_2