
Setelah melewati jalanan..
Wulan menunjuk rumah yang ia tempati sekarang. Rumah yang di khususkan Kakek Bagaskara untuknya. Tidak terlalu besar dan memiliki pekarangan rumah yang tidak terlalu luas.
Hanya satu lantai dengan gaya arsitektur bangunan minimalis..
“Makasih.” Wulan turun dari boncengan dan pergi begitu saja dari hadapan Damar.
Damar memarkirkan motor Vespanya, lantas menyusul Wulan yang berjalan terseok-seok, menyeret satu kakinya. Ia segera menyambar lengan wanita yang jelas terlihat sok kuat ini.
Wulan terhenyak melihat lengannya telah di apit oleh lengan Damar, “Pulanglah, gue baik-baik aja!” sergah Wulan hendak melepaskan lengannya.
Namun Damar tidak menjawab, ia terus saja memaksa mengapit lengan Wulan dengan kuat dan lebih mengeratkannya.
Terpaksalah Wulan mengikuti langkah Damar, menuju pintu, “Buka!” titah Damar.
Wulan menatap dengan tatapan heran. “Pergilah, gue bisa sendiri.” sergahnya lagi.
Damar menghela nafasnya, lantas mengayunkan tangan kirinya dan mengetuk kepala wanita yang sangat keras kepala di sampingnya.
“Auw, sakit tau!” pekik Wulan refleks memegang kepalanya yang mendapat jitakan dari tangan Damar.
“Udah tau sakitkan? Cepat buka!” hardik Damar dan bersitatap dengan Wulan.
Wulan mendengus kesal akan sikap Damar yang memaksa. Ia pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci lantas memutar handle pintu.
Masih dengan memegangi lengan Wulan, Damar melihat ruang tamu yang tidak terlalu luas. Lantas ia mengucap salam dan masuk bersamaan dengan wanita yang sedang ia papah.
Kali ini tiada sepatah kata protes yang di ajukan Wulan, ia mengikuti langkah Damar untuk menuntunnya duduk di sofa ruang tamu. “Shhh...” Wulan sedikit mendesah karena rasa sakit yang semakin menjadi-jadi di pergelangan kakinya.
Damar berlutut di hadapan Wulan, lantas memegang kaki dan hendak membuka sepatu yang di kenakan Wulan. Membuat empunya terkejut, “Lo mau ngapain?”
“Aku mau lihat!” ujarnya.
“Lihat apa!” seru Wulan, ia berpikiran negatif terhadap semua pria termasuk juga Damar.
Damar menarik nafas dan menghembuskannya kasar. “Ya kakimu! Kamu mau aku lihat apa? Sudahlah jangan terlalu banyak mengajukan protes! Dasar wanita lemah yang sok jaim menjadi wanita kuat!” cecar Damar, lantas sedikit memaksa untuk membuka sepatu yang dikenakan Wulan, si wanita sok tangguh ini.
Wulan membulatkan matanya mendengar semua cecar yang Damar sebutkan, “Lepaskan kaki gue! Gue nggak memberi izin buat Lo menyentuhnya!” hardik Wulan dengan meronta hendak menarik kakinya.
Damar tetap memaksakan kehendaknya, ia lantas mengapit kaki Wulan di antara lengan dan pahanya. Damar membuka sepatu serta kaus kaki putih, dan benar seperti dugaannya. Kaki Wulan membengkak.
Ia menatap wanita yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam, “Dimana letak dapur dan peralatan obat?” tanya Damar.
Wulan diam, ia membisu. Sungguh ia tidak ingin dilihat orang lain lemah. Merasa tidak ada jawaban Damar lantas mencari keberadaan dapur.
__ADS_1
Selepas menemukan keberadaan dapur ia membuka lemari peralatan dapur yang hanya ada dua piring dan tiga gelas, dua kuali dan peralatan dapur lainnya. Damar lantas menemukan baskom dan segera mengambil lalu mengisinya dengan air dingin.
Tepat saat hendak berbalik ke ruang tamu ia menemukan keberadaan handuk kecil di depan kamar mandi dan lemari kecil perlambang p3k.
