Presdir Cilok

Presdir Cilok
140 Season 2; Menyeleksi sekretaris baru


__ADS_3

Damar melihat dirinya di pantulan cermin bulat yang terdapat di atas wastafel di dalam bilik kamar mandi, ia merasa berewoknya sudah memanjang.


Biasanya Wulan akan membantunya mencukur. Damar pun berinisiatif untuk meminta bantuan sang isteri.


Namun, ia hanya bisa menghela nafas ketika melihat Wulan yang tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi.


Alhasil, Damar pun kembali ke dalam bilik kamar mandi, dan memandangi wajahnya sendiri di pantulan cermin. Lantas memoleskan crem pencukur agar lebih memudahkan dan tidak menimbulkan iritasi.


“Pada saat tertentu, memang nggak semua bisa mengandalkan istri. Kadang-kadang meskipun sudah menikah. Aku harus lebih mandiri. Hhh... rasanya memang menyenangkan, meskipun terkadang nggak seindah kisah di pernovelan.”


Dan kemudian di ambillah alat pencukur kumis berwarna biru tua di laci kecil samping wastafel, “Yah, agaknya memang aku sudah terbiasa di manja olehnya, dia memang wanita luar biasa, bisa menjadi istri dan rekan kerja yang hebat. Sampai mencukur berewok dan kumis pun ia yang melakukannya, Nawang Wulan. Wanita keren.”


Namun, pada saat mendekatkan alat pencukur ke pipi. Damar mengendus, ada bau-bau aneh yang menyeruak seperti cuka. Damar pun kembali menarik tangannya yang sedang memegangi alat pencukur menjauhi wajah dan betapa terkejutnya, melihat bulu-bulu halus di sela-sela pisau pencukur kumis.


“Hemm... ini pasti ulahnya, kebiasaan!” Damar secepatnya keluar dari dalam bilik kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk, dan menghampiri sang istri yang tengah menggoreng pisang.


“Nawang Wulan!” Damar berdiri tepat disamping Wulan.


Wulan terhenyak, kala mendapati Damar kini sudah berdiri di sebelahnya dengan wajah yang memakai crem pencukur. Tapi menampakkan mimik wajah yang susah di jabarkan. Hemm.. mungkin antara marah dan geram, “Ada apa ngagetin?!”


Damar menunjukkan alat pencukur kumis ke hadapan Wulan, “Kamu pasti memakai alat pencukur kumis ku buat mencukur bulu ketek ‘kan?”


Wulan tergelak, membulatkan matanya melihat pencukur kumis yang di sodorkan Damar, lantas mengulum senyum, dan senyumnya berubah menjadi tertawa kecil, “Hehehe... maaf,”


Damar dleming, menatap Wulan yang tengah crengengesan, “Maaf-maaf, lihat nih, bulu keteknya masih nyangkut, terus baunya kaya cuka, asem. Pasti kamu makainya sebelum mandi, ya kan?!”


Wulan mengingat pada saat subuh tadi. Ketika akan mandi, ia melepas daster tepat di depan cermin yang terdapat di dalam kamar mandi. Tak sengaja melihat area ketiak, bulu-bulu keteknya seolah melambai-lambai gemulai.


Meskipun terhimpit tapi sangat cepat tumbuh subur seperti di beri pupuk. Mungkinkah, keringat itu sendiri bagi bulu ketek sudah termasuk pupuk? Hem.. agaknya memang perlu penjelasan ilmiah!


Saat tengah mengamati bulu halus itu, Wulan tak sengaja melihat alat pencukur kumis di atas wastafel. Tanpa pikir panjang di pakailah alat pencukur kumis milik sang suami..


Wulan menatap Damar, memasang tampang memelas. Namun, senyuman geli tak dapat ia sembunyikan, “Hehehe... maaf- maaf.. habis bulu ketekku udah kelihatan panjang, terus aku lihat alat pencukur itu. Ya udah aku pakai yang ada,”


Tak henti-hentinya Wulan terkekeh geli.. sambil menunjuk alat pencukur yang sedang di pegang Damar. “Terus aku lupa bersihin, soalnya tadi pagi kan kamu udah keburu manggil buat sholat subuh berjamaah.”


Ketika sudah seperti ini, maka Damar hanya bisa menghela nafas. “Hahhh... Baiklah, aku nggak akan mempermasalahkan ini,” ia mengusap pucuk kepala sang istri yang sedang menatapnya dengan memasang mimik wajah seperti anak kucing. “tapi gimana dengan berewok ku ini. Kata kamu jadwalku hari ini ada pertemuan penting dengan pemegang saham di daerah Banyuwangi?”


Wulan tersenyum berseri-seri, “Yap betul, tapi hari ini aku nggak bisa ikut denganmu. Karena akan ada pemilihan calon sekretaris untukmu, dan harus aku yang menyeleksinya,”


“Pilihkan yang cantik!” kata Damar berniat menggoda Wulan.


Senyuman di wajah Wulan sekejap luntur, dan memasang mimik wajah datar tatapannya berubah menjadi tatapan dingin, “Kalau aku pilih yang cantik, apa kamu akan menjadikan sekretaris baru sebagai sekretaris kesayangan?”


Damar mengangkat bahunya, “Kita lihat aja,” ia memasang cengiran devil, lalu berbalik badan memunggungi istrinya yang tengah memasang wajah sangar.


Bugh... Wulan memukul punggung Damar, sesaat kemudian tangannya menjewer cuping Damar yang tak berdosa, “Silahkan kalau kamu mau mencari yang lebih cantik dariku, tapi kemudian kamu akan kehilangan ku selamanya!”

__ADS_1


Niatnya hanya iseng, kini malah berubah menjadi ketegangan, Damar menahan sakit di cuping yang sekian detik lalu mendapat jeweran dari tangan sang istri, ia kembali memutar badannya dan melihat keseriusan Wulan dari samping.


“Maaf aku hanya bercanda, kenapa kamu seserius ini, nggak ada wanita hebat dan keren seperti mu, istriku.” bujuk Damar menyesal.


Wulan diam saja


“Maaf yah, jangan marah, please,” bujuk Damar dengan nada lembut.


“Aku nggak marah, kenapa kamu minta maaf!” kata Wulan tanpa melihat Damar.


Damar mengambil alih Sutil stainless dari tangan Wulan, “Tapi, kelihatannya nggak begitu!”


Wulan mengalihkan pandangannya, kini menatap kedua netra hitam Damar yang selalu bisa menghanyutkannya. Wulan menyunggingkan senyuman, “Enggak pa-pa, hanya setiap diri wanita nggak suka jika di bandingkan! Apalagi ini soal kecantikan. Karena setiap wanita memiliki tarap kecantikan yang berbeda-beda,”


Damar menatap Wulan, ia mencium sekilas bibir ranum sang istri. Kemudian menggeleng cepat, “Aku nggak pernah membandingkan mu dengan siapa pun, karena kamu anugrah terindah yang sepatutnya aku jaga,”


Ucapan Damar, selalu bisa membuat Wulan tersipu malu, “Bersiaplah, lalu sarapan,”


Damar mengangguk, “Oke.” lagi Damar mencium singkat bibir ranum istrinya, lalu berbalik badan.


“Maaf, soal alat pencukur tadi. Nanti aku akan membantumu membereskan berewok mu yang aduhai itu,” Wulan menatap punggung Damar yang atletis. Ia selalu mengagumi bentuk tubuh suaminya, meskipun lambat laun akan berubah menjadi gemuk dan kegagahan itu akan terkikis oleh keadaan waktu dan usia.


Wulan mendekati Damar, ia memeluk suaminya dari belakang. Aroma tubuh yang menenangkan selalu bisa membuat Wulan terlena.


Damar tersenyum simpul, “Kalau kamu begini terus, maka aku nggak akan bisa menahan adik juniorku. Sedangkan waktu pagi ini terus merangkak naik,”


Wulan terkesiap darahnya berdesir, dan kemudian mengingat hari ini jadwal begitu padat. Ia lantas menarik diri.



“Mar, apa Wulan akan ikut denganmu ke Banyuwangi?” tanya Bokir setelah sampai di ruangan meeting.


“Nggak Kang Bokir, Wulan tetap di sini. Biar aku pergi dengan Didi dan Rita,” ujar Damar.


“Apa perlu saya menemani mu?” tanya Bokir lagi.


“Itu nggak perlu, ini hanya pertemuan singkat. Kang Bokir tetap di sini, temani Wulan dalam menyeleksi calon sekretaris,” tukas Damar, lalu beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Wulan. “Aku pergi, jangan lupa minum vitamin,” ucapnya pada sang istri.


Wulan mengangguk, “Iyah, kamu juga jangan lupa minum obat. Setelah sampai di sana kamu juga jangan lupa menghubungi ku,”


“Pasti.” Damar mencium kening Wulan, tak peduli di hadapan karyawan yang memang sudah terbiasa melihat Damar melakukan hal romantis'.