Dan kembali lagi ke ruang tamu, kali ini ia melihat Wulan berbaring miring di sofa. Menutup matanya dengan lengannya. Entah tidur atau sedang menahan sakit di kakinya.
Damar merasa kasihan dengan keadaan Wulan saat ini, wanita yang harus tinggal sendiri, ‘Bagaiman kalau dia sakit?' benaknya. Ia lantas berjongkok di depan sofa dan mengompres kaki Wulan yang membengkak.
Wulan merasa dingin di bagian kakinya lantas hendak beranjak dari pembaringan. Namun, segera terhenti kala Damar berkata. “Diam! Ini akan mengurangi pembengkakan.”
Wulan memandangi lelaki yang sedang mengompres kakinya. Ia terenyuh atas tindakan baik Damar yang tetap bersi keukeuh membantunya, meskipun ia sangat menyadari bahwa dirinya memang keras. Tak terasa buliran air mata membasahi pelipisnya.
Bersamaan dengan Damar yang menatap wajahnya, menatap dengan tatapan sendu.
Wulan segera menyadari Damar sedang menatapnya, secepatnya menghapus jejak air mata yang mengalir tanpa permisi. Ia beranjak duduk dan menarik kakinya yang masih di kompres oleh Damar. “Pergilah! Aku akan mengobatinya sendiri.” usir Wulan lirih.
Damar heran sangat heran dengan sikap Wulan seolah ia menjadi wanita paling kuat, justru Damar merasa Wulan sedang menunjukkan sisi rapuhnya.
Hening...
Hanya ada detak jarum jam yang menunjukkan pukul 21:35 waktu setempat.
Damar berdiri masih menatap Wulan yang menunduk, “Jaga dirimu, seharusnya kalau kamu tersiksa dengan pekerjaan mu sebagai sekretaris ku, kamu bisa menolaknya.”
Wulan tak bergeming ia masih menunduk sambil memegangi kakinya, “Pergilah! Dan bawa paper bag yang ada di samping pintu, dan mulai besok pakailah pakaian formal.”
Wulan terdiam masih menundukkan wajahnya sambil menahan kedua bola matanya yang serasa memanas, mendengar penuturan Damar, lantas berujar. “Terimakasih atas nasehat bijak Anda, Tuan.”
Damar berbalik dan melihat paper bag yang berisikan pakaian-pakaian yang di beli saat siang tadi. “Kehidupan ini penuh dengan derita hati dan rasa sakit. marilah kita lebih berkasih sayang dan melembutkan hati bagi sesama.”
Ucapnya lantas berjalan ke arah pintu dan mengambil paper bag sebelum benar-benar melangkah kakinya keluar pintu, ia menoleh kearah Wulan yang masih menunduk.
Damar keluar dari rumah yang ditempati sekretarisnya dan tidak lupa menutup pintu. Setelah sampai di halaman rumah. Ia mendengar isak tangis Wulan yang terdengar sangat memilukan hati.
Di dalam rumah, Wulan membenamkan wajahnya di kedua tumpuan kedua lututnya, kedua tangannya memeluk dirinya erat. Seolah dengan cara seperti ini ia dapat mencari titik kekuatan di dalam hatinya yang mulai rapuh, bergemuruh lusuh.
Di luar rumah... Damar menatap rumah minimalis dengan pencahayaan yang dari kedua lampu di depan pintu dan sisi kiri teras rumah. Berbalik badan dan menuju motornya yang terparkir. Lagi-lagi Damar hanya bisa menghela nafasnya menatap rumah minimalis dengan tatapan nanar.
“Hidup tak pernah lepas dari masalah, karena masalah adalah salah satu cara Allah untuk menjadikan ku pribadi yang lebih baik, lebih kuat dan dewasa.” gumamnya lirih. Berharap semua orang yang sedang di rundung masalah dalam hidup ini dapat bersabar dan ikhlas untuk menerima kenyataan bahwa kehidupan ini singkat jika hanya untuk sekedar berkeluh kesah.
Kemudian ia menarik gas motor Vespanya, meninggalkan halaman rumah yang Wulan tempati. “Sabarkanlah wanita itu, Ya Allah.” ucapnya lagi diselingi angin malam yang berbaur dengan rintik gerimis.