Wulan pun menggenggam tangan Damar, lantas mencium punggung tangan suaminya. “Hati-hati.”


Damar mengangguk, mengusap lembut pipi Wulan.


“Ayo, Di.” kata Damar memanggil Didi, orang kepercayaannya di kantor selain Bokir.

__ADS_1


Didi mengangguk dan mengikuti langkah Damar, bersamaan dengan staf yang bernama Rita.



Setelah kepergian Damar. Wulan pun memulai menyeleksi calon sekretaris baru yang akan menjadi sekretaris suaminya jikalau ia sudah undur diri dari Amanah food. Dan lebih fokus mengurusi anak serta suami.


Wulan lagi-lagi menggelengkan kepala, tanda ia tak setuju dengan para calon pegawai yang akan mendaftar sebagai sekretaris Damar.


“Lan, sebenarnya tuh kamu mau yang menjadi sekretaris suamimu yang seperti apa to yo? Jan angel men [Kok susah banget]” keluh Bokir terhadap sikap Wulan yang over.


Wulan merebahkan tubuhnya ke sandaran sofa sambil menghela nafas kasar, dan menjawab Bokir santai, “Ya mau gimana lagi, belum nemu yang pas!”


“Tapi ini udah yang ke tujuh belas orang, Wulan! Kamu nggak sadar kamu sudah membuang waktu. Padahal saya lihat orang-orang tadi berkompeten dalam bidangnya, Lan!” lagi Bokir menyuarakan kekesalannya terhadap rekan kerjanya dulu yang sekarang ini malah menjadi istri dari Bosnya.


Wulan menatap Bokir malas, “Itu menurutmu Bokir, karena yang mendaftar tadi cantik-cantik dan bening-bening!”


Bokir meringis, ia mengangkat bahu, “Ya memang salah, kalau saya demen yang begituan,”


“Dasar gila! Inget anak-istri di rumah!” sentak Wulan.


“Saya inget, kalau saya sudah menikah dan mempunyai jagoan cilik yang super jenius. Karena itulah saya selalu menjaga diri agar nggak mudah tergoda,” jawab Bokir.


“Hem... saya tau kenapa kamu menolak dari ketujuh belas orang yang mendaftar sebagai sekretaris Damar,” lanjut Bokir berprasangka.


Masih menatap Bokir malas, “Apa emang?”


“Karena kamu takut suamimu bakal tergoda dan di ambil alih oleh sekretaris baru yang cantik dan seksi. Iya kan?” sangka Bokir.


Wulan duduk tegak, ia mengambil buku dan melemparkannya kearah Bokir membuat Bokir tersentak dan langsung berdiri.


“Kalau kamu marah, bearti kamu takut!” kata Bokir mulai berjalan menjauhi Wulan, ia memang merasa ngeri kala melihat wanita hamil itu sudah mulai menunjukkan taringnya.


Ting... bunyi notifikasi pesan masuk dari Damar mengurungkan niat Wulan untuk melempar buku kearah Bokir lagi. “Pergi sana, aku mau teleponan sama Ayangku!”


“Oke, tapi setelah makan siang. Saya harap kamu sudah menentukan pilihan terhadap siapa yang akan menjadi sekretaris baru Damar, karena kita masih banyak pekerjaan,” pungkas Bokir lantas berbalik badan dan hendak keluar dari ruangan meeting.


Ketika tangannya memegang handle pintu, Bokir menoleh kearah Wulan yang sudah melakukan panggilan, “tapi ingat Lan, istri yang baik adalah istri yang mempercayai suaminya, dan suami yang baik akan selalu menjaga kepercayaan istrinya. Dan saya percaya rumah tangga kamu dan Damar akan mampu melewati berbagai masalah, seperti yang sudah kalian lewati selama ini,”


Wulan menatap Bokir yang akan keluar dari ruangan meeting, tangannya masih fokus memegang ponsel yang ia dekatkan di telinga. “Aku akan selalu ingat dengan nasehat mu, Kir.”


Bokir pun keluar dari dalam ruangan meeting.



Istirahat siang pun terlewati, kini Wulan sedang menatap seseorang yang akan menjadi sekretaris baru sang suami.


“Baiklah, kamu lulus. Dan mulai besok, kamu akan menjadi sekretaris dari Presdir PT Amanah food.” pungkas Wulan.

__ADS_1


•••


Bersambung...


__ADS_2