Tak terasa karena sepanjang jalan memikirkan Wulan, Damar sampai di halaman rumahnya. Ia merogoh tas selempangnya dan mengambil kunci lantas memegang handle pintu. Karena masih terbawa perasaan, Damar membuka pintu sedikit keras, dan kemudian...
BRAK
__ADS_1
“Alamak!” ia terkejut saat pintu yang sudah keropos tiba-tiba roboh. Serta dirinya yang ikut terpelanting di atas pintu yang sudah tak berdaya di atas lantai bagian dalam ruang tamu.
“Aih... Pintunya kenapa tiba-tiba mewek!” gumamnya..
Akibat dari suara pintu yang terhempas ke lantai, Danum dan juga Bu Suci berhamburan keluar kamar dan menuju ruang tamu. Seketika terkejut mendapati pintu yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai dengan Damar yang bertumpu di atasnya.
“Astaghfirullah Nang, kamu apakan pintu ini? Sudah tahu kayunya keropos tapi kenapa kamu nggak hati-hati buka nya!” seru Bu Suci melihat putra sulungnya yang hanya memasang cengiran kuda.
Damar dan Danum terkekeh, “Hahaha...”
Danum mendekati Kakaknya, yang telungkup di atas pintu, dengan kepala menengadah menatap Ibunya. “Walah Ma-- mas. Sudah tak perawan lagi pintu ini Mas, akibat ulahmu! Hahaha....” celotehnya seraya terkekeh geli melihat ekspresi Bu Suci yang terlihat merana melihat pintu yang terkeluai lemah di tindih putra sulungnya. “Bu.. Pasti bentar lagi pintu ini, minta pertanggungjawaban Mas Damar! Hahaha...” tak ada habis-habisnya Danum terkekeh renyah.
“Hush!” hardik Bu Suci, menampol lengan putra bungsunya yang terus saja tertawa terpingkal-pingkal.
Damar bukannya beranjak dari atas pintu yang ia tindih. Malah sekalian berbaring dan membalikkan badannya yang semula telungkup. “Asem tenaaaaan! Hahahaha...”
Damar beranjak duduk masih di atas pintu, lantas mengusap dadanya yang terasa nyeri.
Danum melihat paper bag yang ikut berserakan di lantai, lantas bertanya kepada Kakaknya, “Mas Damar , opo iki Mas? (Apa ini Mas)”
Damar berdiri seraya mengibaskan-ngibaskan bajunya, “Pakaian kerja,”
“Sudah-sudah ngobrolnya nanti! Sekarang urus pintu ini!” seru Bu Suci menghentikan obrolan yang akan dilanjutkan kedua putranya.
Damar mengangkat pintu yang tergeletak dan memasangnya lagi di kusen kayu yang sudah tak berpintu, “Num, geser sofa itu Num!” seru Damar meminta agar Danum menggeser sofa usang ruang tamu untuk di jadikan sebagai menahan pintu.
Dengan sekuat tenaga Danum mendorong sofa, “Bu, bantu napa? Ibu udah kaya mandor cuma lihatin aja!” gerutu Danum melihat Ibunya yang hanya mendekapkan tangannya di depan dada.
Bu Suci delming, “Siapa yang merobohkan, siapa yang bertanggungjawab!” Bu Suci berbalik badan dan menuju kamarnya. Beliau selalu mengajarkan anak-anaknya untuk bertanggung jawab saat keduanya melakukan kesalahan.
“Lah, Bu. Inikah bukan salah Danum,” teriak Danum.
“Hey, Magnum. Cepetan!” seru Damar.
Danum kembali mendorong sofa menuju pintu untuk di jadikan sebagai penahan pintu. “Udah, beres!” seru Damar.
Danum merasa ada sesuatu yang kurang di dalam ruang tamu. Dan teringat sesuatu, “Walah.. Motor Mas!” teriak Danum dengan suara meninggi.
Damar refleks menggeplak jidatnya. “Alamak!”
Jadilah kedua Kakak dan adik ini harus menggeser sofa dan pintu lagi.
Dari dalam kamar, Bu Suci geleng-geleng kepala. Dengan tingkah laku kedua putranya yang kadang bersikap konyol.
•••
__ADS_1
Bersambung...